<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244</id><updated>2011-10-29T11:38:56.291+07:00</updated><category term='workshop'/><category term='narasumber'/><category term='sesi 2'/><category term='seminar'/><category term='sesi 1'/><category term='resensi'/><category term='faq'/><category term='sesi 3'/><category term='pengantar'/><category term='laporan'/><category term='sesi 5'/><category term='bincang'/><category term='lomba'/><category term='sesi 4'/><title type='text'>Perkosakata 2008</title><subtitle type='html'>&lt;I&gt;"Saatnya Penulis Berbagi... Saatnya Penulis Beraksi!"&lt;/I&gt;</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>82</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-1830050702392392416</id><published>2009-01-06T08:54:00.002+07:00</published><updated>2009-01-06T08:59:08.726+07:00</updated><title type='text'>PERKOSAKATA 2009</title><content type='html'>Salam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkosakata akan datang kembali. Semua info kegiatan perkosakata 2009 bisa ditemukan di &lt;a href="http://perkosakata2009.wordpress.com"&gt;blog Perkosakata2009&lt;/a&gt;. Sampai jumpa di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regards,&lt;br /&gt;Panitia Perkosakata&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-1830050702392392416?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/1830050702392392416/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=1830050702392392416&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/1830050702392392416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/1830050702392392416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2009/01/perkosakata-2009.html' title='PERKOSAKATA 2009'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-1772999913395106696</id><published>2008-04-10T13:38:00.004+07:00</published><updated>2008-04-10T13:45:46.000+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='laporan'/><title type='text'>Kami memPerkosakata 2008 (laporan oleh Vivie)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/ananda"&gt;Vivie&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu saya dan Mbak Ratih sudah sepakat untuk pergi ke acara Perkosakata 2008 bersama. Mbak Ratih dan mobil Karimun merahnya sudah menunggu saya di kawasan Ps. Minggu, mulanya kami berniat langsung menjemput Mbak Ileng beserta donasinya, namun tidak jadi, karena Windry menyuruh kami untuk langsung ke Kuningan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di lokasi, saya dan Mbak Ratih masih sangat mengantuk, kami pun berinisiatif untuk pergi keluar dengan maksud membeli secangkir kopi, untuk doping kami hari ini. Namun lagi-lagi urung kami beranjak keluar,  karena dengan baik hatinya Mbak Ghe menyerahkan satu sachet kopi instannya untuk Mbak Ratih, sementara saya sendiri menyeruput kopi milik Mbak Ayu. Beberapa para panitia acara yang lain pun mulai berdatang (Ayas bersama kotak kuenya, Yugi bersama My Bro dan gitarnya, Rangga dan Adi pun menyusul serta tidak ketinggalan Heripurwoko).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" id="fullpost"&gt;Pukul 08:00&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya (Ananda), My Bro dan Yugi beranjak dari lantai 2 ke lantai 7 ( tempat dimana acara Perkosakata akan berlangsung). Kami pun merapikan kembali ruangan auditorium, memasang spanduk, dan peralatan lain yang diperlukan. Setelah itu muncul Ivan bersama kamera kesayanganya, Ayas serta Chau pun suah mulai menyipkan kue-kue di meja. Sedikit demi sedikit para peserta mulai berdatangan. Mulai dari Cassle (makasih coklatnya ^^), ABC, Takiyo, Kavelania, serta yang lainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pukul 09:00&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara pun di mulai dengan di awali pembacaan puisi oleh Onyzuka (Noni), setelah itu di sambung oleh Windry selaku panitia Perkosakata, ia memberikan sedikit laporan di depan peserta. Setelah itu acara Workshop yang di moderatori oleh Mas Kinu pun di mulai. Acara Workshop yang di bawakan oleh TS Pinang pun berjalan dengan lancar dan santai, tampak para peserta dapat mengikuti pelatihanya. Sementara itu di sudut lain para panitia masih tampak wara-wiri mengerjakan tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pukul 12:30&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Break acara, peserta istirahat (sebagian ada yang keluar ruangan, sebagian lagi tetap milih di dalam ruangan). Saya agak terkecut oleh kehadiran salah seorang member kemudian.com yang beruser id Dadun, sempat beberapa hari sebelum acara dia bilang dia tidak akan datang, tapi siang itu tiba-tiba dia ada di tempat acara, namun cukup menyenangkan, karena saya bisa bertemu dengan sorang penulis yang bernama Dadun (hayahh ... jadi curhat pribadi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Break setengah jam, acara pun berlanjut ke diskusi novelnya Wina Efendi (Kenangan Abu-abu). Para peserta yang tidak lain adalah member kemudian.com tampak antusias menyimak. Acara yang di moderatori oleh Sefri pun sangat santai, di sana para peserta dan pembicara mulai berbagi pengalaman, dan saat sesi tanya jawab pun, para peserta tidak enggan untuk bertanya pada si penulis yang tidak lain adalah member Kemudian.com juga. Acara diskusi novel bersama Winna selesai dengan di akhiri pembagian buku untuk para peserta yang mengajukan pertanyaan pada saat sesi tanya jawab. Mirza, Ghe dan Hery pemenangnya (loh ... kok panitia semua?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, tiba saatnya sesi bincang Kemudianers, acara ini di moderatori oleh Mirza (K4cruterz). Acara ini menghadirkan si pemilik situs &lt;a href="http://www.kemudian.com/"&gt;www.kemudian.com&lt;/a&gt; yaitu Mbak Tiva dan Jeng Far (Mas Rizki), kedua pasangan muda itu mulai memperkenalkan diri dan menceritakan awala mulanya pambentukan situs Kemudian.com. Kenapa situs kesayangan kita ini diberi nama Kemudian.com (pastinya kalian sudah pada tahu). Sesi perkenalan antar member pun di mulai, masing-masing member menyebutkan nama asli, ID, serta harapan kedepan tentang kemudian.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pukul 16:00&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara di tutup dan panitia mengumumkan para peserta untuk beranjak ke lantai 2, namun sayangnya tidak banyak para peserta yang ke lantai 2, (mugkin woro woro dari panitia kurang terdengar) sehingga hanya beberapa member saja yang beranjak ke lantai 2. Namun hal ini tidak mengurangi keceriaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Magrib beberapa panitia mulai pamit undur diri, dan beberapa panitia pun masih tetap di tempat, mereka hendak mengantar pembicara (TS Pinang) ke stasiun Gambir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;___________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nama panitia, kami mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada para pendukung acara (Perpumda. Majalah Azzikra, Cnet Kemang, Indofood) dan semua para Donasi. Tidak lupa kami bersykur kepada Tuhan YME, yang sudah memberikan kejutan kejutan kecil buat kami para panitia. Ucapan salut kepada Ketua Panitia, Windry (Miss_worm) karena di tengah-tengah kesibukanya, dia masih sempat mengurus acara Perkosakata. Terimakasih juga kepada para teman panitia yang kompak dan tetap bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak lupa kami atas nama Panitia Perkosakata 2008, mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas kehadiran kalian semua, kami juga mengucapkan mohon maaf apabila ada kekurangan dan kesalahan yang di lakukan oleh para panitia, semoga semua kritik dan saran bisa di jadikan acuan untuk acara Perkosakata selanjutnya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-1772999913395106696?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/1772999913395106696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=1772999913395106696&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/1772999913395106696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/1772999913395106696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/04/kami-memperkosakata-2008-laporan-oleh.html' title='Kami memPerkosakata 2008 (laporan oleh Vivie)'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-8099413999559637054</id><published>2008-04-09T09:55:00.002+07:00</published><updated>2008-04-09T10:00:53.314+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='laporan'/><title type='text'>Moment (kesan) lain di enam april (laporan oleh Nidha - II)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/chau"&gt;Nidha a.k.a Chau&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okay..kenapa bagian lantai 2 diriku pisahkan? hyaaa just wanna share lah dengan mereka yang ndak sempat ke lantai 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Diriku baru sampai di lantai 2 dan menemui si OB sedang menonton Nanny, serta merta diriku pun menarik kursi yang melurus &amp;amp; mendekat ke arah TV plus tidak mengizinkannya untuk mematikan TV tsb. Peduli setelah itu banyak riuh ramai dan asap rokok di sana sini, diriku mendadak autis di hadapan acara ini. Semua meja penuh, di pojok ada Dadun ma mba Ratih bukan yak?. Di meja belakang kursi saya ada mba Gheta, Ayas, mba Anne, mba Ayu yang pucat dan cape, mba Windry yang sudah ngantuk dan lemas, mas Kinu. Di meja sebelah mereka ada mas Jorgy dan millda yang sibuk sharing tentang vokal. Di meja sebelah TV ada Ridho, Adi, Mba Ghea, Rangga, Heri, Veve, Dian, Niken. Di meja sebelah kursi saya ada mba Griffin, mba munik, mba Tiva, mas Rizki. Di meja paling belakang sekali ada mba Noni, bang Cibo, mamadh, dan hooo siapa lagikah yang belum saya sebut? (maaf maaf jika ada ketinggalan nama, sungguh ndak disengaja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara TV menjelang selesai, tiba-tiba terdengar suara gitar dan hyaaaa ada sesi nyanyi-nyanyi toh. Diriku mencari-cari MP3 untuk menutup telinga dan kembali autis di acara TV tsb, tapi ndak enak ah...tho suara-suara yang bernyanyi (selalu) hanya seperempat lagu itu ndak bagus2 banget meski juga ndak jelek-jelek banget. Hwakakakakaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maghrib, beberapa dari mereka mulai berpamitan. Kita yang menyisa di lantai 2 pun bersiap-siap menuju Gambir untuk mengantar mas TSP dan mba TSP kembali ke Jogja (saya dan millda berharap bisa dilipat masuk ke dalam tasnya deh) . Menuju Gambir dimulai dengan tiga mobil (mba ayu masuk mobilku, dan hau? jujur diriku takut dianya pingsan atau apalah itu namanya bukti sakit). Hok-Ben penuh dehh booo....jadilah "panitia inti" dan Mas TSP beserta Mba, plus Mas Kinu yang sedang perbaikan gizi mencari makan di tempat lain. Sisanya (adalah diriku, millda, veve, mba noni, mba ratih, ridho, rangga, adi) mengopi-ngopi di warung kafe (hallaghzzz bis seperti warung,tapi diriku menghargai si empunya yang memaksudkan itu sebagai kafe). Ngobrol ngalor ngidul,,ngopi-ngopi (mba ratih, diriku senang sangat karena dirimu mau membantuku pun menghabiskan cappucino itu ^^ ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 20:20 mereka yang pulang makan telah datang, sesi foto-foto dimulai lagi. Mas Kinu menjelma hidden camera berjalan dan ouuwwhhh mba ayu marahi saya dengan bilang&lt;br /&gt;"hiii kamu tuh chau..bukannya pimpin rapat tentang prosedur menyiram windry" hwakakakakakaka. Okay lah...Air mineral satu liter sudah dibeli. Kegilaan ridho, rangga, adi mencampurkan kopi membuat diriku dan mba ayu jijik plus kasihan ke mba windry (meski itu bukan cairan2 ndak jelas yang difikirkan mba ayu) jadilah diriku menyita botol itu dan membuangnya mentah-mentah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 20:45...acara guyuran disiapkan. "Mba...sini kupinjam tasmu" lalu kupakai pun tas mba windry (heuuu...sok manis deh diriku). Mba ghe disusul ridho mengguyur mba Windry di depan banyak supir taksi. Lalu kita memeluknya dan bilang "Selamat ya say...Selesai dengan sangat baik pun acaramu". Hooo sebelum ditutup, yang payah di sesi terakhir ini adalah si Hidden camera berjalan ituhhh (dirimu ndak abadikan moment bagus ini ya? kan sebelumnya diriku sudah kasih tau. Ndak cukup sangat apa baterai itu? zzzzzzzz paayyyyahhh). Mungkin, karena hal tsb diriku dan teman-teman harus mengguyur ulang mba Windry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On The Way pulang...capek sangat tapi diriku sesak bahagia, sangat bahagia. Bayangan bapak yang marah-marah tiba-tiba hilang, HP yang sebelumnya ditelpon berkali-kali oleh bapa dan mama tiba-tiba diam, seolah semua isi malam ingin membiarkan saya sesak bahagia. Sampai di rumah millda, kemudian rumah saya adalah para bapa sudah duduk di depan pintu ruang tamu. Heuu,,berjalan manis dan berpura-pura manis sajalah, ndak biasa-biasanya cium kening. Kali ini saya cium tangannya, kedua pipinya, dan keningnya. Pulang malam pun di acc. Hooorrraaaaayyyyyyy &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-8099413999559637054?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/8099413999559637054/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=8099413999559637054&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/8099413999559637054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/8099413999559637054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/04/moment-kesan-lain-di-enam-april-laporan.html' title='Moment (kesan) lain di enam april (laporan oleh Nidha - II)'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-4021324500402314319</id><published>2008-04-08T23:28:00.003+07:00</published><updated>2008-04-08T23:32:51.061+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='laporan'/><title type='text'>Enam April (laporan oleh Nidha)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/chau"&gt;Nidha a.k.a Chau&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriku dua hari ini tepar (7-8 april), rasa remuk tulang, ngantuk, dan capek. Tapi, saat ini diriku sedang tidak ingin bahas rasa gak enak itu semua. Diriku hanya ingin sharing awal mula hadirnya rasa gak enak itu semua. Secara fisik mungkin seperti itu adanya, tapi kepuasan bathin mengalahkan rasa gak enak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Enam April menjadi hari yang sangat diriku syukuri karena Allah menciptakan hari itu untukku, untuk kita. Persiapan menuju hari itu sangatlah panjang, sukar, melelahkan. Dan diriku tidak ada selama proses yang menyita waktu, hati, fikiran, dan tenaga itu ( di sini memang sisi jahat diriku yang lebih memilih kepentingan pribadi sendiri daripada duduk bersama mereka untuk mempersiapkan enam april ini). Dan oouuwwhhh bagaimanapun diriku harus berterima kasih karena si bu dokter harus pergi ke palembang, (karena dirimu pergi dok..kesepakatan minggu ini dibatalkan dan itu artinya saya bisa hadir penuh di acara enam april nanti) jadi bisa sedikit saya abaikan dulu permasalahan satu itu. Tinggal si migrain yang harus diajak kompromi sepenuh enam april nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okay..seminggu sebelumnya diriku berusaha intensif (meski lagi-lagi hanya mampu via YM) untuk turun tangan. Mengurus makanan, penjemputan, dan segala hal lainnya. Dua hari menjelang enam april diriku dikunjungi si migrain dan memintaku untuk berdiam manis lagi (diriku sangat membenci hal ini, terkadang). Bahkan sampai lima april malam, diriku dah harus terkapar jam delapan sedang di sana,,senior-seniorku kesusahan menahan ngantuk untuk enam april. Enam april tiba.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriku berangkat jam enam kurang dengan tujuan pertama ambil kue, lalu jemput teman beserta kuenya, kemudian segera menjemput salah satu tim pembicara di bandara yang ndak lain adalah tuan dan nyonya rumah kemudian.com (mas rizki dan mba Tiva), dan segera meminta supir mengebut menuju tempat acara. Okay,,,diriku bagian dari mereka yang (kubiarkan) kesusahan kemarin..peduli nanti diriku akan berguna atau tidak, diriku akan berusaha untuk berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di sana, hyaaaa berkenalan dengan tim panitia yang begitu solid, matanya yang kuyu lelah namun tetap kalah dengan cahaya kebersamaan mereka yang teduh. Bersalaman sepaket dengan cipika-cipiki dan sedikit peluk dengan Mba Ayu, Ayas, Veve, dan Mba Windry yang dari awal masih saya cari-cari. Menyapa guru puisi saya beserta nyonya (adalah mas TSP&amp;amp;mba TSP) dan setor tampang dengan mr.Rius (a.k.a mas Kinu) yang ternyata memang berbakat ngeselin plus menjawab jelas perkiraan saya (sebutlah nama asli saya mister...zzzz). Setelah ramah-tamah dengan gaya sok akrab, tiba waktunya bekerja santai, bekerja seru, bekerja sama, bekerja sambil sesi foto-foto (zzzzz ada banyak paparazzi di acara ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan Ayas, berteman millda bolak-balik ngurus kue. Saya berkenalan dengan ridho dan heri dengan menyebutkan nama asli saya. Huahahahahahahaha....setelah lama saya diperdengarkan kalimat "hooo jadi lo itu chau!!". Om heri bikin saya dan ayas ngakak..dah dua kali kenalan...tiba2 datang dan menepuk bahu saya bilang "heee lo itu chau ya? dasar looo" hwakakakakakaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapak Puisi pun digelar, asyik dan seru menyimak sensei menjelaskan tentang alam ambang yang jadi menarik-narik ilmu psikologi dan simbah nya. Pertengahan lapak tsb, saya,ayas, dan veve bertugas mengurus makan siang untuk tamu-tamu kehormatan kami. Hyaaa turun naik dan memesan makanan, lumayan seru lahhh. Lebih serunya, setelah kami kembali ke lapak puisi, sesi latihan sudah dimulai dan saya bersama ayas sok duduk manis sambil berusaha sadar diri bahwa kita dapat isyarat untuk ikut mengerjakan latihan. Secara kita berdua cape (hallaghhzzz...malas kali yak) maka jadilah saya dan ayas kabur (karena tidak mengerjakan sekali pun..heuheuehuehuehueheu). Tapi, di sesi latihan kedua..kami mengerjakan kok Om Pin...bahkan kena dirimu tanya "yang belakang dapat berapa kosa kata?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelahnya, makan siang tamu kehormatan dimulai. Melayani pun diriku dan ayas dengan sebaik mungkin tamu-tamu kehormatan kami , senior dan sensei semuaaaaaa. Sambil menunggu mereka, kita mengusili satu penulis yang saya sebut ngeselin. Mengganggu jam makan siang yang katanya "kebanyakan nih porsinya". zzzzzzzzz. Karena Ayas dan Veve lapar, mereka menemani dadun dan ivan makan (diriku bukan ndak mau makan, tapi sepenghitungan diriku,,,nasi pesanan kita itu kurang :p ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;next time lagiiii.....terlalu banyak yang ingin saya bagi...&lt;br /&gt;karena saya terlalu senang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-4021324500402314319?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/4021324500402314319/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=4021324500402314319&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/4021324500402314319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/4021324500402314319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/04/enam-april-laporan-oleh-nidha.html' title='Enam April (laporan oleh Nidha)'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-8319120335140615398</id><published>2008-04-08T22:17:00.003+07:00</published><updated>2008-04-08T23:06:11.799+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='laporan'/><title type='text'>Hingga Dini Hari (laporan oleh Ayu)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/fortherose"&gt;Ayu prameswary&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sehari sebelum Perkosakata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terbangun tiba-tiba pada pukul empat pagi. Tanpa bunyi jam weker, atau suara Miki yang mengeong, pun karena dibangunkan seseorang. Mungkin hanya karena saya begitu bersemangat. Tapi langit masih gelap, jadi saya putuskan kembali pada pelukan bantal dan guling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya yakin, semangat yang menyebabkan. Karena, setiap satu jam saya selalu terbangun. Akhirnya, pada jam enam pagi, saya putuskan untuk benar-benar bangun dan tidak menghiraukan rayuan bantal dan guling yang seakan memaksa saya kembali pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Tidak seperti Windry dan Ratih yang bertugas menjemput Kinu di stasiun pada pagi buta, saya masih punya waktu untuk bermain dengan Miki. Hey, saya memang harus menyempatkan diri untuk memanjakan dia, karena akan saya tinggal selama dua hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lewatkan saja kegiatan saya di rumah. Tidak penting itu. Akhirnya saya tiba di penginapan lantai dua, setelah sebelumnya saya menyempatkan diri berbelanja keperluan yang tertinggal dan minuman coklat untuk memanjakan pembicara dan moderator acara workshop ini (baca: TSP dan Kinu^^). Tak berapa lama, sampailah Kinu yang berbaju hitam, Windry dengan bawaannya yang banyak dan Ratih yang selalu ceria padahal mengantuk berat (bukan begitu, mba’ Ratih?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tambahan satu personel baru –saya-, kami melaju ke daerah Kemang untuk makan siang, sekaligus mengantarkan Windry mengikuti bengkel novel di Cipete. Setelah dengan keji menurunkan Windry di pinggir jalan (maafkan kami, honey^^), kami bertiga berputar-putar di Kemang, bingung mencari tempat makan. Setelah berbingung-bingung dan berpanas-panas (maafkan tata bahasa saya yang ngaco ini), kami terdampar di Soto Kudus dan berakhir dengan ajakan Ratih untuk mencoba bakwan malang sebagai dessert (halah!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Anyway&lt;/span&gt;, setelah menjemput Windry di Cipete dan Vivie di warnetnya, kami kembali ke Kuningan untuk bertemu rombongan lain yang bertugas menjemput TSP. Panas menyengat sepanjang siang tadi sudah berubah menjadi guyuran hujan deras yang membuat jalanan Jakarta semakin macet tak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bergabung dengan rombongan TSP yang sedang menikmati santap malam. Setelah briefing terakhir yang singkat, seluruh panitia bersiap pulang, mengumpulkan tenaga untuk keesokan hari. Tapi tidak dengan saya, Windry dan Ghea. Kami yang semula berencana menginap di tempat Ghea, berganti harus standby di penginapan. Dan sial, ada beberapa hal yang tidak kami persiapkan untuk menginap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Windry ditemani Mirza berbincang bersama TSP dan Kinu, saya dan Ghea mulai menyusuri Jakarta, berputar-putar karena tidak tahu arah, mencari keperluan. Kembali ke penginapan dan keluar lagi, kali ini bersama Mirza dan Kinu. Lagi-lagi kami berputar-putar mencari market 24 jam, dari mini hingga nanggung. Seharusnya Jakarta adalah kota yang tak pernah tidur, tapi kenapa susah sekali mencari toko 24 jam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah malam, Windry beringsut ke balik selimut. Begitu pula dengan TSP dan calon nyonya, serta Kinu. Tinggallah saya, Ghea dan Mirza menikmati lembur hingga dini hari. Kira-kira pukul setengah tiga pagi, saya dan Ghea memutuskan untuk beristirahat, sementara Mirza kembali ke rumah sakit untuk menemani ibunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pun mengalun hingga pukul enam pagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**bersambung dong, ah** &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-8319120335140615398?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/8319120335140615398/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=8319120335140615398&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/8319120335140615398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/8319120335140615398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/04/hingga-dini-hari-laporan-dari-ayu.html' title='Hingga Dini Hari (laporan oleh Ayu)'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-1893705812884539004</id><published>2008-04-08T20:43:00.007+07:00</published><updated>2008-04-08T23:05:05.706+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='laporan'/><title type='text'>Menyiapkan PERKOSAKATA Penuh CINTA (laporan oleh Windry)</title><content type='html'>oleh Windry Ramadhina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jakarta, 5 April 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari besar itu diawali oleh hal besar: saya bangun pukul empat pagi, saat kucing saya bahkan masih melingkar di ujung selimut. Membawa satu set pakaian ganti, laptop tercinta, video camera dan LCD pinjaman dari Walikota Jakarta Timur, saya meluncur menuju Pondok Indah Square untuk menemui Ratih yang sudah siap dengan Karimun merahnya. Berdua kami menikmati Jakarta dini hari yang segar dan jauh dari kesan Ibukota, menyusuri jalan arteri, Sudirman, hingga Monas dengan kecepatan penuh. Gambir adalah tujuan kami. Moderator acara perkosakata, Kinu, sudah menunggu sejak pukul lima dan, percaya atau tidak, kami nyasar.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dua kali kami melewati Imanuel, sampai akhirnya mobil kami berjalan mundur memasuki halaman parkir stasiun karena kami tidak rela melewati Imanuel untuk ketiga kalinya. Kinu kami temukan di Dunkin, berkaos Coca Cola dan membawa oleh-oleh bakpia dan Waktu Batu. Segera kami bertolak dari Gambir untuk mencari sarapan. Semula tanpa arah sehingga kami berputar dengan rute Gambir-Sudirman-Semanggi-Gatot Subroto-Kuningan-Menteng-Cikini (tolong disadari betapa sesungguhnya Cikini dan Gambir bisa ditempuh dengan jalan kaki). Kami sarapan bubur di depan TIM, kemudian Kinu minta diantar menjenguk suami Inez Dikara di JMC (Buncit), maka untuk kesekian kalinya kami seperti mengalami deja vu karena kembali melewati jalan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayu menyambut di penginapan (Kuningan) dengan tas besar dan plastik belanjaan. Dengan formasi baru, kami makan siang di daerah Kemang (sungguh tidak mudah memilih tempat makan di daerah itu dengan budget terbatas). Menjelang pukul dua, saya didrop oleh rombongan di MP Books Point untuk mengikuti bengkel novel dan dijemput kembali pukul empat tepat. Ada sedikit masalah pribadi yang harus saya atasi sore itu. Hasil kelas saya di bengkel novel tidak terlalu baik dan butuh waktu untuk mengembalikan spirit optimis saya. Sebagai ketua, saya sadar, saya tidak boleh lemah di saat genting maka saya paksakan diri mengesampingkan perihal bengkel novel dan kembali melihat ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di daerah Kemang, kami juga menjemput Vivie di warnet tempatnya bekerja. Vivie keluar dari warnet membawa spanduk acara lalu menjelang malam, rombongan pimpinan saya kembali ke Kuningan untuk bertemu dengan TS Pinang yang dijemput oleh rombongan pimpinan Bayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu hujan deras, Rasuna Said tergenang air tapi tidak mengurangi keceriaan panitia yang berkumpul untuk rapat terakhir. Kami makan malam bersama TS Pinang, calon nyonya dan Kinu. Setelah briefing dan pembagian tugas yang detil, tim berpencar. Saya, Ayu, Ghea dan Mirza kedapatan tugas standbye di penginapan. Kami masih harus mengurus banyak hal malam itu: berdiskusi bersama TS Pinang dan Kinu, menyiapkan materi, dan belanja beberapa hal (tidak lupa memijat pembicara dan moderator kami yang kecapaian karena perjalanan jauh). Saya tidur menjelang tengah malam setelah meminum obat radang tenggorokan, Mirza masih harus kembali ke rumah sakit untuk menjaga sang Ibu, sementara Ayu dan Ghe terus bekerja sampai dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(segera! Hari PERKOSAKATA penuh CINTA - gombal sekali bahasa ini ya hahaha)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-1893705812884539004?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/1893705812884539004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=1893705812884539004&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/1893705812884539004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/1893705812884539004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/04/menyiapkan-perkosakata-penuh-cinta.html' title='Menyiapkan PERKOSAKATA Penuh CINTA (laporan oleh Windry)'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-5005186232821769279</id><published>2008-04-08T18:37:00.002+07:00</published><updated>2008-04-08T18:45:38.292+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='laporan'/><title type='text'>Saya di PerkosaKata (laporan oleh Dadun)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/dadun"&gt;Dadun&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kerinduan yang kuat memang bisa mengalahkan apa saja. Katakanlah saya hanya seorang anak rumahan yang cukup asing dan ngeri dengan dunia luar, dan semua orang terdekat saya mengetahuinya. Maka, saya harus bisa meyakinkan hati mereka bahwa perjalanan Bandung – Jakarta bukanlah perjalanan lintas negara atau bahkan lintas rimba yang berbahaya, terlebih, saya bukan lagi bayi lelaki yang selalu nyaman mendekap diri di balik selimut merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kerinduan itu akhirnya membawa saya pada sebuah tempat yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, dan bertemu dengan orang-orang yang hanya bisa saya pikirkan sebelumnya. Dalam sebuah agenda, PERKOSAKATA2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Saya tiba di lantai tujuh Gedung Nyi Ageng Serang bersama seorang perempuan berkaos putih. Kami saling berpandangan saat sedang berjalan menuju tempat yang sama. Saya yakin, dia sedang berpikiran sama dengan saya: are you Kemudianers? Dia pun memperkenalkan diri sebagai Brown—yang setahu saya, dia adalah member senior di kemudian.com. Lalu kami mengisi daftar hadir, dan beberapa orang yang menerima kami di sana nampak menguatkan otot mata saat melihat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Elo Dadun?” kata-kata itu ada yang meluncur dari mulut mereka langsung, dan ada juga yang hanya tertelan di tenggorokan dan memantul di kedua bola mata mereka. Entah itu berarti terkejut, atau mungkin... . Ah, apa pun itu, yang terpenting, akhirnya kami bisa bertatap muka dan tak perlu lagi bantuan keyboard untuk mengetikkan kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T.S. Pinang, sang penyair (yang ngakunya) amatir tengah memberikan materi seputar puisi, didampingi sensei Kinu sang wartawan kuliner. Howaaa, saya tidak terlalu memerhatikan karena masih lelah dan cukup mengantuk akibat hampir lima jam perjalanan Bandung – Jakarta. Diam-diam saya sibuk memerhatikan orang-orang di sekitar. Seperti sebuah permainan tebak nama, ketika melihat seseorang, saya berusaha menebak id yang digunakannya di kemudian.com. Itu pasti Miss Worm, itu pasti Ratih, Chau, Rangga, Heri Purwoko, Sefry, hmmm mungkin itu Frenzy, dan, yang itu pasti Cassle. Sementara, saya duduk bersebelahan dengan Takiyo Annabani dan ABC, Kemudianers asal Bandung juga yang datang lebih awal dari saya. Dan, oh, juga ada Ghedesafti, Bayu MyBro dan adiknya yang kata Mbak Ratih mirip orang Pakistan, ada Kavellania si Nona Manis, ada Milda dan masih banyak yang lainnya. (yang tidak disebut jangan marah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lo sombong amat sih, Dun. Diem aja. Sok manis lo! =P&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya SMS dari Yugi Yakuza sang MC saja yang bermaksud demikian. Beberapa Kemudianers lain pun sedikit memprotes ke-diam-an saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya: Lha, memang aslinya gue pendiam, kok.&lt;br /&gt;Mereka: Di YM, lo dudulz.&lt;br /&gt;Mereka: Belum keluar aslinya lo, Dun.&lt;br /&gt;Mereka: Ayo, tunjukin dong ANUNYADADUN!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ke-diam-an saya tetap bertahan hingga acara makan siang bersama Creativeway13th dan kameranya, Niska dan ehmnya, Ananda dan cucurnya, Little Ayas dan ceretnya, juga Chau dan tidakmakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai makan siang, acara dilanjutkan dengan bedah novel Kenangan Abu-Abu nya Winna Efendi a.k.a Frenzy yang dipandu oleh Sefry Khairil. Sayang, saya selalu tidak mampu bertanya, padahal tiga penanya terbaik berkesempatan mendapatkan novelnya. Tapi untungnya, saya memiliki keberuntungan lain, mendapatkan doorprize novelnya Ayu Prameswary a.k.a Fortherose yang berjudul Gemini dan Kepingan Mimpi. Dan, wah, Kemudianers yang lain nampak memprotes: Huuu... Dadun lagi... Dadun lagi...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara semakin seru ketika Gheta maju dan membacakan cerita mini berjudul Topeng Monyet. Secara (katanya) anak teater, dia benar-benar menjiwai apa yang sedang dibacakannya. Saluuuut... saluuut... Belum lagi pembacaan puisi (judulnya saya lupa lagi) oleh Jorgy. Wiiih, lagi-lagi penjiwaannya mantap. Kalau Gheta membuat kami semua terbahak, maka Jorgy membuat kami merinding dan terkesiap. Setelah itu, Noni membacakan puisi diiringi petikan gitar Rangga Mahesaya. Manis, manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang penutupan, dua petinggi kemudian.com, Jeng Far dan Mbak Tiva maju untuk menceritakan sejarah kemudian.com. Setelah itu, masing-masing Kemudianers maju untuk menyebutkan id-nya, dan menyatakan harapan ke depan dari kemudian.com ini. Wah, sial, waktu giliran saya maju, Mirza “Mamad” a.k.a k4cruterz yang ternyata lebih gila diantara kami semua, benar-benar berhasil mempermalukan saya. Dia berlutut dan nyaris menyamai tinggi saya saat sedang berdiri. Dia merangkul saya, dan Kemudianers yang lain tertawa. Ananda bilang, seperti raksasa yang menerkam kurcaci. *Hihihi* Tapi, bagaimana pun saya senang bisa bersisian dengan salah satu penulis favorit saya di kemudian.com. Meski sebenarnya saya sedikit sedih karena idola saya tidak datang. *Hiks hiks*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi yang paling ditungu-tunggu adalah sesi foto-foto. Kapan lagi bisa berada satu frame dengan Miss Worm? *Ting!* ya, tentu saja, kapan lagi bisa beramai-ramai berfoto dengan semua Kemudianers yang super-menyenangkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sudah menunjukan angka empat, pertanda acara berakhir. Tetapi kami masih punya sisa waktu di salah satu ruangan di lantai dua. Sebagian Kemudianers sudah pulang, termasuk teman-teman dari Bandung, Takiyo dan ABC. Panitia dan beberapa Kemudianers yang bukan panitia masih berkumpul di lantai dua. Dan saya di sana, merasa enggan untuk berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama satu tahun lebih kami hanya saling menyapa lewat ‘dunia kedua’ yang meski mampu meniadakan jarak dan sekat, tetapi tak cukup mampu mempertemukan kedua pasang mata dan berbalas ucap secara nyata, juga bersentuhan. Dan tak lebih dari satu hari itu, akhirnya, kami dapat bertemu dan berkumpul bersama. Takdir memperbolehkan kami saling menatap, berucap dan menyimak, bersalaman, bahkan toyor-menoyor. Kami bukan saudara, bukan sahabat, bukan kenalan dan bukan siapa-siapa yang akhirnya dipersatukan menjadi keluarga besar yang bahkan memiliki keterikatan yang jauh lebih erat dari sekadar relasi yang disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, bagaimanapun hidup terus berjalan, dan saya harus pulang sore itu juga, dengan sejuta kesan yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan kita bertemu lagi, Kemudianers?***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-5005186232821769279?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/5005186232821769279/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=5005186232821769279&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5005186232821769279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5005186232821769279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/04/saya-di-perkosakata-laporan-oleh-dadun.html' title='Saya di PerkosaKata (laporan oleh Dadun)'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-2703232501119152377</id><published>2008-04-02T23:30:00.000+07:00</published><updated>2008-04-02T23:38:02.805+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seminar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bincang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lomba'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='workshop'/><title type='text'>PERUBAHAN PERKOSAKATA 2008</title><content type='html'>Panitia Perkosakata memberitahukan beberapa perubahan yang terjadi dalam rangkaian Perkosakata 2008:&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dikarenakan quota peserta yang tidak memenuhi, maka dengan terpaksa acara seminar dibatalkan. Bagi yang telah mendaftarkan diri akan dihubungi oleh panitia melalui e-mail dan atau telepon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ini, acara Perkosakata 2008 dipadatkan menjadi satu hari, yaitu Minggu, 6 April 2008. Bertempat di Auditorium Pengembangan Minat Baca – Perpumda, Gd. Nyi Ageng Serang Lt.7. Kuningan, Jakarta Selatan (belakang Pasar Festival), dengan donasi kegiatan Workshop senilai Rp.50.000,- bagi member Kemudian.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RANGKAIAN ACARA:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;09.30-12.00 WIB&lt;br /&gt;Workshop bersama TS.Pinang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.00-1300 WIB&lt;br /&gt;Break&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.00-14.00 WIB&lt;br /&gt;Diskusi novel Kenangan Abu-abu oleh Winna Efendi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.00-16.00 WIB&lt;br /&gt;Bincang Kemudianers bersama Farida dan Tiva&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB.&lt;br /&gt;Batas waktu pemilihan hadiah buku bagi para pemenang lomba Cerpen 100 Kata dan Puisi adalah Jumat, 4 April 2008, pukul 24.00 WIB. Hadiah bagi pemenang yang tidak memilih setelah batas waktu lewat akan dipilihkan oleh panitia..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai jumpa di Perkosakata! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia Perkosakata 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-2703232501119152377?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/2703232501119152377/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=2703232501119152377&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2703232501119152377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2703232501119152377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/04/perubahan-perkosakata-2008.html' title='PERUBAHAN PERKOSAKATA 2008'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-5763722588483576033</id><published>2008-03-28T12:45:00.002+07:00</published><updated>2008-03-28T12:55:55.874+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lomba'/><title type='text'>PEMENANG LOMBA CERPEN 100 KATA &amp; PUISI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Halo K’ers,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia berita yang ditunggu-tunggu! Tidak akan berpanjang lebar; dengan juri Krisna ‘neko no oujisama’, Sefryana Khairil, Dino Umahuk, TSP, serta Kinu, maka inilah pemenang lomba Cerpen 100 kata dan Puisi:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CERPEN 100 KATA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[I]&lt;/span&gt; Birahi Laut oleh Bayang&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[II]&lt;/span&gt; Pelindung Utopia oleh Villam&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[III]&lt;/span&gt; Newbie oleh Dadun&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[Harapan I]&lt;/span&gt;Kau Bukan Yang Pertama oleh sakura_cut3&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[Harapan II]&lt;/span&gt; To Much To Love oleh –rina- dan Satu Ulang Satu oleh kornelius.kevin.kristian (memperoleh nilai yang sama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PUISI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[I] &lt;/span&gt;Depan Surau oleh (unknown nickname)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[II]&lt;/span&gt; Perempuan yang menatah sajak oleh pengu&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[III]&lt;/span&gt; Tak Perlu Menangis (Sebuah Akrostik) oleh 145&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[Harapan I]&lt;/span&gt; Syair Rok Mini oleh someonefromthesky&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[Harapan II]&lt;/span&gt; Pelabuhan Yang Terbuang oleh ucu_zu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemenang dipersilahkan memilih hadiah dari daftar di bawah ini, dimulai dari pemenang pertama terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;List Hadiah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. September - Noorca M. Massardi (Novel, tersegel plastik)&lt;br /&gt;2. Fofo Dan Senggring - Budi Darma (Kumpulan cerpen - tersegel plastik)&lt;br /&gt;3. Tesaurus Indonesia atau KBBI (pilih salah satu, baru)&lt;br /&gt;4. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (2 buah, baru)&lt;br /&gt;5. The Templar Legacy - Steve Berry - (baru)&lt;br /&gt;6. Lucia lucia - Adriana Trigiani – (baru)&lt;br /&gt;7. Salah Asuhan - Abdoel Moeis (baru, tersegel plastik)&lt;br /&gt;8. Eragon-Eldest - Christopher Paolini - Knopf (satu set - import - hardcover - kondisi excellent).&lt;br /&gt;9. The Lost Boy - Dave Pulitzer&lt;br /&gt;10. Bukan Putri Angsa - Ernest J.K.Wen&lt;br /&gt;11. Bahagia perkawinan - Leo Tolstoy (baru, tersegel plastik)&lt;br /&gt;12. Mahasukka, kumpulan puisi - Arief B. Prasetyo&lt;br /&gt;13. Celana Kekasihku di bawah Kibaran Sarung, kumpulan puisi - Joko Pinurbo&lt;br /&gt;14. Buku "Seratus Kata" &gt;&gt; Khusus untuk pemenang I lomba cerpen 100 kata&lt;br /&gt;15. Kepada Cium, kumpulan Puisi - Jokpin (tersegel plastik)&lt;br /&gt;16. Diary Gigi Gue - Heidy Kaeni&lt;br /&gt;17. The Catcher in the Rye - J.D Salinger (import)&lt;br /&gt;18. Life of Pi – Yann Martel (import)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagi yang berdomisili di Jabodetabek, hadiah dapat diambil pada acara Bincang Kemudianers, tanggal 6 April 2008.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Sisa hadiah akan dibagikan sebagai doorprize dalam acara Bincang Kemudianers&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SELAMAT KEPADA PARA PEMENANG! :D&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-5763722588483576033?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/5763722588483576033/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=5763722588483576033&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5763722588483576033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5763722588483576033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/03/pemenang-lomba-cerpen-100-kata-puisi.html' title='PEMENANG LOMBA CERPEN 100 KATA &amp; PUISI'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-5033375625157245273</id><published>2008-02-09T14:13:00.000+07:00</published><updated>2008-02-09T14:20:06.009+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seminar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bincang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lomba'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='workshop'/><title type='text'>Perubahan Jadwal PERKOSAKATA 2008</title><content type='html'>Disebabkan oleh satu dan lain hal, jadwal rangkaian acara perkosakata 2008 mengalami perubahan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;li&gt;Seminar, Workshop, dan Bincang Kemudian yang semula dijadwalkan tanggal 23-24 Februari 2008, berubah menjadi tanggal 5-6 April 2008. Tempat, Jam serta Topik dan Pembicara  tidak mengalami perubahan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seminar:&lt;br /&gt;Rp.150.000 (early bird hingga 25 Maret 2008 : Rp.135.000,-)&lt;br /&gt;[10 peserta pertama gratis mengikuti workshop pada hari kedua.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Workshop:&lt;br /&gt;Rp.55.000 (early bird hingga 25 Maret 2008 : Rp.50.000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendaftaran hingga tanggal 28 Maret 2008 di &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/pendaftaran-seminar-dan-workshop.html"&gt;SINI&lt;/a&gt;. Setelah tanggal tersebut, pendaftaran dilakukan via telepon (nomor akan diberitahukan kemudian)&lt;br /&gt;Konfirmasi hingga tanggal 2 April 2008&lt;br /&gt;Registrasi ulang pada 5 - 6 April 2008 di lokasi acara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Lomba Cerpen 100 kata dan Puisi yang bertema “Yang Pertama” akan diperpanjang batas pengirimannya menjadi tanggal 10 Maret 2008. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Tema:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Yang Pertama”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan:&lt;br /&gt;• Tercatat sebagai member Kemudian.com&lt;br /&gt;• Telah memiliki minimal 5 postingan cerpen/ puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan:&lt;br /&gt;• Cerpen/ Puisi diposting di Kemudian.com dan dikirimkan melalui email &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dalam bentuk body mail (bukan attachment)&lt;/span&gt; ke kopdar2@kemudian.com dengan subjek ‘LOMBA CERPEN’ atau ‘LOMBA PUISI’, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;paling lambat tanggal 10 Maret 2008&lt;/span&gt;, dengan format sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Nickname di Kemudian.com]&lt;br /&gt;[Nama asli]&lt;br /&gt;[Alamat lengkap, khususnya bagi domisili luar Jakarta]&lt;br /&gt;[No. telp]&lt;br /&gt;[Isi cerpen/ puisi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengumuman pemenang&lt;/span&gt; akan diumumkan di forum Kemudian.com dan blog Perkosakata pada tanggal &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;25 Maret 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Bagi pemenang yang berdomisili di Jakarta, hadiah dapat diambil pada acara Bincang Kemudianers Perkosakata 2008, tanggal 6 April 2008&lt;br /&gt;• Peserta dapat mengirimkan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;maksimal 2 karya cerpen/ puisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Penilaian:&lt;br /&gt;• Karya yang disertakan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain.&lt;br /&gt;• Karya berupa karya asli member, bukan hasil saduran atau terjemahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juri Cerpen 100 kata:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sefryanakhairil.net/index.php"&gt;Sefryana Khairil&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/user/v1vald1"&gt;Nuke 'V1vald1'&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/user/neko_no_oujisama"&gt;Krisna 'Neko no Oujisama'&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juri Puisi:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://titiknol.com/"&gt;T.S. Pinang&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://birahilaut.multiply.com/"&gt;Dino F. Umahuk&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://therain.wordpress.com/"&gt;Kinu Triatmodjo&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih atas pengertiannya.&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ttd,&lt;br /&gt;Panitia Perkosakata 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-5033375625157245273?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/5033375625157245273/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=5033375625157245273&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5033375625157245273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5033375625157245273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/02/perubahan-jadwal-perkosakata-2008.html' title='Perubahan Jadwal PERKOSAKATA 2008'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-7321331626981415737</id><published>2008-01-28T22:21:00.000+07:00</published><updated>2008-01-28T22:29:54.695+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 5'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Mangga muda problem lama</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh Mikael Johani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/35615"&gt;Mangga muda&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/ghe"&gt;ghe&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mulai bicara tentang puisi ‘Mangga muda’ (ya, m yang kedua memang kecil, penulisnya Francophile ya?) ini saya ingin ngomong sebentar tentang proses review buat kemudian.com ini. Mungkin semua orang sudah tahu juga, saya diberi pilihan beberapa tulisan untuk direview tanpa pernah tahu nama atau siapa penulisnya. Alasannya jelas tentu—paling tidak ini asumsi saya—untuk mencegah kongkalikong, mencegah reviewer seperti saya menulis review penuh gula-gula untuk penulis yang manis dan kebetulan adik pacar saya. Tapi kemudian saya pikir, ini kan bukan lomba? Lagian, saya justru merasa perlu tahu latar belakang seorang penulis, bukan hanya namanya saja, kalau bisa saya ingin tahu &lt;a href="http://www.newyorker.com/talk/2008/01/28/080128ta_talk_paumgarten"&gt;buku apa saja yang dia baca waktu tumbuh dewasa&lt;/a&gt;, di kota mana dia dibesarkan, (dalam konteks Indonesia bhinneka tunggal ika ini) suku dia apa. dia suka mendengarkan musik apa, heroes atau csi, etc. etc.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti di review saya yang kemarin tentang tiga cerpen berbahasa Inggris yang ternyata ditulis oleh satu orang itu (saya cuma berani menebak waktu itu dua dari tiga cerita itu ditulis oleh orang yang sama) saya ingin juga tahu apakah dia benar-benar pernah tinggal di London atau dia hanya mengkhayalkannya saja dengan bahan-bahan yang pastinya banyak dia dapatkan waktu dia tinggal di Brisbane. Atau malah sebaliknya? Kelihatannya sih tidak. Atau dia mengkhayal tentang semua tempat itu dan selama ini dia tinggal di Tebet (ala Ratih Kumala dan Tabula Rasa-nya)? Buat saya hal-hal seperti ini bukan hanya menarik tapi juga penting, karena misalnya saja waktu itu saya sempat bertanya kok dia bisa-bisanya bilang London humid di bulan November? Nah, kalau misalnya dia hanya pernah tinggal di Australia dan hanya pernah transit di Heathrow tiga jam sebelum terus ke Stockholm saya jadi bisa tahu pastinya itu dia lakukan karena dia mencampurkan waktu musim panas Australia yang berada di belahan bumi selatan dengan London di bumi utara. Saya jadi tahu dia cuma perlu merevisi pelajaran geografi SMU-nya saja. Tapi kalau misalnya ternyata dia pernah belajar seni patung di St. Martins College setelah capek belajar Masters ekonomi di Brisbane saya jadi bisa bilang mungkin dia lagi mencampuradukkan memori historisnya. Dan kalau dia ternyata masih sekolah di SMU 26, yah, spekulasi sendiri saja kira-kira kesimpulan macam apa yang bisa kita tarik tentang cerita-cerita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya ini masalah yang penting, karena di Indonesia kelihatannya kritikus sastra suka malas atau tidak bersedia menyambungkan tulisan dengan dunia penulisnya. Semacam hangover dari &lt;a href="http://www.enotes.com/contemporary-literary-criticism/eagleton-terry"&gt;New Criticism&lt;/a&gt;  saya yakin mereka juga tidak pernah benar-benar mengerti juga. Seperti misalnya kata pengantar Nirwan Dewanto di buku ‘Ripin: Cerpen Kompas PIlihan 2005-2006’. Di situ dia sama sekali tidak pernah benar-benar membahas di cerita ‘Ripin’ karya Ugoran Prasad yang ia anggap cerita terbaik di Kompas selama periode 2005-2006 itu siapa itu si Ripin, apa yang terjadi dengannya (bapaknya mati ditembak Petrus—ini twist-nya haha sori ya spoiler haters), kenapa Ugoran memilih masalah Petrus ini untuk cerpennya, apa masih menarik menulis tentang Petrus, etc. etc. Hal-hal yang menurut saya lebih menarik tentang ini daripada misalnya, ‘[dalam Ripin] kita sampai pada paradoks yang menggetarkan: antara kokohnya alur dengan hasrat para tokoh untuk keluar dari tindasan, antara keasyikan sudut pandang dengan kekasaran latar cerita, antara mustahaknya tutup cerita dengan ketidakpastian nasib Ripin si tokoh utama.’ (Nirwan Dewanto dalam ‘Ripin etc.’ hlm. xxvi.) Tindasan macam apa? Dari siapa? Kenapa ada di situ? Kekasaran macam apa? Siapa? Kenapa ada di situ? Apakah penting, menarik, membosankan, biasa-biasa saja semua itu ada di situ? Dan, apa arti mustahak? ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya kritik macam di atas, yang kelihatannya menganggap hanya arsitektur sebuah tulisan saja yang penting (semacam versi Taliban New Criticism), sama saja dengan bilang foie gras itu mak nyusss tapi tak pernah bilang (karena memang tak tahu karena memang tak mau tahu!) makanan itu terbuat dari apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin semua ini kedengaran terlalu panjang tapi pun sudah langsung relevan begitu kita membaca judul sajak kita kali ini ini: ‘Mangga muda.’ Karena saya orang Indonesia atau paling tidak orang Jawa, membaca judul ini langsung terbayang di kepala saya berbagai macam bayangan tentang mangga muda: dicocol campuran garam dan cabe enak, makanan perempuan lagi ngidam, tergantung musim ada atau tidaknya di pasar (paling tidak dulu sebelum globalisasi mangga karbitan melanda Total). Dan begitu membaca baris pertama sajak ini, nah benar kan saya. Sekarang bayangkan misalnya saya seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wannabe&lt;/span&gt; Indonesianis asal Alaska yang belum dapat-dapat juga beasiswa pertukaran pelajar ke UGM tapi saya nekat menulis review tentang sajak ini dan karena saya memang tidak tahu dan malas bertanya pada supervisor saya, saya tidak pernah mempertimbangkan semua imej kultural spesifik tentang mangga muda ini dan hanya sibuk menyatakan betapa pengulangan dua kata mangga muda ini menghipnotis seperti mantra (ini memang benar, tapi), apakah patut kritik saya dibilang kritik yang lengkap? Apakah patut tulisan saya itu disebut kritik karena saya sebenarnya belum memeriksa semua kemungkinan pembacaan sajak ini? Apakah patut saya disebut seorang kritikus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah jelas kalau tulisan seorang kritikus akan dipengaruhi oleh latar belakangnya, apakah tidak lucu kalau kemudian kritikus itu sok-sok menganggap tulisan yang dikiritiknya tidak ada hubungannya dengan latar belakang penulisnya? Penulis sudah mati? Ya, kau yang membunuhnya Kritikus Sialan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke sajak kita (sebelum saya membunuhnya juga dengan melupakannya sama sekali), sajak ini adalah sajak yang naratif. Banyak sajak tentu yang sebenarnya memang prosa yang ditulis dalam baris-baris sehingga kelihatannya seperti puisi. Baca banyak sajak &lt;a href="http://poetryfoundation.org/archive/poet.html?id=80600"&gt;Billy Collins&lt;/a&gt; misalnya, atau &lt;a href="http://sejuta-puisi.blogspot.com/"&gt;Hasan Aspahani&lt;/a&gt;. Memang tantangan membuat puisi mungkin itu (paling tidak puisi lirik), bagaimana menggubah lirisisme yang kita rasakan, semacam aku melihat matamu dan di matamu ada aku, dalam kata-kata yang tidak sekedar menceritakan itulah yang terjadi tapi dalam puisi (apa pun itu kek) yang bisa membangkitkan rasa itu lagi untuk pembacanya setiap kali ia membacanya. Jadi misalnya, kalau saya tulis saja, ‘di matamu ada aku’, pembaca akan membacanya, mungkin bisa mengerti apa yang saya maksud, tapi (selain berpikir duh menye-klise banget sih) setelah itu ya sudah, kalimat (tak layak dibilang baris) ini bisa dibuang saja, sudah selesai tugasnya, dia hanya menceritakan apa yang terjadi, suatu saat, mungkin di tepi sebuah danau dengan kabut yang mengambang di atas permukaannya yang (tentu saja) tenang, ‘di matamu ada aku.’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Literature is news that STAYS news&lt;/span&gt; (Ezra Pound, ‘ABC of Reading’, hlm. 29). Saya suka nggak yakin juga macam apa news yang akan STAY news itu. Tapi biasanya sih kita tahu begitu kita melihatnya. Misalnya saja (ini saya pilih random dari rak buku saya), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'both of us hapless outcasts at the farther end of the sky; meeting like this, why must we be old friends to understand one another?'&lt;/span&gt; (Po Chü-i, ‘Song of the Lute’ dalam Burton Watson (penerjemah), ‘The Columbia Book of Chinese Poetry’, hlm. 252.) Bisa saja hal itu benar-benar terjadi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;two hapless outcasts meeting at the farther end of the sky and feeling like they’re best friends already&lt;/span&gt;, tapi satu hal saja, setelah membaca ini anda ingin membacanya lagi bukan, dan lagi, dan lagi. Tanpa harus menganalisa bagaimana Po Chü-i melakukannya, dua baris itu tidak seperti kalimat gubahan saya di atas atau sekolom berita di Kompas, kita tidak akan merasa cukup hanya mengingat apa yang diberitakan oleh baris-baris itu, kita akan ingin membacanya dan lagi dan lagi, seakan-akan kata-katanya jadi lebih penting daripada apa yang diberitakannya. Ya, seakan-akan dua baris itu adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;news that STAYS news&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sajak ‘Mangga muda’ ini di banyak tempat terasa seperti cerita yang bisa merasakan ada puisi di balik ceritanya dan ingin melompat ke situ dan hup! bah! ternyata perhitungannya kurang tepat, lompatannya kurang jauh dan terjerembablah dia kembali ke narasi cerpen korannya. Tapi di beberapa tempat, sajak ini juga terasa seperti puisi yang tertatih-tatih memaksa untuk bercerita! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak ini banyak menggunakan jurus pengulangan, seperti ‘kuketuk pintunya / kuketuk pintunya’ atau ‘kuketuk pintunya / kuketuk pintunya / kuketuk pintunya’ dan ini kadang-kadang terasa seperti usaha penulis untuk memuisikan cerita ‘Mangga muda’-nya tapi kadang-kadang juga terasa sepertinya mungkin justru ini yang lebih ingin dilakukan si penulis, mengulang-ulang kata-katanya begitu saja, terus saja, seperti mantra. Dan di sinilah, misalnya, pentingnya latar belakang penulis tadi. Mungkin, karena penulis ini (kelihatannya) memang orang Indonesia, salah satu bentuk puisi yang paling familiar buatnya, terdengar paling alami di telinganya, mungkin tanpa dia sadari, adalah mantra. Atau, dan ini ada juga hubungannya dengan si penulis adalah orang Indonesia, mungkin dia banyak baca balada-balada Rendra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita sajak ini adalah seorang suami yang dengan kelihatannya agak berat hati dan karena itu malas-malasan mencarikan mangga muda untuk istrinya (mungkin karena dia baru ngidam ini jam ‘setengah dua belas malam’). Tapi rasanya si suami berangkat bukan untuk istrinya karena ‘Menatapnya aku berpikir / ‘ah … itu yang meminta anakku sendiri’’. Seperti Hercules dengan satu tugas saja dia mengalami berbagai rintangan dan dia bukan Hercules jadi semua rintangan itu tidak bisa dia lalui juga sampai akhirnya dia sampai di ‘… pasar kampung kami / jam dua belas malam …’ tapi dasar bukan Hercules dia takut masuk pasar yang dia dengar penuh preman dan langsung balik kanan tapi baru ‘… berjalan dua langkah …’ dia sudah dihadang oleh ‘… tiga orang pemuda …’ dan ‘… lelaki / baju hitam-hitam dan wajah tanpa ekspresi’ ‘di belakang mereka …’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si suami ditikam mati oleh ketiga preman dan satu laki-laki misterius ini. Tapi dari tadinya cerita yang gampang sekali diikuti, tiba-tiba di sini sajak ini menjadi agak misterius, atau mungkin, paling tidak jadi lebih susah diikuti, saya tidak tahu. Lebih baik saya kutip hampir semua bagian akhir ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘aku jatuh rebah kulihat banyak sekali darah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tiga preman itu kabur membawa dompetku yang isinya tak seberapa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tapi lelaki itu tinggal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dia jalan mendekatiku dengan wajah tanpa ekspresi diulurkannya tangannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pusarku berkedut menuntut tanganku menyambut tangannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;rasanya seperti berkenalan dan kutahu dia bukan Tuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dia bukan Tuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tapi tangannya sejuk dan aku seperti melayang’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah tiga preman ini = the three wise men, tiga magi dalam cerita Injil Matius tapi kali ini yang benar-benar telah diperalat Herod = si lelaki baju hitam-hitam bukan Tuhan itu untuk menemukan dan membinasakan Kristus = si suami? Apa penulis sajak ini seorang pastur? Atau murid seminari Gonzaga? Untuk sementara ini, karena saya memang tidak tahu siapa penulis ini dan dunianya seperti apa, saya tidak tahu. Tapi bagian terakhir ini menurut saya, dengan nada setengah bercanda ringannya, adalah sebuah meditasi, sebuah puisi, tentang Tuhan dan kematian yang cukup indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau lelaki yang tinggal itu bukan Tuhan terus siapa? The Grim Reaper karena bajunya hitam-hitam? Tapi dia mengajak salaman (jadi tangannya tidak sibuk memegang sabit raksasa) dan ‘… menyambut tangannya / rasanya seperti berkenalan … tangannya sejuk …’ Malaikat kematian biasanya tidak seramah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau sebenarnya dia memang Tuhan, yang membiarkankan si suami ‘melayang’, bebas dari beban mencarikan mangga muda buat istrinya, hanya si suami terlalu merasa bersalah dengan ketidakbertanggungjawabannya ini (‘… tangannya sejuk dan aku seperti melayang’ tidak kedengaran seperti dia terlalu keberatan mati ditusuk preman-preman pasar itu) sehingga tidak mau mengakui bahwa sekalipun mungkin si lelaki baju hitam-hitam tanpa ekspresi ini adalah Setan dia adalah Tuhan penyelamat baginya?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-7321331626981415737?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/7321331626981415737/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=7321331626981415737&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7321331626981415737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7321331626981415737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/mangga-muda-problem-lama.html' title='Mangga muda problem lama'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-3507517662771148137</id><published>2008-01-25T17:55:00.000+07:00</published><updated>2008-01-26T11:45:55.545+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 5'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Dongeng Ritual Mandi dan Kedalaman Maksud</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dino Umahuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/7009"&gt;Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/gheta"&gt;gheta&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi adalah karya sastra yang bersifat imajinatif sekaligus konotatif. Dibanding bentuk karya sastra lain, bahasa puisi lebih memilki banyak kemungkinan makna. Hal ini disebabkan karena terjadinya konsentrasi atau pemadatan segenap kekuatan bahasa di dalam puisi. Struktur fisik dan struktur batin puisi yang sangat padat bersenyawa secara padu bagaikan gula dalam larutan kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S. Effendi menyatakan bahwa dalam bahasa puisi terdapat bentuk permukaan yang berupa larik, bait dan pertalian makna larik bait. Kemudian penyair berusaha mengkonkretkan pengertian-pengertian dan konsep-konsep abstrak dengan menggunakan pengimajian, pengiasan dan peambangan. Dalam mengungkapkan pengalaman jiwanya penyair bertitik tolak pada „mood” atau „atmosfer” yang dijelmakan oleh lingkungan fisik dan psikologi dalam puisi. Dalam memilih kata-kata, diadakan perulangan bunyi yang mengakibatkan adanya kemerduan atau eufoni. Jalinan kata-kata harus mampu memadukan kemanisan bunyi dengan makna (S. Effendi 1982:xi)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;**&lt;br /&gt;Dalam kaitan itu, sebuah puisi berjudul Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas telah di kirim ke email saya oleh panitia KOPDAR 2 Kemudian.com. Puisi ini dikirim ke saya tanpa nama penulisnya. Mungkin ini kesengajaan dari panitia agar peresensi tidak mengetahui identitas penulis puisi. Namun karena tidak mengetahui siapa penulisnya, saya agak kesulitan untuk menerawang suasana kebatinan dan latar belakang lahirnya puisi ini. Tapi baiklah saya akan mencoba memberikan apresiasi yang mudah-mudahan tidak salah dan keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kulit lusuh dengan keringat tersimpan rapi di tiap lipatannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Setibanya ia mengurus pemakaman rutin hari hari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ia segera bergegas menjambak handuk yang terlipat di atas pembaringan tua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penat terlihat sekali mulai dari lutut sampai siku hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Matahari sejak tadi setia menggiring, kini hanya sedikit mengintip&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ritual sebelum mandi segera dikerjakan, kulitnya dikuliti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sedikit demi sedikit dari kulit kepala sampai kulit kemaluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ritual mandinya belum tuntas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kulit kaki belum lepas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nanti malam masih dipakainya berjalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Macul,14 Maret07&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandi secara harafiah berarti upaya seseorang untuk menyegarkan badan sekaligus membersihkan badannya dari berbagai jenis kotoran. Kenapa mandi, karena dalam puisi ini, secara implisit memperlihatkan upaya seseorang untuk membersihkan dirinya dari berbagai kotoran itu kotoran yang melekat di badan dan maupun kotoran jiwanya. Lihat bait-bait berikut:&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Ia segera bergegas menjambak handuk yang terlipat di atas pembaringan tua/ Penat terlihat sekali mulai dari lutut sampai siku hidup/&lt;/span&gt; penat disini bisa dikiaskan sebagai dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Dan kesadaran ini diperoleh setelah menyaksikan kematian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;/Setibanya ia mengurus pemakaman rutin hari hari/&lt;/span&gt;. Setelah melihat bagaimana seorang hamba tak berdaya menghadapi maut, menghadapi takdir kematian. Setelah melihat betapa tak bisa apa-apanya sebuah kerangka manusia selain pasrah pada tanah kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ajaran Agama Islam, mandi memiliki makna membersihkan diri dari hadas/najis, baik najis besar maupun najis kecil. Jika perpijak pada dua bait berikut: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ritual sebelum mandi segera dikerjakan, kulitnya dikuliti/Sedikit demi sedikit dari kulit kepala sampai kulit kemaluan/&lt;/span&gt; maka mandi yang dimaksudkan si penyair dapat disebut sebagai upaya untuk membersihkan diri dari berbagai dosa karena usia yang semakin menua sebagaimana dikiaskan sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Matahari sejak tadi setia menggiring, kini hanya sedikit mengintip&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa saya simpulkan dari puisi yang coba saya hayati adalah sebentuk upaya membersihkan diri atau semacam cuci dosa. Dalam puisi ini sang penyair berupaya membersihkan disebabkan oleh dosa-dosanya di sepanjang usia sebagai makhluk yang berupaya dekat dengan Rabb, dengan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak semua penyair menulis sajak untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Tapi, dalam puisi Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas sang penyair, hemat saya, tengah berusaha merapatkan diri pada hakikat keindahan, kebenaran, dan kejernihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair yang kata Saini KM, adalah ia yang berumah di sebuah kuil di tengah hutan. Ia juga kayu dalam pembakaran, tengah berusaha berjalan ke inti kehidupan, kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sang penyair sadar bahwa setelah pemandian, pensucian dan pertobatan, dosa-dosanya belum habis terkikis. Ini dikiaskan kembali dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ritual mandinya belum tuntas/Kulit kaki belum lepas&lt;/span&gt;. Karena sebagai makhluk yang lemah, sebagai manusia yang doif, ia selalu dengan sangat gampang tergelincir untuk berbuat dosa. Sangat gampang untuk ditaklukkan kembali oleh nafsu dan setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang penyair juga terpaku pada ketersadaran bahwa hari esok masih harus terus iya jalani sebelum ajal menjemput, sebagaimana di sampaikan pada bait penutup. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;/Nanti malam masih dipakainya berjalan&lt;/span&gt;. Namun sayang ia tak tak memintal doa-doa sebagai bekal untuk melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berjalan kemana kita sesungguhnya sama-sama tak tahu. Hanya sang penyair yang mengerti hendak kemana nasib akan dibawa. Entah menuju ke langit dengan wajah selembut bidadari atau menuju neraka dengan wajah sehitam iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lam bis Shawab.&lt;br /&gt;Serambi Mekah, Jumat 24 Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-3507517662771148137?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/3507517662771148137/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=3507517662771148137&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3507517662771148137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3507517662771148137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/dongeng-ritual-mandi-dan-kedalaman.html' title='Dongeng Ritual Mandi dan Kedalaman Maksud'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-3310316771315879123</id><published>2008-01-25T17:12:00.000+07:00</published><updated>2008-01-25T17:54:24.531+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 5'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>LEKONG &amp; LEKONG DALAM CERITA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hara Hope&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul di atas kugunakan sekedar untuk menalikan dua buah cerpen berjudul “Aku Mencintainya”  dan “Cintaku Terhalang Kelamin” yang memiliki tema yang sama, yakni: cinta terhadap sesama jenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita pertama, “Aku mencintainya,” diuraikan dengan gaya drama keluarga, sedangkan cerita kedua, “Cintaku Terhalang Kelamin,” diuraikan dengan gaya drama abu-abu – jika tidak boleh dikatakan semi-stensil ^_^&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/60033"&gt;AKU MENCINTAINYA&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/yosi_hsn"&gt;yosi_hsn&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini digarap dengan apik oleh penulisnya. Aliran kata-kata cukup terjaga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mood&lt;/span&gt;-nya dan diksi tersusun rapi. Sang penulis  pun cukup memiliki kesabaran dengan membuka informasi cerita secara bertahap sembari dibumbui selingan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;flashback&lt;/span&gt;/uraian profil tokohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, aku merasakan tema yang diusung cenderung klise, yakni tentang “Salahkah mencintai sesama jenis?”. Di samping itu, aku sebenarnya merasakan kebiasan penulis untuk memfokuskan arah cerita ini. Pada bagian awal kisah muncul kesan bahwa kisah ini berfokus pada Ares dan Fuji, terutama Ares yang apapun sikapnya akan menjadi unsur penting dalam cerita bahkan menjadi penyelesai konflik dalam cerita. Tapi kemudian cerita berpindah fokus pada masalah konflik Fuji versus orangtua yang tak menyetujui “model” perasaan yang dimiliki Fuji. Dan terakhir fokus cerita ada pada audisi resital Fuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, kalau kita kembali kepada judul, kita pun akan sama memaklumi bahwa cinta Fuji terhadap Tezar lah yang menjadi penyambungnya. Tapi kedudukan Tezar dalam cerita pun tampak tidak kuat. Aku menengarai bahwa kisah yang disajikan dalam bentuk penceritaan ulang dari seorang tokohlah penyebabnya. Hal ini menyebabkan pembaca tidak bisa melihat secara langsung konflik yang terjadi dalam keluarga itu plus Tezar. Yang diperlihatkan secara langsung justru hanya tentang bagaimana persuaan kembali Tezar dengan anggota keluarga musisi itu, sementara saat terjadinya konflik, yang menurutku penting, cenderung diceritakan ulang secara naratif saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, fokus yang ingin ditunjukkan melalui cerita ini tampaknya  terlalu kompleks untuk sebuah cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tentang latar cerita. Terus terang aku bingung menengarai cerita ini berpijak di mana. Saat membaca bagian awal cerita, kupikir kisah ini berlatar di Indonesia, atau setidaknya tentang orang Indonesia. Tapi saat membaca bagian akhir, baru aku tahu nama lengkap Fuji adalah Harera Fujiko yang identik Jepang sekali. Tapi persoalannya, aku tak menemukan sedikit pun nuansa lokal yang menunjukkan bahwa ini terjadi di Jepang, atau setidaknya terjadi pada keluarga Jepang. Pun tidak terjejak kemungkinan cerita ini terjadi pada sebuah keluarga blasteran – yang dapat menjadi keterangan tambahan mengapa nama anak-anak dalam keluarga itu berasal dari berbagai latar budaya dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/29183"&gt;CINTAKU TERHALANG KELAMIN&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/dhika_moreno"&gt;dhika moreno&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini lain lagi. Penulisnya sepertinya tak hendak membawa kisah ini pada pergulatan tentang salah/benarnya hubungan sesama jenis. Ia lebih menekankan pada sensasi yang dialami seorang tokoh dari perjumpaan pertama dengan sesama jenis, kemudian jatuh cinta, hingga akhirya mengikuti permainan sang Cinta sekalipun tetap sadar bahwa hubungan mereka hanyalah fana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekali lagi kubilang, gaya bahasa tulisan ini abu-abu/semi-stensil mengingat ada banyak ungkapan “menggemaskan” dan “adegan ranjang”-nya. Tapi untunglah penulis tak berniat menggiringnya menjadi fiksi cabul, karena ia menggambarkannya dengan cukup “sah-sah” saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, (lagi-lagi) aku merasakan kebiasan fokus cerita. Jika membaca model tuturannya, akan tampak kiranya ia ingin menggunakan teknik cerita “menyembunyikan- dahulu- identitas- si- tokoh- baru- kemudian- membukanya- di- akhir- kisah- sebagai- kejutan- bagi- pembaca.” Tapi pemilihan judul yang sudah kepalang menunjukkan identitas si tokoh ini pun sudah jauh-jauh mementahkan dugaan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menengarai cerita ini menggunakan teknik “membeberkan- identitas- pelaku- dulu- baru- menyajikan- dramanya- kemudian” pun rasanya tak terlalu kelihatan, mengingat drama dalam kisah ini tak terlalu dieksplorasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menjadi perhatianku adalah kurangnya penggambaran kedua tokoh dalam cerita ini. Entahlah, tapi rasanya bagiku penggambaran ini perlu untuk makin mendekatkan cerita pada pembacanya, seperti misalnya sesuatu yang menggambarkan apakah kedua tokoh ini tampak seperti lelaki tulen biasa, atau salah satunya kebanci-bancian, atau justru salah satunya berperawakan banci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segitu aja kali ya. Maaf kalau ada salah-salah kata dan analisa.&lt;br /&gt;Peace!! ^_^ V&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-3310316771315879123?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/3310316771315879123/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=3310316771315879123&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3310316771315879123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3310316771315879123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/lekong-lekong-dalam-cerita.html' title='LEKONG &amp; LEKONG DALAM CERITA'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-3370294913242180422</id><published>2008-01-24T10:46:00.000+07:00</published><updated>2008-01-24T10:48:13.590+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 5'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Resensi Prosa 'Pekerjaan Iin'</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amalia Suryani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/51223"&gt;Pekerjaan Iin&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/yosi_hsn"&gt;yosi_hsn&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita dengan pesan bijak di dalamnya tanpa berlagak menggurui. Cerita seperti inilah yang disukai banyak orang sebab dimana-mana orang tidak suka digurui (orang cenderung merasa diri ini sudah tahu banyak hal atau lebih tahu daripada orang lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini berjalan dengan sederhana dan alurnya rapi. Sekali lagi, jenis tulisan yang tidak terburu-buru untuk sampai pada akhir cerita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Pekerjaan Iin” menampilkan sisi kehidupan pembantu rumah tangga yang jarang dibicarakan (bukan PRT-nya yang jarang, tapi sisi “pandangan PRT pada majikannya” yang jarang dibahas). Tanpa menempatkan kedua karakter itu dalam peran antagonis atau protagonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya adalah manusia biasa dengan karakter sewajarnya. Bu Sudi sebagai majikan dan Iin sebagai pembantunya. Meski cerita ini memilih sudut pandang Iin, saya yakin penulis bisa menceritakan sudut pandang Bu Sudi dengan menarik juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Bukan lingkungan yang harus berubah untukmu, tapi kau yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan itu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks “Pekerjaan Iin”, pesan itu pas disampaikan sebagai penutup cerita. Kata “menyesuaikan” tentu dipilih dengan hati-hati. Hanya saja kata tersebut bisa berarti ganda; 1) lingkungan tidak perlu berubah, kita lah yang berubah dan 2) lingkungan tidak perlu berubah, kita toleran. Yang diambil Iin adalah yang kedua, saya rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pernyataan semacam ini tidak bisa berlaku untuk konteks yang berbeda sebab kadang kita perlu bersikap “steady”, tidak terbawa suasana, tidak terbawa lingkungan yang tidak sesuai dengan nurani kita. Namun sekali lagi, hal itu berlaku di konteks yang sama sekali berbeda dengan yang dialami Iin.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-3370294913242180422?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/3370294913242180422/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=3370294913242180422&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3370294913242180422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3370294913242180422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/resensi-prosa-pekerjaan-iin.html' title='Resensi Prosa &apos;Pekerjaan Iin&apos;'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-891358340393793838</id><published>2008-01-24T10:41:00.000+07:00</published><updated>2008-01-24T10:44:44.739+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 5'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Resensi Prosa 'Lonte?'</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amalia Suryani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/8046"&gt;Lonte?&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/ananda"&gt;Ananda&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya tarik LONTE adalah si penulis tidak menjelaskan apa itu “lonte” pada pembaca sampai akhir cerita. Pembaca dipaksa untuk menerjemahkan sendiri (bagi yang belum tahu istilah lonte) dan dibuat penasaran (bagi yang sudah tahu) bagaimana si penulis akan mendefinisikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini lucu. Ada fakta-fakta tersembunyi yang sangat menarik. Saya sih tidak tahu fakta itu sengaja dibuat samar atau sebenarnya tidak ada artinya. Yang jelas menurut saya menarik sekali.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama. Fakta bahwa tokoh Ririn mendapat istilah “lonte” dari ayahnya. Kenapa ayahnya menyebutkan kata “lonte” di depan anaknya? Sengaja atau tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua. Si Ayah mengucapkan “kamu lonte, dasar anak lonte!”. Yang ini juga menarik sebab sepertinya menjelaskan alasan tidak adanya karakter Ibu di cerita ini. Jangan-jangan memang ibu Ririn memang seorang lonte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga. Penulis tidak terburu-buru menjelaskan arti “lonte” untuk pembaca. Saat Ririn bertanya pada teman-temannya, penulis tetap bertahan tidak membeberkan definisi “lonte” dengan mudahnya. Bahkan Ibu Guru juga tidak berbaik hati memberitahu Ririn apa itu “lonte”, dan tidak repot-repot melarang Ririn menyebut dirinya “lonte”. Dengan lugunya, Ririn dibiarkan mengartikan sendiri “lonte” menurut pemahamannya sebagai anak umur enam tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau diminta menyebutkan kelemahan cerita ini, saya terpaksa bilang agak kecewa saja dengan ending-nya. Bukan karena masih tidak terpapar apa itu “lonte”, tapi karena kejadian Ririn memanggil seorang perempuan seksi dengan sebutan “lonte”. Padahal sebelumnya Ririn mengartikan “lonte” sebagai senyum manis, sementara Kakak Seksi tidak digambarkan sebagai orang yang manis, melainkan seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya cerita ini bakal lebih menarik kalau Ririn menyebut seorang Kakak Manis dengan sebutan “lonte”, hingga si Kakak Manis tersinggung dan terluka hatinya dikatai “lonte” oleh seorang anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-891358340393793838?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/891358340393793838/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=891358340393793838&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/891358340393793838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/891358340393793838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/resensi-prosa-lonte.html' title='Resensi Prosa &apos;Lonte?&apos;'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-3925026953129169718</id><published>2008-01-24T10:29:00.000+07:00</published><updated>2008-01-24T10:39:50.117+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 5'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Resensi Puisi 'Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas'</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nanang Suryadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/7009"&gt;Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/gheta"&gt;gheta&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak ini berjudul: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas&lt;/span&gt;. Dari judulnya, penulis menggiring pembaca untuk masuk ke dalam sebuah dongeng atau cerita. Sesuai dengan judulnya, sajak ini memang bercerita. Penulis menarasikan tentang suatu kejadian, yaitu tentang ritual mandi. Mengapa mandi menjadi suatu ritual? Jika ritual diterjemahkan sebagai suatu hal yang wajib dan rutin dilakukan dengan urut-urutan yang sama, mungkin memang dapat dikatakan bahwa mandi merupakan ritual bagi seseorang. Mari kita simak sajak Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kulit lusuh dengan keringat tersimpan rapi di tiap lipatannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Setibanya ia mengurus pemakaman rutin hari  hari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ia segera bergegas menjambak handuk yang terlipat di atas pembaringan tua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penat terlihat sekali mulai dari lutut sampai siku hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Matahari sejak tadi setia menggiring, kini hanya sedikit mengintip&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ritual sebelum mandi segera dikerjakan, kulitnya dikuliti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sedikit demi sedikit dari kulit kepala sampai kulit kemaluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ritual mandinya belum tuntas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kulit kaki belum lepas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nanti malam masih dipakai jalan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Macul,14 Maret07&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sajak ini siapa subyeknya? Pada baris pertama, hanya muncul “kulit lusuh”. Apakah “kulit lusuh” sudah mencukupi, sepertinya tidak. Mungkin, akan lebih baik jika dimunculkan “subyek” yang memiliki “kulit lusuh” ini, di awal sajak. Karena akan menjadi ganjil ketika sang subyek alias “ Ia”  muncul tiba-tiba di baris kedua dan baris ketiga. Secara teknis, susunan kalimat atau frasa masih perlu diperbaiki. Misalnya kalimat:  Setibanya ia mengurus pemakaman rutin hari  hari. Apa yang kurang dari kalimat ini?  Mungkin pembaca dapat menunjukkannya jika melihat dengan menggunakan kadiah berbahasa Indonesia yang baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, sajak ini dapat menjadi lebih bagus lagi, jika penulisnya mau mencoba untuk masuk ke dalam sajaknya tersebut dan membuang hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Saya sangat menghargai kemauan penulisnya untuk mencoba menciptakan frasa-frasa unik, misalnya: “keringat tersimpan rapi”, “siku hidup” Permainan bunyi juga sudah terasa, misalnya: “penat terlihat” namun masih kurang dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kesan saya pada sajak ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-3925026953129169718?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/3925026953129169718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=3925026953129169718&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3925026953129169718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3925026953129169718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/resensi-puisi-dongeng-ritual-mandi-yang.html' title='Resensi Puisi &apos;Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas&apos;'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-1875737774461099819</id><published>2008-01-14T14:59:00.000+07:00</published><updated>2008-01-14T15:11:53.119+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lomba'/><title type='text'>Lomba Cerpen 100 Kata dan Puisi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hampir bisa dipastikan bahwa semua hal yang pertama adalah yang tidak akan pernah terlupakan. Siapa yang bisa melupakan cinta pertama, hari pertama masuk kerja, ciuman pertama, pertama kali bisa belajar mobil, gaji pertama atau perjalanan pertama keluar negeri? Hmm, ‘yang pertama’ memang selalu berkesan walaupun kejadiannya tidak melulu yang indah-indah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti halnya saya, dua minggu yang lalu ada yang meng-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;add &lt;/span&gt;saya di friendster, namanya Princessa. Awalnya saya cuek, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lha wong&lt;/span&gt; memang banyak yang nge-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;add&lt;/span&gt; kok akhir-akhir ini. Ketika saya buka, ternyata apa, dia cinta pertama saya waktu SMP. Wah, berbunga-bunga rasanya hati ini. Bagaimana dia bisa menemukan saya? Bagaimana dia bisa tau alamat email atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;account&lt;/span&gt; saya? Sampai sekarang dia belum membalas pesan saya seiring &lt;span style="font-style: italic;"&gt;approval&lt;/span&gt; yang segera saya berikan segera sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;magical&lt;/span&gt;-nya ‘yang pertama’, sampai-sampai menginspirasi banyak karya seperti; Cinta Pertama (film karya Nayato Fio Nuala), Pandangan Pertama (lagu yang dipopulerkan A. Rafiq), First Love (lagu yang dipopulerkan Utada Hikaru) dan masih banyak lagi! Begitu juga dengan situs komunitas kemudian. com yang akan merayakan ulang tahun pertamanya, plus ada seminar dan workshopnya juga.[hp]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih memeriahkan eforia ini, kami ingin mengajak kemudianers untuk berbagi kisah ‘yang pertama’. Mari bermain dengan rasa dan aplikasikan ke dalam kata-kata. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ikuti lomba cerpen 100 kata dan puisi PERKOSAKATA 2008&lt;/span&gt;. Panitia menyediakan hadiah menarik dari kemudian untuk kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Yang Pertama”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tercatat sebagai member Kemudian.com&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Telah memiliki minimal 5 postingan cerpen/ puisi&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Cerpen/ Puisi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;diposting di Kemudian.com&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dikirimkan melalui email dalam bentuk body mail&lt;/span&gt; (bukan attachment) ke &lt;a href="mailto:kopdar2@kemudian.com"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kopdar2@kemudian.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dengan subjek ‘LOMBA CERPEN’ atau ‘LOMBA PUISI’, paling lambat tanggal &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10 Februari 2008&lt;/span&gt;, dengan format sebagai berikut:&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;[Nickname di Kemudian.com]&lt;br /&gt;[Nama asli]&lt;br /&gt;[Alamat lengkap, khususnya bagi domisili luar Jakarta]&lt;br /&gt;[No. telp]&lt;br /&gt;[Isi cerpen/ puisi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengumuman pemenang&lt;/span&gt; akan diumumkan di forum Kemudian.com dan blog Perkosakata pada tanggal &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;20 Februari 2008&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagi pemenang yang berdomisili di Jakarta, hadiah dapat diambil pada acara Bincang Kemudianers Perkosakata 2008, tanggal 24 Februari 2008&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peserta dapat mengirimkan maksimal 2 karya cerpen/ puisi&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Penilaian:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Karya yang disertakan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karya berupa karya asli member, bukan hasil saduran atau terjemahan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juri Cerpen 100 kata:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sefryanakhairil.net/index.php"&gt;Sefryana Khairil&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/user/v1vald1"&gt;Nuke 'V1vald1'&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/user/neko_no_oujisama"&gt;Krisna 'Neko no Oujisama'&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juri Puisi:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://titiknol.com/"&gt;T.S. Pinang&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://birahilaut.multiply.com/"&gt;Dino F. Umahuk&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;"&gt;*Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;"&gt;*Lomba ini tidak berlaku untuk panitia Perkosakata 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-1875737774461099819?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/1875737774461099819/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=1875737774461099819&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/1875737774461099819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/1875737774461099819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/lomba-cerpen-100-kata-dan-puisi.html' title='Lomba Cerpen 100 Kata dan Puisi'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-3507107812981777596</id><published>2008-01-14T14:37:00.000+07:00</published><updated>2008-01-14T14:44:40.369+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 4'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>DEPRESSED DIASPORA OF THE WORLD UNITE!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mikael Johani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/1850"&gt;In the Cold November Rain&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/2320"&gt;The Bus Driver’s Wife&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/1953"&gt;Five Minutes&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/user/frenzy"&gt;FrenZy&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Not only are these stories written in English, they’re set outside Indonesia, the first in London, then Brisbane, and Melbourne.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gets rid of one problem: something that sometimes Laksmi Pamuntjak (say) struggles with in her English poems/short-stories. Like I’ve written and pointed out so many times &lt;a href="http://kububuku.blogspot.com/2006/05/yang-hilang-dari-ellipsis-adalah.html"&gt;here.&lt;/a&gt; I’m sick of it myself, if you write in English about Hotel Grand Menteng, would you say it’s a ‘love-motel’, as Laksmi does, taking a run-o-the mill Ameringlish idiom to describe something Indonesian, or use a term like ‘check-in place’ since that’s what we Indonesians call it? Not idiomatic English perhaps, but isn’t it more real? What is real? What use is real in fiction?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;But I’m not gonna talk about language, it’s boring. Sure there are some awkward expressions, like ‘resisting my desperation to choke out loud’ (Cold November Rain) or ‘this whole ticket buying scheme had finally been mastered’ (The Bus Driver’s Wife), but you’d get that even in something written by a budding writer from Toorak, nothing that a good editor can’t fix. (If indeed it needs be fixed.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The first story is actually nowhere near as horrendous as the title suggests—the infamous Guns N’ Roses operock video, though like the song, the story is also about unrequited love. At one page nowhere near as epic of course.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A woman sitting in a room in ‘depressing London weather in November, the unfriendly humid air poisoning my oily skin’ (depressing London weather is a bit of a tautology, but the real problem/the problem of the real in this sentence is ‘the humid air’, how could it be humid in London, in early winter? Is it the cheap Tesco heater that makes your hands and feet all clammy? Problem of verisimilitude. But why is this problematic? Or is it? I guess if this were a sci-fi short set in post-apocalyptic global-scorched London then I wouldn’t have batted an eyelid on ‘humid London November’, but as we shall see, this story is basically a realist vignette, and in a slice-of-life I guess it’s reasonable that we expect the life to be as we know it.), ‘wrapped in a dirty bath towel, chain smoking’, staring at ‘a bottle of painkillers’ on (probably) top of the sink. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So the woman is depressed. But she was ‘too wound up to care.’ Then it turns out that she’s too wound up because she cares too much. For ‘the motionless body next to me. A man’s body.’ They’d fucked two hours ago after he turned up on her doorstep and he: ‘I need you’, and she: ‘You need a place to stay.’ Funny. Then she: ‘I love you,’ then he: ‘Thank you.’ A bit more standard dark humour, but believable. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then the answers for all the dark humour, the painkillers, the depressing London scene: ‘Will your wife come looking for you? Will you say goodbye and never come back?’ Like Axl said, nothing lasts forever / in the cold November rain, but perhaps, some things do, like a sob story set in grey London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The second story, perhaps the most interesting, begins with the simple, short, sentence ‘The bus driver is my best friend.’ Which somehow sounds kinda depressing. Bus driver? What about a stripper? And it gets worse, ‘He is an old man nearing his sixties, … a Russian-Australian, … his Australian accent is very thick since he spends most of his life in Brisbane, … with a nametag that says Steve.’ Perhaps the most depressing thing is that nametag, what’s wrong with Stefanovich, why would you try so hard to fit in to Brisbane, land of tight stubbies and Bir Bintang singlets, why would you move to Brisbane at all?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They’d become friends because when the narrator, a girl, moved to Australia, she was ‘dominated by fear and loneliness’ (in Brisbane, wouldn’t blame ya girl), and Steve likes to chat about his sad bus-driving life, bad pay, unhappy wife, the usual sob story. But the narrator thought Steve was ‘very different. … unlike the other grumpy bus drivers who shout at foreigners.’ Aha! Maybe because Steve was a foreigner himself! A depressed diaspora just like the narrator!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misery loves company especially when it’s a young probably pretty Asian international student. Or a granddad who happily listens to a pretty Asian international student’s stories of her ‘need to get away from a very bad breakup’ and her subsequent loneliness (girl on the rebound!). Then one night Steve told rebounding girl he was gonna quit his job, wife was leaving him because he was, yes, a total loser, and he might just as well pack his bags and move back to Russia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyet! thought rebound girl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘I’m just an old man, what do I have except a rusty bag and a passport?’&lt;br /&gt;‘You have love.’&lt;br /&gt;‘No, dear. We have memories.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And as if the thought of soldiering on in life in snowy Ukraine with a bag full of memories of hot summer afternoons in Brisbane verandahs was way too depressing, this story ends with Steve’s wife getting on the bus at the last stop as narrator girl gets off. Reconciliation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘What am I to know all about love? I do not even have  love. My ex boyfriend is an emotional abuser and I have given up on love a long time ago.’ (Narrator girl’s monologue, all in her head.) But girl, from the ending you’ve given us, looks like you really haven’t. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The third story, ‘Five Minutes’, about a man who, accompanied by a kid, observes and bitches about people in a park ‘in the heart of Melbourne’, and the kid turns out to be the man’s imaginary friend and the man turns out to be a geriatric granddad suffering either from Alzheimer or multiple sclerosis that has left him ‘unable to speak and move, all I can do is feel,’ (some people have all the luck) I thought must’ve been written by the same author who wrote ‘In the Cold November Rain’ since both titles were accompanied with the date of writing ‘January 2007.’ Not only that, in ‘Five Minutes’ the author wrote that ‘people scurry through … to get to the tube station.’ But the tube is in London, in Melbourne it’s the train. (Or the tram if you wanna be all romantic and olde-worlde.) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That problem of verisimilitude again. Perhaps the author mixed up his/her memories of London and Melbourne and the two cities merge into one. (After all, Melbourne is the one city in Australia with European pretensions, though it’s Paris they aim for, what with the parks, the sidewalk cafés et al., and it rains there the whole time too.) But I imagine a Melburnian would object to see his ordinary train station be written as ‘the tube’, and this brings me back to Laksmi Pamuntjak: so why shouldn’t I complain that she calls Hotel Grand Menteng (say) with the pissweak appellation ‘love motel’? We’ve already got ‘check-in place’, why not use it? What is wrong with the more real?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The imaginary kid disappears and the story ends. Which makes me think: these are all depressing stories, but I like them much more than the sugar-coated inspirational stories millions of people bought in Andrea Hirata’s &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Edensor&lt;/span&gt;. (About his student days in Paris dan sekitarnya.)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-3507107812981777596?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/3507107812981777596/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=3507107812981777596&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3507107812981777596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3507107812981777596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/depressed-diaspora-of-world-unite.html' title='DEPRESSED DIASPORA OF THE WORLD UNITE!'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-8698808575115347735</id><published>2008-01-14T00:45:00.000+07:00</published><updated>2008-01-14T00:51:29.368+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 4'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Beberapa Catatan Kecil -- yang mungkin tak penting</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gunawan Maryanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/48351"&gt;Butterfly Kisses&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/noir"&gt;noir&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Butterfly Kisses&lt;/span&gt;, aku tak menemukan sebuah cerita yang tumbuh. Aku hanya menemukan sebuah info: “aku rindu padamu”. Tak ada lagi yang lain. Rindu itu pun tak tumbuh. Tak mengembang. Mati (bahkan sebelum kalimat terakhir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tak ada cerita (memang tak ada keharusan bercerita), aku pun mencari cara bercerita. Sayangnya, tak ada. Yang ada adalah keterbata-bataan dalam berbahasa, kegenitan (sok indah, sok puitis), bahkan ketersesatan bahasa. Di beberapa kalimat aku terpaksa berhenti untuk mencoba memahami apa yang sebenanya penuliskan ingin sampaikan. Seperti dalam:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sms-sms bertaburan rayu dan canda berterbangan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jadikan lamunan bertepi harap akan temu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ini bukan lagi mimpi tergusah ketika pagi menjelang, melainkan keterpenuhan begitu erat.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Keinginan penulis untuk menyusun kalimat-kalimat yang puitik dan menyentuh justru membuatnya tersesat (tak puitik dan tak menyentuh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/17711"&gt;La Preghiera&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/kd"&gt;KD&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paragraf-paragraf awal cerita ini tak menarik. Aku (pembaca) merasa dibodohi—tentu ini bukan maksud dari si penulis. Penanaman informasi yang seenaknya sendiri yang membuatku, sebagai pembaca, merasa direndahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Baru saja ia selesai menyisir rambutnya. Rambut? Ya! Tentu saja dia memiliki rambut.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ia hanya mengikuti dress code yang ditentukan. Benar! Setiap penampil pada malam ini harus memakai pakaian bernuansa hitam&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Terbaca sebenarnya bahwa penulis memiliki banyak hal yang ingin diceritakannya, tetapi malas mencari jalan menceritakannya. Informasi demi informasi berloncatan begitu saja, hampir-hampir tak tertata. Asal-asalan. Asal pembaca ngerti. Titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru ketika memasuki tubuh cerita, aku mulai bisa menikmati. Meski tetap saja aku merasa si penulis sangat pelit dalam membagi ceritanya. Mungkin malas, mungkin tak lancar berbahasa. Agak aneh juga, tukang cerita tapi malas bercerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;La Preghiera&lt;/span&gt; belum menjadi cerita. Ia masih kerangka cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/16060"&gt;Surga Aku Mau!!!&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/za_hara"&gt;za_hara&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah cerita &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Surga Aku Mau!!!&lt;/span&gt; cukup menarik. Sayang, si penulis tak cukup serius dalam menggarapnya. Bagiku menulis adalah sebuah pembacaan atas kenyataan dan menyatakan kembali kenyataan tersebut. Menulis bukan mengarang, asal aneh, asal nyentrik, asal-asalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini memiliki potensi dalam memotret kenyataan yang belakangan ini memang sedang mencuat: agama baru, nabi baru, kepercayaan baru. Sayang, cerita ini ‘hanya’ menghadirkan kenyataan itu begitu saja. Tak mengolahnya. Tak memperkayanya. Cuma sepenggal—masih mirip dengan kabar angin. Selebihnya adalah karangan, imajinasi liar, fiksi yang tak kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, cerita pendek adalah sebuah karya fiksi. Tapi fiksi di sini adalah fiksi yang mengungkap kenyataan. Bukan hanya fiksi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-8698808575115347735?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/8698808575115347735/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=8698808575115347735&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/8698808575115347735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/8698808575115347735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/beberapa-catatan-kecil-yang-mungkin-tak.html' title='Beberapa Catatan Kecil -- yang mungkin tak penting'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-9089299437038287268</id><published>2008-01-11T22:04:00.000+07:00</published><updated>2008-01-11T22:16:14.213+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 4'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Satu Makam Untukmu, Satu Makam Untuk Siapa?</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Adi Toha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/12311"&gt;Satu Makam Untukku&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/eggiedwiananda"&gt;eggiedwiananda&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagus atau tidaknya sebuah cerita, menarik atau tidaknya sebuah kisah yang dituliskan dalam bentuk cerita pendek bagi pembaca secara individual, adalah murni masalah selera. Tapi, selera bukanlah sesuatu yang sama sekali tidak bisa diperdebatkan. Permasalahan selera bergantung pada sejauh mana pengalaman dan pengetahuan baca seorang pembaca dan apakah pembaca menemukan semacam cerminan kisah ataukah setidaknya pembaca menemukan hiburan atau hal lain yang dianggap berguna dan layak untuk mengisi ruang penyimpanan dalam ingatan masing-masing pembaca.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari keempat prosa yang saya terima di email saya, terus terang keempatnya kurang membuat saya terkesan dan tidak membuat saya ingin mempertahankan keunggulan cerita andaikata ada yang menilai bahwa cerita-cerita tersebut tidak bagus. Baik atau buruk keempat cerita tersebut, jika ada yang menilainya, saya akan mengamini keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tetap, saya harus memilih setidaknya satu untuk dijadikan bahan perkosaan. Saya memilih cerita berjudul “Satu Makam Untukku”, bukan karena cerita ini lebih unggul daripada cerita yang lain. Pilihan lebih disebabkan karena cerita ini mengambil lanskap surealis, berbeda dengan ketiga cerita lain yang mengambil lanskap realis. Kisah-kisah surreal sangat menarik perhatian saya, terutama yang bertema kematian, kegilaan dan penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lanskap surreal, segala bentuk latar, peristiwa dan unsur-unsur pembangun cerita dirangkai sedemikian rupa untuk menyampaikan maksud pengarang dengan karyanya, meski kadang, setelah semua unsur tersebut terbangun dengan sempurna, maksud pengarang menjadi lebur dalam maksud cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita yang berjudul “Satu Makam Untukku” dibuka dengan kedatangan seorang lelaki ke sebuah pemakaman umum. Tidak diketahui siapakah lelaki itu, mengapa ia masuk ke pemakaman umum, dan di kota atau di manakah pemakaman umum itu berada. Hanya dituliskan: “Lelaki itu masuk saja ke tempat pemakaman umum. Langkahnya mirip pemabuk yang sangat sadar. Ditelusurinya rumput-rumput kering yang bercampur debu merah. Ditendang, ditendang, ditendang hingga mengepul sejenak, lantas menyerbu wajahnya seperti tawon yang sarangnya diganggu. Ia tidak peduli.” Membaca kalimat selanjutnya, saya memindai bahwa lelaki itu adalah gila, setidaknya menderita gangguan kejiwaan, atau dilanda kebingungan. Indikasi kegilaannya terlihat di kalimat-kalimat berikut: “Terus dan terus ia menelusuri dalam terik. Mencari-cari, tapi tak tahu pasti apa yang sedang ia cari.”  Dan semakin dipertegas dalam kalimat berikut: “Ia digigit, tersengat oleh semut-semut yang ketakutan oleh gempa bumi. Tapi tak ada sakit. Rasa telah tiada, karena jiwa telah musnah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di sisi lain, pengarang ingin menunjukkan bahwa tokoh lelaki yang diceritakannya tidak sepenuhnya gila, kalaupun gila, setidaknya lelaki itu bukanlah orang gila biasa. “Ia pun berpikir, apa yang sebaiknya ia cari? Ia mulai menentukan keinginannya. Ia menginginkan seorang yang tidak berumur. Manusia yang tidak digigit waktu, diguyur pengalaman, didera racun pemikiran”. Bagaimana bisa orang gila biasa berpikir untuk mencari nisan seseorang yang tidak berumur? Dan kenapa dia memutuskan untuk memilih nisan yang tidak berumur, belum berpengalaman hidup, dan belum didera bermacam-macam pemikiran? Salah satu kemungkinan alasannya menurut saya adalah bahwa lelaki tersebut mengalami kekecewaan dengan yang namanya waktu, pengetahuan/pengalaman, dan pemikiran. Ia kecewa dengan waktu, karena mungkin, semakin waktu berjalan ia semakin menderita, semakin berumur hidup seseorang, ternyata tidak membuat seseorang menjadi lebih baik, dewasa dan bijak, waktu demi waktu hanya menambah kekecewaan demi kekecewaan dan kegagalan demi kegagalan. Ia kecewa dengan pengetahuan/pengalaman, karena mungkin, pengetahuan/pengalaman tidak membuatnya lebih bahagia, pengetahuan/pengalamannya justru membuatnya lebih menderita. Dan ia kecewa dengan pemikiran –yang disebutnya sebagai racun- karena mungkin ia melihat –dalam rentang waktu usianya- bahwa pemikiran-pemikiran manusia di sekelilingnya tidak ada bedanya dengan racun yang menggerogoti dirinya, sampai membuatnya menjadi gila, atau ia tidak setuju dengan pemikiran-pemikiran tersebut tetapi ia tidak punya kuasa atau kekuatan untuk menandinginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, ketika lelaki itu menemukan sebuah makam bayi yang tanggal kelahiran dan kematiannya sama (tidak berumur), lelaki itu berpikir “Mungkin jika ia diberikan umur, ia akan menjadi gadis yang baik dan sayang kepada orang tua”. Di sini terlihat inkonsistensi pengarang dalam menggambarkan tokohnya. Bagaimana mungkin tokoh yang sebelumnya menginginkan untuk mencari nisan yang “..tidak berumur. Manusia yang tidak digigit waktu, diguyur pengalaman, didera racun pemikiran”, setelah menemukannya kemudian berpikir jika seandainya nisan itu berumur, hanya karena ia membaca nama bayi itu “Sri Rahayu” yang menurutnya indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada paragraf: “Kenangan-kenangan tentang masa lalu pun kembali berputar. Ia ingat kekasihnya yang ingin menikah dan punya anak. Tapi, karena keadaan sosial yang belum dapat menerima, akhirnya kisah cinta mereka menjadi ternoda. Noda itu sudah berusaha dicuci, tapi tetap saja meninggalkan bekas. Lantas bekas itu menjadi huru-hara yang tak kunjung padam setiap harinya. Perjuangan untuk mempertahankan pun akhirnya sirna. Hilang tanpa bekas. Mungkin Sri Rahayu tidak akan pernah membuat huru-hara.” Pengarang mulai menunjukkan mengapa lelaki itu menginginkan nisan yang tidak berumur, lebih disebabkan karena ia mengalami kekecewaan dengan kisah cinta masa lalunya. Namun, di sini terlihat ada usaha pengarang untuk menyederhanakan cerita, yang sayangnya membuat cerita menjadi sangat klise. Seperti apakah “keadaan sosial yang belum dapat menerima” kisah cinta lelaki itu. Jika pada akhirnya lelaki itu kecewa dengan “waktu”, saya pikir, permasalahannya bukan sekedar “keadaan sosial”. Akan lebih mengena jika “keadaan sosial” diceritakan lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada paragraf berikutnya juga masih terlihat penyederhanaan yang sama. “Lelaki itu pun kembali teringat dengan keluarga. Kumpulan darah dagingnya yang hidup dengan topeng dan perasaan paling suci diantara semua. Karena tidak kuat mengikuti perasaan suci yang dimiliki oleh keluarganya, akhirnya lelaki itu pergi menggelandang dan memutuskan menjadi setan saja. Menjadi kafir-kafir sekafir-kafirnya. Namun terus berdoa supaya hanya manusia saja yang mengkafirkannya, jangan Tuhan. Ia terus berharap dalam kekafirannya, Tuhan tidak mengkafirkannya. Berharap dan terus berharap.”  Saya menjadi bingung. Di paragraf sebelumnya, lelaki itu teringat kekasihnya yang ingin menikah dan punya anak, namun “keadaan sosial belum dapat menerima”. Jika kemudian lelaki itu teringat dengan kumpulan darah daringnya, saya mengasumsikan bahwa lelaki tersebut lebih memiliki setidaknya dua keturunan, entah dari siapa, dari kekasihnya yang ingin menikah dan punya anak –yang diceritakan di paragraf sebelumnya- ataukah dengan orang lain yang tidak diceritakan. Jika “kumpulan darah daging” di sini dimaksudkan untuk merujuk kepada keluarga si lelaki, pengarang telah dengan tergesa-gesa memilih diksi. Di sini juga terlihat hubungan si lelaki dengan keluarganya, bagaimana akhirnya lelaki yang keluarganya “hidup dengan topeng dan perasaan paling suci”, memilih menjadi setan dan menjadi kafir sekafir-kafirnya. Sayangnya, pengarang tidak menunjukkan bagaimanakah pilihan tindakan yang dilakukan lelaki itu yang bisa dikatakan kafir sekafir-kafirnya, sehingga pada akhirnya semua yang dituduhkan oleh pengarang kepada lelaki itu atau kepada keluarganya menjadi mentah dan sangat memihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tiba-tiba hujan datang. Hujan yang menjadi-jadi, yang seakan mengerti kesedihan lelaki itu. Hujan yang meskipun telah diperintahkan untuk berhenti oleh lelaki itu, malah membalas: “Aku sudah tidak bisa berhenti! Biar. Biar saja mereka terdzalimi! Biar saja! Engkau sudah jauh dihancurkan oleh mereka! Ini adalah keadilan!“ Rupanya hujan ingin menjadi penegak keadilan bagi lelaki itu. Begitu hebatnya lelaki itu sampai-sampai hujan membelanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya pengarang menggambarkan keadaan pemakaman setelah hujan. “Mayat-mayat yang masih dikafani mengapung di permukaan air dari makam yang tenggelam. Lelaki itu takjub melihat satu persatu muncul mayat dari dalam air. Wajah mereka pucat pasi. Rautnya menggugat kenapa mereka tidak pernah dikunjungi. Mereka tidak butuh kunjungan basa-basi di sebelum bulan suci. Mereka marah dan meminta ganti rugi.” Demi membuat kesan puitik, pengarang melupakan logika cerita. Begini, “Mayat-mayat yang masih dikafani“, saya asumsikan mayat-mayat tersebut masih baru. “Wajah mereka pucat pasi“, berarti mayat-mayat tersebut masih tampak memiliki wajah. Nah, bagaimana bisa mayat-mayat yang masih baru dan memiliki wajah tersebut “Rautnya menggugat kenapa mereka tidak pernah dikunjungi. Mereka tidak butuh kunjungan basa-basi di sebelum bulan suci. Mereka marah dan meminta ganti rugi”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapakah batasan waktu “tidak pernah dikunjungi” yang dimaksudkan pengarang? Jika mayat-mayat itu “tidak butuh kunjungan basa-basi di sebelum bulan suci” asumsinya adalah bahwa mereka setidaknya pernah mendapat sekali kunjungan basa-basi itu. Nah, kunjungan basa-basi itu terjadinya setiap satu tahun sekali. Bisa dibayangkan bagaimana rupa mayat setelah satu tahun, apakah masih berwajah, apakah kain kafannya masih utuh? Di satu sisi, dengan usaha puitiknya pada paragraf tersebut, pengarang ingin mengkritik perilaku orang-orang yang hanya mengunjungi pemakaman setiap sebelum bulan suci, itupun dilakukan dengan basa basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, latar peristiwa dalam cerita ini berubah, dengan media transisi berupa banjir yang menyeret tokoh utama keluar dari latar sebelumnya ke latar berikutnya, yaitu jalan –jalan raya, jalanan, jalan kota. Tokoh utama menjadi menjadi saksi peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika banjir melanda, bagaimana masing-masing orang berenang menyelamatkan diri, bagaimana ia melihat seorang pria berdasi yang terpenjara dalam mobilnya sendiri, dan ia ingin menolongnya tapi tak bisa, bagaimana ia menyaksikan seluruh kota akhirnya terendam, bagaimana ia melihat seorang perempuan yang histeris mengguncang pundak seorang Kiai, namun Kiai tersebut rupanya tidak bisa berbuat apa-apa, dan tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang janggal di bagian ini: “Air kini sudah selutut patung pancoran”. Sedari awal, latar kota tidak disebutkan di kota mana, apakah kota yang nyata ataukah kota khayal. Hal ini membebaskan pembaca untuk membayangkan latar kota mana saja. Namun tiba-tiba, seolah kebebasan pembaca dibetot untuk meyakini bahwa latar peristiwa adalah di Jakarta, mulai dari pemakaman sampai di jalan-jalannya. Dengan kalimat tersebut, seolah pengarang juga ingin lebih meyakinkan yakin pembaca bahwa banjir yang terjadi sangat tinggi, tidak cukup hanya dengan kalimat “Seluruh kota pun telah terendam” di paragraf sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat bahwa pengarang ingin memasukkan unsur kritisisme sosial dalam karyanya. Orang berdasi yang terpenjara dalam mobilnya sendiri adalah sebuah  perumpamaan orang-orang kaya –pengusaha, birokrat, pejabat, konglomerat- yang tidak dapat melakukan apapun dengan harta dan kekayaannya untuk menyelamatkan diri dari bencana dan kematian. Seorang perempuan yang mengguncang pundak seorang kiai adalah perumpamaan orang-orang lemah yang mencari jawaban atu bersandar pada keyakinan agama semata, dalam memandang keadilan dan bencana. Meskipun perempuan tidak selamanya berarti orang-orang lemah, namun secara tidak sadar, pengarang memposisikan perempuan sebagai kaum lemah dan teraniaya. Jika hal ini ternyata salah, lantas mengapa pengarang memilih sosok perempuan, bukannya sosok lain. Di sisi lain, pengarang juga meninggikan sosok perempuan. Dari balik kelemahannya, perempuan menyimpan kekuatan yang luar biasa dalam berpacu tangisan dengan hujan menimbulkan banjir yang lebih besar. Dan seorang kiai yang akhirnya hanya melihat ke langit dan menundukkan kepala, tenggelam adalah perumpamaan tokoh agama yang tidak bisa berkutik menghadapi bencana dan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita diakhiri dengan menghilangnya sosok lelaki entah kemana, meninggalkan kota yang semakin gelap dan dipenuhi ketakutan. Narasi akhir “Mungkin juga ia tenggelam dan masuk ke dalam makam yang tersedia untuknya”. Bukanlah lelaki itu telah diseret oleh banjir keluar dari pemakaman? Bukankah tubuhnya telah berubah menjadi busa dan tidak dapat tenggelam? Lalu apa hubungan -ku dalam judul “Satu Makam Untukku” dengan “makam yang tersedia untuknya”? Agaknya, hubungan-hubungan seperti inilah yang belum terbangun dengan sempurna dalam cerita ini. Pengarang masih terjebak pada kesan puitik kalimat-kalimat yang ditulisnya sendiri, dan masih terjebak pada cerita yang ditulisnya sendiri, sehingga melupakan unsur-unsur dan logika yang membangun keutuhan sebuah cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diawal telah saya katakan bahwa cerita ini tidak bagus, juga tidak terlalu buruk. Pilihan tema dan penceritaan yang tidak biasa, mungkin menjadi kelebihan cerita ini dengan ketiga cerita yang lain. Namun sayangnya, tema dan penceritaan tersebut kurang dieksplorasi lebih jauh dan lebih dalam. Hubungan satu unsur dengan unsur yang lain dalam membangun cerita rasanya masih agak timpang. Apa hubungan nama “Sugeng Bin Sabar” dan “Sri Rahayu”. Ada gerangan apakah lelaki itu masuk ke pemakaman umum, ketidakadilan semacam apakah yang telah diterima lelaki itu sampai-sampai hujan membelanya. Jikapun hujan benar-benar membelanya, lantas kenapa pada akhirnya lelaki itu diseret banjir entah kemana yang oleh narator dikatakan “Mungkin juga ia tenggelam dan masuk ke dalam makam yang tersedia untuknya.” Saya tidak akan mempermasalahkan logika waktu peristiwa, karena cerita ini berada dalam lanskap sureal dimana logika waktu menjadi tidak begitu penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sebuah cerita diibaratkan sebuah bola, maka sebuah cerita yang bagus adalah bola yang pejal, tidak ada celah-celah atau ruang kosong di dalamnya. Dan lapisan luar bola tersebut adalah cermin, di mana pembaca bisa berkaca darinya. Cerita yang kurang tersusun sempurna bisa diibaratkan batu apung yang terdapat celah atau rongga di sana sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya sampaikan di atas tidak mutlak kebenarannya. Saya hanya menuliskannya berdasarkan temuan atau bacaan saya atas cerita “Satu Makam Untukku” didasari oleh pengetahuan saya yang masih terbatas. Bisa jadi pembaca lain menemukan hal lain yang jauh lebih dalam dan lebih banyak dari yang saya temukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih. Mari Berkarya!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekalongan, 11 Januari 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-9089299437038287268?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/9089299437038287268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=9089299437038287268&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/9089299437038287268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/9089299437038287268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/satu-makam-untukmu-satu-makam-untuk.html' title='Satu Makam Untukmu, Satu Makam Untuk Siapa?'/><author><name>windry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13072319767836551821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://bp1.blogger.com/_Gstyb-2JaAM/R85FBcecQ6I/AAAAAAAAAXw/dACfoIQUsWA/S220/she_was_buried_alive__by_cryptorchid.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-2443409496865791077</id><published>2008-01-11T17:32:00.000+07:00</published><updated>2008-01-11T17:46:12.267+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 4'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Metafora yang Tidak Pas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hasan Aspahani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/62519"&gt;Seorang Lelaki dan Layang-layang&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/andi_tafader"&gt;andi tafader&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;0. &lt;/span&gt;Inilah sajak yang hendak kita bicarakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seorang Lelaki dan Layang-layang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu membeli layang-layang berdawai nyaring&lt;br /&gt;Di tepi jalan di suatu siang yang benderang&lt;br /&gt;Dipilihnya yang berwarna paling terang&lt;br /&gt;Dibawa dan dimainkan di tanah lapang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layang-layang senang bukan kepalang&lt;br /&gt;Terbang tinggi menggapai bintang&lt;br /&gt;Ditarik ulur ujung benang&lt;br /&gt;Layang-layang mengawang-awang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin kencang datang menendang&lt;br /&gt;Layang-layang putus melayang&lt;br /&gt;Dikejarnya dengan galah panjang&lt;br /&gt;Layang-layang tak jadi menghilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas bermain meniti jalan pulang&lt;br /&gt;Di tepi jalan layang-layang baru ramai terpajang&lt;br /&gt;Warna dan bentuk lebih terang dan mentereng&lt;br /&gt;Dibelinya lagi satu layang-layang&lt;br /&gt;Layang-layang lama dihempaskan ke jurang&lt;br /&gt;Dawainya melengkingkan sebuah dendang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tentang seorang lelaki yang tak usai bertualang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dengan wanita-wanita yang selalu jadi pecundang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(30 Nopember 2007)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. &lt;/span&gt;SAYA sangat terganggu dengan dua baris pada larik terakhir itu. Saya kira dengan dua baris itu  penyairnya bermaksud memberi kejutan atau memberi panduan kepada pembaca. Seakan ia mau berkata, “ini lo maksud sajak saya.” Ini samalah kira-kira dengan sajak Chairil Anwar “Aku” yang tiba-tiba di akhir sajak itu diberi baris: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sajak ini tentang semangat hidupku yang berkobar-kobar!&lt;/span&gt; Apa perlunya? Kenikmatan sajak justru ketika pembaca dihargai kemampuannya untuk menangkap maksud sajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. &lt;/span&gt;TAPI baiklah kita terima kebaikan hati si penyair dengan mengikuti saja petunjuknya, bahwa layang-layang di sajak ini adalah metafora dari perempuan. Tepatkah metafora itu? Atau kita ganti pertanyaannya: asyikkah metafora itu? Saya kira tidak. Coba kita nikmati dari awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Perempuan seperti apakah yang terbayang dengan metafora “layang-layang berdawai nyaring”?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kalau perempuan itu dikaitkan dengan lelaki yang suka berpetualang, maka apakah tepat bila dalam sajak ini digambarkan si lelaki itu mendapatkan si perempuan di sebuah siang yang terang? Mungkin lebih tepat, bila digambarkan transaksi itu terjadi di malam remang. Tapi, sejak awal si penyair telah memilih laying-layang, dan itulah masalahnya, sebab tak mungkin kan main laying-layang pada malam hari?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan nalar yang sama, kita bisa bertanya apakah yang terbayang ketika si layang-layang itu direbutkan di tanah lapang? Harusnya kan di tempat yang juga remang-remang?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Begitulah, bait-bait berikutnya juga semakin meyusahkan saya untuk mengutuhkan bacaan saya, dan saya kecewa.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.&lt;/span&gt; SAYA sangat percaya pada teori bahwa sajak yang baik adalah sajak yang oleh penyairnya dijaga keutuhannya, sambil ia juga menawarkan keasyikan-keasyikan proses pemaknaan dengan menjalin kompleksitas di sekujur sajaknya itu. Unitas dijaga dan . kompleksitas ditebarkan. Maka hasilnya adalah sajak yang asyik untuk ditelusuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. &lt;/span&gt;SAYA yakin kandungan sajak di atas bisa dituliskan dengan lebih baik lagi, asal si penyairnya meninjau lagi metafora yang hendak ia pakai, memberdayakan lagi perangkat-perangkat puitika. Apa itu? Ya baca lagi teori Strukturalis, yang menjelaskan bahwa sajak terdiri atas struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik terdiri atas kosa kata yang dikuasai penyairnya, diksi, bahasa kias dll. Struktur batin terdiri atas tema, nada, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.&lt;/span&gt; Ah, saya cuma penyair bakat alam yang belajar otodidak. Anda, wahai penyair sajak ini, pun bisa juga melacak dan belajar sendiri teori-teori sajak (tanya Om Google-lah) belajar struktur sajak demi mempercanggih persajakan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-2443409496865791077?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/2443409496865791077/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=2443409496865791077&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2443409496865791077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2443409496865791077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/metafora-yang-tidak-pas.html' title='Metafora yang Tidak Pas'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-7153063805616030723</id><published>2008-01-11T08:19:00.000+07:00</published><updated>2008-01-11T08:26:03.148+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 4'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Dari Catatan Harian Hingga Cerita Pendek</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Moh Fahmi Amrulloh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/30946"&gt;Goodbye…. (for now)&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/k4cruterz"&gt;k4cruterz&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tulisan berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Goodbye&lt;/span&gt; yang saya baca adalah salah satu hasil persinggungan seorang penulis dengan satu peristiwa visual atau lebih yang terjadi sehari-hari di sekitarnya. Peristiwa visual tersebut diolah sedemikian rupa menjadi peristiwa tekstual yang kemudian disebut sebagai media ekspresi, entah isi hati sang penulis atau sekadar menyuarakan apa yang dilihat agar didengar orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, jika sudah berhadapan dengan publik, lagi-lagi yang terjadi adalah bagaimana hasil ekspresi itu bisa dinikmati oleh orang banyak, berfungsi mencerahkan, dan tidak menghakimi. Memproduksi sebuah tulisan yang enak dibaca, lebih-lebih mencerahkan, bukan persoalan mudah. Prinsip tidak menganggap enteng sesuatu itulah menurut saya kunci yang harus ditanamkan dalam diri seorang penulis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang yang baru belajar menulis biasanya membekali dirinya dengan idealisme yang tinggi. Di satu sisi, idealisme memang diperlukan. Namun, jika si penulis tidak dapat mengendalikan diri, tentu saja hal itu akan membuatnya menemui kesulitan yang luar biasa. Mereka membayangkan bahwa menulis dan mempublikasikan tulisannya ke media (khususnya cetak) adalah semudah membalik telapak tangan. Pada akhirnya, justru yang didapat adalah kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Goodbye&lt;/span&gt; ini. Entahlah, bagi saya tulisan ini hanya menerakan impresi yang biasa di benak saya, selain dia tak lebih dari sebuah laporan catatan harian seorang anak laki-laki yang sedang menunggu ayahnya melewati masa-masa kritis di sebuah rumah sakit. Seorang anak yang mengenang masa lalunya bersama sang ayah, dan kini mereka seolah bersiap untuk dipisahkan oleh kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini diawali dengan berondongan pertanyaan yang cukup mengena dan tentu saja memungkinkan keterlibatan pembacanya. Setelah melempar pertanyaan-pertanyaan, barulah si penulis membuka “catatan harian”-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si penulis mengisahkan pergulatan batin seorang tokoh laki-laki yang belakangan namanya diketahui sebagai Mirza. Tokoh Mirza yang sedang bergulat dengan batinnya sendiri menjelang  kematian sang ayah mencoba untuk tetap tegar pada saat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah ini sebuah peristiwa yang wajar? Seorang anak, entah laki-laki atau perempuan, yang ditinggal pergi untuk selamanya oleh orangtua akan bersedih. Seorang manusia yang ditinggal oleh sahabat tercintanya tentu akan merasa terpukul. Jadi, apa istimewanya sebuah cerpen yang mengangkat tema-tema yang selalu diulang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawab pertanyaan ini kita tidak bisa hanya dengan memakai kacamata normatif. Terlebih lagi dalam frame sastra, segala peristiwa yang dimunculkan oleh pengarang seperti pilihan-pilihan yang sengaja dibebaskan. Dengan kata lain, apa yang mencuat dalam suatu karya sastra adalah santapan siap saji. Pembaca yang tergila-gila pada karya-karya realis tentu mustahil menomorsatukan karya-karya surealis. Ibarat hobi kuliner, seseorang yang lidahnya terbiasa mencecap makanan pedas akan merasa sulit menyesuaikan diri dengan makanan daerah lain yang berciri khas manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati disampaikan dalam format catatan harian, namun tulisan ini sebenarnya masih sangat mungkin untuk terus dikembangkan dalam cerita yang lebih luas. Masih banyak ruang-ruang yang perlu diisi oleh penulis, dengan catatan si penulis mau sedikit—syukur-syukur secara total—bersusah payah untuk terus melakukan eksplorasi. Anggap saja tema kelahiran, kehidupan, kematian, bahkan kehidupan setelah kematian sebagai stimulan yang menggelitik daya kreatifitas seorang penulis. Namun, bagaimana tema-tema itu diungkapkan dengan gaya yang lain dan orisinil, hal itu sudah menjadi wilayah prerogatif seorang penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu catatan yang menurut saya sangat perlu diperhatikan oleh penulis cerita ini adalah terlalu “dermawan”-nya dia dalam memberikan tanda kutip. Misalnya, dalam kata ‘mencuci’, ‘menampar’, ‘Alam sana’, dan ‘rumah.’ Saya kira hal ini cukup mengganggu ketika saya membaca &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Goodbye&lt;/span&gt; ini. Sebuah karya sastra tidak melulu berfokus pada pesan yang ingin disampaikan, tapi bagaimana si penulis bermain-main dengan diksi, metafora, dan sebagainya tentu dengan sendirinya akan menunjukkan kelincahan sang penulis. Dan, untuk melatih kreatifitas seorang penulis bermain kata, saya kira tanda kutip seperti yang bertebaran dalam tulisan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Goodbye&lt;/span&gt; ini saya sebaiknya digunakan dalam penulisan kolom opini, esai, catatan harian, atau yang lainnya. Terima kasih dan semoga membantu. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-7153063805616030723?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/7153063805616030723/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=7153063805616030723&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7153063805616030723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7153063805616030723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/dari-catatan-harian-hingga-cerita.html' title='Dari Catatan Harian Hingga Cerita Pendek'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-5224067448145073667</id><published>2008-01-11T08:05:00.000+07:00</published><updated>2008-01-11T08:14:07.520+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 4'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>“GOODBYE”: GODA AKU DENGAN…</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hara Hope&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/30946"&gt;Goodbye.... (for now)&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/k4cruterz"&gt;k4cruterz&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Pernahkah engkau memandangi wajah dari seseorang yang begitu engkau kasihi saat sang ajal mulai perlahan merenggut cahaya kehidupan dari sekujur tubuhnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pernahkah engkau menyaksikan saat hembusan nafas ditarik untuk terakhir kalinya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pernahkah engkau merasa begitu tak berdaya saat maut menjemput seseorang yang begitu berarti bagi kehidupan kita?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku pernah...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu cerpen ini diawali. Sebuah teaser. Teaser yang menggoda, terlebih dilontarkan dengan kalimat interogatif untuk kemudian diakhiri kalimat bernuansa “posesif”. Menurut hematku, pola teaser seperti ini sangatlah baik karena sangat membantu menularkan ke-aku-an si tokoh cerita kepada ke-aku-an pembacanya (reflektif).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hanya saja (God, I hate this part ^_^), aku merasakan kekuatan teaser ini cenderung berkurang. Pada prinsipnya, teaser di sini memiliki kekuatan lebih pada dua kata, “pernahkah engkau…..,” yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;truly madly deeply&lt;/span&gt; (song by Savage Garden ^_^) menggugah kesadaran pembaca bahwa si tokoh ingin berbagi pengalamannya yang bukan semata-mata akan terjadi pada si tokoh dalam sebuah fiksi, melainkan bisa juga terjadi dalam kehidupan nyata pembacanya. Dalam hal ini, si penulis cerpen telah berhasil mendekatkan pembaca secara psikologis pada kisahnya dengan gaya tuturnya yang lugas (lewat kata “pernahkah”). Dan kita tahu kedekatan pembaca terhadap sebuah cerita sangatlah penting keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang membuat kekuatan ini berkurang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya spekulatif, setiap pembaca mungkin akan memiliki pendapat masing-masing akan hal in. Tapi aku menengarai kalimat yang panjang pada kalimat, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Pernahkah engkau memandangi wajah dari seseorang yang begitu engkau kasihi saat sang ajal mulai perlahan merenggut cahaya kehidupan dari sekujur tubuhnya?”&lt;/span&gt; lah penyebabnya. Dengan kalimat panjang seperti ini, pembaca biasanya akan membutuhkan napas lebih panjang dan memori yang lebih besar untuk melahap makna dalam kalimat. Hal ini membuat “daya ingat” pembaca akan kata-kata terdahulu sedikit berkurang karena perhatiannya terpusat agar ia mampu menyelesaikan kalimat panjang itu dalam “satu tarikan napas.” Secara otomatis hal ini membuat kekuatan suspens yang ditumpukan pada awal kalimat pun akan berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak percaya? Coba bandingkan dengan kalimat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pernahkah engkau memandangi wajah seseorang yang begitu engkau kasihi menjelang ajalnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih ringkas, bukan? Kalimat ringkas  yang sebenarnya bisa lebih disederhanakan lagi tergantung selera pembuat kalimatnya –  karena hal ini hanyalah satu dari sekian masalah teknis sebuah cerpen. Tapi, seperti yang sudah kukatakan, ini “hanyalah” tentang perlunya membuat pembaca tidak cepat lelah dan hilang perhatiannya akibat kalimat panjang –  bahkan terkadang kalimat terlalu pendek yang runtut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian soal kalimat teaser berikutnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pernahkah engkau menyaksikan saat hembusan nafas ditarik untuk terakhir kalinya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pernahkah engkau merasa begitu tak berdaya saat maut menjemput seseorang yang begitu berarti bagi kehidupan kita?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah rangkaian repetisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, teaser ini dibangun dengan gaya repetisi dimana terjadi pengulangan suatu kata atau sebagian kalimat atau seluruh kalimatnya (F.X. Mudjihardja, 1988). Dan repetisi pada kalimat dua dan tiga ini dibangun untuk memperteguh kekuatan kalimat pertama sekaligus memberi informasi turunan darinya. Hanya saja (aku sudah sebutkan aku benci bagian ini, kan?) repetisi seringkali tak perlu disertai pengulangan kata lagi, sehingga rasanya kata “pernahkah engkau” di kalimat kedua dan ketiga tidak perlu lagi ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kalimat terakhir, yakni, “ Aku pernah,” merupakan eksekusi yang baik dari jajaran kalimat teaser ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teaser bergaya semacam ini tentu bukan hal yang baru dalam dunia cerpen. Tapi bukan berarti pula teknik ini basi. Dan kukatakan sekali lagi, ini hanya satu dari sekian banyak teknik dalam pembuatan cerpen. Karena itu, untuk sekedar berbagi informasi (bukan untuk membandingkan, hanya ingin berbagi wawasan) aku coba cantumkan pula satu teaser bergaya interogatif. Begini isinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebelumnya aku harus bertanya ini dulu padamu: apakah kau menyukai keributan? Sesuatu yang lebih riuh dari acara ulang tahun temanmu yang menyebalkan dan membuatmu terpaksa menutup daun telinga. Keributan yang membuat kepalamu membesar melebihi kuali Ibu di dapur. Memaksamu untuk memukul-mukul kepalamu sendiri karena keributan itu tak kunjung berhenti padahal kau telah sangat ingin meledak karenanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bila jawabmu ya, maka kau bukan temanku. Namun bila jawabanmu tidak, belum tentu keributan yang kita sukai adalah keributan yang sama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teaser di atas kunukil dari cerpen Ucu Agustin berjudul &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Vacuum Cleaner&lt;/span&gt;. Bisa kita lihat di atas, kalimat utama teaser ini ringkas, bukan? Teh Ucu baru berani bermain-main dengan kalimat panjang pada kalimat berikutnya sampai kalimat eksekusi teasernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tentu tak akan bilang bahwa suatu teaser yang baik haruslah memiliki komposisi atau struktur kalimat seperti yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Teh&lt;/span&gt; Ucu bikin. Tapi sekali lagi kuungkapkan, bahwa dalam sebuah teaser kelimat utama yang menggugah keingintahuaan pembaca harus-haruslah jelas dan padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, sebelum kita bosan membicarakan teaser, kita ulas teaser ini dengan  mengorelasikannya dengan cerita utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memulai membaca cerita utamanya, terus terang aku merasakan aura kematian menguar begitu kentara. Sungguh pun cerita ini bercerita tentang kematian, tapi rasanya tak semestinya hal ini muncul begitu hebat. Bagi pembaca yang sabar membaca hingga akhir, tentu tak akan bermasalah dengan hal ini. Tapi bagi pembaca yang merasa hanya punya waktu membaca yang sempit, hal ini akan membuatnya berani menebak-nebak endingnya sambil bergumam, “Akh, pasti endingnya mati.” Celakanya, orang seperti ini sangat peduli pada ending sehingga jika ia merasa sudah tahu endingnya, ia akan langsung meninggalkan bacaannya sekalipun bisa saja ia salah menduganya dan bisa saja inti ceritanya bukan soal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penulis, kita tentu tak menghendaki itu, bukan? Kalau bisa, kita jaring semua pembaca dengan berbagai tabiat dan karakteristiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang perlu difokuskan di sini adalah kekurangrelevanan antara teaser dan pembuka cerita utama. Logikanya, teaser merupakan pembangun stigma untuk cerita utamanya. Tapi terkadang stigma dalam teaser saja tidak cukup. Perlu ditambah lagi dengan stigma dalam pembuka cerita utama. Bagiku, teaser di cerpen ini kurang lebih memberitakan bahwa apa yang ingin disampaikan  dalam isi cerpen adalah pengalaman menemani seseorang -- lebih spesifik lagi: memandangi wajah seseorang -- menjelang kematiannya. Maka sederhananya, stigma di awal cerita utama pun pastilah mengenai stigma “memandang wajah seseorang menjelang ajal” ini. Entah melalui nuansa mencekam, mengharu biru, atau lain sebagainya, yang pada intinya mempersiapkan diri pembaca dulu merasa, mendengar, dan membayangkan peristiwa yang akan dilihatnya langsung di puncak cerita. Bahkan untuk menambah geregetnya, bila perlu pakai juga alur maju-mundur untuk lebih mengaduk-aduk perasaan pembaca dengan berbagai flashback kehidupan para tokohnya dengan sang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini saja yang dapay kubicarakaan dari cerpen ini. Sisanya adalah mengenai corak tulisan yang sepertinya sudah ditemukan oleh si penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah semua yang membaca tulisan ini tahu atau tidak, bahwa aku menerima naskah ini tanpa disertai nama pemilik cerpen ini. Jadi aku membaca saja seperti membaca sebuah sobekan kertas koran tanpa tahu sobekan itu dari Kompas atau Lampu Merah. Aku pun tak pernah membacanya di K.com sebelumnya, walau aku merasa pernah melihat judulnya entah di daftar cerita terbaru, entah di mana (tanpa ingat nama penulisnya). Namun saat membaca cerita ini, aku rasanya seperti mengenal siapa gerangan si penulisnya. Lalu kucek di K.com, dan…Hei, aku menemukan sebuah nama. Dan nama itu sesuai dengan dugaanku!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupikir ini patut diberi ucapan selamat. Sebab di usia muda kepenulisannya (menurutnya lho, saat kami berkesempatan mengobrol santai di Semanggi), ia sudah menemukan corak tulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan pernah tanyakan seperti apa corakmu. Dari pengalamanku yang masih hijau ini, aku pernah melihat penulis-penulis muda sepertimu – dan aku – yang terlalu sibuk mengidentifikasi coraknya sehingga ia lupa untuk mengembangkan tekniknya. Sebagian lain malah merasa drop karena ada yang menilai tulisannya mirip Kahlil Gibran lah, Khairil Anwar lah, seakan-akan mereka hanya bisa menjiplak gaya semata – padahal terkadang mereka sama sekali belum pernah membaca tulisan penulis yang “termirip-miripkan” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi setelah sedikit berbangga sejenak, lupakanlah bahwa ente punye gaye. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Just do it&lt;/span&gt; (karena kita hanya menerima &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cash &lt;/span&gt;^_^). Menulislah terus. Banyak-banyak berlatih. Corak-tulis hanyalah sampah jika kau tak mengembangkannya. Jangan lupakan juga hati kecilmu, pesan-pesanmu. Bagiku yang naif ini, sebuah pesan dalam sebuah cerita tetaplah utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, maju terus pantang mundur!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toto tentrem kerto raharjo!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tat tit tut daun cereme saha nu hitut bujur na rame dibawa ka saung butut balik na pakceletut (wah hebat, sampai detik ini masih ada juga baca. Padahal aku cuma iseng nambahin bo!! Kik kik kik). &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-5224067448145073667?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/5224067448145073667/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=5224067448145073667&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5224067448145073667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5224067448145073667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/goodbye-goda-aku-dengan.html' title='“GOODBYE”: GODA AKU DENGAN…'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-8018725087736256327</id><published>2008-01-10T15:45:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T16:02:13.819+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 4'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Resensi Puisi 'Sembilu Waktu'</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Budhi Setyawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/59055"&gt;Sembilu Waktu&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/andi_tafader"&gt;andi tafader&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memberikan komentar resensi untuk puisi yang berjudul &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEMBILU WAKTU&lt;/span&gt;. Nama pengarang tidak saya ketahui, karena tidak dicantumkan ke email saya. Mungkin memang sengaja tidak diberitahukan oleh panitia. Dan saya sendiri, sebenarnya tidak punya kepentingan dengan para pengarang yang karyanya masuk ke panitia. Resensi dari saya tidak banyak, karena memang sedikit yang bisa diulas dari salah satu judul puisi yang dikirimkan kepada saya. Berikut resensi dari saya:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada awal bait pertama, baris pertama dan kedua; pengarang ingin mengatakan bahwa menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, sesuatu yang tajam, laksana &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘sembilu’&lt;/span&gt;, terasa menyakitkan, menikam; diungkapkan sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘menyayat tiada terperih’.&lt;/span&gt; (di sini mungkin yang dimaksud adalah ‘terperi’ bukan ‘terperih’. Karena kalau ‘terperih’ artinya adalah paling perih.). Situasi yang menyakitkan itu juga merupakan misteri yang tak ada jawaban, iya atau tidak, diungkapkan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘sekelam segitiga bermuda’&lt;/span&gt;. Sedangkan kata-kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘menyimpan rahasia kematian’&lt;/span&gt; hanya menjelaskan tentang segitiga Bermuda, bukan menjelaskan tentang perasaan pengarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada baris ketiga; tertulis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘peluh yang menghulu’&lt;/span&gt;. Di sini pengarang ingin mengungkapkan bahwa kerinduannya kian mendalam, sampai-sampai peluh atau keringat kembali ke hulunya, ke dalam tubuh. Kegalauan yang amat sangat hingga peluh pun berbalik arah, merasuk kembali ke asalnya. Sedangkan pada baris keempat; diungkapkan bahwa desah nafas dari yang dirindukan, membuat terlena jiwa yang memang sebenarnya telah terjerat ke dalam perasaan rindu yang demikian erat, yang diungkapkan sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘terperangkap pusaran ombak’.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bait kedua, baris pertama dan kedua; ungkapan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘pada hari tempat matahari dan rembulan berbagi rasa’&lt;/span&gt;, apakah yang dimaksud adalah suasana senja hari, yang biasanya suasana temaram dan menimbulkan nuansa kesendirian? Sedangkan pada baris kedua, pengarang sebenarnya ingin mengungkapkan kerinduan yang telah menyesak, namun dalam pernyataannya ada semacam pertentangan. Di situ tertulis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘aku tuangkan rindu yang telah ngilu membeku’&lt;/span&gt;. Mungkin maksud pengarang, karena sudah begitu lamanya memendam kerinduan, ingin ditumpahkan. Akan tetapi seperti ada yang kurang bisa disandingkan tentang menuangkan sesuatu (rindu) yang membeku. Ceritanya akan lain apabila penegasan rindu bukan dengan membeku, tetapi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘rindu yang terus bergolak’&lt;/span&gt;, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada baris ketiga dan keempat, pengarang ingin mengatakan bahwa sampai saat itu belum ada perubahan keadaan atau nasib, dan dalam perjalanannya belum bertemu dengan yang dirindukan, serta ungkapan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘berselimut kenangan’&lt;/span&gt; bisa diartikan sebagai selalu teringat dan tak bisa lepas dari bayangan masa lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum bisa dikatakan bahwa pengarang ingin menceritakan tentang kerinduan kepada kekasih namun belum bertemu jua, dan selalu teringat kepada bayangan masa lalu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian yang bisa saya sampaikan. Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekasi, 3 Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sastra,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-8018725087736256327?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/8018725087736256327/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=8018725087736256327&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/8018725087736256327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/8018725087736256327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/resensi-puisi-sembilu-waktu.html' title='Resensi Puisi &apos;Sembilu Waktu&apos;'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-865699658656259361</id><published>2008-01-08T08:35:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T21:30:23.094+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] Hasan Aspahani</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/R4Qegj9aTnI/AAAAAAAAA9M/FcsAnDKyDn0/s1600-h/hasan.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/R4Qegj9aTnI/AAAAAAAAA9M/FcsAnDKyDn0/s200/hasan.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153277418376154738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Lahir di Sei Raden, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kaltim, 9 Maret 1971. Setelah menyelesaikan kuliahnya di IPB melalui jalur PMDK dan memberdayakan ijazah sarjananya di beberapa perusahaan, Hasan Aspahani akhirnya kembali ke dunia tulis menulis lagi, maka sekarang bekerja sebagai Wakil Pemimpin Redaksi di &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Batam Pos&lt;/span&gt;. Di kota ini menjalani hidup bersama Dhiana (yang disapanya Na') dan Shiela dan Ikra (yang memanggilnya Abah).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Puisi-puisinya pernah terbit di sejumlah media, antara lain : koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawa Pos&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Batam Pos&lt;/span&gt;; juga dalam antologi : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sagang&lt;/span&gt; (2000), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cyberpuitika&lt;/span&gt; – antologi puisi digital (2002), dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dian Sastro for President #2&lt;/span&gt; (2003). Puisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Huruf-Huruf Hatta&lt;/span&gt; terpilih sebagai salah satu dari sepuluh puisi terbaik lomba puisi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;100 Tahun Bung Hatta&lt;/span&gt; (2002), dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Les Cyberletress&lt;/span&gt; (2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan Aspahani juga menjadi kartunis &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Post metro&lt;/span&gt; yakni sebuah kartun strip komik dengan tokoh utama "si Jeko" tukang ojek dengan kelucuannya (&lt;a href="http://post-metro.blogspot.com/"&gt;http://post-metro.blogspot.com&lt;/a&gt;). Sebagian besar puisinya dapat langsung dibaca di &lt;a href="http://sejuta-puisi.blogspot.com/"&gt;http://sejuta-puisi.blogspot.com&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-865699658656259361?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/865699658656259361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=865699658656259361&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/865699658656259361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/865699658656259361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/profil-hasan-aspahani.html' title='[Profil] Hasan Aspahani'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/R4Qegj9aTnI/AAAAAAAAA9M/FcsAnDKyDn0/s72-c/hasan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-4420735195097475653</id><published>2008-01-08T08:28:00.000+07:00</published><updated>2008-01-08T08:34:44.540+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] Adi Toha</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lahir di sebuah kota kecil di kawasan pantura bernama Pekalongan. Mulai tekun terjun di dunia buku, sastra dan tulis-menulis sejak berjualan buku di gerbang kampus Unpad dan berlanjut dengan sebuah kenekatan untuk membuka sebuah toko buku di kawasan Jatinangor -yang akhirnya berakhir tragis. Tapi tak apa, sebagaimana kata Coelho dalam The Alchemist &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“.. sebanyak apapun putaran yang harus dilakukan, asalkan tetap mengarah pada satu tujuan..”&lt;/span&gt; Dan tujuannya adalah membaca dan menulis sampai akhir hayat. Buku-buku yang membuat matanya hijau adalah buku-buku sastra, baik sastra negeri seberang ataupun negeri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Belajar berkesenian dan bersastra secara otodidak dari buku-buku, diskusi-diskusi, milis-milis, forum-forum maya dan banyak hal. Sampai detik ini, masih berusaha untuk konsisten menulis. Cerpen, puisi, ulasan buku, tulisan ringan, adalah yang bisa ditulisnya, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk menulis hal lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa cerpen dan puisi serta artikelnya telah dimuat di beberapa koran, seperti &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Batam Pos&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Koran Sindo&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Suara Pembaruan&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pikiran Rakyat&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;"&gt;*Sumber: &lt;a href="http://jalaindra.wordpress.com"&gt;http://jalaindra.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-4420735195097475653?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/4420735195097475653/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=4420735195097475653&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/4420735195097475653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/4420735195097475653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/profil-adi-toha.html' title='[Profil] Adi Toha'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-544801373571873794</id><published>2008-01-04T23:10:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T21:30:23.347+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] Hara Hope</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/R35a8D9aTiI/AAAAAAAAA8g/cvP1mHkbwxA/s1600-h/IMAGE_32.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/R35a8D9aTiI/AAAAAAAAA8g/cvP1mHkbwxA/s200/IMAGE_32.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5151655011659959842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hara Hope lahir di Saudi Arabia dua puluh enam tahun yang lalu. Beberapa cerpennya pernah dimuat majalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kawanku, Annida, Ummi, Aku Anak Saleh,&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cerita Kita.&lt;/span&gt; Hara Hope fokus menulis cerita remaja, kendati tetap coba-coba menuliskan konteks yang lebih dewasa. Salah satu cerpennya memenangi juara hiburan lomba cerpen majalah Ummi 2005.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa tulisan Hara Hope telah dibukukan bersama rekan penulis lain, yakni antologi FLP Yogyakarta &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lihatkan Bintang Untukku&lt;/span&gt; (DAR Mizan, 2003), antologi FLP Nasional &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Matahari Tak Pernah Sendiri &lt;/span&gt;(LPPH, 2005), dan antologi penulis teenlit &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Idolamu? Itu Aku&lt;/span&gt; (GPU, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hara Hope bergelut di dunia pula dengan merilis novel &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Summer Triangle&lt;/span&gt; (GPU, 2005), yang meraih penghargaan sebagai juara 2 Lomba Teenlit Writer Gramedia 2005, dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Target: Amore&lt;/span&gt; (GPU, 2006).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;comic-freak&lt;/span&gt;, ia tercatat sebagai salah satu storyboarder &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Studio Woh&lt;/span&gt;, suatu komunitas komik yang berbasis di Yogyakarta. Beberapa karya komik pendeknya memenangi perlombaan komik, seperti Lomba Komik Depag 2004 – Kategori SLTP yang meraih juara harapan 2 dan Lomba Sheila on 7 Song’s Comic Festival 2007 yang meraih juara 3. Kedua karya tersebut diilustrasikan oleh Janang “Studio Woh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Hara Hope tengah menggarap novel ketiganya, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kalamitos&lt;/span&gt;, di sela kesibukannya sebagai editor ensiklopedi dan anjangsananya terhadap dunia Astronomi di Himpunan Astronom Amatir Jakarta (HAAJ). Di dunia maya, ia berdomisili di &lt;a href="http://harahope.multiply.com"&gt;www.harahope.multiply.com&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-544801373571873794?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/544801373571873794/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=544801373571873794&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/544801373571873794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/544801373571873794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/profil-hara-hope.html' title='[Profil] Hara Hope'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/R35a8D9aTiI/AAAAAAAAA8g/cvP1mHkbwxA/s72-c/IMAGE_32.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-3010358509518148851</id><published>2008-01-03T22:24:00.000+07:00</published><updated>2008-01-04T23:18:33.864+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] Budhi Setyawan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyajak kelahiran 9 Agustus 1969 di Purworejo. Budhi lulusan Universitas Gajah Mada yang menyukai sastra. Puisi-puisinya sudah terbit dalam dua belas antologi, antara lain : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kidung Budaya Budhi&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepak Sayap Jiwa&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyadaran&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kebangkitan&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aku Lahir Satu&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sukma Silam&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bacalah&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gema Sunyi&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kelopak Rasa&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mata Musim&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Senggama Debu&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mantra Belantara&lt;/span&gt;. Empat kumpulan pertama telah diterbitkan menjadi dua buku dengan judul : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEPAK SAYAP JIWA&lt;/span&gt; (2006) dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENYADARAN&lt;/span&gt; (2006). Beberapa puisi karya Budhi juga pernah dimuat di harian &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tribun Kaltim&lt;/span&gt;, Balikpapan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-3010358509518148851?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/3010358509518148851/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=3010358509518148851&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3010358509518148851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3010358509518148851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/budhi-setyawan.html' title='[Profil] Budhi Setyawan'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-541056652927187006</id><published>2008-01-03T16:29:00.000+07:00</published><updated>2008-01-03T16:31:50.464+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 4'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Sesi IV Resensi</title><content type='html'>Start:      7 Januari 2008&lt;br /&gt;Location:      kemudian.com&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Materi : 4 puisi, 4 prosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peresensi :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;M. Aan Mansyur&lt;br /&gt;Budhi Setyawan&lt;br /&gt;Hasan Aspahani&lt;br /&gt;Mikael Johani&lt;br /&gt;Lisa Febriyanti&lt;br /&gt;Fahmi Amrulloh&lt;br /&gt;Hara Hope&lt;br /&gt;Adi Toha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(detil peresensi masih akan bertambah dan detil karya akan menyusul)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-541056652927187006?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/541056652927187006/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=541056652927187006&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/541056652927187006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/541056652927187006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/sesi-iv-resensi.html' title='Sesi IV Resensi'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-2274975709924735231</id><published>2008-01-03T16:02:00.000+07:00</published><updated>2008-01-11T09:10:33.828+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='faq'/><title type='text'>FAQ</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;1. Perkosakata 2008? Apa sih itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perkosakata 2008, disebut juga kopidarat KEMUDIAN, merupakan acara ajang temu dan kumpul komunitas penulis amatir online Indonesia. Komunitas ini bernama KEMUDIAN dan kerap bersenang-senang di situs kemudian.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopdar yang diadakan untuk keduakalinya di Jakarta ini berskala jauh lebih besar dari sebelum-sebelumnya dan mengangkat tema &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Saatnya Penulis Berbagi ... Saatnya Penulis Beraksi”&lt;/span&gt; – mengusung misi meningkatkan mutu kualitas penulis di dalam komunitas dengan melibatkan banyak penulis profesional dalam rangkaian acaranya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;2. Maksud dari tema “Saatnya Penulis Berbagi ... Saatnya Penulis Beraksi”?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai komunitas penulis amatir, KEMUDIAN merasa sangat perlu untuk belajar dari banyak pihak yang sudah lebih berpengalaman – para penulis atau editor pro – dan tentunya bukan hanya sekedar menerima pembelajaran, penulis juga harus siap beraksi setelahnya. Dengan cara? Ya, menulis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;3. Kapan acara ini dilangsungkan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian acara Perkosakata 2008 berlangsung sejak 20 November 2007 s.d. 24 Februari 2008. Resensi Karya KEMUDIAN mulai terlebih dahulu sebanyak lima sesi mulai 20 November 2007 s.d. 21 Januari 2008. Disusul oleh Seminar (23 Februari 2008), Workshop (24 Februari 2008) serta kopidarat itu sendiri (24 Februari 2008) sebagai puncak acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;4. Apa saja acara yang terangkai dalam Perkosakata 2008?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Acara Perkosakata 2008 terbagi dalam 4 bentuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Resensi Karya: &lt;/span&gt;Berupa tinjauan karya tulis secara keseluruhan berdasarkan pengalaman dari narasumber (penulis profesional yang diundang) dengan membahas diksi, isi, struktur, makna, simbolisme atau unsur-unsur lain dari karya tulis yang dianggap perlu, dikorelasikan dengan pengalaman pribadi di bidang kepenulisan yang narasumber geluti. Diharapkan peserta dan pembaca resensi dapat memperoleh kiat-kiat membuat karya tulis yang baik berdasarkan perspektif narasumber.Variasi atau keragaman narasumber yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini akan menghasilkan banyak perspektif dan itu merupakan salah satu sasaran panitia. Para peserta dan pembaca resensi akan mendapatkan wawasan baru mengenai keragaman spesifikasi di dalam dunia tulis menulis dari genre hingga sasaran pembaca.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Seminar:&lt;/span&gt; Bertujuan untuk membahas secara detail dan terstruktur proses-proses kreatif yang terdapat dalam pembuatan sebuah karya tulis yang baik. Kegiatan ini juga membahas bagaimana cara menjadi seorang penulis yang baik dan sukses dengan cara membagikan pengalaman, kiat serta panduan dari narasumber kepada peserta. Pembahasan ini akan menjadi sarana pembelajaran serta membuka wawasan peserta.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Workshop: &lt;/span&gt;Penulis wajib beraksi, dengan cara menulis. Kegiatan ini akan dikemas secara menarik dan interaktif antara narasumber dan peserta. Sebagai ajang praktik dan unjuk diri, sehingga peserta mendapat bimbingan langsung dalam menuliskan sebuah karya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Bincang KEMUDIANers: &lt;/span&gt;Sebagai ajang temu para anggota KEMUDIAN. Sehari-hari, para anggota hanya saling berinteraksi secara online. Maka, inilah saatnya para anggota bertemu muka untuk saling mengenal lebih jauh. Bincang Kemudianers juga akan membahas beberapa topik hangat seputar komunitas. Dibawakan langsung oleh Farida dan Tiva (para pendiri situs kemudian.com).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;5. Siapa saja yang boleh ikut serta dalam acara ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perkosakata 2008 terbuka untuk anggota komunitas KEMUDIAN dan masyarakat umum. Penulis yang ingin ikut resensi, bisa memosting karyanya di situs kemudian.com tanpa dikenakan biaya. Begitu juga Workshop dan acara Bincang, peserta bisa langsung mendaftar kepada panitia secara gratis (tempat terbatas). Sementara Seminar akan dikenakan biaya administrasi dan juga didahului oleh pendaftaran (tempat terbatas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;6. Siapa yang menggagas Perkosakata 2008?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kopi darat KEMUDIAN bukan baru sekali diadakan tapi kemudianers yang tergabung dalam panitia perkosakata ini memiliki visi yang berbeda untuk mengembangkan komunitas.Kami menawarkan visi yang besar untuk KEMUDIAN di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;7. Mengapa acara ini bernama ‘Perkosakata’?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;‘Perkosakata’ diambil dari frase ‘perkosa’ dan ‘kosa kata’, diartikan sebagai upaya penulis bermain dengan kata-kata untuk membentuk makna. Sejauh mana kata-kata dipermainkan, tentunya bisa disesuaikan dengan keinginan masing-masing. Melalui acara perkosakata diharapkan penulis makin berani mengeksplorasi tulisan, juga memotivasi diri untuk beraksi dengan karya-karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;8. Mengapa acara ini diadakan di Jakarta?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perkosakata 2008 adalah acara terbesar yang diadakan oleh komunitas KEMUDIAN saat ini dan bertujuan untuk memperkenalkan komunitas ini kepada masyarakat luas. Maka, Jakarta sebagai ibukota adalah pilihan paling tepat untuk dijadikan lokasi kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;9. Apa perbedaan Perkosakata 2008 ini dengan kopidarat-kopidarat KEMUDIAN yang sudah-sudah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perkosakata tidak hanya menjadi ajang temu dan kumpul tapi menjadi ajang temu dan kumpul yang bisa menambah wawasan kepenulisan. Karena itu, lahir kegiatan-kegiatan Resensi Karya, Seminar, dan Workshop, di mana panitia ikut melibatkan belasan penulis profesional di tiga bidang: puisi, prosa dan editing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;10. Siapa saja penulis-penulis profesional yang berpartisipasi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Resensi Karya: &lt;/span&gt;(Puisi) T.S. Pinang, Dino Umahuk, Zabidy Ibnoe Say, Nanang Suryadi, Mikael Johani, Budhi Setyawan, dan M. Aan Mansyur; (Prosa) Primadonna Angela, Isman H. Suryaman, Lisa Febriyanti, Amalia Suryani, Setiyo Bardono, Zabidy Ibnoe Say, Wawan Eko Yulianto, Yonathan Rahardjo, Ratih Kumala, Fahmi Amrulloh dan Hara Hope.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Seminar: &lt;/span&gt;Joni Ariadinata, Putu Wijaya, dan Helvi Tiana Rosa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Workshop: &lt;/span&gt;T.S. Pinang&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;11. Darimana dana penyelenggaraan acara ini didapatkan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dana untuk penyelenggaraan acara diperoleh dari pribadi atau badan hukum yang tertarik untuk ikut serta mendanai acara tersebut dengan sistem sponsorship. Sistem sponsorship terdiri dari paket-paket menguntungkan yang bebas dipilih oleh pihak calon sponsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjamin terciptanya hubungan yang saling menguntungkan, panitia PERKOSAKATA 2008 akan menuangkan ketentuan yang mengatur masalah Pendanaan (Sponsorship) tersebut dalam bentuk Perjanjian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila anda tertarik untuk ikut serta dalam acara kami dan ingin melihat proposal PERKOSAKATA 2008 silahkan menghubungi &lt;a href="mailto:perkosakata@kemudian.com"&gt;perkosakata@kemudian.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;12. Bagaimana cara ikut serta dalam acara-acara Perkosakata?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;li&gt;Resensi Karya&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Penulis yang ingin karyanya diresensi, bisa memosting karya tersebut di kemudian.com lalu mendaftar pada forum komunitas (di situs yang sama) dan mengirim karya yang diikutsertakan ke email panitia yang sudah ditentukan untuk diproses oleh panitia. Tidak dipungut biaya untuk mengikuti kegiatan ini dan jumlah karya yang dibahas setiap sesinya terbatas (4-8 karya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;li&gt;Seminar&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pendaftaran peserta seminar akan dibuka pertengahan bulan Januari, melalui situs kemudian.com dan blog-blog resmi Perkosakata 2008. Peserta seminar dikenakan biaya administrasi sejumlah Rp.150.000,- / early bird: Rp.135.000,- (gratis mengikuti workshop bagi 10 peserta pertama) dan tempat dibatasi untuk 100 pendaftar pertama. Pembayaran dilakukan via transfer dan bukti pembayaran wajib dibawa saat registrasi ulang pada Hari H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Workshop&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pendaftaran peserta workshop akan dibuka pertengahan bulan Januari, melalui situs kemudian.com dan blog-blog resmi Perkosakata 2008. Peserta seminar dikenakan biaya administrasi sejumlah Rp.55.000,- / early bird: Rp.50.000,- dan tempat dibatasi untuk 50 pendaftar pertama. Pembayaran dilakukan via transfer dan bukti pembayaran wajib dibawa saat registrasi ulang pada Hari H.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;li&gt;Bincang KEMUDIANers&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Acara temu ini bebas dihadiri oleh siapa saja, tanpa perlu mendaftar dan tidak dipungut biaya. Peserta bisa langsung datang ke lokasi sesuai jadwal acara dari panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;13. Kapan dan di mana tepatnya saya bisa mendaftar untuk mengikuti acara ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Resensi: &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;mulai November 2007 s.d. 8 Januari 2008 di &lt;a href="http://kemudian.com/forum/berita_terbaru_dan_pengumuman/51987"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;forum kemudian&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Seminar: &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pendaftaran mulai 15 Januari 2008 s.d. 15 februari 2008 di &lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(51, 204, 0);" href="http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/pendaftaran-seminar-dan-workshop.html"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Konfirmasi pembayaran mulai 30 Januari 2008 s.d. 20 Februari 2008 di &lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(51, 204, 0);" href="http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/konfirmasi-pembayaran.html"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Registrasi ulang pada 23 Februari 2008 di lokasi acara&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Workshop:&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pendaftaran mulai 15 Januari 2008 s.d. 15 februari 2008 di &lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(51, 204, 0);" href="http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/pendaftaran-seminar-dan-workshop.html"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Konfirmasi kedatangan mulai 30 Januari 2008 s.d. 20 Februari 2008 di &lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(51, 204, 0);" href="http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/konfirmasi-pembayaran.html"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Registrasi ulang pada 24 Februari 2008 di lokasi acara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada pertanyaan lain, silahkan email kami di &lt;a href="mailto:perkosakata@kemudian.com"&gt;perkosakata@kemudian.com&lt;/a&gt; dengan subject ‘TANYA’&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-2274975709924735231?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/2274975709924735231/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=2274975709924735231&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2274975709924735231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2274975709924735231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/faq.html' title='FAQ'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-515755585718442088</id><published>2008-01-03T15:59:00.001+07:00</published><updated>2008-01-11T10:07:15.119+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seminar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='workshop'/><title type='text'>Konfirmasi Pembayaran</title><content type='html'>Bukti transfer harap disimpan untuk register ulang pada hari H, tanggal 23-24 Februari 2008&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;form enctype="multipart/form-data" method="post" action="http://www.response-o-matic.com/mail.php" charset="UTF-8"&gt;&lt;div&gt;  &lt;input name="acctid" id="acctid" value="1j360oleatq0hmr8" type="hidden"&gt;  &lt;input name="formid" id="formid" value="336565" type="hidden"&gt;  &lt;input name="required_vars" id="required_vars" value="field-d416d07425238c1,name,field-5d5f2b36e94456c,email,field-2b80b29e5b12453" type="hidden"&gt; &lt;/div&gt; &lt;table border="0" cellpadding="5" cellspacing="5"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;   &lt;strong&gt;Tanggal pembayaran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;  &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;   &lt;input name="field-d416d07425238c1" id="field-d416d07425238c1" size="40" value="" type="text"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;/td&gt;&lt;br /&gt; &lt;/tr&gt;&lt;br /&gt; &lt;tr&gt;&lt;br /&gt;  &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;   &lt;strong&gt;Name:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;  &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;   &lt;input name="name" id="name" size="40" value="" type="text"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;/td&gt;&lt;br /&gt; &lt;/tr&gt;&lt;br /&gt; &lt;tr&gt;&lt;br /&gt;  &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;   &lt;strong&gt;Telp.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;  &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;   &lt;input name="field-5d5f2b36e94456c" id="field-5d5f2b36e94456c" size="40" value="" type="text"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;/td&gt;&lt;br /&gt; &lt;/tr&gt;&lt;br /&gt; &lt;tr&gt;&lt;br /&gt;  &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;   &lt;strong&gt;Email Address:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;  &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;   &lt;input name="email" id="email" size="40" value="" type="text"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;/td&gt;&lt;br /&gt; &lt;/tr&gt;&lt;br /&gt; &lt;tr&gt;&lt;br /&gt;  &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;   &lt;strong&gt;Pilihan Acara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;  &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;   &lt;input name="field-2b80b29e5b12453[]" id="field-2b80b29e5b12453_0" value="Seminar" type="checkbox"&gt; Seminar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;input name="field-2b80b29e5b12453[]" id="field-2b80b29e5b12453_1" value="Workshop" type="checkbox"&gt; Workshop&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;input name="field-2b80b29e5b12453[]" id="field-2b80b29e5b12453_2" value="Seminar dan Workshop" type="checkbox"&gt; Seminar dan Workshop&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;/td&gt;&lt;br /&gt; &lt;/tr&gt;&lt;br /&gt; &lt;tr&gt;&lt;br /&gt;  &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;   &lt;strong&gt;Keterangan (optional)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;  &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;   &lt;textarea name="field-347ed00c8421b84" id="field-347ed00c8421b84" rows="6" cols="40"&gt;&lt;/textarea&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;/td&gt;&lt;br /&gt; &lt;/tr&gt;&lt;br /&gt; &lt;tr&gt;&lt;br /&gt;  &lt;td colspan="2" align="center"&gt;&lt;br /&gt;   &lt;input value=" Submit Form " type="submit"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/td&gt;&lt;br /&gt; &lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/form&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica;font-size:78%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.response-o-matic.com/"&gt;create web form&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End Response-O-Matic Form --&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-515755585718442088?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/515755585718442088/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=515755585718442088&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/515755585718442088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/515755585718442088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/konfirmasi-pembayaran.html' title='Konfirmasi Pembayaran'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-2491026472758652167</id><published>2008-01-03T15:56:00.000+07:00</published><updated>2008-01-13T21:35:25.296+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seminar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='workshop'/><title type='text'>Pendaftaran Seminar dan Workshop</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Biaya Seminar dan Workshop&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seminar:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rp.150.000 (early bird hingga 13 Februari 2008 : Rp.135.000,-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10 peserta pertama gratis mengikuti workshop pada hari kedua.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Workshop:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rp.55.000 (early bird hingga 13 Februari 2008 : Rp.50.000)&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Langkah-langkah pendaftaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Isi formulir di bawah ini.&lt;br /&gt;* Panitia akan segera membalas melalui email/telp untuk memberitahu ketersediaan ruang dan no. rekening untuk transfer pembayaran.&lt;br /&gt;* Setelah transfer selesai dilakukan, segera isi form konfirmasi di &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/konfirmasi-pembayaran.html"&gt;SINI&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; (Penting! Karena proses dilakukan berdasarkan list peserta yang telah melakukan konfirmasi)&lt;br /&gt;* Simpan bukti transfer untuk register ulang pada hari H&lt;br /&gt;&lt;!-- Begin Response-O-Matic Form --&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- DO NOT EDIT YOUR FORM HERE, PLEASE LOG IN AND EDIT AT RESPONSE-O-MATIC.COM --&gt;&lt;br /&gt;&lt;form enctype="multipart/form-data" method="post" action="http://www.response-o-matic.com/mail.php" charset="UTF-8"&gt;&lt;br /&gt; &lt;div&gt;&lt;br /&gt;  &lt;input name="acctid" id="acctid" value="aopg4ofw1jvdrbtv" type="hidden"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;input name="formid" id="formid" value="329416" type="hidden"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;input name="required_vars" id="required_vars" value="name,field-fb3b7f2d094cfd9,email,field-2e7cf1f09bc6e71,field-dc4d589b5f33bff" type="hidden"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt; &lt;table border="0" cellpadding="5" cellspacing="5"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;br /&gt;   &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;    &lt;strong&gt;Nama Lengkap&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;   &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;    &lt;input name="name" id="name" size="40" value="" type="text"&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;   &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;  &lt;tr&gt;&lt;br /&gt;   &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;    &lt;strong&gt;No. telp&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;   &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;    &lt;input name="field-fb3b7f2d094cfd9" id="field-fb3b7f2d094cfd9" size="40" value="" type="text"&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;   &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;  &lt;tr&gt;&lt;br /&gt;   &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;    &lt;strong&gt;E-mail:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;   &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;    &lt;input name="email" id="email" size="40" value="" type="text"&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;   &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;  &lt;tr&gt;&lt;br /&gt;   &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;    &lt;strong&gt;Alamat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;   &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;    &lt;textarea name="field-2e7cf1f09bc6e71" id="field-2e7cf1f09bc6e71" rows="6" cols="40"&gt;&lt;/textarea&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;   &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;  &lt;tr&gt;&lt;br /&gt;   &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;    &lt;strong&gt;Pilihan Acara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;   &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;    &lt;input name="field-dc4d589b5f33bff[]" id="field-dc4d589b5f33bff_0" value="Seminar" type="checkbox"&gt; Seminar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;input name="field-dc4d589b5f33bff[]" id="field-dc4d589b5f33bff_1" value="Workshop" type="checkbox"&gt; Workshop&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;input name="field-dc4d589b5f33bff[]" id="field-dc4d589b5f33bff_2" value="Seminar dan Workshop" type="checkbox"&gt; Seminar dan Workshop&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;   &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;  &lt;tr&gt;&lt;br /&gt;   &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;    &lt;strong&gt;Keterangan (optional)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;   &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;    &lt;textarea name="field-36911cd95519847" id="field-36911cd95519847" rows="6" cols="40"&gt;&lt;/textarea&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;   &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;  &lt;tr&gt;&lt;br /&gt;   &lt;td colspan="2" align="center"&gt;&lt;br /&gt;    &lt;input value=" Submit Form " type="submit"&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/td&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;br /&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/form&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica;font-size:78%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.response-o-matic.com/"&gt;create form&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End Response-O-Matic Form --&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-2491026472758652167?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/2491026472758652167/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=2491026472758652167&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2491026472758652167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2491026472758652167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2008/01/pendaftaran-seminar-dan-workshop.html' title='Pendaftaran Seminar dan Workshop'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-9206589542325056667</id><published>2007-12-20T09:30:00.000+07:00</published><updated>2008-01-11T22:42:23.213+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bincang'/><title type='text'>Bincang Kemudianers</title><content type='html'>Jadwal:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Minggu, 24 Februari 2008, pkl. 13.00-16.00&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Topik:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;“KEMUDIAN kini dan kemudian” &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pembicara:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Farida dan Tiva (Pendiri KEMUDIAN)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Moderator:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Hanny Kusumawati&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Kegiatan ini akan menjadi ajang temu para anggota KEMUDIAN. Sehari-hari, para anggota hanya saling berinteraksi secara online. Maka, inilah saatnya para anggota bertemu muka untuk saling mengenal lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bincang Kemudianers juga akan membahas beberapa topik hangat seputar komunitas. Dibawakan langsung oleh Farida dan Tiva (para pendiri KEMUDIAN) serta dipandu oleh seorang moderator.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-9206589542325056667?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/9206589542325056667/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=9206589542325056667&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/9206589542325056667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/9206589542325056667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/12/bincang-kemudianers.html' title='Bincang Kemudianers'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-9021600043694944273</id><published>2007-12-20T09:27:00.000+07:00</published><updated>2008-01-12T09:14:07.563+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='workshop'/><title type='text'>Workshop Inspirasional</title><content type='html'>Jadwal:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Minggu, 24 Februari 2008, pkl. 09.30-12.00&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Tempat:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Gedung Dinas Teknis (Bank DKI), Gunung Sahari - Jakarta Pusat&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Topik:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;“Semua Bisa Menulis ... Jadi Kenapa Tidak?!”&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pembicara:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;T.S. Pinang&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Moderator:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kinu Triatmodjo&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dengan tema “Saatnya Penulis Beraksi”, workshop ini bertujuan untuk membuka wawasan peserta tentang bentuk sebuah karya tulis yang baik dengan cara pembekalan teori, kiat serta panduan tentang proses kreatif pembuatan sebuah karya tulis yang baik, sehingga diharapkan dapat membangkitkan semangat serta memberikan motivasi dari peserta untuk menghasilkan sebuah karya tulis yang baik. Selain itu, dapat menjadi ajang unjuk diri dari peserta sehingga diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri dari peserta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-9021600043694944273?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/9021600043694944273/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=9021600043694944273&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/9021600043694944273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/9021600043694944273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/12/workshop-inspirasional.html' title='Workshop Inspirasional'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-3459690328875762187</id><published>2007-12-20T09:22:00.000+07:00</published><updated>2008-01-12T09:13:07.355+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seminar'/><title type='text'>Seminar</title><content type='html'>Jadwal:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sabtu, 23 Februari 2008, pkl.09.30-12.00 (Sesi I)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sabtu, 23 Februari 2008, pkl.13.00-15.30 (Sesi II)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Tempat:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Gedung Dinas Teknis (Bank DKI), Gunung Sahari - Jakarta Pusat&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Topik:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Proses Kreatif Membuat Karya Tulis (Sesi I)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;            Persiapan Diri Menjadi Penulis Profesional (Sesi II)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pembicara:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Putu Wijaya (Sesi I)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ahmad Tohari (Sesi II)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    Joni Ariadinata (Sesi I &amp;amp; II)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Moderator:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tamara Geraldine&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan tema &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Saatnya Penulis Beraksi”&lt;/span&gt;, seminar ini bertujuan untuk membahas secara detail dan terstruktur proses-proses kreatif yang terdapat dalam pembuatan sebuah karya tulis yang baik. Kegiatan ini juga membahas bagaimana cara menjadi seorang penulis yang baik dan sukses dengan cara pembagian pengalaman, kiat serta panduan dari narasumber kepada peserta. Pembahasan ini akan menjadi sarana pembelajaran serta membuka wawasan peserta.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-3459690328875762187?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/3459690328875762187/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=3459690328875762187&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3459690328875762187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3459690328875762187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/12/seminar.html' title='Seminar'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-2682128479993693000</id><published>2007-12-17T13:39:00.000+07:00</published><updated>2007-12-17T13:45:11.932+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 3'/><title type='text'>Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha    ti.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mikael Johani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/48901"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hati&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/ghe"&gt;ghe&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;duh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hatimu berserakan di lantai kamarku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sebentar. kuambil pengki dan sapu &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertawa membaca ini. Sebentar, jangan tertawa dulu. Tertawa barang langka sekarang dalam sastra Indonesia, paling tidak (meneruskan rant saya dua di sesi satu kemarin) yang diakui oleh koran-koran Minggu. Dan orang sebenarnya rindu ketawa, &lt;a href="http://mywritingblogs.com/cerpen/2007/09/25/penafsir-kebahagiaan/"&gt;lihat ini&lt;/a&gt;. Jadi, satu hal penting dulu, hanya karena saya tertawa, bukan berarti sajak kecil ini lebih 'ringan' apalagi lebih tidak bermutu daripada sajak yang membuat saya mengerutkan dahi atau mengelus-elus dada (ini juga mungkin terjadi gara-gara saya bingung dan putus asa nggak ngerti artinya, belum tentu karena sajaknya menyedihkan dan membuat trenyuh).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya tertawa karena apa? Pertama-tama, tidak jelas. Tapi menurut saya, alasan tertawa memang susah dijelaskan. Tidak semua orang akan menertawakan hal yang sama. Dan hal yang sama-sama ditertawakan mungkin sekali tidak ditertawakan karena alasan yang sama. Ada alasannya kenapa Freud menjuduli kitab sucinya tentang humor &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Jokes and their Relation to the Unconscious'&lt;/span&gt;, karena kelihatannya memang itulah yang diserang oleh sebuah lelucon, alam bawah sadar kita, sebelum sadar kenapa, kita sudah tertawa duluan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi marilah kita bermain Oprah sebentar, jadi psikoanalis amatiran.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin yang pertama membuat saya ketawa adalah anti-klimaks sajak ini, 'sebentar. kuambil pengki dan sapu'. si pacar (eks pacar!) sadar hati (eks)pacarnya berserakan di lantai kamar (pastinya dia sendiri yang menghancurkannya!) tapi reaksinya bukan, misalnya, 'nih, bunga sekeranjang!', dia hanya akan menyapu serpihan-serpihan hati itu, menggiringnya ke pengki, dan kemudian saya bayangkan, ke mana lagi kalau bukan membuangnya ke tempat sampah! dan perhatikan titik setelah sebentar itu. bukan 'sebentar, (koma) ...' seberapakah sebentar yang diikuti titik itu? si (eks)pacar berdiri (atau mungkin tergeletak pingsan di lantai) tanpa hati, dan masih juga dia disuruh menunggu! mana &lt;span style="font-style: italic;"&gt;emergency response&lt;/span&gt;-nya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mungkin sebelum itu saya sudah ketawa karena 'duh.' di baris pertama. ini (lagi-lagi diikuti titik yang nyantai, bukan koma yang tergesa apalagi tanda pentung yang panik) duh khawatir atau duh kebosanan? duuuh, lagi deh, gimana siiih!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesinisan penyair, yang dikatakan dengan begitu dead pan, buat saya sangat menghibur. Buat saya, kesinisan adalah emosi yang sama real-nya dengan, misalnya, penyesalan. Dan penyesalan sudah diberikan terlalu banyak tempat di koran Minggu (tetep). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini masalah yang buat saya memang besar. Sejak puisi mbeling di tahun '70-an (cari antologi 'Penyair Muda Di Depan Forum' di toko buku Jose Rizal di TIM), baru 'Antologi Bunga Matahari' (2005) yang dengan sadar memberi tempat utk emosi-emosi yang tidak melulu muram. (Joko Pinurbo bisa lucu juga, tapi pada dasarnya dia seorang romantis yang paling suka kalau bisa menguras air mata pembacanya.) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin selain tertawa karena sajak ini lucu, saya juga tertawa lega karena sajak ini tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam romantisme, apalagi sentimentalisme, yang palsu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tahu apakah ini sengaja atau tidak, mungkin tidak penting sengaja atau tidak, saya juga suka dengan bentuk visual sajak ini. Pendek, cuma tiga baris, yg membuat saya berpikir tentang haiku, atau misalnya ini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Malam Lebaran&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di atas kuburan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Sitor Situmorang) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga mungkin membuat saya secara tidak sadar menanti sesuatu yang penuh kekhidmatan seperti itu. Penantian yang langsung hancur berserakan setelah membaca 'duh.' tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perrmainan bentuk seperti ini, mengkhianati bentuk, tentu bisa menjadi salah satu senjata penyair yang ampuh. Seperti Sitor sendiri misalnya, dengan (nyaris)pantun-nya 'Si Anak Hilang' yang pulang ke bentuk tradisional hanya untuk memberi tahu bahwa si anak hilang ini tidak mungkin pulang! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lagi2, parodi bentuk seperti ini juga jarang sekali ditemui sekarang di koran-koran Minggu. Yang kebanyakan memuat verse yang sok libre. Satu lagi centang dengan bolpen hijau untuk puisi 'Hati' ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang membuat saya penasaran tentang ini, dan yang juga lama tidak disinggung oleh sastra Indonesia, terutama kritik(us)2nya adalah fungsi retorik puisi ini. Dia diucapkan untuk apa? Apakah misalnya, untuk membuat (eks)pacar ini jadi lebih kesal sehingga dia akhirnya meninggalkan kamar terus si penyair bisa tenang hore2 main Wii? Kita suka lupa puisi punya maksud pragmatis seperti itu juga. Dan seandainya itu benar, betapa efektifnya puisi ini! (Eks)pacar mana yang tidak akan semakin muak dengan penyair tanpa hati seperti ini! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha&lt;br /&gt;hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha&lt;br /&gt;hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha&lt;br /&gt;hahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ha.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-2682128479993693000?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/2682128479993693000/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=2682128479993693000&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2682128479993693000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2682128479993693000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/12/hahahahahahahahahahahahahahahahahahahah.html' title='Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha    ti.'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-2322275964146071388</id><published>2007-12-17T09:58:00.000+07:00</published><updated>2007-12-17T10:05:14.987+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 3'/><title type='text'>ROMANTISME Menanti Hujan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh Amalia Suryani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/%E2%80%9Dhttp://kemudian.com/node/49250%E2%80%9D"&gt;Menanti Hujan&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://www.blogger.com/%E2%80%9Dhttp://kemudian.com/user/noir%E2%80%9D"&gt;noir&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jelas. Tapi ketidakjelasan itu sangat manis dibaca dan dibayangkan. Mungkin ini gara-gara hujan. Sebab selain nuansa suram dan kelabu, hujan memang suka memberi efek manis romantis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Engkaukah yang datang bersama hujan itu? &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;Oh ya… si pengarang, yang awalnya saya pikir perempuan, memilih pertanyaan yang benar. Sebab pertanyaan sentimentil semacam itu sungguh serasi dipadankan dengan suasana tubuh dan sekaligus hati yang dingin.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun rasanya judul tulisan ini kurang pas. Sebab hujan sudah datang (kok masih dinanti?). Hanya &lt;em&gt;lelaki hujan&lt;/em&gt; saja yang belum muncul. Jadi bukan hujan yang ditunggu-tunggu, melainkan si lelaki hujan. Mungkin pengarang lebih memilih judul “Menanti Lelaki Hujan” agar tidak mementahkan romantisme yang ingin ia ciptakan. Mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan hujan sedang turun, aku bertanya apakah &lt;em&gt;lelaki hujan&lt;/em&gt; datang bersama hujan itu, sebab biasanya lelaki itu datang ketika hujan. Aku lalu bertanya-tanya apakah &lt;em&gt;lelaki hujan&lt;/em&gt; tidak akan lagi datang bersama hujan, melainkan bersama kemarau. &lt;em&gt;Lelaki hujan&lt;/em&gt; menjawab; bahwa ia bukan hujan, ia juga bukan kemarau. Ia adalah musim yang salah. Nah… sampai di sini saya jadi bingung. Rangkaian pertanyaan dan jawaban di akhir tulisan ini merusak keasyikan saya mengikuti nasib aku yang menanti seorang lelaki yang mestinya datang bersama hujan, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; “Aku bukan hujan.” &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ngerti lelaki itu bukan hujan. Ia cuma seseorang yang biasa datang bersama hujan. Jadi sepertinya, pada akhirnya ia datang untuk menjelaskan pada aku kalau dirinya bukan hujan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kemarau itu kau yang ciptakan.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya asumsikan kemarau di sini adalah gambaran kerinduan aku. Dan kemarau itu muncul karena lelaki hujan lama tak datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Aku adalah musim yang salah.” &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ya… ini yang paling mengganggu. Kalimat ini menjadi puncak “kalimat berbunga” alias kiasan yang sejak awal menjadi gaya yang pasti sengaja dipilih pengarang untuk menceritakan kisah aku. Apa yang sebetulnya hendak disampaikan pengarang? Saya merasa kalimat itu bukan sekadar pemanis percakapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ungkapan itu disampaikan untuk meminta secara tidak langsung agar aku tidak perlu lagi menunggu &lt;em&gt;lelaki hujan&lt;/em&gt; datang bersama hujan? Bahwa di saat-saat sebelumnya aku keliru menganggap lelaki itu adalah &lt;em&gt;lelaki hujan? &lt;/em&gt; Bahwa ia hanya lelaki yang memiliki banyak kenangan berlatar suasana hujan dengan aku? Bahwa ia sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan hujan yang menyertainya? Atau ia hendak menyampaikan kalau selama ini ia datang tidak di saat yang tepat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak kemungkinan. Saya sendiri lebih suka menganggap tulisan ini adalah jelmaan rasa rindu seorang perempuan akan kehadiran seseorang yang selama ini membuatnya tenang sekaligus bisa mengekspresikan perasaannya dengan liar. Rasa rindu itu belum terobati hingga akhir cerita sebab yang ia tunggu belum muncul, kecuali sekadar penggalan-penggalan kenangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ya, satu hal lagi yang saya simpulkan dari tulisan ini: bahwa pada tanggal 9 Oktober 2007 sekitar pukul 2 siang… turun hujan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-2322275964146071388?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/2322275964146071388/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=2322275964146071388&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2322275964146071388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2322275964146071388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/12/romantisme-menanti-hujan.html' title='ROMANTISME Menanti Hujan'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-5533501116193221853</id><published>2007-12-17T09:55:00.000+07:00</published><updated>2007-12-17T09:57:59.714+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 3'/><title type='text'>MISTERI Danau Kematian</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh Amalia Suryani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/1770%E2%80%9D"&gt;Danau Kematian&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/niska%E2%80%9D"&gt;niska&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fiksi memang bisa menjadi kedok bagi pengarang untuk menjawab keanehan, ketidakmungkinan, dan lebih ekstrim lagi: kemustahilan. Lewat fiksi, imajinasi bisa dibentangkan seluas dunia, termasuk dunia lain yang tidak kasat mata. Penceritaan Danau Kematian adalah salah satu kemustahilan, yang saya yakin oleh pengarangnya dianggap “aman” karena ini cerita fiksi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya menganggapnya mustahil karena tokoh aku dalam cerita ini adalah orang yang sudah mati, yang bahasa gaulnya: ruh gentayangan. Jadi teringat serial &lt;em&gt;Desperate Housewives&lt;/em&gt; yang naratornya sudah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang saya kecewa. Sejak awal cerita ini dimulai, saya sudah bisa mengira-ira apa yang terjadi pada aku. Apalagi dengan judul yang begitu gamblang: Danau Kematian, siapapun yang membaca pasti tahu kalau danau itu ada hubungannya dengan kematian karakter penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin berkomentar banyak tentang bagaimana cerita ini disusun, bagaimana pembaca dibawa ke akhir cerita yang menjanjikan jawaban, atau bagaimana “misteri” danau itu terkuak. Karena toh jawaban sudah terbayangkan tanpa harus menyelesaikan cerita. Tapi… saya punya kewajiban membaca cerita ini sampai tuntas agar komentar saya tidak salah. Dan jujur, sambil membaca saya terus berharap perkiraan saya meleset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang. Perkiraan saya tidak meleset. Si aku yang bernama Rina itu memang mati. Dengan gemas saya pun langsung bertanya: &lt;em&gt;Bagaimana orang mati bisa bercerita?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu mungkin akan dijawab dengan gagah bahwa cerita ini hanya fiktif belaka. Pengarang hanya sedang mengumpamakan dirinya menjadi orang yang sudah mati yang jasadnya terjebak di dasar danau. Berani sekali. Seolah si pengarang sudah sangat paham dengan apa yang terjadi sesudah kematian. Berani sekali. Sebab ada pilihan yang lebih bijak untuk memilih karakter lain yang lebih masuk akal untuk diceritakan sebagai orang pertama. Diar, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apapun… gaya penceritaan dan pemilihan sudut pandang bercerita menjadi hak prerogatif pengarang. Saya cuma pembaca yang tidak suka dengan kemustahilan semacam itu. Cukuplah pikiran ini merasa keberatan membayangkan bagaimana ruh tertinggal di danau, bagaimana ruh (Rina) menahan napas &lt;em&gt; (ya, di paragraf ketiga ada pernyataan tentang Rina-mati yang menahan napas) &lt;/em&gt;, lalu bagaimana ruh (Rina) yang gaib bisa meraih dan memeluk bunga lili yang fana. Rasanya tidak perlu lagi ditambahi dengan kesulitan bagaimana sang ruh bercerita dan mengirimkan cerita ini untuk dibaca orang (yang masih hidup). &lt;em&gt;That’s overwhelming. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Good point: &lt;/em&gt; pengarang cerita ini pastilah orang yang sangat sabar dalam menceritakan sebuah kisah. Ia tidak terburu-buru, bercerita satu demi satu adegan untuk membawa pembacanya ke akhir cerita. Menurut saya “kesabaran” semacam itu modal yang bagus. Ia hanya perlu menemukan kisah yang tepat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saya tidak berlebihan…&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-5533501116193221853?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/5533501116193221853/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=5533501116193221853&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5533501116193221853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5533501116193221853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/12/misteri-danau-kematian.html' title='MISTERI Danau Kematian'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-3834486476148286057</id><published>2007-12-17T09:43:00.000+07:00</published><updated>2007-12-17T09:52:46.280+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 3'/><title type='text'>Membicarakan Hujan di Bulan Desember</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh Setiyo Bardono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Desember identik dengan hujan. Desember, &lt;em&gt;gede-gedene sumbe&lt;/em&gt;r, begitu khasanah budaya Jawa mengartikannya. "Sumber" sendiri bisa berarti mata air atau sumur. Bulan Desember berarti bulan dimana sumur atau mata air dalam kandungan air yang berlimpah karena hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bulan Desember ini pula saya menerima dua naskah cerpen yang menyinggung tentang hujan. Dua cerpen tersebut harus saya resensi untuk program resensi karya kemudian.com. Sebenarnya saya bukan peresensi yang baik, tapi saya akan mencoba mengupas dua cerpen itu dengan cara saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/49250%E2%80%9D"&gt;Menanti Hujan&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Oleh &lt;a href="http://www.blogger.com/%E2%80%9Dhttp://kemudian.com/user/noir%E2%80%9C"&gt;noir&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Menanti Hujan&lt;/em&gt; adalah sebuah cerpen dengan kalimat awal yang begitu basah. &lt;em&gt;Engkaukah yang datang bersama hujan ini?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Tapi kata &lt;em&gt;”hujan ini” &lt;/em&gt; memberi kesan hujan sudah turun, jadi proses ”Menanti Hujan” sepertinya sudah lewat. Selain itu, sebagai sebuah judul kata tersebut terlalu umum. Bila kata tersebut harus bersaing dengan ratusan judul cerpen untuk dibaca seseorang, kemungkinan besar bisa dilewati. Apalagi sebagaimana kita ketahui, menunggu adalah proses yang membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain harus mencerminkan keseluruhan isi, judul seyogyanya harus dibuat menarik. Jadi mengapa tidak mengambil kata “Lelaki Hujan” sebagai judul. Bukankah cerpen ini membicarakan sosoknya, mempertanyakan &lt;em&gt;keberadaanmu, lelaki hujanku.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Membaca keseluruhan cerpen, saya seperti membaca sebuah puisi prosa. Deretan kata-kata indah mengalir seperti tarian hujan. Sepertinya penulis sedang larut dalam perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Gerimis selalu sertai hadirmu. Seperti waktu-waktu lalu. Ingatkah kau pada masa hujan kerap basahi bumi? Kita larut menjalin asa. Percakapan disela gemuruh petir. Bisikan di antara desau angin. Bercumbu kala jarum-jarum air menghujam. Temaram begitu memabukkan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, menderetkan kata-kata indah memerlukan stamina lebih. Benar saja, seperti hujan sekejap, cerpen ini berakhir terlalu cepat. Cerpen ini berhasil saya cetak menjadi satu halaman A4 dengan huruf Arial Narrow ukuran 10. Cerpen ini mungkin tergolong Cermin (Cerita Mini), sangat cocok dikirim ke majalah Gadis untuk mengisi rubrik &lt;em&gt;Percikan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang cerpen yang panjang belum tentu lebih bermutu dari pada cerpen yang pendek. Tapi melatih diri untuk menulis cerpen sesuai batas yang sering disyaratkan media atau panitia lomba cerpen, sangat diperlukan. Misalnya 6-8 halaman dengan huruf Arial ukuran 12 dengan jarak dua spasi. Batas halaman bisa melatih kita mencari celah bagaimana membuat alur cerita yang menarik. Batas halaman melatih kita bagaimana melebarkan cerita atau memampatkan cerita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen ”Menanti Hujan” ini menyisakan banyak celah yang bisa digali. Misalnya bagaimana awal mula pertemuan dengan &lt;em&gt;lelaki hujan&lt;/em&gt; (apakah waktu dia sedang &lt;em&gt;ngojek&lt;/em&gt; payung?), apa yang menarik dari sosoknya, bagaimana ia suka berbasah-basah, dan lain-lain. Seperti hujan yang kadang deras, kadang rintik, dan kemudian berhenti, sebuah cerpen juga memerlukan irama. Kehidupan berjalan tidak datar-datar saja. Siapkan konflik, gejolak, pertentangan batin dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca cerpen ini saya seperti membaca curahan hati dalam sebuah diari. Sepertinya penulis mempersiapkan diri untuk larut dalam perasaannya. Jadilah permainan perasaan ini mengalun seiring rintik hujan. Tapi kadang perasaan seakan mempermainkan penulis hingga ada beberapa hal yang bisa membuat pembaca bertanya-tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aku masih menanti hujan. Tapi tak ada kau di ujung rintiknya. Aku tak dapat meraihmu di balik tirainya. Berbisik cinta berbuih gairah... &lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, seperti yang diuraikan sebelumnya. Mengapa Aku masih menanti hujan. Tapi tak ada engkau di ujung rintiknya. Mungkin akan lebih baik jika Aku masih menanti engkau, lelaki hujanku. Karena tak kutemukan senyummu di ujung rintiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila penulis ingin bermain dengan perasaan, dalam cerpen ini ada satu percakapan yang cukup kuat untuk digali lebih dalam. Percakapan yang sebenarnya bisa menjadi mesiu untuk meledakkan cerpen ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Aku bukan hujan.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Aku tahu itu.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Aku tak dapat selalu basahi kemaraumu.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Kemarau itu kau yang ciptakan.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Tapi aku bukanlah deras yang kau damba.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Lalu apakah kau?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Aku adalah musim yang salah.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetesan hujan memang tidak pernah sia-sia, tak heran jika ada saja yang &lt;em&gt;Menanti Hujan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/48704"&gt;Nature Romance&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/sunshineofnay"&gt;sunshineofnay&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti cerpen ”Menanti Hujan”, kata ”Nature Romance” terlalu biasa untuk sebuah judul. Menurut saya, cerpen ini masuk dalam kategori JAIL (Judul Asing Isi Lokal). Sebenarnya sah-sah saja selama Judul tersebut bisa memberi ruh pada isi cerpen. Jangan seperti klub-klub sepakbola kita yang banyak menyewa pemain asing tapi hanya berkutat pada kompetisi lokal saja. Bukankah kita yang lebih memahami kondisi rumput lapangan sepakbola tanah air? Lho, apa hubungannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana cerpen, sebelum menulis kita harus memahami lebih dulu masalah yang akan ditulis. Jangan sampai penulis terengah-engah hingga pesan yang dituliskan menjadi tak sampai ke pembaca dan bertanya-tanya dalam hati &lt;em&gt;”Ini maksudnya apa ya?”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti cerpen &lt;em&gt;Menanti Hujan&lt;/em&gt;, cerpen ini sepertinya diindah-indahkan atau dibuat agar indah. Hanya saja pemilihan katanya lebih sederhana. Semua unsur alam sepertinya ingin rangkum dalam cerpen itu untuk dikecap kenikmatannya. Dari Angin, hujan, malam hingga melibatkan bintang jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aku merebahkan di perlintasan cakrawala. Saat semburatnya jingga senja, perlahan berubah menjadi selimut kelam yang berbintang. Aku terdiam. Terus terdiam. Dan mulai terpejam.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah rangkaian kalimat awal yang mengantarkan kita menuju &lt;em&gt;Nature Romance. &lt;/em&gt; Sebuah loncatan perjalanan hingga menggapai &lt;em&gt;percintaan yang terindah! Antara aku dan Angin Malam!! &lt;/em&gt; Untuk menghapus dahaga kerinduan pada kekasih-kekasihnya &lt;em&gt;angin, hujan dan malam&lt;/em&gt;. Ah, mengapa judulnya menjadi &lt;em&gt;Antara Angin, Hujan, Malam dan Bintang Jatuh?. &lt;/em&gt; Atau &lt;em&gt;Percintaan Alam&lt;/em&gt;, siapa tahu bisa menarik para penggemar adiknya Vetty Vera ini. Lho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali cerpen ini kurang berhasil menyeret pembaca untuk ikut larut dalam percintaan dengan unsur-unsur alam itu. &lt;em&gt;Gimana rasanya ya? &lt;/em&gt; Seperti Menanti Hujan, cerpen ini sebenarnya menyisakan banyak celah untuk digali lebih dalam. Seperti hujan, alam menyimpan misteri yang tak habis-habis untuk digali. Dan merasakan percintaan dengan alam bisa menjadi cerita yang sangat dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berani berbicara tentang alam, cerpen ini akan sangat mengena jika penulis berani mengangkat kenyataan-kenyataan seputar pengelolaan alam di negeri ini. Mungkin bisa sinergikan dengan berbagai isue yang sedang hangat dibicarakan seperti pembalakan hutan, &lt;em&gt;global warming&lt;/em&gt;, pasar karbon dan lain-lain. Kepekaan sosial dalam sebuah cerpen bisa meningkatkan nilai cerpen tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media untuk merekatkan bisa direka-reka dalam kegalauan angin misalnya. Ternyata Sang Angin tak mau diajak bercinta karena duka sedang menyelimuti wajahnya, setelah perjalanan jauh dan melihat alam begitu porak-poranda. Atau hujan yang sebenarnya ingin berhenti menangis karena takut rumah-rumah warga jadi terendam banjir. Seperti kebenaran, angin selalu bisa mencari sela untuk berhembus, air selalu bisa merembes. Maka teruslah bereksplorasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, masalah pemilihan tema memang menjadi problem utama dalam penulisan cerpen. Apa yang dirasa menarik oleh penulis belum tentu menarik bagi pembaca. Untuk itu diperlukan kepekaan hati dan kepekaan sosial untuk menangkap dan mengungkapkan sebuah tema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menguraikan tema menjadi sebuah cerita yang menarik juga memerlukan eksplorasi tiada henti. Sering-seringlah belajar dan membuka banyak referensi baik dari buku, diskusi, proses kreatif seorang pengarang, pengamatan lingkungan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu mempelajari teori penulisan juga sangat membantu. Minimal kita jadi tahu bagaimana menulis dengan baik dan benar menurut EYD atau Ejaan Yang Disempurnakan. Dalam dua cerpen ini masih terlihat beberapa kesalahan ejaan. Karena itu berpedomanlah dengan EYD. Oke? &lt;em&gt;E... iYa Deh...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Desember identik dengan hujan. Desember, &lt;em&gt;gede-gedene sumber&lt;/em&gt;, maka jangan pernah berhenti menggali sumber ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, 10 Desember 2007&lt;br /&gt;Setiyo Bardono, Perensensi Katro’, tinggal di Depok.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-3834486476148286057?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/3834486476148286057/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=3834486476148286057&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3834486476148286057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3834486476148286057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/12/membicarakan-hujan-di-bulan-desember.html' title='Membicarakan Hujan di Bulan Desember'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-4138529342527166198</id><published>2007-12-17T09:29:00.000+07:00</published><updated>2007-12-17T09:36:24.352+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 3'/><title type='text'>Membaca “Danau Kematian”</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh: Ratih Kumala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/%E2%80%9Dhttp://kemudian.com/node/1770%E2%80%9D"&gt;Danau Kematian&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://www.blogger.com/%E2%80%9Dhttp://kemudian.com/user/niska"&gt;niska&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      &lt;em&gt;“Apakah ia akan bernasib sama seperti aku dulu? Tersihir oleh peri-peri kecil yang ada di permukaan danau dan terhanyut pula oleh tangan-tangan ganggang hijau yang gemulai ini?” &lt;/em&gt; (Cerpen “Danau Kematian”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Peri-peri, yang digambarkan sebesar bunga pohon putri malu dan berterbangan lincah dengan sayap yang keemasan,  adalah yang dikatakan sebagai penyebab kematian Rina, tokoh utama cerpen “Danau Kematian”. Peri ini juga yang kemudian membuat tokoh Irin, tergoda dan akhirnya tercebur ke danau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      “Danau Kematian” bercerita tentang Rina, kekasih Diar, yang tewas tepat pada hari ulangtahun Diar. Rina menghilang, dan kemudian diketahui ternyata telah tercebur di danau karena tertegun melihat bayangan peri di permukaan danau pada pagi hari. Ia tenggelam dan mayatnya tak ditemukan hingga lebih dari dua bulan. Cerpen ini bertutur lewat point of view (POV) Rina.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedari awal, penulis ingin menyuguhkan cerita yang sedih sekaligus indah. Di kalimat pembuka, tokoh Rina memanggil-manggil nama kekasihnya. Meski begitu, Diar, sang kekasih, tak juga kunjung datang. Lalu diikuti kesedihan berikutnya; berita hilangnya Rina. Selanjutnya, ditemukan mayat Rina di dalam danau. Di sela-sela itu, dikisahkan kematian neneknya Diar yang juga tenggelam di danau bertahun-tahun lalu. Juga Irin, adik Diar, yang tercebur di danau yang sama dan untungnya bisa diselamatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Cerpen ini sedikit banyak mengingatkan saya akan novel &lt;em&gt;Raumanen&lt;/em&gt; karya Marianne Katoppo, terutama karena dua karya tersebut sama-sama dituturkan lewat POV tokoh yang sudah mati dan kisah cinta yang melatari. Selain itu, kedua karya juga ada usaha untuk sengaja menyembunyikan kondisi tokoh utama yang sebenarnya. Sepertinya ingin memberi kejutan kepada pembaca bahwa POV dituturkan oleh orang yang telah mati. Mengenai hal ini, &lt;em&gt;Raumane&lt;/em&gt;n jauh lebih berhasil, namun “Danau Kematian” sebaliknya. Ketika tiba pada paragraf empat cerpen “Danau Kematian”, pembaca sudah bisa menebak tokoh utama telah meninggal dunia. Lebih dari itu, sejujurnya, pembaca juga sudah bisa menebak kira-kira nasib naas macam apa yang telah menimpa tokoh utama. Semua petunjuk di paragraf-paragraf awal sudah dibuka oleh penulis. Meski pada tiga paragraf awal penulis berhasil membangun keindahan, namun pada saat yang sama penulis juga menghancurkan klimaksnya sendiri yang seharunya berada di sepertiga akhir paragraf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Hal yang membuat saya meraba-raba cerpen ini adalah; ketidakyakinan saya, cerpen ini sebetulnya oleh penulis ingin diarahkan ke mana; kisah cinta, misteri, atau fantasi. Kisah cinta Diar dan Rina jelas menjadi latar dari cerpen ini. Rasa kehilangan kedua tokoh yang amat sangat, menegaskan bahwa kisah cinta di sini berperan penting. Namun begitu pula misteri, sebab hilangnya Rina yang tiba-tiba, juga judul yang sengaja dipilih; “Danau Kematian”. Awalnya, saya merasa yakin bahwa misterilah yang ingin dikedepankan, namun toh kemudian saya dapatkan bahwa cerita kematian di sini tidak lebih penting dari kisah cinta Rina dan Diar. Pada bagian ini, logika yang dibangun agak tersendat-sendat. Jika memang ada usaha pencarian Rina yang tiba-tiba hilang, seharusnya sudah ada pula usaha mencari Rina di danau yang jelas-jelas sebelumnya pernah menelan korban. Dugaan-dugaan macam inilah yang tidak diperhitungkan oleh penulis. Tepat ketika penulis ingin membangun aura misteri pada cerpen ini, saat itu pula penulis meluluhkannya sendiri dengan romantisme kekasih yang hilang. Sedang kisah fantasi, dalam hal ini adanya peri-peri di permukaan danau, yang menjadi penyebab tiga korban tercebur di danau seolah-olah ditulis hanya sebagai penguat keindahan visual imagery dalam cerpen ini. Padahal, tanpa peri pun bisa terbangun sebuah alasan penyebab kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Sebagai sebuah cerita, cerpen “Danau Kematian” bisa dibilang mendekati lengkap. Diksi dan tata bahasa Indonesia penulis bagus. Usaha penulis untuk membuat sebuah cerita menjadi lebih menarik dengan sedikit bermain pada alur dan POV terlihat jelas. Hal ini menunjukan penulis telah selangkah lebih maju dalam proses pembelajarannya. Namun satu hal yang perlu dipoles benar adalah logika cerita. Satu contoh sederhana; tokoh Irin dikatakan sebagai gadis SMA, namun membaca keseluruhan cerpen ini, bagi pembaca (dalam hal ini saya) Irin adalah seorang anak kecil berusia tak lebih dari sepuluh tahun. Ia sedang nakal-nakalnya, maka itu ia tetap naik perahu sendirian meski sudah dilarang. Juga segala sikap kekanak-kanakannya, yang manja dan keras kepala. Perilaku macam ini kurang logis untuk seorang gadis usia SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Sangat wajar jika dalam tulisan-tulisan awal, keinginan menampilkan sebuah karya yang indah sangat kuat. Sayangnya definisi ‘indah’ di sini kadang masih sempit, sehingga kebanyakan penulis (terutama yang baru belajar) terbuai dengan keindahan bahasa. Cerpen “Danau Kematian” mengakhiri ceritanya dengan sedikit anti-klimaks. Penulis masih haus untuk bermain-main dengan diksi yang flamboyan. Jika saya diijinkan mengedit, maka akan saya akhiri tepat pada kalimat; &lt;em&gt; “Perlahan kusadari, aku tak perlu tiupan angin untuk membawakan suara-suaraku padanya.” &lt;/em&gt; Titik. Dan membuang sisanya. Seorang penulis harus mulai belajar percaya pada kekuatan cerita itu sendiri, dan berani memotong kalimat yang bersifat boros dan artifisial.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-4138529342527166198?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/4138529342527166198/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=4138529342527166198&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/4138529342527166198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/4138529342527166198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/12/membaca-danau-kematian.html' title='Membaca “Danau Kematian”'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-5609227646543372543</id><published>2007-12-16T10:41:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T21:30:23.614+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] Amalia Suryani</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/R2SfYT9aTLI/AAAAAAAAA5s/eHWyOpV_j64/s1600-h/806648-p7-1187934326.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/R2SfYT9aTLI/AAAAAAAAA5s/eHWyOpV_j64/s200/806648-p7-1187934326.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5144411914387475634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Amalia pernah menyandang Penulis Berbakat Lomba Teenlit writer 2005. Sejak saat itu ia telah mengeluarkan 3 novel teenlit yang semuanya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, yaitu &lt;b style=""&gt;Being 17, Rival, 100 jam&lt;/b&gt; dan dua buah cerpennya yang masuk dalam kumpulan cerpen teenlit GPU: &lt;b style=""&gt;Idolamu? Itu aku!&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-5609227646543372543?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/5609227646543372543/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=5609227646543372543&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5609227646543372543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5609227646543372543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/12/profil-amalia-suryani.html' title='[Profil] Amalia Suryani'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/R2SfYT9aTLI/AAAAAAAAA5s/eHWyOpV_j64/s72-c/806648-p7-1187934326.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-6163031265633898957</id><published>2007-12-13T15:05:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T21:30:23.755+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] Ratih Kumala</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/R2DpHauPysI/AAAAAAAAA5k/2jdCriNKhjY/s1600-h/RK.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/R2DpHauPysI/AAAAAAAAA5k/2jdCriNKhjY/s200/RK.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143367088098757314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ratih Kumala, lahir di Jakarta 4 Juni 1980. Ia menyelesaikan studi dari Jurusan Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buku pertamanya, novel berjudul &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tabula Rasa&lt;/span&gt;, memperoleh hadiah ketiga Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003, dan diterbitkan oleh Penerbit Grasindo, 2004. Novel keduanya, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Genesis&lt;/span&gt;, diterbitkan Insist Press tahun 2005. Kumpulan cerita pendeknya, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Larutan Senja&lt;/span&gt;, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menulis novel dan cerita pendek, Ratih juga tengah menyelesaikan sebuah novel grafis dan menulis skenario untuk acara televisi Jalan Sesama (yang merupakan versi Indonesia Sesame Street Indonesia). Saat ini tinggal di Jakarta bersama suaminya, penulis Eka Kurniawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*Profil dan gambar diambil dari &lt;a href="http://ratihkumala.com/"&gt;http://ratihkumala.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-6163031265633898957?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/6163031265633898957/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=6163031265633898957&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/6163031265633898957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/6163031265633898957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/12/profil-ratih-kumala.html' title='[Profil] Ratih Kumala'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/R2DpHauPysI/AAAAAAAAA5k/2jdCriNKhjY/s72-c/RK.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-3882200570188309571</id><published>2007-12-12T15:13:00.000+07:00</published><updated>2007-12-12T15:22:46.385+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] Setiyo Bardono</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh Hasan Aspahani, Setiyo Bardono dijuluki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sekardus Bom Waktu&lt;/span&gt; yang siap meledak. Dengan ketekunannya mempelajari unsur-unsur puitika dan mengaplikasikannya, Setiyo dianggap siap menghentakkan pembaca dalam setiap sajak-sajaknya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kosakata yang dimiliki Setiyo dinilai amat dekat dengan keseharian masyarakat perkotaan, namun kepandaiannya meracik sajak membuat pembaca terhenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiyo menerbitkan antologi puisi pertamanya yang berjudul &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengering Basah&lt;/span&gt; (2007) yang berisi kumpulan sejumlah puisi yang ia tulis sejak 1996 hingga 2007.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-3882200570188309571?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/3882200570188309571/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=3882200570188309571&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3882200570188309571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3882200570188309571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/12/profil-setiyo-bardono.html' title='[Profil] Setiyo Bardono'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-7946467561930209149</id><published>2007-12-08T07:39:00.000+07:00</published><updated>2007-12-08T07:43:21.432+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 3'/><title type='text'>Sesi III Resensi</title><content type='html'>Start:17 Desember 2007&lt;br /&gt;Location:Kemudian.com&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Materi : 2-4 puisi, 4 prosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peresensi :&lt;br /&gt;Zabidi Ibnoe Say&lt;br /&gt;Nanang Suryadi&lt;br /&gt;Mikael Johani&lt;br /&gt;Amalia Suryani&lt;br /&gt;Setiyo Bardono&lt;br /&gt;Ratih Kumala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosa :&lt;br /&gt;Danau Kematian (Ratih Kumala)&lt;br /&gt;Menunggu Hujan (Setiyo Bardono)&lt;br /&gt;Nature Romance (Setiyo Bardono)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(detil peresensi masih akan bertambah dan detil karya menyusul)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-7946467561930209149?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/7946467561930209149/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=7946467561930209149&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7946467561930209149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7946467561930209149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/12/sesi-iii-resensi.html' title='Sesi III Resensi'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-7351541956209510782</id><published>2007-12-02T23:08:00.000+07:00</published><updated>2007-12-02T23:23:42.563+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 2'/><title type='text'>Sajak-sajak Yang Tak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;M. Aan Mansyur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;0.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23 NOVEMBER 2007 lalu, sebuah surat berisi tiga sajak tiba di kotak surat saya. Sayang sekali, tak satu pun di antara ketiga sajak itu menurut saya menarik buat diulas. Lalu saya melupakannya—dan tiga sajak itu pun tertimbun surat-surat lain yang datang. Tiba-tiba, beberapa jam yang lalu, sewaktu berada di toilet, saya mengingat janji saya untuk membuat ulasan sajak. Astaga, sudah melewati batas hari yang ditentukan pula! Tetapi, pikir saya, tak ada salahnya tetap membuat ulasan itu. Maka saya bongkar kotak surat dan kemudian menemukan tiga sajak itu lagi—syukur, saya tidak menghapusnya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kali ini saya hanya ingin membagi kesan seusai membaca sajak-sajak yang dikirim itu. Saya, terus-terang saja, bingung mengulasnya dengan cara apa. Saya ingin menyebut ketiga sajak itu sebagai ‘sajak-sajak yang tak’. Dan lagi, saya sudah tidak cukup punya waktu, sebentar lagi tulisan ini harus tayang, kata seseorang di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yahoo Messenger&lt;/span&gt; yang menagih janjiku dengan cara yang amat sopan. Maka dalam posisi ini saya bukanlah pengulas melainkan pembaca saja. Semoga tak mengapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/2722"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rutinitas Lima Belas Menit&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/pikanisa"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pikanisa&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBENARNYA MALAM ini saya sedang sangat tidak bersemangat, banyak sekali hal yang mesti saya selesaikan tetapi terabaikan entah karena apa. Maka, saya memilih pertama kali satu di antara tiga sajak itu yang mungkin bisa menghibur saya, membuat saya tertawa atau setidaknya tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sebenarnya sangat tidak lucu, sajak berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rutinitas Lima Belas Menit&lt;/span&gt; yang akhirnya saya pilih. Saya pikir di antara ketiganya sajak ini yang paling diniatkan oleh penulisnya jadi sajak lucu. Tetapi dengan sedih saya katakan: sajak ini gagal membuat saya terhibur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai membaca sajak ini, saya seolah baru saja mendengar seorang teman saya yang selalu mau disebut komedian (yang tak perlu saya sebut namanya) menceritakan sebuah banyolan yang sudah sangat sering ia ceritakan. Saya tetap tertawa. Dan selalu begitu, saya selalu tertawa. Saya tertawa bukan karena ceritanya lucu. Saya tertawa karena cerita yang ia pikir lucu itu bagi saya sangat tidak lucu—dan di situlah lucunya, ternyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawa yang baru saja saya lontar dan dengar sendiri itu tidak menghibur sama sekali, malah menyakiti. Saya merasa bersalah. Ah, bagaimana mengatakannya dengan tepat? Saya bingung sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah saya coba membacanya sekali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mustafa dan Maria tidak bisa tidur. Hasrat yang telah didera ingin segera dilampiaskan. Hari itu sangat dingin. Cuaca hari itu memang sangat dingin. Hingga… cuaca membuat hasrat diantara mereka tidak lagi bisa tertahan.Kemudian,……Mustafa cepat-cepat masuk bilik, Maria cepat-cepat masuk bilik. Mustafa cepat-cepat buka sarung, Maria cepat-cepat buka rok. Mustafa cepat-cepat buka celana, Maria…cepat-cepat buka celana. Maria mengangkangkan kakinya, Mustafa duduk. Kemudian……… Sebuah erangan. Sebuah rintihan. “Yes… oh…. No…. oh…. My Good” Keringat tak henti membasahi tubuh mereka. Mustafa mengejan, Maria mengejan. Ini ritual mereka dua kali sehari. Lima belas menit untuk setiap kalinya. Dan setelah menunggu selama itu akhirnya…. “PLUNG !!!……….” Hasil akhirnya adalah senyum kelegaan. Setelah itu terdengar bunyi air diguyur. Ini ritual dua kali dalam sehari. Maria dan Mustafa keluar dari bilik. Ini adalah sebuah bilik sakral. Kita memberi nama Toilet, mereka memberi nama WC.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dengan lancang mengubah topografi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rutinitas Lima Belas Menit&lt;/span&gt; menjadi sebuah ‘cerpen pendek’—kepada penulisnya, maafkan saya! Sengaja saya melakukannya demi mencari ‘sensasi baru’ yang saya tidak temukan waktu pertama membacanya. Mungkin dengan bentuk baru ini saya menemukan kelucuan yang saya butuhkan dari semula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan penulis sajak ini sebenarnya ingin bercerita seperti seorang cerpenis. Ia ingin membuat sebuah cerita pendek dengan akhir yang menghentak. Kekuatan cerita yang ia mau bangun terletak di akhir. Tetapi, sekali lagi saya katakan, ia gagal bahkan ketika ia membuat cerita pendek itu sangat pendek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga dikatakan bahwa penulis ini sebenarnya hendak jadi seorang sutradara film pendek. Biasanya film-film pendek meletakkan kekuatannya di akhir. Tetapi, sebagai film, Rutinitas Lima Belas Menit pun gagal. Tak ada gambar-gambar yang cukup kuat yang membuat saya tertegun dan kemudian kaget di akhirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah mungkin sebenarnya ide cerita yang diolah penulis ini sudah sangat usang? Seperti saya bilang tadi bahwa ini adalah banyolan yang hanya mampu membuat kita tertawa karena ketidaklucuannya. Tetapi bukankah kita bisa menemukan banyak cerita yang bersumber dari hal-hal usang dan tetap membuat kita terpana? Ah, saya susah menjawabnya. Jika begini, betullah dugaan awal saya bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rutinitas Lima Belas Menit&lt;/span&gt; adalah sebuah ‘sajak yang tak’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/6564"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebuah Repertoar: Menggugat Lelaki dan Perempuan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/pikanisa"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pikanisa&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;SEBUAH REPERTOAR: Menggugat Lelaki dan Perempuan&lt;/span&gt;, ini sajak kedua yang saya pilih setelah sajak tentang sepasang orang yang buang air besar tadi. Ini juga berkisah tentang pasangan, lelaki dan perempuan. Keduanya sedang menggugat diri mereka, setidaknya itulah yang dikatakan judul sajak ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga sebuah sajak yang tak mengambil hati saya ketika membacanya pertama kali. Sudah saya katakan sebelumnya, bukan? Maka kali ini saya ingin menontonnya sebagai sebuah pementasan teater. Toh, memang penulis membuatnya sebagai rangkaian dialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali, tak ada hal-hal visual yang bisa menarasikan sesuatu dari pementasan teater ini. Hanya ada seorang perempuan dan seorang lelaki saling bersahut-sahutan. Artinya saya tak perlu menggunakan mata saya, sebab tak banyak hal yang bisa dilihat. Lalu saya menutup mata dan mendengar dialog-dialognya saja. Dan berubahlah jadi sebuah sandiwara radio—atau sepasang kekasih di kamar sebelah yang sedang berkelahi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak bisa menemukan kekuatan melalui gambar dan saya kira penulis satu ini memang tidak ingin meletakkannya di sana, saya ingin mencarinya lewat dialog-dialog itu. Bukankah kekuatan sebuah teater atau sandiwara salah satunya sangat ditentukan oleh dialog? Saya coba mendengarnya berkali-kali. Tetapi, ah, lagi-lagi tak ada yang menarik yang diucapkan kedua orang itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya kedua orang ini sedang berlatih menghafalkan sebuah skenario saja. Mereka belum mementaskannya. Atau lebih parah lagi, sebenarnya mereka baru saja sedamg mencari-cari kalimat yang bagus buat dituliskan. Mereka belum selesai menuliskannya. Kalau begitu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebuah Repertoar: Menggugat Lelaki dan Perempuan&lt;/span&gt; juga hanya ‘sajak yang tak.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/49963"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aku, Kau… Kita&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/littleayas"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Littleayas&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPERTI YANG saya bilang di awal tulisan ini, saya sedang tidak bersemangat. Ditambah lagi, saya belum mengatakan sebelumnya, saat menuliskan semua ini Makassar sedang diguyur hujan deras. Maka ketika saya melihat sajak ketiga adalah sajak cinta, ah, saya tambah tidak bersemangat. Saya sedang tidak ingin larut dan mengingat kekasihku yang sedang berada di Jakarta karena hujan dan sajak cinta ini. Lagi pula, di ponsel saya sedang tidak ada pulsa buat menelpon—sudah habis karena menelponnya kemarin, mengucapkan selamat ulang tahun yang panjang sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana lagi, saya tetap harus membacanya.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Aku, Kau… Kita&lt;/span&gt;, itu judulnya. Kenapa harus memilih judul seperti itu? Tidak ada lagikah judul yang lebih baik? Coba kita lihat baris-baris yang ada di bawahnya, siapa tahu ada sebaris yang bisa menggantikan judul itu. Toh, sajak ini saya lihat seperti susunan calon-calon judul belaka. Coba lihat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kau ada untukku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menghangatkan hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mengusir Sepi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Membunuh galau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Selayaknya telaga tenang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dimana tumbuh mawar harum berseri &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku ada untukmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Melarutkan duka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Meretaskan tawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mengalunkan nada rindu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Selayaknya denting kasih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jernih dan lembut  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apakah ini cinta? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pun ketika jemari bertautan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kau masih menanyakan cinta &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku, Kau…Kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Haruskah cinta dipertanyakan satu sama lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saat derita mencinta berpalung rindu hadir &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apakah ini cinta? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pun kala hati hampa tanpamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kau tetap menanyakan cinta &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku, Kau…Kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Haruskah cinta dikorbankan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Meski jiwa ini terikat dengan jiwamu &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dalam sunyi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dalam gelap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di tengah keramaian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di bawah bulan perak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di terik mentari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di bayang kedamaian pohon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di sela semilir angin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di antara gemiricik sungai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku ada untukmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Selayaknya kau ada untukku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Selamanya &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Meski sangkakala terpagut manis dunia &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah baca semua calon-calon judul itu? Ah, ternyata, bagiku tak ada satu pun yang bagus jadi judul sajak. Semuanya sama saja: sama-sama sangat klise! Padahal sesungguhnya salah satu tugas pokok seorang penulis adalah memusnahkan klise, bukan sebaliknya. Saya lihat sajak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku, Kau… Kita&lt;/span&gt; ini malah sedang asyik merayakan klise. Mau mengingkari tugasnya sebagai penulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin penulisnya hanya sedang membuat daftar klise yang tak mau ia gunakan dalam sajak-sajak yang mau ia tuliskan, daftar klise yang ingin ia hindari. Ya, mungkin itu tepatnya—dan semoga memang begitu. Sebab jika membacanya sekali dan sekali lagi, nampaknya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku, Kau… Kita&lt;/span&gt; tetaplah sebuah ‘sajak yang tak’ juga, seperti dua sajak sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAK SEORANG pun saya kenal siapa yang menuliskan tiga sajak di atas. Salah satu keuntungan bagi saya sebenarnya untuk lebih jujur mengungkap perasaan seusai membaca sajak-sajak itu. Tetapi di sisi lain, saya juga merasa bersalah sebab saya dengan sangat sinis nampaknya melampiaskan perasaan tidak bersemangat saya kepada orang-orang yang saya tidak kenal sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh, saya ingin menutup tulisan ini dengan mengatakan satu hal sederhana yang klise (maaf, meskipun klise rasanya sangat penting untuk saya katakan) kepada ketiga penulis sajak di atas, siapa pun mereka—dan kepada penulis lain yang berniat serius jadi penulis sajak. Yang pertama-tama harus dilakukan dengan serius agar bisa menulis sajak yang bagus dan tidak sekadar menuliskan ‘sajak yang tak’ adalah membaca sebanyak mungkin sajak yang bagus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, ternyata masih ada satu hal yang ingin saya katakan: entah mengapa seusai menuliskan semua hal di atas, saya sekarang jadi bersemangat dan ingin menyelesaikan beberapa hal yang terabaikan sebelum tidur untuk kemudian bangun lebih segar besok. Terima kasih! Kau tahu, di sini hujan juga sudah reda seolah isyarat bahwa saya juga harus berhenti menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, 02/12/07&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-7351541956209510782?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/7351541956209510782/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=7351541956209510782&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7351541956209510782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7351541956209510782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/12/sajak-sajak-yang-tak.html' title='Sajak-sajak Yang Tak'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-983494041749462810</id><published>2007-12-02T22:55:00.000+07:00</published><updated>2007-12-02T23:01:43.499+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 2'/><title type='text'>Resensi Puisi ‘Aku, Kau... Kita’</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Inez Dikara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/49963"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aku, Kau... Kita&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/littleayas"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Littleayas&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni adalah bentuk/ciptaan yang muncul dari pengalaman jiwa seseorang karena ia ingin memberikan bentuk yang konkrit terhadap yang ia rasakan. Sehingga orang lain dapat pula merasakannya. Puisi adalah salah satu bagian dari bentuk seni, yaitu Seni Sastra. Berbeda dengan bentuk sastra lainnya seperti prosa (cerpen dan novel), puisi 'berkomunikasi' dengan menggunakan kata sebagai simbol; kiasan. Kata itu mengungkapkan sekaligus arti pikiran, perasaan dan khayal (imajinasi). Dengan demikian menulis puisi bukanlah suatu aktivitas di mana kita dapat dengan santai menabur-naburkan kata di atas kertas. Karena penyair harus dapat mengendalikan pikiran, perasaan dan daya khayalnya sekaligus, sehingga membentuk pengalaman baru yang bermakna. Yang imajinatif. Yang tidak hanya sekedar luapan perasaan serupa tulisan-tulisan di catatan harian. Dengan mengembangkan kemampuan berimajinasi yang baik, diharapkan penulis dapat menghasilkan karya-karya puitik yang baik pula.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk berpartisipasi dalam kegiatan komunitas berbasis web -Kemudian.com- di mana salah satu programnya adalah meresensi karya puisi dan prosa, maka berikut ini saya akan mencoba mengulas satu sajak karya anggota kemudian.com yang berjudul 'Aku, Kau dan... Kita':&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku, Kau … Kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kau ada untukku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menghangatkan hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mengusir Sepi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Membunuh galau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Selayaknya telaga tenang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dimana tumbuh mawar harum berseri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku ada untukmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Melarutkan duka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Meretaskan tawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mengalunkan nada rindu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Selayaknya denting kasih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jernih dan lembut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apakah ini cinta?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pun ketika jemari bertautan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kau masih menanyakan cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku, Kau…Kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Haruskah cinta dipertanyakan satu sama lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saat derita mencinta berpalung rindu hadir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apakah ini cinta?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pun kala hati hampa tanpamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kau tetap menanyakan cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku, Kau…Kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Haruskah cinta dikorbankan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Meski jiwa ini terikat dengan jiwamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dalam sunyi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dalam gelap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di tengah keramaian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di bawah bulan perak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di terik mentari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di bayang kedamaian pohon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di sela semilir angin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di antara gemiricik sungai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku ada untukmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Selayaknya kau ada untukku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Selamanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Meski sangkakala terpagut manis dunia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menafsirkan sajak ini adalah tentang dua anak manusia yang masing-masing keberadaannya saling memberikan arti. Di kala susah di kala senang. Meskipun begitu, ternyata di sini cinta masih dipertanyakan. Apakah semua terjadi atas nama cinta? Seperti yang tertulis pada bait ke-3, yang kemudian dilanjutkan pada bait berikutnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apakah ini cinta?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pun ketika jemari bertautan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kau masih menanyakan cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pada bait ke-8 saya menemukan kontradiksi pada makna yang ingin disampaikan. Ketika sebelumnya cinta masih dipertanyakan keberadaannya, pada bait ini cinta seolah sudah sudah hadir (mewujud) sejak awal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku, Kau…Kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Haruskah cinta dikorbankan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Meski jiwa ini terikat dengan jiwamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga yang ingin disampaikan sedikit menjadi rancu: keberadaan cinta yang dipertanyakan, atau cinta (yang sudah ada) yang harus dikorbankan?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bait penutup tertulis, ‘Meski sangkakala terpagut manis dunia’,  di mana ‘sangkakala’ yang dalam KBBI berarti terompet; terompet yang berbunyi secara berkala namun dapat juga diartikan sebagai ‘diambang kiamat/kiamat telah datang’ yang dilanjutkan dengan ‘terpagut manis dunia’. ‘terpagut’ dalam KBBI berarti ‘mematuk, mencatuk’. Maka saya menafsirkan bait ini adalah suatu kebahagian yang harus berakhir/direnggut oleh sesuatu yang menyakitkan. Dan kalau memang pesan itu yang ingin disampaikan, menurut saya pilihan kata yang pas adalah ‘memagut’ dan bukannya ‘terpagut’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu pada sajak yang sejatinya merupakan kumpulan kata-kata (simbol/lambang) hasil dari imajinasi -yang kreatif- yang memberikan pengalaman baru yang bermakna, tidak dapat saya temukan pada sajak ini. Meskipun demikian, bagi saya menulis puisi adalah sebuah proses belajar dan 'mencari' yang tidak akan pernah ada habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, seperti tulisan penyair Sutardji Calzoum Bahri dalam kumpulan esai-nya ‘Isyarat’ terbitan Indonesia Tera, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘…menulis sastra adalah menulis di atas tulisan (realitas), maka menulis pada hakikatnya pula menyembunyikan, menyimpan, mengandung, menindih, melapis realitas. Suatu saat engkau menulis bagaikan menusir foto realitas. Engkau tebalkan garis hidungnya, engkau panjangkan janggutnya, engkau hitamkan ubannya, engkau kasarkan kumisnya, dan engkau mencipta foto lain yang beda dari foto sebelumnya (realitas). Dan realitas sekedar membayang dari bawah tulisanmu’.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Jakarta, 12 November 2007&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-983494041749462810?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/983494041749462810/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=983494041749462810&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/983494041749462810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/983494041749462810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/12/resensi-puisi-aku-kau-kita.html' title='Resensi Puisi ‘Aku, Kau... Kita’'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-3166155909641271361</id><published>2007-12-02T22:46:00.000+07:00</published><updated>2007-12-02T22:53:57.169+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 2'/><title type='text'>Resensi 'La Preghiera'</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yonathan Rahardjo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/17711"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;La Preghiera&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/kd"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KD&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu cerita awal yang bisa dikembangkan lagi menjadi cerita yang lebih kompleks melibatkan konflik-konflik antar tokoh, liku-liku permasalahan yang berkembang, sehingga jalinan cerita tidak mengalir datar namun menjadi penuh kejutan, merangsang emosi, intuisi, membuka pemahaman-pemahaman baru, sebagai suatu tugas dari seni sastra yang termasuk dalam seni humaniora.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai cerita pendek dengan jumlah kata dan karakter terbatas memang sudah mampu memberikan kesan dan nuansa jalinan kisah cukup menarik. Namun akan lebih menarik bila disertai pengembangan-pengembangan seperti diuraikan pada alenia satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman saya sendiri dalam menulis Novel Lanang yang meraih penghargaan sebagai salah satu pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006, penulisan seperti cerpen La Preghiera ini merupakan sumber awal atau merupakan tulisan-tulisan sketsa yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi jalinan cerita yang kompleks dalam satu kesatuan novel. Juga untuk mencapai standar cerpen-cerpen koran yang rata-rata membutuhkan jumlah kata/ karakter tertentu, cerpen ini dapat dikembangkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali, kalau memang batasan jumlah kata sebanyak kata/ karakter cerpen diatur sebanyak seperti dalam cerpen ini, cerpen seperti ini sudah dapat memberikan kesan sebagai suatu kilasan kisah. Atau, kalau mau menjadi cerpen jadi, cerpen ini membutuhkan pemilihan kata/ ungkapan yang betul-betul tepat sehingga meski pendek tetap bernas dan dalam, yang artinya: penceritaannya efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memilih cerpen La Preghiera ini dibanding dua cerpen lain yang disodorkan kepada, adalah karena cerpen ini lebih mudah dipahami karena tampak sekali sebagai cerita realis dan penceritaannya lancar. Harapan saya memberikan komentar seperti di atas adalah agar penulis lebih memperkuat pilihan-pilihan katanya, dan bersedia mengembangkan lagi pilihan-pilihan seperti di atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;1. Mau dikembangkan sebagai novel&lt;/li&gt;&lt;li&gt;2. Mau menjadi cerpen yang betul-betul pendek dan penceritaannya efektif&lt;/li&gt;&lt;li&gt;3. Atau mau menjadi cerita pendek dalam standar umum dengan penceritaan yang lebih konflik.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak memberikan contoh satu per satu dalam tulisan-tulisan yang tertuang dalam cerpen ini, namun penjelasan mendasar berdasar pengalaman dan pemahaman yang saya miliki, kiranya pembaca dan penulis cerpen ini dapat mempertimbangkan masukan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, kisah gadis remaja yang punya pemuda remaja pujaan namun masih di angan-angan dalam La Preghiera ini mampu dihadirkan lebih seru.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-3166155909641271361?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/3166155909641271361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=3166155909641271361&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3166155909641271361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3166155909641271361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/12/resensi-la-preghiera.html' title='Resensi &apos;La Preghiera&apos;'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-732171111884981474</id><published>2007-12-02T22:29:00.000+07:00</published><updated>2007-12-02T22:35:04.013+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 2'/><title type='text'>Membincangkan “Bincang Kecil Tono”</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Primadonna Angela&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/40934"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bincang Kecil Tono&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/dikadiman"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dikadiman&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah yang baik, sepantasnya dimulai dengan kalimat pembuka dan paragraf yang dapat menarik perhatian pembaca. Sayangnya, tidak demikian di kisah ini. Awal yang biasa-biasa saja, membuat saya sebagai pembaca memiliki ekspektasi yang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dengan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Sore hari awal perkuliahan ini tidak terasa istimewa bagi Tono.”&lt;/span&gt; Reaksi awal saya sebagai pembaca, ingin berkata, “Terus kenapa?” Memangnya yang spesial bagi Tono seperti apa? Memangnya seperti apa sih, Tono ini? Tidak begitu jelas. Mungkin kalau diganti dengan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kalaupun ada yang menciumnya di bibir pagi ini, Tono masih akan beranggapan harinya biasa-biasa saja.”&lt;/span&gt; Dengan membaca kalimat ini, pembaca bisa berkesimpulan, barangkali Tono tipe yang memandang dunia dengan pahit, atau, tak ada apa pun yang bisa membuatnya kaget.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan penjabaran kisah yang apa adanya, deskripsi yang menurut saya sebaiknya diganti aksi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;show, don’t tell!&lt;/span&gt;), membuat kisah ini terasa semakin datar saja. Sebagai contoh, lihat tiga kalimat dari paragraf pertama ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kegagalannya meraih nilai baik pada semester pendek membuat Tono bosan kuliah. Tidak hanya itu, ternyata kegagalan akademis ini juga membuatnya malas bergaul. Maka, alih-alih menyapa pacar atau teman-teman, alih-alih memberi tanda tangan pada anak-anak baru, begitu jam tangan menunjukan pukul setengah empat, Tono langsung menuju ke ruang kuliah. Padahal perkuliahan sendiri baru dimulai setengah jam lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tono dikisahkan sebagai mahasiswa yang biasa-biasa saja, malas bergaul, dan sebagainya. Daripada menceritakan apa adanya seperti ini, mungkin akan lebih menarik kalau Tono digambarkan sedang terburu-buru menuju kelas (begitu sampai di sana, baru diceritakan padahal kelasnya masih setengah jam lagi, jadi sebenarnya dia tidak punya alasan kuat untuk tergesa-gesa), dengan sengaja menghindari para mahasiswa baru, melengos saat ada yang berusaha menegurnya. Para pembaca akan dapat menarik kesimpulan, oh, barangkali Tono orangnya penyendiri, agak antisosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiadanya konflik juga membuat kisah ini terasa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;flat&lt;/span&gt;. Tono mau kuliah, bertemu teman, mengaku dia homo, diterima, kemudian mendapatkan teman baru(?). Sebagai pembaca, saya tidak merasa ada keterlibatan emosi dengan Tono. Tidak ada misteri yang membuat saya bersemangat untuk membaca kisah ini sampai akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali penulis memaksudkan, asalkan Tono mau membuka diri pada seseorang, dia akan sadar, bahwa sebenarnya tidak semua orang punya prasangka buruk pada homoseksualitas. Ini adalah tema atau pesan moral yang bagus, dan patut dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali kalau penulis memasukkan sedikit &lt;span style="font-style: italic;"&gt;flash back&lt;/span&gt;, mengenai trauma Tono dalam menjalin persahabatan, kisah akan menjadi lebih hidup. Mungkin untuk membangun suspense, saat Tono memberitahu Herman bahwa dia homo, ada jeda yang signifikan. Ekspresi tertentu di wajah Herman, gerak-gerik tubuhnya, yang membuat Tono merasa dirinya akan menerima penolakan. Lagi, (walau ternyata tidak demikian kejadiannya.) menurut saya juga, sebaiknya dituturkan sedikit mengapa Herman bisa menerima Tono begitu mudahnya. Apa karena dia sendiri adalah seorang homo? Atau karena dia tipe yang mudah bersimpati? Sayangnya karakter Herman kurang tergali, padahal sebagai teman berbicara Tono, menurut saya, Herman sebaiknya diberikan porsi yang cukup penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan saya pada penulis, dalam menuliskan sebuah kisah, jangan takut untuk “menyiksa” para karakter, asalkan mereka diberi bekal untuk menanggulangi cobaan itu. Mungkin akan lebih seru dan menggigit kalau Tono mengalami hari yang benar-benar menyebalkan, hingga saat bertemu Herman, dia belum apa-apa sudah emosi? Atau, saat Herman ingin bertanya lebih lanjut pada Tono mengenai homoseksualitas (bukan untuk mencela, hanya sekadar ingin tahu), Tono marah-marah atau langsung berprasangka buruk? Saya yakin, penulis pasti mampu menuliskan adegan yang lebih memesona bagi pembaca, dengan sedikit latihan!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-732171111884981474?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/732171111884981474/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=732171111884981474&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/732171111884981474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/732171111884981474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/12/membincangkan-bincang-kecil-tono.html' title='Membincangkan “Bincang Kecil Tono”'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-2323232183856796940</id><published>2007-12-02T22:23:00.000+07:00</published><updated>2007-12-02T22:28:43.780+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 2'/><title type='text'>Mengejar Sang Putri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Primadonna Angela&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/2813"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Putri Impian&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/moesafeer"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;moesafeer&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini diawali dengan kalimat pembuka yang cukup menarik. Gaya penulisannya puitis romantis, dengan diksi yang manis. “Putri Impian” memiliki plot yang sederhana, dan walau saya sudah sering membaca cerita yang kurang lebih temanya sama, kisah ini masih menyenangkan untuk disimak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang sedikit mengganggu, barangkali, karena saya sulit merasakan keterlibatan emosi dengan prosa ini. Saat saya membacanya, tidak ubahnya seperti membaca selebaran iklan. Sekilas, sepintas, sekelebat saja. Menarik, iya. Menggugah, kurang. Mungkin karena dalam kisah ini bisa dikatakan, tidak ada konflik yang menggigit. Tidak ada sesuatu yang membuat saya, sebagai seorang pembaca, menanti-nanti apa yang akan terjadi sesudahnya. Saya jadi bertanya-tanya, apa pentingnya sih, bagi sang protagonis (atau malah narator) untuk bertemu putri impiannya? Apa latar belakang atau motivasinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin apabila kisah ini diberikan pelengkap berupa latar belakang penulis mengapa baginya begitu penting untuk bertemu sang putri, pembaca akan lebih terpikat. Misalnya saja, sang narator pernah mengalami OBE (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Out of Body Experience&lt;/span&gt;) atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Near Death Experience&lt;/span&gt;, dan bertemu sosok sang putri yang menyelamatkannya? Atau dia pernah bertemu dengan sang putri dalam mimpi, yang terasa begitu nyata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari tiadanya konflik, kisah ini dapat dikembangkan menjadi cerita yang lebih padat dan mendalam. Dengan ditambahkan konflik, plus pemilihan kosa kata yang indah, para pembaca akan lebih terpukau dan merasakan keterlibatan emosi dengan sang protagonis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-2323232183856796940?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/2323232183856796940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=2323232183856796940&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2323232183856796940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2323232183856796940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/12/mengejar-sang-putri.html' title='Mengejar Sang Putri'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-1891944766180587306</id><published>2007-12-02T10:40:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T21:30:24.169+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] Inez Dikara</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/R1IuWKuPyqI/AAAAAAAAA5U/630z9u4KhNY/s1600-R/144462-p7-1182852255.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/R1IuWKuPyqI/AAAAAAAAA5U/JCn_cSB6n3Y/s200/144462-p7-1182852255.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139221083153484450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Lahir di Tanjung, Kalimantan Selatan. Pernah mengenyam pendidikan di Columbia College Chicago, Illinois, Amerika Serikat, jurusan Marketing Communication. Berdomisili dan menjalankan usaha sendiri di Jakarta. Aktif di komunitas berbasis web, Bunga Matahari dan Apresiasi Sastra. Kumpulan puisinya dapat dilihat di situsnya: &lt;a href="http://inez.dikara.web.id/"&gt;http://inez.dikara.web.id&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-1891944766180587306?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/1891944766180587306/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=1891944766180587306&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/1891944766180587306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/1891944766180587306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/12/profil-inez-dikara.html' title='[Profil] Inez Dikara'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/R1IuWKuPyqI/AAAAAAAAA5U/JCn_cSB6n3Y/s72-c/144462-p7-1182852255.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-5293490564364431688</id><published>2007-11-26T22:49:00.000+07:00</published><updated>2007-11-26T22:52:01.882+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 1'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Resensi 'Anak Kampung'</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lisa Febriyanti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/14690"&gt;Anak Kampung &lt;/a&gt;oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/wehahaha"&gt;wehahaha&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Kampung adalah sebuah perenungan pengalaman yang dialami penulis. Sengaja dibuat terpenggal-penggal untuk menunjukkan ragamnya cuplikan kejadian yang didapatkan oleh penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi penulisan, masih banyak typo error di sana sini yang perlu diperbaiki. Penulis bukan hanya bertugas menuangkan buah pemikirannya dalam kumpulan kata-kata yang memiliki makna. Namun, tugas akhir untuk menyunting menjadi penting untuk dilakukan, agar buah karya itu menjadi nikmat untuk disantap pembaca. Meskipun remeh temeh, typo error cukup mengganggu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain itu, sudah menjadi peraturan yang telah disepakati bahwa karya sastra Indonesia semestinya mampu ditulis dalam ejaan bahasa Indonesia yang sempurna. Penggunaan bahasa asing seperti “enggak”,  “lu”, “gua” dan berbagai kata yang tak termaktub dalam bahasa Indonesia mestinya ditulis miring. Beberapa tanda baca sempat pula terlewat untuk diperbaiki, misalnya tanda kutip untuk menunjukkan kalimat langsung yang mestinya tanpa spasi ternyata masih ada yang menggunakan spasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca kisah Anak Kampung, saya berharap akan mendapatkan gambaran sebuah rentetan kejadian yang menabrakan modernitas dengan pandangan seorang anak yang jauh dari kata metropolitan. Greget itu samar nampak pada penggalan-penggalan awal. Namun kemudian sirna juga pada penggalan-penggalan berikutnya yang mengikutsertakan issue rasial, seperti cerita tentang anak bermata sipit yang ditaruh di meja pojok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun kemudian menjadi gamang, sebenarnya pesan apa yang ingin disampaikan oleh penulis. Sebuah penutup yang sepertinya sengaja diberikan untuk taklimat akhir ternyata jauh dari judulnya, Anak Kampung. Penulis kemudian berbicara tentang sebuah kebaikan. Mungkin bisa lebih dideskripsikan tentang nilai kebaikan yang berjalinan dengan kehidupan anak kampung. Sehingga prosa bisa nampak utuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya, tulisan yang akan terbenam dalam benak pembacanya, apapun bentuknya, adalah seperti sebuah colekan, sebuah gugahan bagi pembaca untuk bisa melihat hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Apalagi menurut perkiraan saya, tulisan Anak Kampung ini lebih mengarah pada nilai kritik sosial yang terjadi di masyarakat. Dalam hal ini, menurut saya, nilai persuasif dalam tulisan mestinya lebih ditonjolkan. Pesan-pesan tentang moral mestinya lebih banyak diselipkan, bukan hanya mendeskripsikan sebuah penggalan kejadian. Sehingga, di akhir kata, pembaca kemudian ikut mengamini berbagai cuplikan kejadian yang disajikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa, saya masih merasa tulisan ini “kering”. Saya paham, rentetan kejadian memang dibuat lebih ringkas untuk menunjukkan ragamnya pengalaman. Saya pikir, pengkayaan kosa kata akan membuat tulisan ini lebih berbobot. Prosa, cerpen, puisi, novel, adalah kumpulan karya sastra yang bisa menjadi indah dengan berbaurnya kumpulan kata-kata indah di dalamnya, bukan hanya kisah tutur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya sendiri, menulis sama seperti mengajak pembaca ikut mengalun dalam alur cerita. Mengajak mereka serta merta terseret arus dalam kisah yang kita ujarkan melalui kata-kata. Berbeda dengan bahasa lisan yang mampu didramatisir oleh gesture tubuh, karya sastra hanya melibatkan panca indera yang lebih sedikit, sehingga alunan kata dalam mendeskripsikan sebuah peristiwa penting untuk disampaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, secara ide cerita, Anak Kampung adalah salah satu dari sekian cerita yang menyoal kisah-kisah kecil di kehidupan sehari-hari yang mungkin bagi sebagian besar orang tak ditengok untuk dipikirkan lebih dalam. Ini menjadi menarik, jika dipresentasikan dengan lebih dramatis. Terus menulis, terus berkarya, teruslah berbicara tentang kehidupan. (life)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-5293490564364431688?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/5293490564364431688/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=5293490564364431688&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5293490564364431688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5293490564364431688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/resensi-anak-kampung.html' title='Resensi &apos;Anak Kampung&apos;'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-1789550599029832719</id><published>2007-11-26T22:33:00.000+07:00</published><updated>2007-11-26T22:54:39.124+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 1'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Resensi 'Hari Ini Kita Berpisah, Rani'</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lisa Febriyanti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/31719"&gt;Hari Ini Kita Berpisah, Rani&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/miss_worm"&gt;miss worm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Ini Kita Berpisah, Rani. Sebuah judul yang manis untuk menggambarkan rasa perih perpisahan. Merupakan ungkapan hati berbalas dari dua anak manusia yang memendam rasa kasih. Cinta, tak selamanya terukir indah. Cinta, mau tak mau menyertakan kepedihan di dalamnya. Dan pedih inilah yang tertangkap dalam tulisan Hari Ini Kita Berpisah, Rani.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya kagum dengan rentetan kosa kata penulis. Meski menorehkan dera, namun dera itu dituliskan begitu indah, sehingga saya sendiri ikut merasakan, menjadi terkenang pada rasa sakit yang pernah hinggap oleh cinta yang terpisah. Pesannya nampak jelas terpapar, pas sekali dengan judulnya yang berbicara tentang perpisahan. Namun demikian, saya masih sedikit melihat terlewatnya penyuntingan penggunaan tanda baca, seperti huruf kapital dan penggunaan tanda seru untuk kalimat langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit masukan untuk penulis, di akhir tiap ungkapan hati, akan lebih menarik diberitahukan kepada pembaca siapa penulisnya. Saya melihat, tulisan ini seperti sebuah surat yang tak terkirimkan antara sepasang kekasih. Jika diakhiri dengan identitas si pengungkap rasa, maka pembaca tidak akan terlalu kaget langsung meloncat ke ungkapan yang berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling saya suka adalah akhir dari tulisan ini yang merupakan sebuah simpulan tajam yang mengena. Selamat, meski dengan kepedihan ternyata mampu membuahkan sebuah karya indah. (life)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-1789550599029832719?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/1789550599029832719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=1789550599029832719&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/1789550599029832719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/1789550599029832719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/resensi-hari-ini-kita-berpisah-rani.html' title='Resensi &apos;Hari Ini Kita Berpisah, Rani&apos;'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-2168507535534077587</id><published>2007-11-26T08:43:00.000+07:00</published><updated>2007-11-26T09:03:47.757+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] Yonathan Rahardjo</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yonathan Rahardjo lahir di Bojonegoro pada 17 Januari 1969. Lebih dikenal sebagai penyair yang telah memberi warna baru bagi perkembangan dunia sastra Indonesia dengan novel &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lanang&lt;/span&gt;-nya menjadi pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006 yang terpilih dari 249 peserta dari seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karyanya dimuat di sejumlah media, antara lain : majalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kartika&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memorandum&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawa Pos&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surabaya Post&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surya&lt;/span&gt;, majalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Horison&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Media Indonesia&lt;/span&gt;, majalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aksara&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Warta Kota&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suara Pembaruan&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seputar Indonesia&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suara Karya&lt;/span&gt; dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya-karya Yonathan juga tergabung dalam sejumlah antologi bersama : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Setengah Abad Sejarah Ayam Ras Indonesia&lt;/span&gt; (2001), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyakit Unggas dan Pengendaliannya&lt;/span&gt; (2002),&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Padang Bunga Telanjang&lt;/span&gt; (2003), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bisikan Kata Teriakan Kota&lt;/span&gt; (2003), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;40 Hari Wafatnya Mochtar Lubis &lt;/span&gt;(2004), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Debat Capres tentang Pendidikan Nasional &lt;/span&gt;(2004), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maha Duka Aceh&lt;/span&gt; (2005), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buku Tragedi Kemanusiaan 1965-2005&lt;/span&gt; (2005), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nubuat Labirin Luka &lt;/span&gt;(2005), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ode Kampung &lt;/span&gt;(2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara buku yang sudah ia terbitkan adalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Avian Influenza, Pencegahan dan Pengendaliannya&lt;/span&gt; (2004), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban Kekacauan &lt;/span&gt;(2004).&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-2168507535534077587?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/2168507535534077587/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=2168507535534077587&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2168507535534077587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2168507535534077587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/profil-yonathan-rahardjo.html' title='[Profil] Yonathan Rahardjo'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-149346740072546163</id><published>2007-11-26T08:38:00.000+07:00</published><updated>2007-11-26T08:43:20.237+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] Gunawan Maryanto</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gunawan Maryanto lahir dan menetap di Yogyakarta. Sehari-hari bekerja sebagai sutradara, aktor dan penulis di Teater Garasi. Cerpen, puisi dan eseinya dipublikasikan di Jurnal &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LeBur&lt;/span&gt;, Jurnal &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prosa&lt;/span&gt;, Jurnal &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Puisi&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BlockNoteProse&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BlockNotePoetry&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Media Indonesia&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tempo&lt;/span&gt;, dan koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawa Pos&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sebuah sajaknya merupakan nomine &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sih Award&lt;/span&gt; – &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jurnal Puisi &lt;/span&gt;(2004) dan sebuah eseinya tentang teater mendapat penghargaan dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dewan Kesenian Jakarta&lt;/span&gt; (DKJ). Buku yang sudah terbit : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Waktu Batu&lt;/span&gt; – naskah drama (2005), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bon Suwung&lt;/span&gt; – kumpulan cerpen (2005), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Galigi&lt;/span&gt; – kumpulan cerpen (2007). Kedua kumpulan cerpennya masuk nominasi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KLA&lt;/span&gt; 2005 dan 2007.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-149346740072546163?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/149346740072546163/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=149346740072546163&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/149346740072546163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/149346740072546163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/profil-gunawan-maryanto.html' title='[Profil] Gunawan Maryanto'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-6693743462484595996</id><published>2007-11-26T08:07:00.000+07:00</published><updated>2007-11-26T08:32:03.236+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] M. Aan Mansyur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://pecandubuku.blogspot.com"&gt;Aan Mansyur&lt;/a&gt; lahir di Bone, 14 Januari. Menulis artikel, puisi, cerita pendek di berbagai media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karyanya dimuat dalam berbagai buku antologi, antara lain : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sajak dengan Huruf Tak Cukup&lt;/span&gt; – antologi puisi (2005), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kupu-Kupu Dalam Kotak Kaca&lt;/span&gt; – antologi cerpen (2005), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dian Sastro for President #2&lt;/span&gt; – antologi puisi (2004), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aceh Dukaku&lt;/span&gt; – antologi puisi dan esai (2005), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Luka Aceh, Duka Kita&lt;/span&gt; – antologi puisi (2005), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dian Sastro For President #3&lt;/span&gt; – antologi puisi (2005), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Makassar Nol Kilometer&lt;/span&gt; – antologi esai (2006), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Setapak Salirang&lt;/span&gt; – antologi cerpen (2006), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Makassar di Panyingkul!&lt;/span&gt; – antologi reportase (2007), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanpa Karya&lt;/span&gt; – antologi cerpen tiga negara : Singapura, Indonesia, Malaysia (2007).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukunya yang sudah terbit : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hujan Rintih-rintih&lt;/span&gt; (2005), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perempuan, Rumah Kenangan&lt;/span&gt; (2007), dan yang akan terbit : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kukila.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, karya-karya Aan juga dimuat media : koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tempo&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Batam Pos&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tribun Timur&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pedoman Rakyat&lt;/span&gt;, majalah wanita &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Chic&lt;/span&gt;, majalah remaja &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aneka Yess&lt;/span&gt;, majalah cerita &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ceria&lt;/span&gt;, majalah remaja &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anita Cemerlang&lt;/span&gt;, majalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;IDE&lt;/span&gt; jepang, media online &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;puisi.net&lt;/span&gt;, media online&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; tandabaca.com&lt;/span&gt;, dan media online &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;penyingkul.com&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-6693743462484595996?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/6693743462484595996/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=6693743462484595996&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/6693743462484595996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/6693743462484595996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/profil-m-aan-mansyur.html' title='[Profil] M. Aan Mansyur'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-5461288909134133252</id><published>2007-11-20T16:07:00.000+07:00</published><updated>2007-11-20T16:17:27.953+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 1'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Menilai Puisi dari Judul</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TS Pinang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/45576"&gt;Puisi Kilat&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/kd"&gt;KD&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul sering kali menjadi masalah bagi penyair pemula. Tak jarang kita jumpai, misalnya di situs Kemudian.com, karya-karya tanpa judul, atau justru meminta saran judul dari pembaca. Seolah, memberi judul jauh lebih sulit daripada menulis karya itu sendiri. Tak jarang pula kita jumpai karya-karya dengan judul yang asal-asalan, bahkan ada yang sengaja ditulis dengan mengacaukan huruf besar-kecil dalam tiap kata, sehingga judul itu menjadi tidak nyaman dibaca, terkesan main-main yang cenderung norak. Di sisi lain, kita juga tidak jarang menjumpai karya-karya puisi serius karangan penyair serius yang tidak berjudul, paling-paling hanya diberi nomor atau sekedar penanda tempat dan waktu penulisan puisi tersebut yang dijadikan sebagai judul.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu hal perlu dicatat dari paragraf di atas ialah, alasan absennya judul dalam karya bagi penyair pemula dan penyair kawakan bisa sama sekali berbeda. Absennya judul yang representatif pada sebuah karya yang dikarenakan penyairnya tidak mampu menemukan judul yang pas untuk karyanya ibarat seorang ibu yang bingung menamai anak yang baru saja dilahirkannya. Sementara, bagi beberapa penyair berpengalaman, absennya judul bisa saja karena kesengajaan estetik yang olehnya dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Syair-syair macapat jawa, atau bentuk-bentuk puisi tradisional lainnya sering tanpa judul yang melekat pada tiap-tiap sajak. Ini kebanyakan karena tiap-tiap sajak tersebut merupakan bagian dari sebuah karya yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, judul sebuah puisi adalah sangat penting. Pertama, ia adalah representasi dari suatu karya, seperti nama bagi seseorang. Judul ibarat tabik pembuka jurus sebelum sebuah pertarungan silat dimulai. Ia berfungsi memperkenalkan 'isi' dari jurus tersebut, tanda pengenal perguruan, sekaligus penghormatan bagi lawan tandingnya. Judul yang baik dapat memberikan sekilas gambaran tentang isi sebuah sajak, sekaligus sebentuk salam penghormatan bagi lawan tandingnya, yakni pembaca. Karena itu, menemukan judul yang pas, sebagaimana menamai anak yang baru dilahirkan, adalah sama pentingnya dengan puisi itu sendiri. Dan saya kurang beruntung kali ini, sebab ideal saya tentang judul yang baik itu tidak saya dapatkan pada Puisi Kilat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Puisi Kilat ini sama sekali tidak memberikan bekal bagi saya untuk memasuki pintu keempat bagian puisi ini. Satu-satunya citra yang saya tangkap adalah bahwa puisi ini ditulis secara cepat, secara kilat, secara instan! Saya tidak pernah bisa mempercayai sebuah karya instan, sebagaimana saya tidak pernah percaya khasiat nutrisi makanan cepat saji. Tidak ada energi potensial yang terhimpun di sana, tidak ada nutrisi seperti camilan yang hanya terbuat dari gumpalan debu tepung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengabaikan judul tersebut, saya mencoba membaca empat bagian puisi yang masing-masing terdiri dari empat baris. Pilihan bentuk kuatrin, empat baris seuntai ini sangat jelas menampakkan adopsi bentuk-bentuk puisi lama. Sayangnya, bait-bait berbaris empat-empat yang tertib ini justru kurang tertib dengan rima, dengan persajakan bunyi akhir. Ternyata hanya bagian (1) dan (4) saja yang menggunakan persajakan dengan pola syair a-a-a-a. Setiap pilihan bentuk wadag puisi saya kira amat memengaruhi kesan dan kekuatan sebuah puisi, tentu saja selain aspek-aspek lainnya semisal diksi, tema, dll. Pilihan bentuk tertib seperti ini akan lebih berdaya apabila tertib pula memberdayakan elemen-elemen lainnya selain jumlah larik tiap baitnya, misalnya persajakan itu tadi. Paling tidak, jika tidak ingin mengikuti pola secara ketat, ada permainan kreatif atas elemen-elemen itu. Saya kira, sajak ini akan lebih utuh jika bagian (2) dan (3) juga mengikuti pola persajakan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi tema, sajak ini juga tidak terlalu menawarkan sesuatu yang lain. Kita hanya disuguh selembar catatan harian, saat sang Aku-lirik menyadari momen pancaroba, momen peralihan antara masa lalu dan masa depan. Ini tema yang biasa sekaligus berpotensi menjadi luar biasa bila digali lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, setiap peralihan dua 'alam' terdapat pertemuan energi yang luar biasa. Itulah sebabnya mengapa para pencari ilmu kesaktian suka bertapa di tempat-tempat perbatasan antara daratan dan perairan, antara sungai dan laut, bahkan di puncak gunung perbatasan darat dan langit. Juga di perbatasan waktu antara malam dan pagi, sore dan malam, pagi dan siang. Sajak ini pun mengesankan perbatasan antara masa lalu yang mulai berjarak di belakang dan masa depan yang sayup-sayup mulai terbayang namun belum mampu terindera. Haru akan kenangan pilu masa lalu dan rindu pada harap masa depan, terpampang jelas dalam sajak ini, tanpa pengolahan lebih lanjut. Ia hanyalah sebuah catatan harian, sebuah potret peristiwa, tanpa ada sentuhan kreatif di dalamnya. Ini memang tema yang cliché, sehingga tanpa upaya lebih untuk mengolahnya, tema ini hanya akan menjadi sebuah daur ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat bagian yang cair jika dapat dikristalkan menjadi satu atau dua bait saja namun padat, mungkin akan dapat membuat sajak ini lebih bertenaga. Tentu saja dengan judul yang lebih sungguh-sungguh. Berpuisi saya kira adalah sebuah kegiatan ruhani yang bukan main-main. Meski selalu ada kadar kebermainan (palyfulness) dan indera jenaka yang memicu kreativitas, kerja puisi mensyaratkan upaya yang sepatutnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-5461288909134133252?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/5461288909134133252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=5461288909134133252&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5461288909134133252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5461288909134133252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/menilai-puisi-dari-judul.html' title='Menilai Puisi dari Judul'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-3355107755895493583</id><published>2007-11-20T09:21:00.000+07:00</published><updated>2007-11-20T09:33:58.169+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 1'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Menuju Puisi Setajam Daun Ilalang, Sejernih Mata Hati</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TS Pinang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/53613"&gt;Di Matamu yang Ilalang&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/ghe"&gt;ghe&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Di Matamu yang Ilalang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;di matamu yang ilalang kutemukan angin yang rinai. ingin kurebah diatasnya. kan kuriap rumput yang berkelindan di dada. dan telentang menatap rekata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;menanti hujan bintang. di matamu yang ilalang.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejujurnya saya sangat menyukai judul sajak di atas. Judul ini begitu kuat mengesan dalam benak saya bahkan sebelum saya membaca isi sajaknya. Saya rasa yang membuat judul itu terasa kuat mula-mula adalah pilihan pencitraan yang dipilih penyair sajak ini dengan menggabungkan kata 'mata' dengan 'ilalang'. Mata yang ilalang, mata yang bagaimanakah itu? Karakter ilalang yang mana yang begitu khas sehingga penyair sajak ini memilihnya untuk memperkuat sifat mata si 'kamu' itu? Tak sabar ingin segera saya temukan jawabannya di dalam larik-larik puisinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“[D]i matamu yang ilalang kutemukan angin yang rinai.”&lt;/span&gt; membuka sajak ini. Ilalang dan angin yang rinai membawa saya pada suasana padang atau dataran lapang. Ilalang itu tampaknya lebih sebagai sebuah hamparan yang luas, bukan hanya serumpun atau sejumput daunnya saja. (Padang) ilalang bisa tampak hijau indah dengan jambul-jambul bunga yang elok, tetapi jangan lupa, ilalang juga berdaun tajam yang bisa menyayat kulit tangan atau kaki bila kita tak hati-hati. Pemilik mata yang ilalang jelas orang istimewa, dan karena itu si penyair menuliskannya dalam sajak ini. Saya berharap akan dibawa lebih jauh pada citra mata yang seperti (padang) ilalang, atau setajam bilah daun ilalang milik si “mu” itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, masih pada bait yang sama, tiba-tiba saya dihadapkan pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“ingin kurebah diatasnya. kan kuriap rumput yang berkelindan di dada. dan telentang menatap rekata.”&lt;/span&gt; dan saya pun menjadi kehilangan jejak. Sebenarnya bagian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“ingin kurebah diatasnya”&lt;/span&gt; masih memungkinkan saya membayangkan sang mata sebagai padang ilalang, tetapi begitu saja saya disodori “rumput yang berkelindan di dada”. Di atas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'matamu yang ilalang'&lt;/span&gt; itu aku-lirik ingin rebah dan meriap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'rumput yang berkelindan di dada'&lt;/span&gt;, lalu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'telentang menatap rekata'.&lt;/span&gt; Sampai di sini saya disuguhi masalah yang bagi saya cukup serius. Mata itu tiba-tiba hilang, digantikan oleh rumput di dada, dan aku-lirik yang telentang menatap rekata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak bahwa penyair kita ini ternyata masih mudah terpesona oleh kata-katanya sendiri, dan lupa pada bangunan  imaji yang hendak diciptakannya. Keutuhan imaji yang dihentak dari awal judul sajak ini, gagal dipertahankan di pertengahan sajak. Kemunculan citra 'rumput' yang berkelindan di 'dada' bagi saya terasa merusak citra 'ilalang' dan 'mata' yang begitu mengesan di awal sajak, walaupun di penutup sajak ini pembaca dibawa kembali kepada mata ilalang itu: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'menanti hujan bintang. di matamu yang ilalang.'&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan sajak ini sebenarnya telah diperkenalkan dengan baik oleh ungkapan yang menurut saya sangat kuat dan menyaran, yaitu kerjasama antara “mata” dan “ilalang”. Keduanya adalah kata-kata biasa yang sering kita pakai sehari-hari (bandingkan dengan “rekata”), artinya kita tidak perlu susah-payah mencari lema kata-kata mata dan ilalang tersebut di dalam kamus. Tetapi ungkapan “mata yang ilalang” jelas tidak biasa. Ungkapan ini sukses memicu imajinasi saya sebagai pembaca. Saya berhasil 'terjebak' oleh rasa penasaran yang asyik yang dipicu oleh ungkapan tidak biasa tersebut. Inilah mungkin yang disebut kreativitas puitik itu, yaitu ketika penyair mampu mengejutkan rasa bahasa pembaca dengan sesuatu yang tidak biasa (baru?) dari kata-kata sehari-hari yang biasa. Sebagai kontrasnya, penggunaan kata “rekata” yang tidak lazim dalam khasanah ucapan saya sebagai orang Indonesia-Jawa bagi saya terasa justru asing dan tidak akrab. Mudah-mudahan penyair sajak ini memang telah akrab dengan kata “rekata” itu (dalam KUBI, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rekata= kala [bintang atau rasi]&lt;/span&gt;), sebab bagaimana sebuah sajak bisa jujur mengungkapkan bahasa batin si penyair, jika menggunakan lambang yang tidak akrab dengan dunia batin si penyair?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak pendek sebenarnya memiliki keuntungan sekaligus kesulitan tersendiri. Ia memiliki tenaga yang lebih kuat, lebih lenting untuk menancapkan kesan kepada pembaca. Dalam hal ini teks-teks iklan dapat dijadikan contoh, singkat tetapi kuat menancap di benak. Namun, kekuatan itu tidak mudah ditemukan, ia harus dihasilkan dari pemadatan atau kristalisasi. Dengan kata lain, sajak pendek akan muncul kekuatannya jika kata-katanya efektif, dan kesan yang hendak ditembakkan kepada pembaca utuh dan tajam. Saya kira, sajak ini belum kristal, masih terdapat fraksi, retakan imaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain retaknya bangunan imaji dalam sajak ini sebagaimana telah disinggung di atas, kesalahan tatabahasa yang mungkin kelihatan remeh seperti penulisan “diatasnya” yang seharusnya ditulis “di atasnya” terasa mengganggu keutuhan sajak ini. Banyak penulis yang ceroboh dengan kaidah baku bahasa Indonesia dan penyair, sebagai seniman bahasa, wajib memahami kaidah-kaidah ini sebelum memainkan improvisasi dan manuver atas nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;licentia poetica&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari beberapa kekurangan tersebut, sajak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di Matamu yang Ilalang&lt;/span&gt; ini menunjukkan potensi penyairnya. Terlihat kepekaan diksinya cukup kuat (lihat ungkapan-ungkapan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mata yang ilalang, angin yang rinai, menanti hujan bintang&lt;/span&gt;). Jika penyair cukup mampu menjaga emosinya dan tidak terburu-buru ingin menyelesaikan sebuah sajak, saya kira ia akan mampu menghasilkan sajak-sajak yang kuat, penuh perhitungan, dan utuh. Saya kira upaya-upaya menuju kualitas semacam inilah yang selalu digeluti oleh penyair manapun dari zaman ke zaman, karena melalui upaya tak kenal lelah untuk mengasah ketajaman puisinya itulah seorang penyair juga mengasah kepekaan nuraninya menjadi lebih tajam dan jernih. Setajam bilah daun ilalang, sejernih mata hati.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-3355107755895493583?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/3355107755895493583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=3355107755895493583&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3355107755895493583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3355107755895493583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/menuju-puisi-setajam-daun-ilalang.html' title='Menuju Puisi Setajam Daun Ilalang, Sejernih Mata Hati'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-5712109776203167418</id><published>2007-11-20T00:35:00.000+07:00</published><updated>2007-11-20T00:47:09.964+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 1'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Resensi Puisi Kilat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nanang Suryadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/45576"&gt;Puisi Kilat&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/kd"&gt;KD&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak ini berjudul Puisi Kilat. Saat membaca judulnya ada dua hal yang terbayang dalam benak saya, yaitu puisi tentang kilat atau puisi yang dibuat cepat-cepat (seperti surat berperangko kilat atau kilat khusus yang menandakan itu harus dikirimkan secepatnya).&lt;br /&gt;Namun setelah membaca badan sajaknya, saya tak menemukan ada keterkaitannya dengan bayangan yang pertama. Maka saya duga, bahwa sajak ini memang memiliki arti yang kedua, puisi yang dibuat cepat-cepat (seperti kilat), alias instan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa lama kita menulis sajak? Pertanyaan itu bisa mendapat jawaban beragam. Lalu mungkin akan ada pertanyaan lain lagi: bolehkah kita menulis sajak cepat-cepat, bahkan mungkin sangat cepat (secepat kilat (?)). Jawaban pertanyaan ini pun akan beragam-ragam jika kita tanyakan kepada banyak penyair.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baik, saya jawab sendiri pertanyaan-pertanyaan tadi. Jawaban ini mungkin akan berbeda dengan penyair-penyair lain. Berapa lama kita menulis sajak? Pengalaman saya selama ini, menulis sajak itu hanya sebentar saja. Tak butuh waktu lama-lama. Ketika ada dorongan untuk menulis, seluruh pengalaman puitik saya seakan-akan tumpah dalam sajak-sajak yang mungkin lahir dalam berbagai judul dalam waktu kurang dari 30 menit. Saya mungkin termasuk penulis yang tidak terlalu rumit memikirkan bangunan puisi seperti Chairil Anwar, yang seakan-akan menulis puisi adalah pertaruhan hidup mati. Jadi bagi saya, menulis sajak cepat-cepat seperti kilat bukan suatu masalah. Hanya saja, menjadi masalah ketika sajak itu tak memberikan "apa-apa" bagi pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sajak ini, puisi kilat menunjuk pada cara menulisnya yang kilat (cepat), karena sebagai pembaca, saya tidak menemukan metafora kilat yang berhubungan dengan seluruh isi dalam puisi ini, walaupun ada tanda-tanda yang mengarah ke pembentukan image tentang kilat, misalnya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hujan belum nampak turun&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;badai gurun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pembaca saya meraba-raba apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulis sajak ini. Judul sajak yang tak menjelaskan isi dan bait demi bait yang tersusun namun tidak runtut menggambarkan sesuatu, cukup menyulitkan untuk mencoba memahaminya secara utuh. Pada bait pertama, saya cukup tertegun membaca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(1)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku puas dengan langit yang biru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tanpa salju membeku seperti musim lalu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku puas dengan hatiku yang mengharu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tanpa cinta pilu di tahun lalu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bait pertama, penulis menggunakan teknik persajakan dengan rima yang sama, yaitu dengan akhiran “u” , yang cukup memberikan musik dalam bait ini. Bentuknya menyerupai pantun, namun dengan pola a-a-a-a, dengan sampiran dan isi (jika bisa dikatakan dua baris pertama merupakan sampiran dan dua baris berikutnya merupakan isi). Namun jika dilihat, antara sampiran dan isi dapat dirasakan ketersambungan (yang membedakannya dengan pantun, yang tak meminta “sampiran” berhubungan dengan “isi”). Dua baris pertama dipenuhi dengn simbol-simbol yang dapat dibayangkan sebagai penggambaran suasana hati yang dimetaforakan dengan “langit biru” tanpa “salju membeku” seperti di musim lalu. Walaupun jika pembaca membandingkan antara “langit biru” dengan “hatiku yang haru” tak menemukan suasana yang sepadan, karena “langit biru” menunjuk pada suasana cerah, senang, gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bait kedua, pola persajakan seperti di bait pertama mulai ditinggalkan, bahkan pola sampiran dan isi seperti pantun tidak ada lagi. Seluruh baris pada bait ini bermain-main dengan simbol (metafora) ---- jika memang itu adalah metafora, bukan hanya menggambarkan “kejadian seperti aslinya” seperti seorang turis mengambil foto dengan kamera sakunya---- yang mencoba menceritkan suasana hati penulis sebagai “musim kemarau belum berlalu” namun “padang gurun mulai bersemi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(2)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Musim kemarau belum berlalu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan daun jati sudah berhenti meranggas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hujan belum nampak akan turun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Namun padang gurun mulai bersemi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bait kedua ini, simbol-simbol yang digunakan tak membentuk suasana yang sama dan runtut, misalnya sangat aneh ketika muncul “daun jati” digabung dengan “padang gurun”. Apalagi jika dihubungkan dengan bait pertama yang menggunakan simbol “salju membeku”. Mungkin pembaca juga akan bertanya, apa maksudnya “padang gurun mulai bersemi”. Apakah bisa padang gurun bersemi? (seperti pohon dan bunga-bunga bersemi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bait ketiga hampir sama dengan bait kedua dalam teknik atau pola penulisannya. Namun bait ketiga tak memberikan pengertian yang jelas (karena bait ketiga ini sepertinya terlepas dari bangunan bait sebelumnya). Apa yang dimaksud dengan “disana”? Apa yang ingin disampaikan dengan frasa “badai gurun berhembus sejenak” dan seterusnya, yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dan mungkin tak terjawab oleh bait ketiga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(3)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kami di sini bertanya-tanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ada apa gerangan di sana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Badai gurun berhenti berhembus sejenak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menunggu apa yang akan terjadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bahkan penulisnya pun meminta:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(4)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jawablah rindu ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Meski dalam kata terbungkus duri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wujudkanlah harap ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Meski dalam nada sehalus pasir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bait keempat seperti bait-bait sebelumnya, seperti serpihan-serpihan yang tak membutuhkan keutuhan dalam sebuah bangunan utuh sajak. Mungkin ada pembaca yang dapat membayangkan metafora dan simile dalam frasa “Kata terbungkus duri” , “nada sehalus pasir”. Tapi metafora ini menjadi seperti tidak memiliki daya pukau dalam susunan sajak seperti ini, puisi yang tidak menemukan keutuhan. Puisi yang bingung menggambarkan suasana hati penulisnya. Seperti kilat, mencercah sesaat. Mungkin.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-5712109776203167418?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/5712109776203167418/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=5712109776203167418&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5712109776203167418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5712109776203167418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/resensi-puisi-kilat.html' title='Resensi Puisi Kilat'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-4285882653929672647</id><published>2007-11-20T00:29:00.000+07:00</published><updated>2007-11-20T00:35:00.203+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 1'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Kematian Bisa Saja Indah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Zabidi Ibnoe Say&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/31719"&gt;Hari Ini Kita Berpisah, Rani&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/miss_worm"&gt;miss worm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persepsi umum kematian sering digambarkan berwajah kelam. Misalnya saja cerita-cerita dalam sinetron kita, yang amat menjemukan itu. Jerit tangis, histeria dan simbol-simbol melankoli lainnya. Hal ini dimungkinkan karena kematian bagi kebanyakan orang adalah hal yang menakutkan sekaligus mencekam. Karena maut dipahami sebatas akhir dari setiap bentuk kehidupan. Karena kematian bagi seseorang berarti terputus segala ikatan keduniaan, hilangnya ikatan-ikatan emosi, seperti cinta, persahabatan, harapan, keinginan juga bentuk-bentuk materi lainnya. Mungkin hanya di kalangan kaum sufi kematian dihadapi dengan berani sebagai sebuah prosesi menuju keabadian.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; “Hari Ini Kita Berpisah, Rani” inipun berbicara perihal kematian. Menghadirkan dua tokoh, lelaki dan perempuan sebagai sepasang kekasih. Cerita berujung dramatik, berupa kematian. Menjadi menarik, meski bukan cerita sufistik tema cinta ini dicoba dikemas berbeda dengan pandangan umum tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakaian diksi dengan metafora serta beberapa repetisi di dalamnya, telah memberi tenaga dalam tubuh ceritanya. Plot demi plot diawali dengan kalimat pembuka yang “terang” dan mampu memancing keingintahuan. Membawa pembaca menyelami pergulatan pikiran dan perasaan dua tokohnya dalam dialog lewat tatapan, gesture atau sekedar rintihan pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema percintaan yang selalu penuh dengan warna kesangsian, pengorbanan, kepasrahan, kesetiaan dan keyakinan, mengalir lewat frasa demi frasa. Mampu membangkitkan rangsangan emosi. Cerita menjadi terasa lebih nyata karena diskripsi berbagai indra, penglihatan, penciuman, sentuhan juga ekspresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terkadang, perpisahan adalah hal yang sangat kuinginkan&lt;/span&gt;. Inilah kalimat pembuka, yang mengawali cerita bagaimana Re demikian merasa putus asa untuk tetap dapat bertahan menghadapi penyakitnya. Bagaimana Re yang mencintai Rani tidak mau menambah beban penderitaannya. Inilah bangunan drama paragraf pertama yang ingin menggambarkan kondisi psikis keduanya. Di satu sisi Rani selalu mencoba menghibur Re, meski ia tahu bahwa penyakit kekasihnya sulit disembuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seringkali, perpisahan adalah hal yang sangat kutakutkan&lt;/span&gt;. Pada paragraf ke dua ini, plot bergulir pada kondisi psikis perasaan Rani yang demikian takut kehilangan Re. Pada alenia ini untuk memperkuat perasaan itu penulis menuliskannya dengan ungkapan tanya. “Kapan ini akan berakhir, tanyamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terkadang, aku bertanya, siapa yang sesungguhnya egois? Kau? Ataukah aku?&lt;/span&gt; Kalimat pembuka pada paragraf ke tiga ini, ingin menguatkan pertengkaran perasaan keduanya. Di satu sisi Rani tidak sanggup melihat penderitaan Re. Di sisi lain Re merasa Rani sudah kehilangan ketegaran yang begitu di harapkannya. Re mempertanyakan kembali cinta Rani.  Maka penulis memperkuat pesan itu lewat kalimat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tidak lama lagi,” kata-katamu tidak pernah mencoba menipuku, Rani, “dan kuantar kau dengan senyuman,” tapi kau mengeluarkan air mata. Kau menangis bukan mengulas senyum. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seringkali, perpisahan adalah hal yang tidak bisa kita hindari&lt;/span&gt;. Pada bagian ini keinginan penulis menggambarkan suasana ketika keduanya telah “pasrah” menerima kenyataan yang dihadapi. Dan Re kembali menemukan kembali kepercayaan atas cinta Rani dengan bahasa ungkap yang sangat  baik. Lewat dialog di bawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Aku bermimpi semalam,” kataku lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kau merebahkan tubuhmu, menyandarkan kepala di pangkuanku. Jari-jari tanganmu lembut meraih wajahku, menyentuh bibir ini, mata, pipi, lalu kau bertanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kau tersenyum dalam mimpimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku mengangguk dan cinta yang sempat hilang di antara kita hadir kembali lewat tatapanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terkadang, perpisahan adalah hal yang sangat indah&lt;/span&gt;. Pada penutup prosa ini, penulis menghadirkan dengan dialog-dialog indah keduanya. Yang menggambarkan keteguhan hati dalam cinta mereka. Untuk sama-sama dapat melewati sisa-sisa hari pertemuan keduanya. Detik demi detik, menit, jam demi jam seakan mereka lalui dengan penuh cinta dan kepasrahan. Kepercayaan Re terhadap Rani yang kembali pulih dikuatkan dengan kalimat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Aku mencintaimu, Re.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bisikmu hampir tidak terdengar olehku. Wajahmu keemasan diterpa cahaya jingga. Silau, ruang di sekelilingmu. Aku hampir tidak bisa melihat apapun, kecuali senyum hangat di bibir merahmu dan aku membalas senyum itu dengan seluruh tenaga yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ah, ternyata benar. Hari ini kita berpisah, Rani.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit catatan: pendeskripsian ruang, lorong atau kamar dan suasana sekelingnya yang mampu menjaga rima serta memberi roh pada cerita, kurang terasa mewarnai pada tiap larik di dalamnya. Kecuali pada paragraf ke empat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Hari ini kita berpisah, Re,” dan wajah tampanmu yang sudah lama tidak sudi menatapku, kini menoleh. Di teras rumah, kita berdua duduk bersama. Di atas dipan kayu, menatap langit senja berwarna jingga di atas padang ilalang. Ditemani suara kepak sayap burung-burung di udara dan ramai gunjingan daun yang diterpa angin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekasi, Nov 2007&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-4285882653929672647?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/4285882653929672647/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=4285882653929672647&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/4285882653929672647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/4285882653929672647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/kematian-bisa-saja-indah.html' title='Kematian Bisa Saja Indah'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-704680703908765294</id><published>2007-11-20T00:21:00.000+07:00</published><updated>2007-11-20T00:29:16.814+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 1'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Mata Bukan Ilalang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mikael Johani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/53613"&gt;Di Matamu Yang Ilalang&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/ghe"&gt;ghe&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bad news first&lt;/span&gt;, nggak apa-apa, karena saya kira akhirnya puisi ini cukup kuat untuk mendengarkannya. Mungkin ada empat, pertama kata ilalang itu, yang sudah terlalu sering kita dengar di segala sesuatu yang 'puitis', dari D. Zawawi Imron's ‘Bulan Tertusuk [I]lalang’ sampai nama komunitas yang penyairnya banyak dimuat di Kompas Minggu. Kemudian matamu itu sendiri, sesuatu yang klise juga di bahasa puisi Indonesia. Contoh, satu saja dari segudang yang ada di toko buku Jose Rizal di tim misalnya adalah judul kumpulan puisi Johannes Sugianto tahun lalu ‘Di Lengkung Alis Matamu’ (bahkan di sini matamu ini sama sekali tidak perlu, alis ada di mana lagi kalau bukan di mata? ke mana aja editornya?). Kemudian pembandingan dua hal itu, ilalang dan matamu. Satu hal klise dibandingkan dengan satu hal klise lain. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Two wrongs don't make a right, they make a bigger wrong! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian beberapa kata di dalam puisinya sendiri (selama ini kita baru sampai di judulnya), 'rinai', '[ku]riap', '[ber]kelindan', dan 'rekata', yang, selain juga kedengaran terlalu berbau halaman puisi Kompas Minggu, saya juga tidak langsung mengerti artinya. ini mungkin tidak langsung jelek. Walaupun bau basi, kalau kata-kata itu memang punya alasan kuat ada di situ, benar-benar dipilih untuk mengatakan sesuatu (atau bunyi, ini hal lain lagi, sekarang kita bicara maknanya dulu) yang memang tidak bisa dikatakan oleh kata lain, bukan hanya karena ingin 'puitis', ya mungkin memang harus dipakai. Kerak nasi aja bisa enak. Tapi, ini adalah hal yang buat saya perlu dipikirkan juga. Make it new! Kata beribu-ribu penyair (sebuah klise juga), tapi namanya juga klise, ada benarnya. Punya masalah nggak kita menulis puisi yang bunyinya (paling tidak) sama saja dengan banyak puisi lainnya? Apa nggak lebih baik bikin sesuatu yg baru? Atau mungkin si penulis puisi ini justru memilih hal yang lebih radikal dan susah lagi, memakai kata-kata klise tadi tapi memakainya dengan maksud yang spesifik, spesifik untuk tujuan puisinya ini? Sehingga yg tadinya klise jadi tidak klise lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah kita lihat. Pertama rinai. Saya lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Atau ini salah. Sebenarnya sebelum saya ambil KBBI saya sudah membaca puisi ini beberapa kali. Entah kenapa mengingatkan saya pada puisi Frans Nadjira 'Mimpi Dalam Demam' (saya lampirkan di bawah).* Mungkin karena saya jadi membayangkan pegunungan dan padang rumput yang berangin. Ya, gambarnya cukup jelas saya rasa, walaupun memakai kata-kata yang klise seperti ilalang dan rumput dan bintang. Mata itu tidak berlama-lama menjadi mata, langsung lenyap mejadi ilalang dan mulailah fantasi narator puisi ini, sebuah fantasi yang cukup kuat. Dia menemukan dirinya di padang ilalang dengan 'angin yang rinai', rebah, atau ingin rebah di atasnya, kalau dia bisa rebah di situ dia akan me'riap' rumput yg berkelindan di dada (sampai di sini sebenarnya agak membingungkan, ini dada siapa? Bukankah tadi dia ada di mata si penerima sajak ini? Tapi dada siapa sebenarnya akan jelas setelah kita tahu apa sebenarnya maksud si narator dengan 'kuriap' dan 'berkelindan' jadi ini nanti kita bahas pas membahas dua kata itu saja), kemudian telentang menatap 'rekata' (yg tadinya saya kira semacam compound rekat+kata, dan saya sempat miris membayangkan, oh no, not another poem ABOUT a poem! Kata-kata tentang kata-kata! Tapi tenang, saya salah kok), dan menanti hujan bintang. Lucu, saya membayangkannya seperti campuran stardust dan angin rumput savanna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut KBBI 'hari rinai' ternyata berarti 'hari hujan rintik2' tapi 'rinai' sebagai kata kerja (merinai) juga berarti 'bersenandung, bernyanyi-nyanyi kecil'. Ini kejutan yang menyenangkan. Mungkin penulis sajak ini memang merasa harus memakai kata rinai ini karena dia memang membayangkan dua hal sekaligus, di padang ilalang yang mata pacarnya itu mungkin memang hujan sedang turun rintik-rintik dan lagi ada angin yang bernyanyi-nyanyi kecil. Lucu bukan? Yah, mungkin juga si penulis sajak ini tidak memakai KBBI dan mungkin juga dari dua arti rinai itu mungkin di kepalanya hanya ada satu (mungkin yang 'bernyanyi-nyanyi kecil' karena dia meletakkan rinai begitu dekat ke angin, tapi bisa juga kan itu angin besar yang mulai membawa gerimis, yang mungkin belum turun di situ tapi sudah deras di padang seberang sana?), tapi bagi saya walaupun misalnya penyairnya tidak sengaja—dan saya sih entah kenapa yakin penyair ini cukup sengaja, bahwa saya bisa, punya kemungkinan, membaca rinai itu seperti itu tetap menyenangkan. I don't care if the author's dead or alive, as long as his words are alive. dan 'rinai' ini, so alive!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhitungkan juga kemungkinan hubungan rinai yg hujan ini dengan 'hujan bintang' di baris terakhir. Saya tadi sudah cukup senang dengan gambar hujan bintang di padang ilalang, dan sekarang setelah tahu mungkin sebelum hujan bintang itu sudah ada hujan rintik-rintik di situ, gambar ini jadi lebih lucu dan kompleks lagi: apakah si narator ini ternyata agak tersiksa juga di padang itu dengan segala macam gerimis dan anginnya dan sedang menanti langit cerah dan bintang-bintang muncul lagi? Dan kalau kita ingat lagi padang ilalang ini sebenarnya adalah mata kekasihnya, apakah hujan berarti air mata? Apakah mereka habis berantem dan sekarang si penyair ini sedang membujuk pacarnya supaya baikan? Supaya matanya penuh bintang lagi (ingat, mata juga sering sekali dibandingkan atau diasosiasikan dengan bintang bahkan di buku diary anak SMP)? Jadi ternyata di puisi yang awalnya hanya kelihatan romantis dan menye ini sebenarnya juga tersembunyi kesedihan? Oke, oke sekali pilihan kata rinai ini ternyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian [ku]'riap' dan [ber]'kelindan'. kbbi bilang 'meriap' = 'tumbuh atau bertambah besar; bertambah banyak', sementara 'berkelindan' (yang sekarang pasti akan anda dengar di seminar akademik di mana saja sebagai bagian dari ekspresi du jour 'berjalin berkelindan', padahal mungkin maksudnya cuma 'ada hubungannya') = 'erat menjadi satu', tapi 'kelindan' sendiri adalah kata benda arkaik yang berarti 'benang yang baru dipintal' atau 'benang yang sudah dimasukkan ke dalam lubang jarum.' Yay! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;So many possibilities! &lt;/span&gt;Bayangkan, berarti 'dada' ini kelihatannya adalah dada si penyair, dia rebah (di punggungnya) di padang ilalang itu, dan melihat di dadanya ada rumput yg tumbuh (dan berarti dia telanjang dada bukan, di tengah angin dan hujan rintik2 itu, nggak dingin? Mungkin semarah itukah pacarnya padanya sehingga dia (harus) merasa begitu tersiksa? Atau dia memang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;drama queen&lt;/span&gt; dan lagi cari simpati?). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin jelas di sini rumput adalah metafor untuk cinta, cinta si penyair pada si pemilik mata/ilalang, yang tumbuh langsung dari dadanya, yang ingin ia 'riap' supaya 'bertambah besar dan banyak'. Yang lebih menarik lagi bagi saya adalah bahwa rumput itu sudah berkelindan di dadanya. Bukan hanya cintanya yg ada di situ tapi juga cinta pacarnya, mereka sudah 'erat menjadi satu.' Buat saya di sini pun sudah jelas ada metafor seksual di sini, yang dibuat jadi semakin kuat dan spesifik dengan arti arkaik 'kelindan' tadi. mungkin cinta mereka adalah cinta yg baru, seperti 'benang yg baru dipintal', walaupun begitu benang itu 'sudah dimasukkan ke dalam lubang jarum'. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Obvious sexual metaphor! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan menjadi semakin misterius dan menggelitik lagi kalau kita ingat pepatah 'seperti menegakkan benang basah'. Apakah ini masalahnya kenapa mereka berantem??? Karena benangnya (entah benang/penis siapa karena tidak ada petunjuk jelas siapa yang cowok dan siapa yang cewek, atau apakah cowok dan cewek atau cowok dan cowok atau cewek dan cewek—walaupun saya punya perasaan entah kenapa penulis sajak ini cowok) tidak pernah bisa tegak? (tentu saja benang bisa diinterpretasikan sebagai cinta itu sendiri, cinta mereka seperti rumput yg seperti benang yg tidak pernah bisa tegak (karena basah terus karena hujan rintik-rintik tadi yang adalah air matanya 'matamu'). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekali lagi, bahwa sajak ini, karena pilihan kata 'kelindan' itu, mengijinkan ada interpretasi yg seksual tadi (dan benang yg masuk ke lubang jarum tadi juga mengingatkan saya bahwa banyak barang-barang tajam (caution: menyakitkan!) di puisi ini: ilalang, rumput, gerimis dan hujan yg seperti jarum. bukan berarti seks yg dilakukan si penyair dan pacarnya pasti sado-masochist, tapi menebar barang-barang tajam di puisi ini bisa saya rasakan waktu membacanya, membuat saya jadi merasa seperti takut ketusuk, dan dalam puisi yg bisa dirasakan pembaca kadang-kadang bisa lebih penting daripada yg bisa dimengertinya) selain interpretasi standar yg hanya melibatkan cinta suci non-karnal, itu sangat mengasyikkan buat saya, pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya bilang kemungkinan itu lebih mengasyikkan daripada jawaban yg pasti (mana interpretasi yang benar?), yang tidak disediakan oleh puisi ini, itu akan jadi sebuah klise sendiri, mungkin lebih baik digambarkan begini: karena puisi ini hanya memberi kemungkinan, seperti memberi rumus, sebenarnya kita bebas mempermainkan rumus itu sampai sejauh mana, tapi kita tetap punya puisi itu (ie, pertanyaan yg harus kita pecahkan dengan rumus itu (atau sebenarnya malah masih ada lagi rumus lain yg juga bisa dipakai!)), dan ketegangan antara keinginan kita untuk bermain-main dengan kemungkinan-kemungkinan tadi dan semacam rasa wajib atau berhutang (karena kita sudah diberi sesuatu yang begitu asyik) untuk mengerti puisi itu seperti yg ditulis oleh penulisnya, itulah yg mengasyikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tenang, 'rekata' ternyata bukan = rekat + kata. rekata adalah kata arkaik lagi (yg membuat semakin mungkin penyair ini memang memilih kata-kata-nya dengan sengaja dan hati-hati, atau dia anak indie yg bukan hanya pakaiannya saja yang vintage!) yang artinya 'kala (bintang atau rasi)'. Sekarang dia telentang menatap scorpio (walaupun ingat, semua ini adalah harapan si narator, dia 'ingin', 'kan', tapi mungkin juga keinginannya, fantasinya, begitu kuat sehingga dia sudah tidak bisa membedakannya dengan kenyataan (sounds like he's in denial)), langit mulai cerah, dia menyilang tangan di belakang kepala dan dalam sesuatu yang terasa seperti sebuah ketabahan yang mengasyikkan menunggu bintang-bintang yang membentuk konstelasi itu menghujani(dada?)nya dan menggambar tato berbentuk kalajengking di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini adalah usaha untuk memahami puisi ini, yang menyediakan cukup banyak teka-teki sehingga usaha ini jadi cukup asyik dan mengasyikkan (apa bedanya?) tapi kalau misalnya saya dipaksa untuk bilang apakah saya suka atau tidak suka pada puisi ini saya masih ragu-ragu juga. Seperti semoga sudah jelas, maksud, arti, puisi ini cukup menarik dan dikatakan dengan cukup jernih, tapi tentu puisi bukan cuma masalah maksud dan arti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi juga soal bunyi (antara banyak lagi yang lain), dan sebenarnya bunyi puisi ini juga enak, tidak ada yang janggal. Memenggalnya jadi dua paragraf yg pertama menggambarkan aksi si narator dan yang kedua yang lebih singkat menggambarkan maksud aksi di atas juga logis, selalu ada caesura di antara aksi dan maksud bukan? Puisi ini jadi semacam sonnet mini. selain itu, ironi yang diciptakan antara nadanya yang rapi dan merdu seperti lullaby kepada diri sendiri, dan kegelisahan dan kecemasan yang disembunyikannya, membuat kegelisahan dan kecemasan itu makin menusuk. (Pertimbangkan juga kemungkinan satu ironi lagi, bahwa kalau lagu singkat ini adalah sebuah lullaby, ia lullaby yang ingin mengantarkan si narator bukan untuk tidur tapi untuk terjaga, supaya bisa 'telentang menatap rekata', sampai kapan?, mungkin dia harus insomnia selamanya!) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi juga dalam hal bunyi inilah puisi ini punya masalah. Seperti sudah saya bilang di awal, saya sudah bosan dengan kata-kata ilalang, matamu, rumput, bintang, hujan, matamu lagi (sampai 3x termasuk judul), ilalang lagi (3x juga). Seperti sudah saya jelaskan juga, ternyata pilihan kata-kata dalam puisi ini memang ada alasannya, dan kuat, jadi mungkin memang puisi ini harus berbunyi seperti sekarang. Tapi saya juga jadi berandai-andai, karena fantasi penyair ini sebenarnya cukup kuat, mata itu benar-benar jadi seperti ilalang, apa jadinya kalau dia mencoba bakat berfantasinya itu pada skenario lain, pada sebuah puisi berjudul 'di cuping hidungmu yang london' misalnya? Jangan anggap ini sebagai sebuah saran 'seharusnya', anggaplah sekedar pertanyaan saya saja, sebuah kemungkinan, karena saya ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Benar-benar jadi SEPERTI ilalang.' Kenapa saya bilang SEPERTI, bukan 'jadi ilalang' langsung saja? Karena kelihatannya itu yg dibilang penyairnya. sepanjang puisi ini, sejak judul, mata ini adalah mata yang (seperti) ilalang. Paling tidak, dua hal ini adalah hal yang setara dan ada pada waktu yang bersamaan, matamu adalah ilalang dan ilalang adalah matamu, tapi dua hal itu tetap dua hal yg berbeda. Sebuah perumpamaan, simile if you will. Membandingkan dua hal yg tak sama. melupakan sejenak bahwa mata dan ilalang adalah dua hal yg klise, dan perbandingan di antaranya pun juga, mata dan ilalang adalah dua hal yg cukup (tidak lagi sangat karena cukup sering dibandingkan!) berbeda, dan karena itu banyak hal yg menarik akan muncul (dan sudah) dari pembandingan itu. Tapi sekarang coba bandingkan (ha!) apa yg terjadi dengan 'matamu' di puisi ini dengan apa yg terjadi dengan 'mata' di puisi Saut Situmorang di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        mata mawar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        sepasang mawar merah mekar di matamu&lt;br /&gt;        membakar malam yang sunyi di hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        sepasang mawar merah mekar di matamu&lt;br /&gt;        malam yang sunyi jadi panas di hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        sepasang matamu jadi danau tak berombak&lt;br /&gt;        menyimpan duri tajam yang tak nampak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        malam yang sunyi di hatiku&lt;br /&gt;        malam yang panas di hatiku&lt;br /&gt;        berdarah tergores duri matamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        sepasang mawar merah mekar di mataMu&lt;br /&gt;        durinya jadi bulan mati di hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        (Saut Situmorang, Saut Kecil Bicara Dengan Tuhan, Bentang Budaya, 2003, hlm.  7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, mawar MEKAR di matamu, matamu JADI danau tak berombak, dan karena di mata itu sekarang tumbuh mawar (yang belum sempat dipotongi duri-duri-nya, dan duri-duri ini, ingat, 'tak nampak' karena disembunyikan oleh 'danau tak berombak' yg TADINYA 'sepasang matamu' tadi), malam di hati si penyair 'berdarah tergores duri matamu'. Blablabla. Poin saya adalah, di sini mata dan sepasang mawar dan danau tak berombak (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;no prize for guessing what this looks like/mean/is a metaphor of!&lt;/span&gt;) dan duri-duri itu, berhenti menjadi dua, tiga, empat hal yang berbeda dan MENJADI satu. seperti bisa dilihat sekarang di judulnya 'mata mawar'. Bukan (lagi) mata yang mawar atau mata seperti mawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Matamu' sekarang tak ada lagi, yang ada hanya 'mata mawar' ini. Tidak ada perumpamaan, yang ada adalah metamorfosis dari sebuah mata menjadi mata mawar.  Kenapa saya pikir ini lebih kuat (kalau belum jelas memang ini yg saya pikirkan) daripada hanya membandingkan mata dengan setangkai mawar? Banyak hal sebenarnya, misalnya waktu jadi bergerak. Saya jadi bisa merasakan mawar mekar di mata itu, seperti dalam fast-motion nature documentary di discovery channel, dari tidak ada menjadi ada. Kemudian danau muncul di sana, dan di bawah permukaannya tumbuh duri-duri. Semua ini seperti bergerak, dalam waktu. Dan waktu tidak bisa di-rewind. Di akhir puisi ini, waktu si penyair bilang duri mata mawar itu jadi bulan mati di hatiku, suasana jadi begitu menekan, karena mungkin selamanya akan begitu terus, kalau tidak malah jadi tambah buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini: karena sebuah mawar merah benar-benar telah mekar di mata itu, durinya juga jadi terasa telah benar-benar jadi bulan mati (pastinya bulan sabit karena duri bentuknya lebih mirip itu daripada bulan purnama, jadi semakin menusuk bok!) yang sekarang benar-benar menusuk-nusuk hatinya. Sementara di 'di matamu yang ilalang', fantasi kuat tentang padang ilalang yang gerimis, angin yang menyanyi, rumput yang tumbuh di dada yang telentang menanti hujan bintang itu, seperti berakhir dengan sebuah anti-klimaks: 'di matamu yang ilalang.' Oh, ini tadi bukan benar-benar padang ilalang toh, hanya matamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu sebenarnya si penyair ini telah benar-benar melihat padang ilalang itu di mata siapapun-mu itu. Sebenarnya semuanya ini bukanlah fantasinya, melainkan kenyataannya. Kenapa malu mengakuinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        *mimpi dalam demam &lt;br /&gt; Frans Nadjira&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Seorang perempuan&lt;br /&gt;        berbaju hitam&lt;br /&gt;        menebar jala&lt;br /&gt;        di atas rerumputan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Lalu turun gerimis&lt;br /&gt;        Dari atas bukit-bukit&lt;br /&gt;        serombongan anak-anak&lt;br /&gt;        bernyanyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Kami telah menadah angin&lt;br /&gt;        mengumpulkannya dalam keranjang&lt;br /&gt;        Kami telah memetik matahari&lt;br /&gt;        memasukkannya dalam keranjang&lt;br /&gt;        bercampur bunga-bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        (Frans Nadjira, Singgalang, tahun 19 nomor 3553, Senin 22 Desember 1986,  hlm. 6 kolom 1.)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-704680703908765294?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/704680703908765294/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=704680703908765294&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/704680703908765294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/704680703908765294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/mata-bukan-ilalang.html' title='Mata Bukan Ilalang'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-5879024543730227611</id><published>2007-11-20T00:15:00.000+07:00</published><updated>2007-11-20T00:18:20.402+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 1'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Dunia Anak Ya Harus Anak-anak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wawan Eko Yulianto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/14690"&gt;Anak Kampung&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/wehahaha"&gt;wehahaha&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia tulisan yang mengasyikkan. Secara isi, menurut saya cerita ini cukup menyayat. Apa sih yang kurang menyayat dari kisah anak kecil terkucilkan yang diceritakan oleh "korban". :D Betul, temanya cukup "layak" untuk dicerpenkan. Bisa dibilang, tema-tema serupa ini pernah dipakai Seno Gumira Ajidarma dalam Pelajaran Mengarang (tapi SGA menggunakan perbandingan anak dari keluarga baik-baik vs anak pelacur). Mungkin beberapa orang akan bilang bahwa tema seperti ini terbilang klise, terlalu sering muncul. Bahkan di sinetron pun sering muncul. Tapi lagi, sedikit pun tidak ada salahnya menggarap tema lama, asalkan dengan cara pandang baru, sudut pandang baru. Lagian, apa sih yang originally baru dalam hidup ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, yang menurut saya kurang gimanaaaa gitu adalah cara penyampaiannya. Ada beberapa hal sih yang menurut saya bisa lebih digarap lagi (ciyyeeee.... :D, bijak nih).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama, menentukan cara "bersuara" yang pas dengan sudut pandang. Di sini, sudut pandang adalah orang pertama dan naratornya adalah seorang anak kecil berlatar belakang kampung dan tidak mampu. Kalau sudut pandang orang pertama yang dipakai, akan asyik lagi kalau bahasa dan apa-apa yang diucapkan yang dipakai "NYAMBUNG" dengan latar belakang si orang. Sebagai misal, kalau dia anak kecil, ya cakupan kosakatanya, ya, yang nggak jauh-jauh dari kosakata yang dikuasai si anak. Contoh, dalam cerpen The Sisters-nya James Joyce ada tokoh anak kecil yang cakupan kosakatanya nggak banyak dan di situ seorang tokoh tua mengatakan sesuatu yang tidak dia ketahui, akhirnya kata itu pun tidak tersampaikan kepada pembaca (lha wong si tokoh sendiri tidak tahu...:D, ingat kan penggalan 'tidak pernah mendengarkan lagu-lagu bahasa Inggris' ini?). Nah, di 'Anak Kampung (1)' ini, cerpen diawali dengan cuplikan lagu berbahasa Inggris yang dinyanyikan bukan oleh tokoh utama. Kalau si narator ini (1) anak kampung yang (2) asing dengan lagu-lagu berbahasa Inggris, mestinya kan dia tidak bisa mencuplik dengan persis, bahkan tanpa ada kesalahan grammar sekecil apapun, kurang 's'-lah atau kurang 'to be'-lah seperti banyak tulisan dan cerpen Indonesia umumnya :D.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus lagi, di situ disebutkan kata 'buffet' oleh si anak kampung. Mestinya kan si anak kampung ini terkaget-kaget (entah bagaimana bentuknya, entah bilang '... di restoran buffet, tapi bukan bufet tempat memajang vas dan buku-buku itu lho...' atau mungkin bahkan bilang '... di restoran apa gitu, saya lupa namanya...'). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menggarap adegan-adegan yang semestinya bisa diperapik dan diperrapi. 'Anak Kampung' punya adegan-adegan yang menurut saya berpotensi untuk dijadikan menonjol dan digarap lebih rapi agar lebih awet di dalam benak pembaca (wow...!!!). Kalau saya baca ulang, ada bagian-bagian cerita macam gini yang ingin disampaikan mbak/mas penulisnya: (1) adegan menyanyi angin mamiri dan diejek teman-teman, (2) adegan melihat teman tidak mencintai negeri, (3) adegan ibu kaget anaknya tahu kata 'brengsek', (4) adegan ulang tahun dan si tokoh disisihkan, (5) adegan peminta sumbangan yang tidak dikasih anak kaya tapi malah dikasih si anak kampung, (6) adegan pengembalian hadiah dari si anak kampung, (7) adegan penutup yang isinya perenungan dan nulis puisi. Tapi, maaf, saya merasa ketujuh adegan itu digarap dengan sambil lalu. Sayang betul, padahal si penulis sudah sangat hebat telah menemukan ketujuh adegan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dirasa-rasa (kali ini ukurannya perasaan :D), tujuh adegan dalam satu cerpen sepanjang 4-5 halaman itu sangat banyak. Ingat kan, cerpen Pelajaran Mengarang SGA yang panjangnya sekira 7-8 halaman itu saja isinya cuman adegan (1) mengarang di kelas, (2) ingatan tentang rumah berantakan dan ibu pacaran, (3) rumah pelacuran, (4) mama mau keluar karena ada panggilan, (5) bu guru Tati menilai tugas murid-murid di rumahnya. MEMANG TIDAK ADA UNDANG-UNDANG JUMLAH ADEGAN DALAM SATU CERPEN, :D, tapi jika sedikit saja adegan yang benar-benar berpotensi besar dan kuat saja yang ditampilkan dan digarap dengan asyik, pasti hasilnya lebih bagus ketimbang banyak tapi kurang diramut. Ya, kayak punya bunga, tiga saja tapi dirawat pasti lebih bagus ketimbang tujuh tapi dibiarkan tumbuh sesukanya dan kurang disiram.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, menyisihkan adegan-adegan yang kurang besar kontribusinya terhadap keutuhan cerita. Semua orang sepakat (terutama yang pernah saya baca sendiri pernyataannya, Stephen King dan Natalie Goldberg) bahwa kita harus merelakan bagian-bagian yang kurang signifikan dalam keutuhan cerita, secinta apapun kata mereka. Stephen King mengucapkan kalimat semacam itu. Dalam bahasa Natalie Goldberg, saya kita menjadi editor (yaitu saat memeriksa cerpen yang sudah kita bikin), kita harus setega(s) samurai yang berani menyabetkan pedangnya untuk menebas bagian-bagian yang kurang penthing. Btw, bagian kurang penthing bukan berarti jelek lho ya; kadang-kadang bagian itu malah bagus dan kita supercinta kepadanya. Kalau di cerpen ini, menurut saya (lagi-lagi cuman menurut saya, :D) adegan (2), (3), dan (5) mestinya bisa tidak dipakai di sini. Ya, kalau masih sangat cinta dan tidak rela menghapusnya, bisa lah bagian-bagian itu dikopi ke file lain untuk digarap dengan tema lain yang mungkin lebih cocok :p.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayaknya sementara tiga saja. Maaaaaaf sejuta maaf kalau saya banyak omong. Lha dasarnya memang suka ngobrol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, ada satu hal yang tak bisa dipungkiri dari cerpen ini: kepedulian si penulis untuk menggarap tema-tema berbau sosial dan berpotensi mengingatkan, menyadarkan, mencerahkan orang. Dengan kepedulian seperti ini, dan wawasan yang luas, saya yakin mbak/mas penulisnya bisa meninggalkan kesan di hati orang. Well, masalah sosial, terutama yang miris-miris seperti ini lebih berpotensi untuk menyentuh hati orang ketimbang cerita-cerita yang isinya kehidupan mewah atau bahkan absurd (:D). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirul kalam, semoga sukses tak terbendung buat sang penulis dan mari bareng-bareng membaca dan menulis. Salam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-5879024543730227611?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/5879024543730227611/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=5879024543730227611&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5879024543730227611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5879024543730227611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/dunia-anak-ya-harus-anak-anak.html' title='Dunia Anak Ya Harus Anak-anak'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-7972892214506479218</id><published>2007-11-20T00:10:00.000+07:00</published><updated>2007-11-20T00:14:21.074+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 1'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Ngobrol tentang Monet</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Isman H. Suryaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/40305"&gt;Monet &lt;/a&gt;oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/miss_worm"&gt;miss worm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya ini ditulis dengan baik. Penulis tampak sudah sangat berpengalaman dalam menulis cerita. Penggambaran latar dan karakter menggunakan cara menunjukkan, alih-alih memberitahukan (show, not tell). Semua elemen yang menjual terangkai dengan manis: ambisi, cinta, keputusasaan, hingga kebas. Dan ini sebenarnya sudah cukup untuk menjual karya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum beralih ke masukan, pertama-tama perlu saya ungkapkan bahwa saya bukan penggemar rangkaian cerita yang manis. Sebuah karya perlu menjual tingkat kepercayaan (believability) yang tinggi agar saya mau menerima rangkaian cerita yang manis. Agar saya percaya bahwa cerita ini benar-benar terjadi di dunia nyata. Bukan dalam khayalan penulis semata. Bahwa tokoh-tokohnya menjejak tanah dan tidak melayang. Bahwa mereka minum, makan, dan buang air. Tidak kenyang dengan menghirup udara dan wangi tubuh masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Latar, sebagai contoh. Alih-alih menampilkan lokasi yang sempurna untuk pembicaraan dan romantisasi, mengapa tidak menggambarkan lokasi yang tidak sempurna? Langit London yang biru cerah, misalnya. Ini terlalu sempurna bagi kota yang dikenal dengan langit berawannya. Seperti yang ditulis Jamie Cullum dalam lagu London Skies;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Will you let me romanticize,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The beauty in our London Skies,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;You know the sunlight always shines,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Behind the clouds of London Skies.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tidak membuat para pengunjung Tate sedikit saja mengganggu pembicaraan kedua tokoh? Minimal membuat tokoh “aku” jengah sedikit. Atau mempertimbangkan ulang kesempatan untuk berbicara. Nuansa sederhana ini akan menghilangkan kesan panggung kosong yang terlalu sempurna untuk dialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin menulis ulang sebagian dialog agar tidak terlalu terkesan terjemahan dari bahasa Inggris? “This building won a Pritzker, you know?” “Really? How do you know?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal ini mungkin tampak kecil. Tapi justru hal kecillah yang membangun kepercayaan. Kredibilitas sebuah cerita. Jalinan emosi dengan tokoh. Dan itu juga yang akan membuat saya percaya pada akhir yang begitu “manis”. Seniman yang bunuh diri, lantas karyanya dihargai dalam tujuh tahun sebagai “revolusi dalam seni modern”. Ini memang akhir yang sangat bagus. Dan manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan lebih memercayainya, seandainya akhir ini diantar oleh rangkaian yang tidak begitu manis. Seperti masakan, sering kali seorang koki mencampur garam dalam masakan manis. Agar tidak enek. Karena toh kita melahap keseluruhan sebuah cerita--apa pun cara kita menyantapnya: baik mencoelkan cerita ke sambal sebelum menyuapkannya ke mulut maupun memakannya sepotong demi sepotong dengan pisau dan garpu. Bukan sekadar mencicipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat atas karyanya yang menarik! Terus menulis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;--isman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-7972892214506479218?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/7972892214506479218/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=7972892214506479218&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7972892214506479218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7972892214506479218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/ngobrol-tentang-monet.html' title='Ngobrol tentang Monet'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-5333862472182209106</id><published>2007-11-20T00:08:00.000+07:00</published><updated>2007-11-20T00:10:28.122+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 1'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Cinta yang melahirkan jejak</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Zabidi Ibnoe Say&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/40305"&gt;Monet&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/miss_worm"&gt;miss worm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara keseluruhan sebagai sebuah karya prosa, Monet cukup menarik, menyentuh juga menggelitik. Pembacapun langsung dibawa dalam diskripsi ruang sebuah galery Tate Modern di Thames, London. Cerita kemudian bergulir dari lantai satu ke lantai berikutnya, dari ruang pamer satu ke ruang pamer lainnya, seiring dengan dialog dua tokohnya. Kedua tokohnyapun tak bernama hanya memakai kata aku (orang pertama) dan Kau/kamu (orang kedua).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Meski kita tak menemukan perangkat atau idiom yang berhubungan langsung dengan maut, misalnya percikan darah, wajah kebiruan, rintihan, jeritan, yang secara jelas menggambarkan maut. Membaca “Monet” tetap menorehkan kesan sebuah drama tragedi percintaan, yaitu kematian salah satu tokohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini kematian seakan ingin didiskripsikan secara wajar, manusiawi namun tetap indah.  Bahwa setiap manusia ingin meninggalkan jejak dalam hidupnya. Nah, seberapa kuat hal itu dapat ditangkap oleh pikiran dan perasaan pembaca, semuanya tergantung bagaimana seorang penulis menyajikannya. Tema yang lekat dengan diksi (pilihan kata yang selaras dan seimbang) dan metafora serta simbol-simbol lainnya. Maka diharapkan bangunan cerita akan menjadi kokoh, utuh, padat dan berjiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, sejauh mana pencapaian itu diperoleh, saya serahkan kepada pembaca untuk masuk dan menyelaminya sendiri. Selamat menikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam sastra&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-5333862472182209106?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/5333862472182209106/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=5333862472182209106&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5333862472182209106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/5333862472182209106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/cinta-yang-melahirkan-jejak.html' title='Cinta yang melahirkan jejak'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-8650916131851866541</id><published>2007-11-20T00:00:00.000+07:00</published><updated>2007-11-20T00:07:47.267+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 1'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Ngobrol tentang Eskapisme</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Isman H. Suryaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/32978"&gt;Eskapisme&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/dadun"&gt;Dadun&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya sengaja memilih dua karya yang menggunakan sudut pandang serupa; tokoh “aku” yang menceritakan “kamu”: “Monet” dan “Eskapisme”. Berbicara mengenai keduanya akan menarik. Pertama, karena kedua cerita ini bercakap-cakap tentang cinta. Lantas,  keduanya sama-sama ditulis dengan baik. Dan terakhir, unik. Karena kita bisa membedakan suara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Monet” membalur kepingan cerita, kenangan, dan emosi. Semua ia taburkan di latar yang hidup, walau sedikit terlalu sempurna (setidaknya, bagi saya). Sementara “Eskapisme” justru menihilkan latar. Bagi penulis, latar cukuplah tindakan dan waktu. Penceritaan yang sarat monolog juga mencerminkan pola pikir teknis sang “aku” yang merupakan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dengan rupa dan suara masing-masing, kedua cerita ini sudah layak jual—pada sasaran pembaca yang berbeda. Monet akan memikat para pembaca yang menggemari cerita romantis, terbalur dalam rangkaian yang manis. Eskapisme justru lebih mengena pada pembaca yang kontemplatif. Mereka yang mencari romantisasi justru akan tertipu. Karena walaupun nuansa itu seakan-akan ditawarkan di sini, yang muncul adalah desakan untuk merenung. Membaca ulang. Tidak ada romansa yang muncul akibat rasio. Yang ada adalah justifikasi. Atau pengenalan diri melalui cermin orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memberi masukan, perlu saya ungkapkan bahwa saya lebih suka cerita ketimbang monolog. Mungkin saja akan ada beberapa masukan yang tidak cocok karena preferensi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, saya pribadi tidak suka konsep bahwa mencintai sesama jenis adalah pelarian dari kekecewaan akibat kegagalan menguntai kasih dengan lawan jenis. Menurut saya, ini konsep yang menyudutkan homoseksualitas secara superfisial. Memang, bisa jadi pengarang memaksudkan ini sebagai sekadar justifikasi sang “aku” yang sedang kebingungan dengan preferensi seksualnya. Namun, kalau gitu, seharusnya landasan temanya adalah “justifikasi”, alih-alih “eskapisme” (sebagaimana disuratkan oleh judul).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, penggunaan analogi dan istilah teknik dalam monolog memang menggambarkan pola pikir karakter dengan jelas. Namun—inilah kekurangannya monolog di cerita ini—hanya bergerak di satu dimensi itu saja. Saya tidak bisa memiliki gambaran jelas akan tokoh-tokoh di sini. Kasarnya, tidak ada yang bisa meyakinkan saya bahwa ini bukanlah memoar—bukan sang penulis sendiri yang bercerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ketiga juga merupakan preferensi pribadi: pertanyaan di awal cerita tidak berhasil memancing minat baca. Pertanyaan itu sudah sering sekali ditanyakan dalam berbagai bentuk dan nada. Jika ada kompetisi kalimat pembuka terbaik, cerita ini jelas tidak akan masuk peringkat sepuluh terbesar.  Dan ini membawa ke…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masukan keempat: berbeda dengan “Monet” yang menguntai beragam emosi, “Eskapisme” lebih monoton. Jika “Monet” adalah wahana Halilintar dalam Dunia Fantasi, “Eskapisme” adalah Istana Boneka. Karena itu, penting sekali untuk mewarnai kontemplasi dengan sesuatu yang segar. Bukan baru. Segar. Dan bentuk kesegaran ini bukan hanya dalam penggunaan kata maupun analogi teknik. Melainkan dalam pola pikir itu sendiri. Kagetkanlah pembaca. Gelitikilah tulang belakang mereka. Buatlah bibir mereka membuka dan berkata, “Iya juga, ya?” Doronglah mereka untuk memperluas interpretasi mereka akan cinta. Bukan hanya merangkul definisi-definisi lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, ini sekadar pendapat saya. Bisa salah dan bisa berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus berkarya dan menggelitik pikiran pembaca!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--isman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-8650916131851866541?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/8650916131851866541/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=8650916131851866541&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/8650916131851866541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/8650916131851866541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/ngobrol-tentang-eskapisme.html' title='Ngobrol tentang Eskapisme'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-969708847794162215</id><published>2007-11-19T23:27:00.000+07:00</published><updated>2007-11-19T23:32:14.606+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 1'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Yang Kilat, Meski Memberat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh Wawan Eko Yulianto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kemudian.com/node/32978"&gt;Eskapisme&lt;/a&gt; oleh &lt;a href="http://kemudian.com/user/dadun"&gt;Dadun&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, well, well, eskapisme. Sebagai fiksi kilat, Eskapisme telah berhasil mengakhiri kisahnya secara mengejutkan tidak dengan peristiwa dahsyat atau aneh, tapi dengan menunjukkan satu fakta yang sejak awal telah ditahan penulisnya agak tidak sampai keceplosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betatapun Mbak/Mas penulisnya berhati-hati menyimpan satu fakta (adanya ketertarikan homowi) untuk baris-baris terakhir, dia tidak lupa memberikan ancang-ancang ke depan (yang orang Inggris menyebutnya 'foreshadowing', maaf ya agak sok tahu, :D) dengan menyinggung tentang pengalaman pahit si "kamu" ditinggalkan ceweknya. Ancang-ancang ke depan macam ini berhasil mencegah pengkritik bilang "wah, endingnya terlalu dibuat-buat nih, dibuat mengagetkan!"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Eskapisme dipenuhi (tapi tidak seluruhnya) kalimat-kalimat yang membutuhkan "pembacaan" lebih dalam. Yah, bisa dibilang, pada beberapa bagian, kita tidak bisa membacanya begitu saja seperti membaca fiksi standar. Tapi, ada kalanya kita harus menurunkan kecepatan baca kita untuk menikmati kalimat-kalimat tertentu (yah, dengan kecepatan semacam membaca puisi lah): 1) "Kegagalan demi kegagalan yang membunuh jerih payah hingga setiap detiknya mesti lekat dengan sakramen pemulasaraan", 2) "sepasang mata yang memajang wajah saya" (asyik kan, ketimbang kalimat "melihatku dari ujung kaki hingga ujung rambut", :D, saya sangat tergelitik sama klausa ini), 3) permainan kata 'biasa' yang tidak biasa dalam "Kamu telah berubah dari seseorang yang biasa-biasa saja menjadi seseorang yang membuat saya serba tak biasa dalam segala hal yang semula saya anggap biasa. Saya pun merasa telah menjadi seseorang yang 'tidak biasa' karena menganggap kamu luar biasa", 4) "Seperti tentang episode kebetulan yang masih tumpang tindih dengan unsur perencanaan", 5) "Seolah memerahkan makna bahwa kita tengah benar-benar jatuh cinta", 6) dll. Saya merasa penulis selalu ingin mengungkapkan sesuatu dengan berbeda (dan dalam, :D). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, ada juga saatnya Mbak/Mas penulis tergelincir ke dalam klise: 1) "satu detik bersama kamu terasa jauh lebih berarti dari kebersamaan berjam-jam dengan mereka", 2) "saya mulai tak biasa jika tidak duduk di sebelah kamu. Tak biasa jika tidak menelepon dan meng-SMS kamu. Tak biasa jika sehari saja tidak melihat kamu" (maaf, menurut saya mendiang Alda sudah memegang hak cipta atas ungkapan-ungkapan macam ini, :D dan karenanya ungkapan ini menjadi klise).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, ada satu hal yang menciptakan kekurangasyikan di pihak saya, yakni kemunculan kata sinusoluida secara sekonyong-konyong. Well, well, well, menurut saya, kemunculan hal-hal yang kurang relevan terhadap keutuhan cerita harus diminimalisir, apalagi untuk fiksi kilat. Bukannya berdosa mengatakan kata-kata ilmiah macam 'sinusoluida' dalam fiksi. Bukan! Hanya saja kenapa tiba-tiba yang muncul kata itu. Saya sangat bisa memaklumi kalau saja si aku narasi adalah mahasiswa jurusan matematika yang isi kepalanya sedikit-sedikit dipenuhi apa yang dia pelajari dari kuliah. Tapi sayang, di sini sama sekali tidak disebutkan begitu. Dan lagi, tidak ada lagi kata-kata lain semacam itu yang semestinya bisa mengimplikasikan bahwa dia adalah mahasiswa matematika yang sangat tahu, dan pikirannya dipenuhi, hal-hal semacam sinusoluida dan teman-temannya. Sebagai misal, wajar sekali jika dalam "Ksatria, Putih, Bintang Jatuh" si aku narasi banyak menggunakan istilah fisika modern (bifurkasi dll.), lha wong dia memang mahasiswa jurusan itu (seringat saya begitu, maaf, belum sempat buka lagi bukunya, :), mohon dikonfirmasi sendiri kebenaran ucapan saya ini). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, idealnya fiksi kilat adalah sebuah cerita yang sekali dibaca (boleh dengan cepat boleh dengan kalem-kalem, seperti kita membaca Eskapisme ini) langsung membuat pembaca tersambar kilat pada kalimat terakhirnya (lebih jauh tentang ini bisa baca tulisannya Hasif Amini di Jurnal Prosa 1 yang membahas Fiksi Mikro). Dan Eskapisme lumayan berhasil di sini, kecuali adanya kata sinusoluida yang membuat saya harus berhenti sejenak untuk mencari catatan kaki (dan pada akhirnya membuat saya agak lupa dengan cerita). Yah, saya lebih senang baca tulisan tanpa catatan kaki, karena saya merasa lebih bisa tenggelam dalam cerita macam itu (John Gardner bilang bahwa "esensi sebuah cerita adalah mimpi yang menghanyutkan pembaca ke dalamnya", dan bagi saya catatan kaki dalam cerita adalah serupa gigitan nyamuk yang membuat saya tidak nyenyak tidur, apalagi bermimpi, :D). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu dulu ya, Mbak/Mas. Terima atas keasyikan yang telah diberikan. Sori ya, kepanjangen (masak ya komentar sama panjangnya dengan yang dikomentari, hehehe...).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N.B. kutipan dari film Never Ever: "Kita tidak pernah bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta" (halah, di film tersebut kalimat ini dipakai apologi sama orang yang konangan selingkuh, hehehe...).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-969708847794162215?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/969708847794162215/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=969708847794162215&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/969708847794162215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/969708847794162215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/yang-kilat-meski-memberat.html' title='Yang Kilat, Meski Memberat'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-6215023026095749915</id><published>2007-11-19T23:17:00.000+07:00</published><updated>2007-11-19T23:27:01.846+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] Wawan Eko Yulianto</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lulusan sastra Inggris dari Universitas Negeri Malang ini telah menulis sejumlah cerita pendek, resensi, menerjemahkan tiga novel James Joyce, dan sejumlah novel lain. Bekerja sebagai penulis lepas untuk beberapa penerbit, seperti GPU, Jalasutra, Ufuk Press dan Banana Publisher.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aktif di Bengkel ImaJINASI dan OPUS 275. Beberapa tulisannya bisa ditilik dalam blog pribadinya, http://berbagi-mimpi.blogspot.com.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-6215023026095749915?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/6215023026095749915/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=6215023026095749915&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/6215023026095749915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/6215023026095749915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/profil-wawan-eko-yulianto.html' title='[Profil] Wawan Eko Yulianto'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-7679058275421811745</id><published>2007-11-13T09:26:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T21:30:24.599+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] Mikael Johani</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/Rzk2v7wUoAI/AAAAAAAAA4M/H5VRcKWLtYg/s1600-h/2.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/Rzk2v7wUoAI/AAAAAAAAA4M/H5VRcKWLtYg/s320/2.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132193447487512578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Penulis, Penerjemah dan Penyunting. Pernah menjadi editor di penerbit &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Metafor&lt;/span&gt; yang banyak menerbitkan karya-karya (prosa dan esei) sastra Indonesia. Menjadi penyunting dalam buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dialog&lt;/span&gt; tulisan Umar Kayam (2005) dan buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Janji Joni; Naskah dan Catatan&lt;/span&gt; (dua-duanya terbitan Metafor).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak menerjemahkan puisi - puisi asing ke bahasa Indonesia (&lt;a href="http://dasgenicht.blogspot.com/"&gt;http://dasgenicht.blogspot.com&lt;/a&gt;) dan menerjemahkan puisi - puisi Indonesia ke bahasa Inggris (&lt;a href="http://schattensprache.blogspot.com/"&gt;http://schattensprache.blogspot.com&lt;/a&gt;). Esainya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keyakinan Tidak Perlu Bukti&lt;/span&gt; ditampilkan dalam Koran&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Tempo&lt;/span&gt; (2006) dan dibacakan di &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mejabudaya PDS HB Jassin&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Mikael aktif dalam milis Apresiasi Sastra dan Bunga Matahari. Blog - blog yang berisi tulisannya antara lain : &lt;a href="http://ishatter.blogspot.com/"&gt;http://ishatter.blogspot.com&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://thetruthaboutjakarta.multiply.com/"&gt;http://thetruthaboutjakarta.multiply.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-7679058275421811745?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/7679058275421811745/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=7679058275421811745&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7679058275421811745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7679058275421811745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/profil-mikael-johani.html' title='[Profil] Mikael Johani'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/Rzk2v7wUoAI/AAAAAAAAA4M/H5VRcKWLtYg/s72-c/2.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-1976271138821557120</id><published>2007-11-12T23:40:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T21:30:24.756+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] Fahmi Amrulloh</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/RziCUrwUn-I/AAAAAAAAA34/9UbTn8dvCAE/s1600-h/DSCF4509.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/RziCUrwUn-I/AAAAAAAAA34/9UbTn8dvCAE/s200/DSCF4509.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131995067243077602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Penyair, cerpenis dan penulis lepas. Kini tinggal di Berbah, Yogyakarta. Menulis cerpen, puisi, resensi buku, serta beberapa artikel ringan untuk harian &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawa Pos&lt;/span&gt;, harian &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Media Indonesia&lt;/span&gt;, harian  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Koran Tempo&lt;/span&gt;, harian  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seputar Indonesia&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jurnal Nasional&lt;/span&gt;, harian &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suara Karya&lt;/span&gt;, harian &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sinar Harapan&lt;/span&gt;, harian &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Solopos&lt;/span&gt;, harian &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surya&lt;/span&gt;, harian &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surabaya Post&lt;/span&gt;, harian &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Malang Post&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Radar Jombang&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Metro Balikpapan&lt;/span&gt;, Majalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hidayah&lt;/span&gt;, Tabloid &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cempaka&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Puisi - puisinya dimuat dalam antologi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Herbarium&lt;/span&gt; (2007), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendhapa #3&lt;/span&gt; (2007), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;International Poetry Festival&lt;/span&gt; (Medan, 2007). Beberapa karya lain dapat ditilik dalam dua blog miliknya, yaitu &lt;a href="http://fahmi-amrulloh.blogspot.com"&gt;http://fahmi-amrulloh.blogspot.com&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://fahmiamrulloh.%20multiply.com"&gt;http://fahmiamrulloh. multiply.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-1976271138821557120?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/1976271138821557120/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=1976271138821557120&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/1976271138821557120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/1976271138821557120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/profil-fahmi-amrulloh_12.html' title='[Profil] Fahmi Amrulloh'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/RziCUrwUn-I/AAAAAAAAA34/9UbTn8dvCAE/s72-c/DSCF4509.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-2480596108325486463</id><published>2007-11-10T07:55:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T21:30:24.879+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] Primadonna Angela</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/Rzh5krwUn8I/AAAAAAAAA3o/MGsJWWa7m8c/s1600-h/biola5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/Rzh5krwUn8I/AAAAAAAAA3o/MGsJWWa7m8c/s200/biola5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131985446516334530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seorang penulis yang lahir di Rumbai pada tanggal 7 Oktober 1976. Menamatkan kuliah di Jurusan Sastra Inggris Universitas Padjadjaran dengan predikat cum laude, ia baru menerbitkan buku pertamanya setelah menikah pada tahun 2004 dengan Isman H. Suryaman, seorang penulis humor.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya-karyanya termasuk dalam kategori fiksi populer, mengarah pada pembaca remaja (13-20 tahun) dan dewasa (20-40 tahun). Beberapa karyanya yang sudah terbit: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Quarter Life Fear&lt;/span&gt; (2005), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Belanglicious &lt;/span&gt;(2006)&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;, Love at First Fall &lt;/span&gt;(2006)&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;, Quarter Life Dilemma&lt;/span&gt; (2006), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan Berkedip!&lt;/span&gt; (2006) - flash fiction, ditulis bersama Isman H. Suryaman, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Big Brother Complex&lt;/span&gt; (2007), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Resep Cinta&lt;/span&gt; (2007), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kintaholic &lt;/span&gt;(2007), dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dj &amp;amp; JD&lt;/span&gt; (2007) - ditulis bersama Syafrina Siregar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-2480596108325486463?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/2480596108325486463/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=2480596108325486463&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2480596108325486463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2480596108325486463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/profil-primadonna-angela.html' title='[Profil] Primadonna Angela'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/Rzh5krwUn8I/AAAAAAAAA3o/MGsJWWa7m8c/s72-c/biola5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-6711836559548862236</id><published>2007-11-07T18:19:00.000+07:00</published><updated>2007-11-07T18:45:12.637+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] Nanang Suryadi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://nanangsuryadi.blogspot.com/"&gt;NANANG SURYADI&lt;/a&gt;, lahir di Pulomerak, Serang pada 8 Juli 1973. Staff pengajar FE Unibraw yang menyukai seni budaya ini berinteraksi kreatif dengan rekan-rekan yang memiliki minat pada seni, antara lain dalam: Yayasan Multimedia Sastra (YMS) serta di Cybersastra.net (sebagai redaktur puisi), Teater Kunci SMA Negeri Cilegon (sebagai pendiri dan ketua 1989-1990), Teater Ego FE Unibraw (sebagai salah seorang pendiri dan ketua 1992-1994), Unit Aktivitas Teater Mahasiswa Unibraw (sebagai ketua 1993-1994), HP3N (Himpunan Pengarang, Penulis, Penyair Nusantara), Forum Pekerja Seni Malang, Komunitas Sastra Indonesia (KSI), LSMI (Lembaga Seni Mahasiswa Islam), Komunitas Belajar Sastra Malang (KBSM), Masyarakat Sastra Internet (MSI).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Puisi-puisinya dimuat berbagai media massa di dalam dan luar negeri, antara lain: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jurnal Puisi&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bahana&lt;/span&gt; (Brunei) dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perisa&lt;/span&gt; (Malaysia), majalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Horison&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suara Pembaruan&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Republika&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pikiran Rakyat&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Korantempo&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawa Pos&lt;/span&gt;, koran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Harian Banten&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sijori Mandiri&lt;/span&gt; (Batam), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mimbar Umum&lt;/span&gt; (Medan), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Majalah Menjemaat&lt;/span&gt; (Medan), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Majalah Media Pembinaan&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Majalah Indikator&lt;/span&gt; (FE Unibraw), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tabloid Mimbar&lt;/span&gt; (Unibraw), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buletin Kreatif&lt;/span&gt; (HP3N Malang), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jurnal Revitalisasi Sastra Pedalaman, Mingguan Pelajar, Buletin Jendela Seni, Buletin Independent&lt;/span&gt; (HMI), serta disiarkan melalui &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Radio Jerman Deutsche Welle&lt;/span&gt;, situs &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;cybersastra.net&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bumimanusia.or.id&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;detikplus.com.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku puisi yang menyimpan puisinya, antara lain: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sketsa&lt;/span&gt; (HP3N, 1993), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sajak Di Usia Dua Satu&lt;/span&gt; (1994), dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Orang Sendiri Membaca Diri&lt;/span&gt; (SIF, 1997), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Silhuet Panorama&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Negeri Yang Menangis&lt;/span&gt; (MSI,1999), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Telah Dialamatkan Padamu&lt;/span&gt; (Dewata Publishing, 2002) sebagai kumpulan puisi pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan antologi puisi bersama rekan-rekan penyair, antara lain: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cermin Retak&lt;/span&gt; (Ego, 1993), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanda&lt;/span&gt; (Ego- Indikator, 1995), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kebangkitan Nusantara I&lt;/span&gt; (HP3N, 1994), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kebangkitan Nusantara II&lt;/span&gt; (HP3N, 1995), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bangkit&lt;/span&gt; (HP3N, 1996), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Getar &lt;/span&gt;(HP3N, 1995 ), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Batu Beramal II&lt;/span&gt; (HP3N, 1995), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sempalan&lt;/span&gt; (FPSM, 1994), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pelataran&lt;/span&gt; (FPSM, 1995), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Interupsi &lt;/span&gt;(1994), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Antologi Puisi Indonesia&lt;/span&gt; (Angkasa-KSI, 1997), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Resonansi Indonesia&lt;/span&gt; (KSI, 2000), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Graffiti Gratitude&lt;/span&gt; (Angkasa-YMS, 2001), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ini Sirkus Senyum&lt;/span&gt; (Komunitas Bumi Manusia, 2002), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hijau Kelon &amp;amp; Puisi 2002&lt;/span&gt; (Penerbit Buku Kompas, 2002).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-6711836559548862236?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/6711836559548862236/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=6711836559548862236&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/6711836559548862236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/6711836559548862236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/profil-nanang-suryadi.html' title='[Profil] Nanang Suryadi'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-7697345724895305290</id><published>2007-11-07T17:12:00.000+07:00</published><updated>2007-11-07T17:13:17.888+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 5'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Sesi V Resensi</title><content type='html'>Start:      21 Januari 2008&lt;br /&gt;Location:      kemudian.com&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Peresensi :&lt;br /&gt;Nanang Suryadi&lt;br /&gt;Mikael Johani&lt;br /&gt;Lisa Febriyanti&lt;br /&gt;Amalia Suryani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(detil peresensi masih akan bertambah dan detil karya akan menyusul)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-7697345724895305290?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/7697345724895305290/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=7697345724895305290&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7697345724895305290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7697345724895305290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/sesi-v-resensi.html' title='Sesi V Resensi'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-6355928698782167987</id><published>2007-11-07T17:11:00.000+07:00</published><updated>2007-11-11T06:50:03.777+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 4'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Sesi IV Resensi</title><content type='html'>Start:      7 Januari 2008&lt;br /&gt;Location:      Kemudian.com&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Peresensi :&lt;br /&gt;M. Aan Mansyur&lt;br /&gt;Budhi Setyawan&lt;br /&gt;Nanang Suryadi&lt;br /&gt;Mikael Johani&lt;br /&gt;Lisa Febriyanti&lt;br /&gt;Fahmi Amrulloh&lt;br /&gt;Hara Hope&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(detil peresensi masih akan bertambah dan detil karya akan menyusul)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-6355928698782167987?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/6355928698782167987/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=6355928698782167987&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/6355928698782167987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/6355928698782167987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/sesi-iv-resensi.html' title='Sesi IV Resensi'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-6885240039025714436</id><published>2007-11-07T17:10:00.000+07:00</published><updated>2007-11-07T17:16:17.629+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 3'/><title type='text'>Sesi III Resensi</title><content type='html'>Start:      17 Desember 2007&lt;br /&gt;Location:      Kemudian.com&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Peresensi :&lt;br /&gt;Zabidi Ibnoe Say&lt;br /&gt;Nanang Suryadi&lt;br /&gt;Mikael Johani&lt;br /&gt;Amalia Suryani&lt;br /&gt;Setiyo Bardono&lt;br /&gt;Ratih Kumala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(detil peresensi masih akan bertambah dan detil karya menyusul)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-6885240039025714436?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/6885240039025714436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=6885240039025714436&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/6885240039025714436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/6885240039025714436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/sesi-iii-resensi.html' title='Sesi III Resensi'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-8674515386659152229</id><published>2007-11-07T17:06:00.000+07:00</published><updated>2007-11-26T09:06:12.633+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 2'/><title type='text'>Sesi II Resensi</title><content type='html'>Start:      3 Desember 2007&lt;br /&gt;Location: Kemudian.com&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Materi : 4 puisi, 4 prosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peresensi Puisi :&lt;br /&gt;M. Aan Mansyur&lt;br /&gt;Mikael Johani&lt;br /&gt;Nanang Suryadi&lt;br /&gt;Inez Dikara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peresensi Prosa :&lt;br /&gt;Gunawan Maryanto&lt;br /&gt;Kurnia Effendi&lt;br /&gt;Yonathan Rahardjo&lt;br /&gt;Primadona Angela&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi :&lt;br /&gt;Aku, Kau ... Kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosa :&lt;br /&gt;Putri Impian&lt;br /&gt;Bincang Kecil Tono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(list detil akan menyusul atau bisa juga berubah)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-8674515386659152229?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/8674515386659152229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=8674515386659152229&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/8674515386659152229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/8674515386659152229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/sesi-ii-resensi.html' title='Sesi II Resensi'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-7336636577995990661</id><published>2007-11-07T16:21:00.000+07:00</published><updated>2007-11-20T16:31:11.116+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sesi 1'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Sesi I Resensi</title><content type='html'>Start:      20 November 2007&lt;br /&gt;Location: Kemudian.com&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Peresensi :&lt;br /&gt;TS Pinang&lt;br /&gt;Mikael Johani&lt;br /&gt;Nanang Suryadi&lt;br /&gt;Isman H. Suryaman&lt;br /&gt;Wawan Eko Yulianto&lt;br /&gt;Zabidi Ibnoe Say&lt;br /&gt;Lisa Febriyanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Puisi Kilat&lt;/span&gt; (TS Pinang, Nanang Suryadi)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Di Matamu Yang Ilalang&lt;/span&gt; (Mikael Johani, TS Pinang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosa :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hari Ini Kita Berpisah, Rani&lt;/span&gt; (Lisa Febriyanti, Zabidi Ibnoe Say)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anak Kampung&lt;/span&gt; (Lisa Febriyanti, Wawan Eko Yulianto)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eskapisme&lt;/span&gt; (Isman H. Suryaman, Wawan Eko Yulianto)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Monet&lt;/span&gt; (Isman H. Suryaman, Zabidi Ibnoe Say)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note: list peresensi maupun karya bisa berubah sewaktu-waktu&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-7336636577995990661?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/7336636577995990661/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=7336636577995990661&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7336636577995990661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7336636577995990661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/sesi-i-resensi.html' title='Sesi I Resensi'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-4587508853872358907</id><published>2007-11-07T16:18:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T21:30:25.102+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] TS Pinang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/R0D1WeStqDI/AAAAAAAAA4c/7Vh1A7Q2m94/s1600-h/TSP.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/R0D1WeStqDI/AAAAAAAAA4c/7Vh1A7Q2m94/s200/TSP.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5134373341639845938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Akrab dipanggil &lt;a href="http://titiknol.com/"&gt;TSP&lt;/a&gt; dan lahir di desa Semirejo, Pati pada 1971. Pernah belajar arsitektur di UGM. Puisi dan eseinya dimuat di beberapa antologi bersama seperti : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Graffiti Gratitude &lt;/span&gt;- antologi puisi cyber (2001), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Filantropi &lt;/span&gt;(2001), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cybergraffiti &lt;/span&gt;- antologi esei (2001), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bumi Manusia 1 : Ini Sirkus Senyum&lt;/span&gt; (2002), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cyberpuitika&lt;/span&gt; (2002), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dian Sastro For President&lt;/span&gt; (2002), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dian Sastro For President #2&lt;/span&gt; (2003), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Les Cyberlettres&lt;/span&gt; (2005), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Antologi Bungamatahari&lt;/span&gt; (2005), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jogja 5,9 Skala Richter&lt;/span&gt; (2006), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tongue In Your Ears&lt;/span&gt; (2007).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Puisi-puisi TSP juga dimuat di beberapa koran nasional seperti &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Republika&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jurnal Nasional&lt;/span&gt;; sejumlah media lain : jurnal &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BlockNot Poetry&lt;/span&gt; dan beberapa milis maupun situs sastra di internet. Beberapa puisinya juga pernah dibacakan di &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Radio Suara Jerman Deutsche Welle&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;RRI Nusantara II Yogyakarta&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-4587508853872358907?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/4587508853872358907/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=4587508853872358907&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/4587508853872358907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/4587508853872358907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/profil-ts-pinang.html' title='[Profil] TS Pinang'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/R0D1WeStqDI/AAAAAAAAA4c/7Vh1A7Q2m94/s72-c/TSP.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-7499935586933936237</id><published>2007-11-07T16:15:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T21:30:25.269+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] Isman H. Suryaman</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/Rzh5SbwUn7I/AAAAAAAAA3g/382C3iZQlGw/s1600-h/isuman.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/Rzh5SbwUn7I/AAAAAAAAA3g/382C3iZQlGw/s200/isuman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131985132983721906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://thefool.multiply.com/"&gt;Isman H. Suryaman&lt;/a&gt; adalah penulis humor Indonesia yang piawai menggelitik urat tawa dengan menggunakan humor pengamatan. Ciri karyanya terlihat dalam sentilan pada berbagai pola pikir atau pengkondisian sosial di Indonesia. Ia juga tidak ragu untuk menertawakan diri. "Jangan mengaku sebagai penulis humor di depan umum," katanya, "karena orang-orang akan meminta kita untuk membuktikannya."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya-karya Isman yang sudah terbit antara lain : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bertanya Atau Mati!&lt;/span&gt; - esei humor (2005), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan Berkedip!&lt;/span&gt; - flash fiction bersama Primadona Angela (2006), dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tujuh Dosa Besar (Penggunaan Power Point)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ubud Writers and Readers Festival 2007&lt;/span&gt;, Isman terpilih sebagai salah satu penulis tuan rumah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bertanya Atau Mati!&lt;/span&gt; bahkan disebut-sebut di kalangan panitia sebagai "Parasit Lajang versi Laki". Dalam festival sastra bergengsi itu, Isman menjadi salah satu panelis dalam "The Art of Satire".&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-7499935586933936237?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/7499935586933936237/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=7499935586933936237&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7499935586933936237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7499935586933936237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/profil-isman-h-suryaman.html' title='[Profil] Isman H. Suryaman'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/Rzh5SbwUn7I/AAAAAAAAA3g/382C3iZQlGw/s72-c/isuman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-2069693601871167019</id><published>2007-11-07T16:09:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T21:30:25.417+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] Dino F. Umahuk</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/RzkpQ7wUn_I/AAAAAAAAA4E/TT1Zh56xH2Q/s1600-h/dino-tuk-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/RzkpQ7wUn_I/AAAAAAAAA4E/TT1Zh56xH2Q/s200/dino-tuk-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132178621260406770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dino F Umahuk adalah redaktur Fordisastra.com, Moderator Milis Penyair dan Redaktur Pelaksana Koran Aceh Kita. Pernah memperoleh Juara I Lomba Cipta Puisi antar Perguruan Tinggi se Maluku dan Irian Jaya tahun 1997 dan mengikuti PEKSIMINAS III di Denpasar Bali 1994. Ia lahir pada 1 Oktober 1974. di sebuah Desa terpencil bernama Capalulu di Provinsi Maluku Utara&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menulis ratusan puisi di situs &lt;a href="http://www.cybersastra.net/"&gt;www.cybersastra.net&lt;/a&gt;, sarikata.com, &lt;a href="http://www.ceritanet.com/"&gt;www.ceritanet.com&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.wacana.net/"&gt;www.wacana.net&lt;/a&gt;, fordisastra.com dan puistika.net. Aktif di milis Bunga Matahari, milis Penyair dan milis Apresiasi Sastra. Beberapa puisinya dimuat dalam &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cyberpuitika&lt;/span&gt; – antologi puisi digital (2002), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dian Sastro For President #3 &lt;/span&gt;( 2004), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nubut Labirin Luka&lt;/span&gt; – antologi puisi untuk Munir (2005),&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Empati Yogya&lt;/span&gt; – antologi puisi (2006) dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yogya 5,9 Scala Richter&lt;/span&gt; – antologi puisi (2006). Sempat memproduseri sekaligus menyutradarai dua buah film dokumenter masing masing &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat Dari Cibubur&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Impunity Potret HAM Yang Terpasung &lt;/span&gt;di tahun 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini selain menekuni kesibukannya sehari-hari sebagai Program Officer Peace Building di Bappenas untuk reintegrasi dan Perdamaian Aceh, ia juga mengurus situs fordisastra.com sebagai redaktur bersama Nanang Suryadi dan Hasan Aspahani.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-2069693601871167019?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/2069693601871167019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=2069693601871167019&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2069693601871167019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/2069693601871167019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/profil-dino-f-umahuk.html' title='[Profil] Dino F. Umahuk'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/RzkpQ7wUn_I/AAAAAAAAA4E/TT1Zh56xH2Q/s72-c/dino-tuk-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-1401609852780380759</id><published>2007-11-07T16:02:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T21:30:25.570+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narasumber'/><title type='text'>[Profil] Zabidi Ibnoe Say</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/Rz1LIeStqCI/AAAAAAAAA4U/t6AiXukRcQs/s1600-h/narsis+ahh.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/Rz1LIeStqCI/AAAAAAAAA4U/t6AiXukRcQs/s200/narsis+ahh.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5133341759214823458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Zabidi Ibnoe Say sering menggunakan nama Zai Lawanglangit atau Zay Lawanglangit atau Zabidi S. Mengawali menulis lewat milis cybersastra.net. Pemilik blog &lt;a href="http://zaylawanglangit.blogspot.com/"&gt;http://zaylawanglangit.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa sajaknya terbit di &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bisikan Kata, Teriakan Kota&lt;/span&gt; – antologi puisi temu sastra Jakarta (2003), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dian Sastro for President #2&lt;/span&gt; – antologi puisi (2003), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maha Duka Aceh&lt;/span&gt; – antologi puisi (2005) dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Les Cyberlettres&lt;/span&gt; – antologi puisi cyberpunk (2005) serta J&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ogja 5,9 Skala Richter&lt;/span&gt; - antologi 100 puisi (2006).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-1401609852780380759?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/1401609852780380759/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=1401609852780380759&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/1401609852780380759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/1401609852780380759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/profil-zabidi-ibnoe-say.html' title='[Profil] Zabidi Ibnoe Say'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/Rz1LIeStqCI/AAAAAAAAA4U/t6AiXukRcQs/s72-c/narsis+ahh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-3986471285273873444</id><published>2007-11-07T15:55:00.000+07:00</published><updated>2007-11-07T15:57:47.336+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengantar'/><title type='text'>Menyongsong Perhelatan Komunitas Sastra Cyber Kemudian.com</title><content type='html'>oleh &lt;a href="http://zaylawanglangit.blogspot.com/"&gt;Zabidi Ibnoe Say&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salam sastra,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sahabat saya, Dino F. Umahuk, memberi tahu saya bahwa ia telah menulis pengantar resensi di Kemudian.com dengan kajiannya yang lumayan komplit seputar dunia sastra cyber, sejarah dan fenomenanya. Maka di tengah kesibukan menyelesaikan program proposal saya tergugah untuk ikut sedikit memberikan catatan pengantar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti beberapa waktu lalu saat saya membuka milis Bunga Matahari, menyimak milis kemudian.com seperti menjejakkan kaki ke dunia penuh warna. Dunia anak-anak muda dengan tulisan-tulisan mereka yang spontan, berani dan penuh semangat. Saya seakan sedang membayangkan berjalan-jalan di sebuah mall dengan dinding-dinding berhiaskan lukisan kata-kata. Begitu lugas, sederhana dan terkadang apa adanya. Tulisan-tulisan mereka begitu dinamis. Ungkapan perasaan jiwa sedih atau gembira hadir tetap dengan warna kesegarannya. Seperti obrolan mereka di kantin sekolah, kedai kampus atau cafe-cafe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak sedang ingin memperdebatkan apakah karya-karya mereka sudah memiliki kualitas karya sastra. Bagi saya tidak penting. Kemauan dan keberanian menulis serta mempublikasikan tulisan dalam sebuah komunitas milis, lalu di apresiasi oleh teman-temannya sudah merupakan awal sebuah proses yang baik. Semakin sering menulis, keterampilan memilih dan memilah kata dengan sendirinya akan terus terasah. Semakin banyak pergulatan dalam interaksi sosial, akan makin mematangkan jiwa dan memungkinkan mereka mampu menuangkannya dalam beragam tema. Tentu saja nantinya tema sesederhana apapun akan tetap hadir dengan padat, dalam dan dengan kesegarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menilik nama situs “Kemudian.com” saya sedang menduga-duga. Mungkin pemilihan nama ini memang berangkat dari kesadaran bahwa mereka sedang berproses, melatih diri, mengembangkan kemampuan menulisnya. Kesadaran untuk berproses tanpa merasa digurui membuat siapa saja yang menjadi anggota di dalamnya tetap dapat mengekspresikan perasaan dengan enjoy dan tanpa beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, pada dasarnya betapa menyenangkan dapat menulis tanpa merasa terikat kaedah-kaedah yang rumit. Biarlah sementara ada pihak-pihak yang merasa paling memahami bahasa sastra. Lalu menghadirkan sajak-sajak rumit dan pelik dalam media cetak bergengsi. Yang kadang-kadang saya pun sering mengernyitkan dahi membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal-awal saya menulis, lewat seorang teman, sajak-sajak saya diresensi oleh Bp. Sitor Situmorang. Saat saya ketemu dengan beliau dan bertanya apakah itu puisi? Beliau menjawab, “Puisi bukan dakwah para biksu, pendeta atau ustad, puisi akan menjadi puisi jika ia tidak menyimpulkan apalagi menggurui, puisi akan menjadi puisi jika ia mampu menjadi bahan renungan dan inspirasi bagi setiap pembacanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal menarik yang patut dicatat dalam kegiatan milis seperti Kemudian.com ini. Di samping selalu padat dengan lalu lintas postingan tulisan-tulisan anggotanya, yang membuat mereka tetap saling mempunyai ikatan kecintaan terhadap milis sebagai rumah “curhat”, ada hal lain yang juga tak kalah menarik. Mereka membuat produk semacam pembatas buku atau t-shirt dengan kemasan yang menarik lalu ditawarkan kepada setiap anggotanya. Hal-hal yang tampaknya sepele ini sangat mungkin dilakukan oleh komunitas dengan networking sebagai medianya. Dan ini entah disadari atau tidak telah mampu membuat sebuah ikatan persahabatan tetap solid, dan dengan suasana yang guyup. Betapa indah di tengah kesumpekan hidup dan sesaknya nafas kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut di syukuri, di samping menulis, para awak milis Kemudian.com juga menyadari pentingnya membaca buku-buku sastra. Windry Ramadhina misalnya, nahkoda dari milis Kemudian.com ini dalam satu perbincangan dengan saya lewat YM, lagi asyik masyuk menyimak kumpulan cerpen atau novel dari penulis-penulis ternama di tanah air saat ini. Keinginan membaca sastra akan dengan sendirinya hadir saat mereka membutuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya saya akan siap-siap terkejut di kemudian hari, lewat Kemudian.com, akan lahir penulis-penulis handal. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tetap semangat!&lt;br /&gt;Menulis? siapa takut?!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-3986471285273873444?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/3986471285273873444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=3986471285273873444&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3986471285273873444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/3986471285273873444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/menyongsong-perhelatan-komunitas-sastra_07.html' title='Menyongsong Perhelatan Komunitas Sastra Cyber Kemudian.com'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-7893995797395492424</id><published>2007-11-07T15:45:00.000+07:00</published><updated>2007-11-07T15:53:19.320+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengantar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Tidak Semua Orang Bisa Menulis Puisi</title><content type='html'>oleh &lt;a href="http://birahilaut.multiply.com/"&gt;Dino Umahuk&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SAJAK. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Aku merdeka sedari mula diciptakan. Aku memilih kata-kataku sendiri. Penyair tak lebih dari seorang juru tulis yang terhipnotis oleh pesonaku. Ia menuliskan apa yang Aku ingin ia tuliskan! Ya, betapa sombongnya Aku. Begitu katamu, bukan? Ada penyair yang bangga karena kupilih ia untuk menjahitkan baju bahasa untukku. Ada penyair yang merasa ialah penciptaku. Aku tak peduli. Yang terpenting tujuanku tercapai. Menjelma dari gaib menjadi nyata, dalam ujud kata-kata.&lt;/span&gt; Dan, wahai pembaca, inilah Aku, cermin dari dirimu, diri penyair, diri kehidupan. Temukanlah gaibku dalam kata-katamu. Temukanlah gaib kata-katamu dalam ujud kata-kataku. Begitu tulis TS. Pinang dalam Ketegangan Penyair, Sajak dan Pembacanya&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; Puisi merujuk kepada susunan / aturan ayat yang menyampaikan maksud dalam bentuk yang indah. Puisi adalah satu cabang kesenian manusia. Dalam bahasa bahasa Yunani kuno: ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I create), Puisi adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi adalah karya sastra yang bersifat imajinatif sekaligus konotatif. Dibanding bentuk karya sastra lain, bahasa puisi lebih memilki banyak kemungkinan makna. Hal ini disebabkan karena terjadinya konsentrasi atau pemadatan segenap kakuatan bahasa di dalam puisi. Struktur fisik dan struktur batin puisi yang sanat padat bersenyawa secara padu bagaikan gula dalam larutan kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi terkadang juga hanya berisi satu kata/suku kata yang terus diulang-ulang. Bagi pembaca hal tersebut mungkin membuat puisi tersebut menjadi tidak dimengeti. Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala 'keanehan' yang diciptakannya. Tak ada yang membatasi keinginan penulis dalam menciptakan sebuah puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berkembangnya Sastra Cyber di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Rabu, 9 Mei 2001, sebuah buku berjudul &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“Grafity Gratitude”&lt;/span&gt; diterbitkan oleh Yayasan Multimedia Sastra. Buku yang cukup menghebohkan dunia kesusateraan Indonesia itu dapatlah kita sebutkan sebagai menumen berkembangnya sastra cyber di tanah air. Sejak saat itu, melalui situs &lt;a href="http://www.cybersastra.net"&gt;www.cybersastra.net&lt;/a&gt;, sastra cyber semakin berkembang dan mendapat tempatnya terutama dikalangan kelas menangah dan mahasiswa, bahkan berhasil membentuk jaringan antar sastrawan diseluruh tanah air baik yang ada di dalam maupun luar negeri termasuk sastrawan malaysia. Beberapa bahkan menjalin hubungan akrab baik sebagai teman maupun pasangan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu perdebatan yang cukup panas ketika itu hingga kini adalah soal mutu dan kualitas sastra cyber. Seorang teman, Saya kira dibesarkan juga oleh sastra cyber dan belakangan lebih banyak menulis di koran, bahkan mempertanyakan apa bedanya sastra cyber dengan &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;,,tong sampah&lt;/span&gt;”. Artinya siapa saja asal punya komputer dan koneksi internet dapat mempublikasi puisi, cerpan, foto bahkan segala tetek-bengek dari yang paling sopan sampai yang paling porno. Siapa saja asa punya uang untuk bayar sewa warnet bisa bikin web blog dan menaruh segala rupa tulisan gambar dan bunyi didalamnya dari yang paling umum sampai yang paling pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dinyana dunia kreativitas memang telah memasuki babak baru. Sensor dan peran redaksi nyaris tak ada sama sekali, (Kecuali bagi sastrawan yang menulis agar bisa makan). Langit yang luas, alam semesta maya menjadi arena kita menuangkan ide. Tak ada batas kecuali transfer speed, bandwith, dan file space. Ditambah jam kantor yang hampir selesai dan satpam sudah menunggu di pintu kantor, karena mengirimkannya dari komputer kantor atau uang dikantong yang masih cukup bagi mereka yang nongkrong di warnet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penggiat sastra cyber, Saya merasa bahagia melihat beratus-ratus bahkan beribu-ribu orang berusaha menjadi penyair, menyamai atau mengalahkan nama-nama yang terlanjur menjadi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;„berhala”&lt;/span&gt; di dunia kesusasteraan nasional. Mereka ingin bicara apa saja menulis apa saja karena dalam dunia sastra cyber/multimedia huruf bukanlah segala-galanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilayar monitor komputer, kita bisa melihat baris-baris muncul dengan animasi huruf yang indah seolah menari, diiringi semburan warna-warni latar belakang suara ombak, nyanyian burung, atau vokalisasi dan musikalisasinya. Ini merupakan peluang yang perlu dilihat dan dimanfaatkan oleh kita semua selaku penggiat sasta cyber. Dalam hal ini kita patut mencatat bahwa YMS pernah mengeluarkan antologi puisi digital, Cyberpuitika pada 2002. Hal semacam ini layaknya di lakukan juga oleh kemunitas sasta cyber lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan itu, beberapa hari yang lalu Saya menerima sebuah email yang tiba-tiba menyelinap ke folder email pribadi Saya, yang ternyata datang dari sebuah wadah ekpresi sastra bernama kemudian.com. Jujur saja itu pertama kalinya Saya mengetahui bahwa diantara beragam situs sastra, ada sebuah situs yang bernama kemudian.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang Saya mengiyakan saja permintaan untuk menjadi salah satu apresiator karya para penghuni rumah kemudian.com yang ditawarkan kepada Saya. Belakangan Saya juga diberitahu bahwa ada dua kawan karib yang ikut memberi aprasiasi yakni Hasan Aspahani dan Zay Lawang Langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah seminggu membuka kamar puisi dan membedahnya dengan saksama, Saya menemukan tiga buah puisi yang menurut pendapat saya lumayan bernas dan manis. Ada baiknya ketiga puisi itu saya sertakan disini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Kucari Engkau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;telah kucari engkau sampai ke batasnya jingga. sampai ngiangnya camar berterbangan di telinga. sampai laut menjemput. sampai waktu tersudut. sampai kota berubah sunyi. dan langkahku segala bunyi. sampai padang ilalang. oleh hujannya gemintang. sampai aku merapuh. dan hilang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;telah kucari engkau sampai ke batasnya jingga. kucari engkau. kucari engkau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dikirim &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ghe&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Gadis Bunga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Ini puisi yang kubuat waktu musim hujan, musim yang kusukai."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saat Bunga musim hujan berguguran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saat itulah seluruh rapuh menggema&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku tak lagi berharap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Akan bunga desember yang menantang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Akan kelopak-kelopak orangenya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yang melegakan jiwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saat daun-daun kering berserakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saat itulah remuk menyeru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku tak lagi mengingat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tentang harapan warna-warni cerah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Akan putihnya melati, atau merahnya mawar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Akan hijaunya daun dan lembutnya awan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Biarkan rindu yang datang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Biarkan sesak yang ada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menyeruak dia antara tumpukan ranting pohon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yang terkelupas kulitnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dikirim &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mamotte_luna&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;kepada banyak pertanyaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kau sebut aku dengan nama selain perempuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mungkin ingin kau isyaratkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bahwa kau bersungguh sungguh dengan keresahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lalu kubuat sajak sajak jawaban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;yang justru membuahkan pertanyaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dalam renung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dahanmu kerap kupasung karena beburung tak mau terbang dari dahan tanjung...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lelaki...lelaki...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dapatkah kata meyakinkan hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sedang langit dan lautan belum juga berpapasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mereka saling dusta tentang mimpi dan realita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tapi aku akan mengelus kepala dan menidurkanmu dengan manja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;di dada..?, kutanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sambil kuceritakan sebuah musim yang hening juga panjang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dikirim &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kucing_betina&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga puisi ini menurut Saya telah memenuhi unsur-unsur sebuah puisi, yakni puisi sebagai bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan stuktur batinnya. Selebihnya saya baru melihat ada semacam gumam dan curhat yang bisa kita temui pada buku diary para remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian saya tentunya tidak patah arang jika melihat kenyataan perpuisian tanah air saat ini. Nama-nama besar yang sekarang menghiasi ranah puisi seperti, Hasan Aspahani, Nanang Suryadi, Aan Mansyur, TS Pinang dan sederat nama lain, adalah orang-orang yang juga lahir dari almarhum ibu kandung sastra cyber bernama cybersastra.net seperti juga diri Saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Saya mengucapkan selamat kepada kemudian.com, terutama pada semangatnya untuk membuka ruang bagi tumbuh dan berkembangnya sastra tanah air, terutama puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-7893995797395492424?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/7893995797395492424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=7893995797395492424&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7893995797395492424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7893995797395492424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/tidak-semua-orang-bisa-menulis-puisi_07.html' title='Tidak Semua Orang Bisa Menulis Puisi'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7270455988782288244.post-7355222846203753531</id><published>2007-11-06T16:04:00.000+07:00</published><updated>2007-11-07T15:53:45.491+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengantar'/><title type='text'>Menuju Dunia Profesional...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak banyak yang tahu, bahwa sebenarnya tersebar jiwa-jiwa penulis yang terpendam dalam diri orang-orang dengan berbagai profesi. Dan di antaranya, justru tersimpan cita-cita untuk menjadi seorang penulis sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, banyak yang terbentur oleh berbagai hal. Ide yang tiba-tiba buntu, rasa tidak percaya diri untuk menunjukkan tulisannya pada orang lain, rasa putus asa akibat hasil karyanya ditolak penerbit, ataupun karena lingkungan yang kurang mendukung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk itulah KEMUDIAN ada. Berawal dari ambisi pribadi pendirinya, segera KEMUDIAN menjadi sebuah komunitas penulis amatir yang berkembang pesat. Dikatakan amatir pun, sebenarnya beberapa anggota komunitas KEMUDIAN ada yang telah menjadi penulis pro, seperti Isman Hidayat – penulis humor yang telah menerbitkan buku Bertanya Atau Mati!, Hara Hope – novelis teenlit, ataupun Gunawan Maryanto – cerpenis sastra yang karya-karyanya telah banyak dimuat di koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang usia satu tahun KEMUDIAN pada bulan Desember 2007, komunitas ini telah memiliki lebih dari 3.000 anggota yang telah memajang lebih dari 5.000 hasil tulisannya berupa cerpen maupun puisi, serta mendapat lebih dari 45.000 umpan balik terhadap karya mereka. Dan masih akan terus bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, komunitas KEMUDIAN merasa terpanggil untuk mengembangkan mutu/ kualitas penulis-penulis muda, khususnya penulis KEMUDIAN.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7270455988782288244-7355222846203753531?l=perkosakata2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/feeds/7355222846203753531/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7270455988782288244&amp;postID=7355222846203753531&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7355222846203753531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7270455988782288244/posts/default/7355222846203753531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkosakata2008.blogspot.com/2007/11/menuju-dunia-profesional.html' title='Menuju Dunia Profesional...'/><author><name>Ayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09728551171659331038</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_Jtl0SgjKQH0/SOwNO75FAKI/AAAAAAAABLU/zJcBEnuETBQ/S220/baca2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
