PERKOSAKATA 2009

Tuesday, January 6, 2009 | | 0 comments |

Salam!

Perkosakata akan datang kembali. Semua info kegiatan perkosakata 2009 bisa ditemukan di blog Perkosakata2009. Sampai jumpa di sana.

Regards,
Panitia Perkosakata

Read More...

Kami memPerkosakata 2008 (laporan oleh Vivie)

Thursday, April 10, 2008 | Labels: | 1 comments |

Oleh Vivie

Pagi itu saya dan Mbak Ratih sudah sepakat untuk pergi ke acara Perkosakata 2008 bersama. Mbak Ratih dan mobil Karimun merahnya sudah menunggu saya di kawasan Ps. Minggu, mulanya kami berniat langsung menjemput Mbak Ileng beserta donasinya, namun tidak jadi, karena Windry menyuruh kami untuk langsung ke Kuningan saja.

Sesampainya di lokasi, saya dan Mbak Ratih masih sangat mengantuk, kami pun berinisiatif untuk pergi keluar dengan maksud membeli secangkir kopi, untuk doping kami hari ini. Namun lagi-lagi urung kami beranjak keluar, karena dengan baik hatinya Mbak Ghe menyerahkan satu sachet kopi instannya untuk Mbak Ratih, sementara saya sendiri menyeruput kopi milik Mbak Ayu. Beberapa para panitia acara yang lain pun mulai berdatang (Ayas bersama kotak kuenya, Yugi bersama My Bro dan gitarnya, Rangga dan Adi pun menyusul serta tidak ketinggalan Heripurwoko).


Pukul 08:00

Saya (Ananda), My Bro dan Yugi beranjak dari lantai 2 ke lantai 7 ( tempat dimana acara Perkosakata akan berlangsung). Kami pun merapikan kembali ruangan auditorium, memasang spanduk, dan peralatan lain yang diperlukan. Setelah itu muncul Ivan bersama kamera kesayanganya, Ayas serta Chau pun suah mulai menyipkan kue-kue di meja. Sedikit demi sedikit para peserta mulai berdatangan. Mulai dari Cassle (makasih coklatnya ^^), ABC, Takiyo, Kavelania, serta yang lainya.

Pukul 09:00

Acara pun di mulai dengan di awali pembacaan puisi oleh Onyzuka (Noni), setelah itu di sambung oleh Windry selaku panitia Perkosakata, ia memberikan sedikit laporan di depan peserta. Setelah itu acara Workshop yang di moderatori oleh Mas Kinu pun di mulai. Acara Workshop yang di bawakan oleh TS Pinang pun berjalan dengan lancar dan santai, tampak para peserta dapat mengikuti pelatihanya. Sementara itu di sudut lain para panitia masih tampak wara-wiri mengerjakan tugasnya.

Pukul 12:30

Break acara, peserta istirahat (sebagian ada yang keluar ruangan, sebagian lagi tetap milih di dalam ruangan). Saya agak terkecut oleh kehadiran salah seorang member kemudian.com yang beruser id Dadun, sempat beberapa hari sebelum acara dia bilang dia tidak akan datang, tapi siang itu tiba-tiba dia ada di tempat acara, namun cukup menyenangkan, karena saya bisa bertemu dengan sorang penulis yang bernama Dadun (hayahh ... jadi curhat pribadi).

Setelah Break setengah jam, acara pun berlanjut ke diskusi novelnya Wina Efendi (Kenangan Abu-abu). Para peserta yang tidak lain adalah member kemudian.com tampak antusias menyimak. Acara yang di moderatori oleh Sefri pun sangat santai, di sana para peserta dan pembicara mulai berbagi pengalaman, dan saat sesi tanya jawab pun, para peserta tidak enggan untuk bertanya pada si penulis yang tidak lain adalah member Kemudian.com juga. Acara diskusi novel bersama Winna selesai dengan di akhiri pembagian buku untuk para peserta yang mengajukan pertanyaan pada saat sesi tanya jawab. Mirza, Ghe dan Hery pemenangnya (loh ... kok panitia semua?).


Sekarang, tiba saatnya sesi bincang Kemudianers, acara ini di moderatori oleh Mirza (K4cruterz). Acara ini menghadirkan si pemilik situs www.kemudian.com yaitu Mbak Tiva dan Jeng Far (Mas Rizki), kedua pasangan muda itu mulai memperkenalkan diri dan menceritakan awala mulanya pambentukan situs Kemudian.com. Kenapa situs kesayangan kita ini diberi nama Kemudian.com (pastinya kalian sudah pada tahu). Sesi perkenalan antar member pun di mulai, masing-masing member menyebutkan nama asli, ID, serta harapan kedepan tentang kemudian.com.

Pukul 16:00

Acara di tutup dan panitia mengumumkan para peserta untuk beranjak ke lantai 2, namun sayangnya tidak banyak para peserta yang ke lantai 2, (mugkin woro woro dari panitia kurang terdengar) sehingga hanya beberapa member saja yang beranjak ke lantai 2. Namun hal ini tidak mengurangi keceriaan.

Setelah Magrib beberapa panitia mulai pamit undur diri, dan beberapa panitia pun masih tetap di tempat, mereka hendak mengantar pembicara (TS Pinang) ke stasiun Gambir.

___________

Atas nama panitia, kami mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada para pendukung acara (Perpumda. Majalah Azzikra, Cnet Kemang, Indofood) dan semua para Donasi. Tidak lupa kami bersykur kepada Tuhan YME, yang sudah memberikan kejutan kejutan kecil buat kami para panitia. Ucapan salut kepada Ketua Panitia, Windry (Miss_worm) karena di tengah-tengah kesibukanya, dia masih sempat mengurus acara Perkosakata. Terimakasih juga kepada para teman panitia yang kompak dan tetap bersemangat.

Dan tidak lupa kami atas nama Panitia Perkosakata 2008, mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas kehadiran kalian semua, kami juga mengucapkan mohon maaf apabila ada kekurangan dan kesalahan yang di lakukan oleh para panitia, semoga semua kritik dan saran bisa di jadikan acuan untuk acara Perkosakata selanjutnya. Amin.

Read More...

Moment (kesan) lain di enam april (laporan oleh Nidha - II)

Wednesday, April 9, 2008 | Labels: | 0 comments |

Oleh Nidha a.k.a Chau


Okay..kenapa bagian lantai 2 diriku pisahkan? hyaaa just wanna share lah dengan mereka yang ndak sempat ke lantai 2.

Diriku baru sampai di lantai 2 dan menemui si OB sedang menonton Nanny, serta merta diriku pun menarik kursi yang melurus & mendekat ke arah TV plus tidak mengizinkannya untuk mematikan TV tsb. Peduli setelah itu banyak riuh ramai dan asap rokok di sana sini, diriku mendadak autis di hadapan acara ini. Semua meja penuh, di pojok ada Dadun ma mba Ratih bukan yak?. Di meja belakang kursi saya ada mba Gheta, Ayas, mba Anne, mba Ayu yang pucat dan cape, mba Windry yang sudah ngantuk dan lemas, mas Kinu. Di meja sebelah mereka ada mas Jorgy dan millda yang sibuk sharing tentang vokal. Di meja sebelah TV ada Ridho, Adi, Mba Ghea, Rangga, Heri, Veve, Dian, Niken. Di meja sebelah kursi saya ada mba Griffin, mba munik, mba Tiva, mas Rizki. Di meja paling belakang sekali ada mba Noni, bang Cibo, mamadh, dan hooo siapa lagikah yang belum saya sebut? (maaf maaf jika ada ketinggalan nama, sungguh ndak disengaja).

Acara TV menjelang selesai, tiba-tiba terdengar suara gitar dan hyaaaa ada sesi nyanyi-nyanyi toh. Diriku mencari-cari MP3 untuk menutup telinga dan kembali autis di acara TV tsb, tapi ndak enak ah...tho suara-suara yang bernyanyi (selalu) hanya seperempat lagu itu ndak bagus2 banget meski juga ndak jelek-jelek banget. Hwakakakakaka.

Maghrib, beberapa dari mereka mulai berpamitan. Kita yang menyisa di lantai 2 pun bersiap-siap menuju Gambir untuk mengantar mas TSP dan mba TSP kembali ke Jogja (saya dan millda berharap bisa dilipat masuk ke dalam tasnya deh) . Menuju Gambir dimulai dengan tiga mobil (mba ayu masuk mobilku, dan hau? jujur diriku takut dianya pingsan atau apalah itu namanya bukti sakit). Hok-Ben penuh dehh booo....jadilah "panitia inti" dan Mas TSP beserta Mba, plus Mas Kinu yang sedang perbaikan gizi mencari makan di tempat lain. Sisanya (adalah diriku, millda, veve, mba noni, mba ratih, ridho, rangga, adi) mengopi-ngopi di warung kafe (hallaghzzz bis seperti warung,tapi diriku menghargai si empunya yang memaksudkan itu sebagai kafe). Ngobrol ngalor ngidul,,ngopi-ngopi (mba ratih, diriku senang sangat karena dirimu mau membantuku pun menghabiskan cappucino itu ^^ ).

Jam 20:20 mereka yang pulang makan telah datang, sesi foto-foto dimulai lagi. Mas Kinu menjelma hidden camera berjalan dan ouuwwhhh mba ayu marahi saya dengan bilang
"hiii kamu tuh chau..bukannya pimpin rapat tentang prosedur menyiram windry" hwakakakakakaka. Okay lah...Air mineral satu liter sudah dibeli. Kegilaan ridho, rangga, adi mencampurkan kopi membuat diriku dan mba ayu jijik plus kasihan ke mba windry (meski itu bukan cairan2 ndak jelas yang difikirkan mba ayu) jadilah diriku menyita botol itu dan membuangnya mentah-mentah.

Jam 20:45...acara guyuran disiapkan. "Mba...sini kupinjam tasmu" lalu kupakai pun tas mba windry (heuuu...sok manis deh diriku). Mba ghe disusul ridho mengguyur mba Windry di depan banyak supir taksi. Lalu kita memeluknya dan bilang "Selamat ya say...Selesai dengan sangat baik pun acaramu". Hooo sebelum ditutup, yang payah di sesi terakhir ini adalah si Hidden camera berjalan ituhhh (dirimu ndak abadikan moment bagus ini ya? kan sebelumnya diriku sudah kasih tau. Ndak cukup sangat apa baterai itu? zzzzzzzz paayyyyahhh). Mungkin, karena hal tsb diriku dan teman-teman harus mengguyur ulang mba Windry.

On The Way pulang...capek sangat tapi diriku sesak bahagia, sangat bahagia. Bayangan bapak yang marah-marah tiba-tiba hilang, HP yang sebelumnya ditelpon berkali-kali oleh bapa dan mama tiba-tiba diam, seolah semua isi malam ingin membiarkan saya sesak bahagia. Sampai di rumah millda, kemudian rumah saya adalah para bapa sudah duduk di depan pintu ruang tamu. Heuu,,berjalan manis dan berpura-pura manis sajalah, ndak biasa-biasanya cium kening. Kali ini saya cium tangannya, kedua pipinya, dan keningnya. Pulang malam pun di acc. Hooorrraaaaayyyyyyy

Read More...

Enam April (laporan oleh Nidha)

Tuesday, April 8, 2008 | Labels: | 0 comments |

Oleh Nidha a.k.a Chau

Diriku dua hari ini tepar (7-8 april), rasa remuk tulang, ngantuk, dan capek. Tapi, saat ini diriku sedang tidak ingin bahas rasa gak enak itu semua. Diriku hanya ingin sharing awal mula hadirnya rasa gak enak itu semua. Secara fisik mungkin seperti itu adanya, tapi kepuasan bathin mengalahkan rasa gak enak itu.

Enam April menjadi hari yang sangat diriku syukuri karena Allah menciptakan hari itu untukku, untuk kita. Persiapan menuju hari itu sangatlah panjang, sukar, melelahkan. Dan diriku tidak ada selama proses yang menyita waktu, hati, fikiran, dan tenaga itu ( di sini memang sisi jahat diriku yang lebih memilih kepentingan pribadi sendiri daripada duduk bersama mereka untuk mempersiapkan enam april ini). Dan oouuwwhhh bagaimanapun diriku harus berterima kasih karena si bu dokter harus pergi ke palembang, (karena dirimu pergi dok..kesepakatan minggu ini dibatalkan dan itu artinya saya bisa hadir penuh di acara enam april nanti) jadi bisa sedikit saya abaikan dulu permasalahan satu itu. Tinggal si migrain yang harus diajak kompromi sepenuh enam april nanti.

Okay..seminggu sebelumnya diriku berusaha intensif (meski lagi-lagi hanya mampu via YM) untuk turun tangan. Mengurus makanan, penjemputan, dan segala hal lainnya. Dua hari menjelang enam april diriku dikunjungi si migrain dan memintaku untuk berdiam manis lagi (diriku sangat membenci hal ini, terkadang). Bahkan sampai lima april malam, diriku dah harus terkapar jam delapan sedang di sana,,senior-seniorku kesusahan menahan ngantuk untuk enam april. Enam april tiba.....

Diriku berangkat jam enam kurang dengan tujuan pertama ambil kue, lalu jemput teman beserta kuenya, kemudian segera menjemput salah satu tim pembicara di bandara yang ndak lain adalah tuan dan nyonya rumah kemudian.com (mas rizki dan mba Tiva), dan segera meminta supir mengebut menuju tempat acara. Okay,,,diriku bagian dari mereka yang (kubiarkan) kesusahan kemarin..peduli nanti diriku akan berguna atau tidak, diriku akan berusaha untuk berguna.

Sesampai di sana, hyaaaa berkenalan dengan tim panitia yang begitu solid, matanya yang kuyu lelah namun tetap kalah dengan cahaya kebersamaan mereka yang teduh. Bersalaman sepaket dengan cipika-cipiki dan sedikit peluk dengan Mba Ayu, Ayas, Veve, dan Mba Windry yang dari awal masih saya cari-cari. Menyapa guru puisi saya beserta nyonya (adalah mas TSP&mba TSP) dan setor tampang dengan mr.Rius (a.k.a mas Kinu) yang ternyata memang berbakat ngeselin plus menjawab jelas perkiraan saya (sebutlah nama asli saya mister...zzzz). Setelah ramah-tamah dengan gaya sok akrab, tiba waktunya bekerja santai, bekerja seru, bekerja sama, bekerja sambil sesi foto-foto (zzzzz ada banyak paparazzi di acara ini).

Saya dan Ayas, berteman millda bolak-balik ngurus kue. Saya berkenalan dengan ridho dan heri dengan menyebutkan nama asli saya. Huahahahahahahaha....setelah lama saya diperdengarkan kalimat "hooo jadi lo itu chau!!". Om heri bikin saya dan ayas ngakak..dah dua kali kenalan...tiba2 datang dan menepuk bahu saya bilang "heee lo itu chau ya? dasar looo" hwakakakakakaka.

Lapak Puisi pun digelar, asyik dan seru menyimak sensei menjelaskan tentang alam ambang yang jadi menarik-narik ilmu psikologi dan simbah nya. Pertengahan lapak tsb, saya,ayas, dan veve bertugas mengurus makan siang untuk tamu-tamu kehormatan kami. Hyaaa turun naik dan memesan makanan, lumayan seru lahhh. Lebih serunya, setelah kami kembali ke lapak puisi, sesi latihan sudah dimulai dan saya bersama ayas sok duduk manis sambil berusaha sadar diri bahwa kita dapat isyarat untuk ikut mengerjakan latihan. Secara kita berdua cape (hallaghhzzz...malas kali yak) maka jadilah saya dan ayas kabur (karena tidak mengerjakan sekali pun..heuheuehuehuehueheu). Tapi, di sesi latihan kedua..kami mengerjakan kok Om Pin...bahkan kena dirimu tanya "yang belakang dapat berapa kosa kata?"

Setelahnya, makan siang tamu kehormatan dimulai. Melayani pun diriku dan ayas dengan sebaik mungkin tamu-tamu kehormatan kami , senior dan sensei semuaaaaaa. Sambil menunggu mereka, kita mengusili satu penulis yang saya sebut ngeselin. Mengganggu jam makan siang yang katanya "kebanyakan nih porsinya". zzzzzzzzz. Karena Ayas dan Veve lapar, mereka menemani dadun dan ivan makan (diriku bukan ndak mau makan, tapi sepenghitungan diriku,,,nasi pesanan kita itu kurang :p ).

next time lagiiii.....terlalu banyak yang ingin saya bagi...
karena saya terlalu senang

Read More...

Hingga Dini Hari (laporan oleh Ayu)

| Labels: | 0 comments |

Oleh Ayu prameswary

Sehari sebelum Perkosakata

Saya terbangun tiba-tiba pada pukul empat pagi. Tanpa bunyi jam weker, atau suara Miki yang mengeong, pun karena dibangunkan seseorang. Mungkin hanya karena saya begitu bersemangat. Tapi langit masih gelap, jadi saya putuskan kembali pada pelukan bantal dan guling.

Dan saya yakin, semangat yang menyebabkan. Karena, setiap satu jam saya selalu terbangun. Akhirnya, pada jam enam pagi, saya putuskan untuk benar-benar bangun dan tidak menghiraukan rayuan bantal dan guling yang seakan memaksa saya kembali pada mereka.

Tidak seperti Windry dan Ratih yang bertugas menjemput Kinu di stasiun pada pagi buta, saya masih punya waktu untuk bermain dengan Miki. Hey, saya memang harus menyempatkan diri untuk memanjakan dia, karena akan saya tinggal selama dua hari.

Mari kita lewatkan saja kegiatan saya di rumah. Tidak penting itu. Akhirnya saya tiba di penginapan lantai dua, setelah sebelumnya saya menyempatkan diri berbelanja keperluan yang tertinggal dan minuman coklat untuk memanjakan pembicara dan moderator acara workshop ini (baca: TSP dan Kinu^^). Tak berapa lama, sampailah Kinu yang berbaju hitam, Windry dengan bawaannya yang banyak dan Ratih yang selalu ceria padahal mengantuk berat (bukan begitu, mba’ Ratih?).

Dengan tambahan satu personel baru –saya-, kami melaju ke daerah Kemang untuk makan siang, sekaligus mengantarkan Windry mengikuti bengkel novel di Cipete. Setelah dengan keji menurunkan Windry di pinggir jalan (maafkan kami, honey^^), kami bertiga berputar-putar di Kemang, bingung mencari tempat makan. Setelah berbingung-bingung dan berpanas-panas (maafkan tata bahasa saya yang ngaco ini), kami terdampar di Soto Kudus dan berakhir dengan ajakan Ratih untuk mencoba bakwan malang sebagai dessert (halah!).

Anyway, setelah menjemput Windry di Cipete dan Vivie di warnetnya, kami kembali ke Kuningan untuk bertemu rombongan lain yang bertugas menjemput TSP. Panas menyengat sepanjang siang tadi sudah berubah menjadi guyuran hujan deras yang membuat jalanan Jakarta semakin macet tak terkendali.

Kami bergabung dengan rombongan TSP yang sedang menikmati santap malam. Setelah briefing terakhir yang singkat, seluruh panitia bersiap pulang, mengumpulkan tenaga untuk keesokan hari. Tapi tidak dengan saya, Windry dan Ghea. Kami yang semula berencana menginap di tempat Ghea, berganti harus standby di penginapan. Dan sial, ada beberapa hal yang tidak kami persiapkan untuk menginap.

Sementara Windry ditemani Mirza berbincang bersama TSP dan Kinu, saya dan Ghea mulai menyusuri Jakarta, berputar-putar karena tidak tahu arah, mencari keperluan. Kembali ke penginapan dan keluar lagi, kali ini bersama Mirza dan Kinu. Lagi-lagi kami berputar-putar mencari market 24 jam, dari mini hingga nanggung. Seharusnya Jakarta adalah kota yang tak pernah tidur, tapi kenapa susah sekali mencari toko 24 jam?

Tengah malam, Windry beringsut ke balik selimut. Begitu pula dengan TSP dan calon nyonya, serta Kinu. Tinggallah saya, Ghea dan Mirza menikmati lembur hingga dini hari. Kira-kira pukul setengah tiga pagi, saya dan Ghea memutuskan untuk beristirahat, sementara Mirza kembali ke rumah sakit untuk menemani ibunda.

Waktu pun mengalun hingga pukul enam pagi...

**bersambung dong, ah**

Read More...

Menyiapkan PERKOSAKATA Penuh CINTA (laporan oleh Windry)

| Labels: | 0 comments |

oleh Windry Ramadhina

Jakarta, 5 April 2008

Hari besar itu diawali oleh hal besar: saya bangun pukul empat pagi, saat kucing saya bahkan masih melingkar di ujung selimut. Membawa satu set pakaian ganti, laptop tercinta, video camera dan LCD pinjaman dari Walikota Jakarta Timur, saya meluncur menuju Pondok Indah Square untuk menemui Ratih yang sudah siap dengan Karimun merahnya. Berdua kami menikmati Jakarta dini hari yang segar dan jauh dari kesan Ibukota, menyusuri jalan arteri, Sudirman, hingga Monas dengan kecepatan penuh. Gambir adalah tujuan kami. Moderator acara perkosakata, Kinu, sudah menunggu sejak pukul lima dan, percaya atau tidak, kami nyasar.

Dua kali kami melewati Imanuel, sampai akhirnya mobil kami berjalan mundur memasuki halaman parkir stasiun karena kami tidak rela melewati Imanuel untuk ketiga kalinya. Kinu kami temukan di Dunkin, berkaos Coca Cola dan membawa oleh-oleh bakpia dan Waktu Batu. Segera kami bertolak dari Gambir untuk mencari sarapan. Semula tanpa arah sehingga kami berputar dengan rute Gambir-Sudirman-Semanggi-Gatot Subroto-Kuningan-Menteng-Cikini (tolong disadari betapa sesungguhnya Cikini dan Gambir bisa ditempuh dengan jalan kaki). Kami sarapan bubur di depan TIM, kemudian Kinu minta diantar menjenguk suami Inez Dikara di JMC (Buncit), maka untuk kesekian kalinya kami seperti mengalami deja vu karena kembali melewati jalan yang sama.

Ayu menyambut di penginapan (Kuningan) dengan tas besar dan plastik belanjaan. Dengan formasi baru, kami makan siang di daerah Kemang (sungguh tidak mudah memilih tempat makan di daerah itu dengan budget terbatas). Menjelang pukul dua, saya didrop oleh rombongan di MP Books Point untuk mengikuti bengkel novel dan dijemput kembali pukul empat tepat. Ada sedikit masalah pribadi yang harus saya atasi sore itu. Hasil kelas saya di bengkel novel tidak terlalu baik dan butuh waktu untuk mengembalikan spirit optimis saya. Sebagai ketua, saya sadar, saya tidak boleh lemah di saat genting maka saya paksakan diri mengesampingkan perihal bengkel novel dan kembali melihat ke depan.

Masih di daerah Kemang, kami juga menjemput Vivie di warnet tempatnya bekerja. Vivie keluar dari warnet membawa spanduk acara lalu menjelang malam, rombongan pimpinan saya kembali ke Kuningan untuk bertemu dengan TS Pinang yang dijemput oleh rombongan pimpinan Bayu.

Malam itu hujan deras, Rasuna Said tergenang air tapi tidak mengurangi keceriaan panitia yang berkumpul untuk rapat terakhir. Kami makan malam bersama TS Pinang, calon nyonya dan Kinu. Setelah briefing dan pembagian tugas yang detil, tim berpencar. Saya, Ayu, Ghea dan Mirza kedapatan tugas standbye di penginapan. Kami masih harus mengurus banyak hal malam itu: berdiskusi bersama TS Pinang dan Kinu, menyiapkan materi, dan belanja beberapa hal (tidak lupa memijat pembicara dan moderator kami yang kecapaian karena perjalanan jauh). Saya tidur menjelang tengah malam setelah meminum obat radang tenggorokan, Mirza masih harus kembali ke rumah sakit untuk menjaga sang Ibu, sementara Ayu dan Ghe terus bekerja sampai dini hari.

(segera! Hari PERKOSAKATA penuh CINTA - gombal sekali bahasa ini ya hahaha)

Read More...

Saya di PerkosaKata (laporan oleh Dadun)

| Labels: | 0 comments |

Oleh Dadun


Sebuah kerinduan yang kuat memang bisa mengalahkan apa saja. Katakanlah saya hanya seorang anak rumahan yang cukup asing dan ngeri dengan dunia luar, dan semua orang terdekat saya mengetahuinya. Maka, saya harus bisa meyakinkan hati mereka bahwa perjalanan Bandung – Jakarta bukanlah perjalanan lintas negara atau bahkan lintas rimba yang berbahaya, terlebih, saya bukan lagi bayi lelaki yang selalu nyaman mendekap diri di balik selimut merah.

Dan, kerinduan itu akhirnya membawa saya pada sebuah tempat yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, dan bertemu dengan orang-orang yang hanya bisa saya pikirkan sebelumnya. Dalam sebuah agenda, PERKOSAKATA2008.

Saya tiba di lantai tujuh Gedung Nyi Ageng Serang bersama seorang perempuan berkaos putih. Kami saling berpandangan saat sedang berjalan menuju tempat yang sama. Saya yakin, dia sedang berpikiran sama dengan saya: are you Kemudianers? Dia pun memperkenalkan diri sebagai Brown—yang setahu saya, dia adalah member senior di kemudian.com. Lalu kami mengisi daftar hadir, dan beberapa orang yang menerima kami di sana nampak menguatkan otot mata saat melihat saya.

“Elo Dadun?” kata-kata itu ada yang meluncur dari mulut mereka langsung, dan ada juga yang hanya tertelan di tenggorokan dan memantul di kedua bola mata mereka. Entah itu berarti terkejut, atau mungkin... . Ah, apa pun itu, yang terpenting, akhirnya kami bisa bertatap muka dan tak perlu lagi bantuan keyboard untuk mengetikkan kata-kata.

T.S. Pinang, sang penyair (yang ngakunya) amatir tengah memberikan materi seputar puisi, didampingi sensei Kinu sang wartawan kuliner. Howaaa, saya tidak terlalu memerhatikan karena masih lelah dan cukup mengantuk akibat hampir lima jam perjalanan Bandung – Jakarta. Diam-diam saya sibuk memerhatikan orang-orang di sekitar. Seperti sebuah permainan tebak nama, ketika melihat seseorang, saya berusaha menebak id yang digunakannya di kemudian.com. Itu pasti Miss Worm, itu pasti Ratih, Chau, Rangga, Heri Purwoko, Sefry, hmmm mungkin itu Frenzy, dan, yang itu pasti Cassle. Sementara, saya duduk bersebelahan dengan Takiyo Annabani dan ABC, Kemudianers asal Bandung juga yang datang lebih awal dari saya. Dan, oh, juga ada Ghedesafti, Bayu MyBro dan adiknya yang kata Mbak Ratih mirip orang Pakistan, ada Kavellania si Nona Manis, ada Milda dan masih banyak yang lainnya. (yang tidak disebut jangan marah)

Lo sombong amat sih, Dun. Diem aja. Sok manis lo! =P

Tidak hanya SMS dari Yugi Yakuza sang MC saja yang bermaksud demikian. Beberapa Kemudianers lain pun sedikit memprotes ke-diam-an saya.

Saya: Lha, memang aslinya gue pendiam, kok.
Mereka: Di YM, lo dudulz.
Mereka: Belum keluar aslinya lo, Dun.
Mereka: Ayo, tunjukin dong ANUNYADADUN!!!

Dan, ke-diam-an saya tetap bertahan hingga acara makan siang bersama Creativeway13th dan kameranya, Niska dan ehmnya, Ananda dan cucurnya, Little Ayas dan ceretnya, juga Chau dan tidakmakannya.

Usai makan siang, acara dilanjutkan dengan bedah novel Kenangan Abu-Abu nya Winna Efendi a.k.a Frenzy yang dipandu oleh Sefry Khairil. Sayang, saya selalu tidak mampu bertanya, padahal tiga penanya terbaik berkesempatan mendapatkan novelnya. Tapi untungnya, saya memiliki keberuntungan lain, mendapatkan doorprize novelnya Ayu Prameswary a.k.a Fortherose yang berjudul Gemini dan Kepingan Mimpi. Dan, wah, Kemudianers yang lain nampak memprotes: Huuu... Dadun lagi... Dadun lagi...!

Acara semakin seru ketika Gheta maju dan membacakan cerita mini berjudul Topeng Monyet. Secara (katanya) anak teater, dia benar-benar menjiwai apa yang sedang dibacakannya. Saluuuut... saluuut... Belum lagi pembacaan puisi (judulnya saya lupa lagi) oleh Jorgy. Wiiih, lagi-lagi penjiwaannya mantap. Kalau Gheta membuat kami semua terbahak, maka Jorgy membuat kami merinding dan terkesiap. Setelah itu, Noni membacakan puisi diiringi petikan gitar Rangga Mahesaya. Manis, manis.

Menjelang penutupan, dua petinggi kemudian.com, Jeng Far dan Mbak Tiva maju untuk menceritakan sejarah kemudian.com. Setelah itu, masing-masing Kemudianers maju untuk menyebutkan id-nya, dan menyatakan harapan ke depan dari kemudian.com ini. Wah, sial, waktu giliran saya maju, Mirza “Mamad” a.k.a k4cruterz yang ternyata lebih gila diantara kami semua, benar-benar berhasil mempermalukan saya. Dia berlutut dan nyaris menyamai tinggi saya saat sedang berdiri. Dia merangkul saya, dan Kemudianers yang lain tertawa. Ananda bilang, seperti raksasa yang menerkam kurcaci. *Hihihi* Tapi, bagaimana pun saya senang bisa bersisian dengan salah satu penulis favorit saya di kemudian.com. Meski sebenarnya saya sedikit sedih karena idola saya tidak datang. *Hiks hiks*

Sesi yang paling ditungu-tunggu adalah sesi foto-foto. Kapan lagi bisa berada satu frame dengan Miss Worm? *Ting!* ya, tentu saja, kapan lagi bisa beramai-ramai berfoto dengan semua Kemudianers yang super-menyenangkan?

Jam sudah menunjukan angka empat, pertanda acara berakhir. Tetapi kami masih punya sisa waktu di salah satu ruangan di lantai dua. Sebagian Kemudianers sudah pulang, termasuk teman-teman dari Bandung, Takiyo dan ABC. Panitia dan beberapa Kemudianers yang bukan panitia masih berkumpul di lantai dua. Dan saya di sana, merasa enggan untuk berpisah.

Selama satu tahun lebih kami hanya saling menyapa lewat ‘dunia kedua’ yang meski mampu meniadakan jarak dan sekat, tetapi tak cukup mampu mempertemukan kedua pasang mata dan berbalas ucap secara nyata, juga bersentuhan. Dan tak lebih dari satu hari itu, akhirnya, kami dapat bertemu dan berkumpul bersama. Takdir memperbolehkan kami saling menatap, berucap dan menyimak, bersalaman, bahkan toyor-menoyor. Kami bukan saudara, bukan sahabat, bukan kenalan dan bukan siapa-siapa yang akhirnya dipersatukan menjadi keluarga besar yang bahkan memiliki keterikatan yang jauh lebih erat dari sekadar relasi yang disebutkan.

Tetapi, bagaimanapun hidup terus berjalan, dan saya harus pulang sore itu juga, dengan sejuta kesan yang mendalam.

Kapan kita bertemu lagi, Kemudianers?***

Read More...

PERUBAHAN PERKOSAKATA 2008

Wednesday, April 2, 2008 | Labels: , , , | 0 comments |

Panitia Perkosakata memberitahukan beberapa perubahan yang terjadi dalam rangkaian Perkosakata 2008:

Dikarenakan quota peserta yang tidak memenuhi, maka dengan terpaksa acara seminar dibatalkan. Bagi yang telah mendaftarkan diri akan dihubungi oleh panitia melalui e-mail dan atau telepon.

Dengan ini, acara Perkosakata 2008 dipadatkan menjadi satu hari, yaitu Minggu, 6 April 2008. Bertempat di Auditorium Pengembangan Minat Baca – Perpumda, Gd. Nyi Ageng Serang Lt.7. Kuningan, Jakarta Selatan (belakang Pasar Festival), dengan donasi kegiatan Workshop senilai Rp.50.000,- bagi member Kemudian.com

RANGKAIAN ACARA:

09.30-12.00 WIB
Workshop bersama TS.Pinang

12.00-1300 WIB
Break

13.00-14.00 WIB
Diskusi novel Kenangan Abu-abu oleh Winna Efendi

14.00-16.00 WIB
Bincang Kemudianers bersama Farida dan Tiva

NB.
Batas waktu pemilihan hadiah buku bagi para pemenang lomba Cerpen 100 Kata dan Puisi adalah Jumat, 4 April 2008, pukul 24.00 WIB. Hadiah bagi pemenang yang tidak memilih setelah batas waktu lewat akan dipilihkan oleh panitia..

Sampai jumpa di Perkosakata!


Terima kasih,

Panitia Perkosakata 2008

Read More...

PEMENANG LOMBA CERPEN 100 KATA & PUISI

Friday, March 28, 2008 | Labels: | 1 comments |

Halo K’ers,

Ini dia berita yang ditunggu-tunggu! Tidak akan berpanjang lebar; dengan juri Krisna ‘neko no oujisama’, Sefryana Khairil, Dino Umahuk, TSP, serta Kinu, maka inilah pemenang lomba Cerpen 100 kata dan Puisi:

CERPEN 100 KATA
[I] Birahi Laut oleh Bayang
[II] Pelindung Utopia oleh Villam
[III] Newbie oleh Dadun
[Harapan I]Kau Bukan Yang Pertama oleh sakura_cut3
[Harapan II] To Much To Love oleh –rina- dan Satu Ulang Satu oleh kornelius.kevin.kristian (memperoleh nilai yang sama)

PUISI
[I] Depan Surau oleh (unknown nickname)
[II] Perempuan yang menatah sajak oleh pengu
[III] Tak Perlu Menangis (Sebuah Akrostik) oleh 145
[Harapan I] Syair Rok Mini oleh someonefromthesky
[Harapan II] Pelabuhan Yang Terbuang oleh ucu_zu

Para pemenang dipersilahkan memilih hadiah dari daftar di bawah ini, dimulai dari pemenang pertama terlebih dahulu.

List Hadiah:
1. September - Noorca M. Massardi (Novel, tersegel plastik)
2. Fofo Dan Senggring - Budi Darma (Kumpulan cerpen - tersegel plastik)
3. Tesaurus Indonesia atau KBBI (pilih salah satu, baru)
4. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (2 buah, baru)
5. The Templar Legacy - Steve Berry - (baru)
6. Lucia lucia - Adriana Trigiani – (baru)
7. Salah Asuhan - Abdoel Moeis (baru, tersegel plastik)
8. Eragon-Eldest - Christopher Paolini - Knopf (satu set - import - hardcover - kondisi excellent).
9. The Lost Boy - Dave Pulitzer
10. Bukan Putri Angsa - Ernest J.K.Wen
11. Bahagia perkawinan - Leo Tolstoy (baru, tersegel plastik)
12. Mahasukka, kumpulan puisi - Arief B. Prasetyo
13. Celana Kekasihku di bawah Kibaran Sarung, kumpulan puisi - Joko Pinurbo
14. Buku "Seratus Kata" >> Khusus untuk pemenang I lomba cerpen 100 kata
15. Kepada Cium, kumpulan Puisi - Jokpin (tersegel plastik)
16. Diary Gigi Gue - Heidy Kaeni
17. The Catcher in the Rye - J.D Salinger (import)
18. Life of Pi – Yann Martel (import)

Bagi yang berdomisili di Jabodetabek, hadiah dapat diambil pada acara Bincang Kemudianers, tanggal 6 April 2008.

*Sisa hadiah akan dibagikan sebagai doorprize dalam acara Bincang Kemudianers

SELAMAT KEPADA PARA PEMENANG! :D

Read More...

Perubahan Jadwal PERKOSAKATA 2008

Saturday, February 9, 2008 | Labels: , , , | 0 comments |

Disebabkan oleh satu dan lain hal, jadwal rangkaian acara perkosakata 2008 mengalami perubahan, yaitu:

  • Seminar, Workshop, dan Bincang Kemudian yang semula dijadwalkan tanggal 23-24 Februari 2008, berubah menjadi tanggal 5-6 April 2008. Tempat, Jam serta Topik dan Pembicara tidak mengalami perubahan.

Seminar:
Rp.150.000 (early bird hingga 25 Maret 2008 : Rp.135.000,-)
[10 peserta pertama gratis mengikuti workshop pada hari kedua.]

Workshop:
Rp.55.000 (early bird hingga 25 Maret 2008 : Rp.50.000)

Pendaftaran hingga tanggal 28 Maret 2008 di SINI. Setelah tanggal tersebut, pendaftaran dilakukan via telepon (nomor akan diberitahukan kemudian)
Konfirmasi hingga tanggal 2 April 2008
Registrasi ulang pada 5 - 6 April 2008 di lokasi acara


  • Lomba Cerpen 100 kata dan Puisi yang bertema “Yang Pertama” akan diperpanjang batas pengirimannya menjadi tanggal 10 Maret 2008.

Tema:
“Yang Pertama”

Persyaratan:
• Tercatat sebagai member Kemudian.com
• Telah memiliki minimal 5 postingan cerpen/ puisi


Pelaksanaan:
• Cerpen/ Puisi diposting di Kemudian.com dan dikirimkan melalui email dalam bentuk body mail (bukan attachment) ke kopdar2@kemudian.com dengan subjek ‘LOMBA CERPEN’ atau ‘LOMBA PUISI’, paling lambat tanggal 10 Maret 2008, dengan format sebagai berikut:

[Nickname di Kemudian.com]
[Nama asli]
[Alamat lengkap, khususnya bagi domisili luar Jakarta]
[No. telp]
[Isi cerpen/ puisi]

Pengumuman pemenang akan diumumkan di forum Kemudian.com dan blog Perkosakata pada tanggal 25 Maret 2008
• Bagi pemenang yang berdomisili di Jakarta, hadiah dapat diambil pada acara Bincang Kemudianers Perkosakata 2008, tanggal 6 April 2008
• Peserta dapat mengirimkan maksimal 2 karya cerpen/ puisi


Kriteria Penilaian:
• Karya yang disertakan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain.
• Karya berupa karya asli member, bukan hasil saduran atau terjemahan.


Juri Cerpen 100 kata:
Sefryana Khairil
Nuke 'V1vald1'
Krisna 'Neko no Oujisama'

Juri Puisi:
T.S. Pinang
Dino F. Umahuk
Kinu Triatmodjo



Terima kasih atas pengertiannya.
Salam,

Ttd,
Panitia Perkosakata 2008

Read More...

Mangga muda problem lama

Monday, January 28, 2008 | Labels: , | 0 comments |

Oleh Mikael Johani

Mangga muda oleh ghe

Sebelum mulai bicara tentang puisi ‘Mangga muda’ (ya, m yang kedua memang kecil, penulisnya Francophile ya?) ini saya ingin ngomong sebentar tentang proses review buat kemudian.com ini. Mungkin semua orang sudah tahu juga, saya diberi pilihan beberapa tulisan untuk direview tanpa pernah tahu nama atau siapa penulisnya. Alasannya jelas tentu—paling tidak ini asumsi saya—untuk mencegah kongkalikong, mencegah reviewer seperti saya menulis review penuh gula-gula untuk penulis yang manis dan kebetulan adik pacar saya. Tapi kemudian saya pikir, ini kan bukan lomba? Lagian, saya justru merasa perlu tahu latar belakang seorang penulis, bukan hanya namanya saja, kalau bisa saya ingin tahu buku apa saja yang dia baca waktu tumbuh dewasa, di kota mana dia dibesarkan, (dalam konteks Indonesia bhinneka tunggal ika ini) suku dia apa. dia suka mendengarkan musik apa, heroes atau csi, etc. etc.

Seperti di review saya yang kemarin tentang tiga cerpen berbahasa Inggris yang ternyata ditulis oleh satu orang itu (saya cuma berani menebak waktu itu dua dari tiga cerita itu ditulis oleh orang yang sama) saya ingin juga tahu apakah dia benar-benar pernah tinggal di London atau dia hanya mengkhayalkannya saja dengan bahan-bahan yang pastinya banyak dia dapatkan waktu dia tinggal di Brisbane. Atau malah sebaliknya? Kelihatannya sih tidak. Atau dia mengkhayal tentang semua tempat itu dan selama ini dia tinggal di Tebet (ala Ratih Kumala dan Tabula Rasa-nya)? Buat saya hal-hal seperti ini bukan hanya menarik tapi juga penting, karena misalnya saja waktu itu saya sempat bertanya kok dia bisa-bisanya bilang London humid di bulan November? Nah, kalau misalnya dia hanya pernah tinggal di Australia dan hanya pernah transit di Heathrow tiga jam sebelum terus ke Stockholm saya jadi bisa tahu pastinya itu dia lakukan karena dia mencampurkan waktu musim panas Australia yang berada di belahan bumi selatan dengan London di bumi utara. Saya jadi tahu dia cuma perlu merevisi pelajaran geografi SMU-nya saja. Tapi kalau misalnya ternyata dia pernah belajar seni patung di St. Martins College setelah capek belajar Masters ekonomi di Brisbane saya jadi bisa bilang mungkin dia lagi mencampuradukkan memori historisnya. Dan kalau dia ternyata masih sekolah di SMU 26, yah, spekulasi sendiri saja kira-kira kesimpulan macam apa yang bisa kita tarik tentang cerita-cerita itu.

Menurut saya ini masalah yang penting, karena di Indonesia kelihatannya kritikus sastra suka malas atau tidak bersedia menyambungkan tulisan dengan dunia penulisnya. Semacam hangover dari New Criticism saya yakin mereka juga tidak pernah benar-benar mengerti juga. Seperti misalnya kata pengantar Nirwan Dewanto di buku ‘Ripin: Cerpen Kompas PIlihan 2005-2006’. Di situ dia sama sekali tidak pernah benar-benar membahas di cerita ‘Ripin’ karya Ugoran Prasad yang ia anggap cerita terbaik di Kompas selama periode 2005-2006 itu siapa itu si Ripin, apa yang terjadi dengannya (bapaknya mati ditembak Petrus—ini twist-nya haha sori ya spoiler haters), kenapa Ugoran memilih masalah Petrus ini untuk cerpennya, apa masih menarik menulis tentang Petrus, etc. etc. Hal-hal yang menurut saya lebih menarik tentang ini daripada misalnya, ‘[dalam Ripin] kita sampai pada paradoks yang menggetarkan: antara kokohnya alur dengan hasrat para tokoh untuk keluar dari tindasan, antara keasyikan sudut pandang dengan kekasaran latar cerita, antara mustahaknya tutup cerita dengan ketidakpastian nasib Ripin si tokoh utama.’ (Nirwan Dewanto dalam ‘Ripin etc.’ hlm. xxvi.) Tindasan macam apa? Dari siapa? Kenapa ada di situ? Kekasaran macam apa? Siapa? Kenapa ada di situ? Apakah penting, menarik, membosankan, biasa-biasa saja semua itu ada di situ? Dan, apa arti mustahak? ;)

Buat saya kritik macam di atas, yang kelihatannya menganggap hanya arsitektur sebuah tulisan saja yang penting (semacam versi Taliban New Criticism), sama saja dengan bilang foie gras itu mak nyusss tapi tak pernah bilang (karena memang tak tahu karena memang tak mau tahu!) makanan itu terbuat dari apa.

Mungkin semua ini kedengaran terlalu panjang tapi pun sudah langsung relevan begitu kita membaca judul sajak kita kali ini ini: ‘Mangga muda.’ Karena saya orang Indonesia atau paling tidak orang Jawa, membaca judul ini langsung terbayang di kepala saya berbagai macam bayangan tentang mangga muda: dicocol campuran garam dan cabe enak, makanan perempuan lagi ngidam, tergantung musim ada atau tidaknya di pasar (paling tidak dulu sebelum globalisasi mangga karbitan melanda Total). Dan begitu membaca baris pertama sajak ini, nah benar kan saya. Sekarang bayangkan misalnya saya seorang wannabe Indonesianis asal Alaska yang belum dapat-dapat juga beasiswa pertukaran pelajar ke UGM tapi saya nekat menulis review tentang sajak ini dan karena saya memang tidak tahu dan malas bertanya pada supervisor saya, saya tidak pernah mempertimbangkan semua imej kultural spesifik tentang mangga muda ini dan hanya sibuk menyatakan betapa pengulangan dua kata mangga muda ini menghipnotis seperti mantra (ini memang benar, tapi), apakah patut kritik saya dibilang kritik yang lengkap? Apakah patut tulisan saya itu disebut kritik karena saya sebenarnya belum memeriksa semua kemungkinan pembacaan sajak ini? Apakah patut saya disebut seorang kritikus?

Sudah jelas kalau tulisan seorang kritikus akan dipengaruhi oleh latar belakangnya, apakah tidak lucu kalau kemudian kritikus itu sok-sok menganggap tulisan yang dikiritiknya tidak ada hubungannya dengan latar belakang penulisnya? Penulis sudah mati? Ya, kau yang membunuhnya Kritikus Sialan!

Kembali ke sajak kita (sebelum saya membunuhnya juga dengan melupakannya sama sekali), sajak ini adalah sajak yang naratif. Banyak sajak tentu yang sebenarnya memang prosa yang ditulis dalam baris-baris sehingga kelihatannya seperti puisi. Baca banyak sajak Billy Collins misalnya, atau Hasan Aspahani. Memang tantangan membuat puisi mungkin itu (paling tidak puisi lirik), bagaimana menggubah lirisisme yang kita rasakan, semacam aku melihat matamu dan di matamu ada aku, dalam kata-kata yang tidak sekedar menceritakan itulah yang terjadi tapi dalam puisi (apa pun itu kek) yang bisa membangkitkan rasa itu lagi untuk pembacanya setiap kali ia membacanya. Jadi misalnya, kalau saya tulis saja, ‘di matamu ada aku’, pembaca akan membacanya, mungkin bisa mengerti apa yang saya maksud, tapi (selain berpikir duh menye-klise banget sih) setelah itu ya sudah, kalimat (tak layak dibilang baris) ini bisa dibuang saja, sudah selesai tugasnya, dia hanya menceritakan apa yang terjadi, suatu saat, mungkin di tepi sebuah danau dengan kabut yang mengambang di atas permukaannya yang (tentu saja) tenang, ‘di matamu ada aku.’

Literature is news that STAYS news (Ezra Pound, ‘ABC of Reading’, hlm. 29). Saya suka nggak yakin juga macam apa news yang akan STAY news itu. Tapi biasanya sih kita tahu begitu kita melihatnya. Misalnya saja (ini saya pilih random dari rak buku saya), 'both of us hapless outcasts at the farther end of the sky; meeting like this, why must we be old friends to understand one another?' (Po Chü-i, ‘Song of the Lute’ dalam Burton Watson (penerjemah), ‘The Columbia Book of Chinese Poetry’, hlm. 252.) Bisa saja hal itu benar-benar terjadi, two hapless outcasts meeting at the farther end of the sky and feeling like they’re best friends already, tapi satu hal saja, setelah membaca ini anda ingin membacanya lagi bukan, dan lagi, dan lagi. Tanpa harus menganalisa bagaimana Po Chü-i melakukannya, dua baris itu tidak seperti kalimat gubahan saya di atas atau sekolom berita di Kompas, kita tidak akan merasa cukup hanya mengingat apa yang diberitakan oleh baris-baris itu, kita akan ingin membacanya dan lagi dan lagi, seakan-akan kata-katanya jadi lebih penting daripada apa yang diberitakannya. Ya, seakan-akan dua baris itu adalah news that STAYS news.

Nah, sajak ‘Mangga muda’ ini di banyak tempat terasa seperti cerita yang bisa merasakan ada puisi di balik ceritanya dan ingin melompat ke situ dan hup! bah! ternyata perhitungannya kurang tepat, lompatannya kurang jauh dan terjerembablah dia kembali ke narasi cerpen korannya. Tapi di beberapa tempat, sajak ini juga terasa seperti puisi yang tertatih-tatih memaksa untuk bercerita!

Sajak ini banyak menggunakan jurus pengulangan, seperti ‘kuketuk pintunya / kuketuk pintunya’ atau ‘kuketuk pintunya / kuketuk pintunya / kuketuk pintunya’ dan ini kadang-kadang terasa seperti usaha penulis untuk memuisikan cerita ‘Mangga muda’-nya tapi kadang-kadang juga terasa sepertinya mungkin justru ini yang lebih ingin dilakukan si penulis, mengulang-ulang kata-katanya begitu saja, terus saja, seperti mantra. Dan di sinilah, misalnya, pentingnya latar belakang penulis tadi. Mungkin, karena penulis ini (kelihatannya) memang orang Indonesia, salah satu bentuk puisi yang paling familiar buatnya, terdengar paling alami di telinganya, mungkin tanpa dia sadari, adalah mantra. Atau, dan ini ada juga hubungannya dengan si penulis adalah orang Indonesia, mungkin dia banyak baca balada-balada Rendra.

Cerita sajak ini adalah seorang suami yang dengan kelihatannya agak berat hati dan karena itu malas-malasan mencarikan mangga muda untuk istrinya (mungkin karena dia baru ngidam ini jam ‘setengah dua belas malam’). Tapi rasanya si suami berangkat bukan untuk istrinya karena ‘Menatapnya aku berpikir / ‘ah … itu yang meminta anakku sendiri’’. Seperti Hercules dengan satu tugas saja dia mengalami berbagai rintangan dan dia bukan Hercules jadi semua rintangan itu tidak bisa dia lalui juga sampai akhirnya dia sampai di ‘… pasar kampung kami / jam dua belas malam …’ tapi dasar bukan Hercules dia takut masuk pasar yang dia dengar penuh preman dan langsung balik kanan tapi baru ‘… berjalan dua langkah …’ dia sudah dihadang oleh ‘… tiga orang pemuda …’ dan ‘… lelaki / baju hitam-hitam dan wajah tanpa ekspresi’ ‘di belakang mereka …’

Si suami ditikam mati oleh ketiga preman dan satu laki-laki misterius ini. Tapi dari tadinya cerita yang gampang sekali diikuti, tiba-tiba di sini sajak ini menjadi agak misterius, atau mungkin, paling tidak jadi lebih susah diikuti, saya tidak tahu. Lebih baik saya kutip hampir semua bagian akhir ini:

‘aku jatuh rebah kulihat banyak sekali darah
tiga preman itu kabur membawa dompetku yang isinya tak seberapa
tapi lelaki itu tinggal
dia jalan mendekatiku dengan wajah tanpa ekspresi diulurkannya tangannya
pusarku berkedut menuntut tanganku menyambut tangannya
rasanya seperti berkenalan dan kutahu dia bukan Tuhan
dia bukan Tuhan
tapi tangannya sejuk dan aku seperti melayang’

Apakah tiga preman ini = the three wise men, tiga magi dalam cerita Injil Matius tapi kali ini yang benar-benar telah diperalat Herod = si lelaki baju hitam-hitam bukan Tuhan itu untuk menemukan dan membinasakan Kristus = si suami? Apa penulis sajak ini seorang pastur? Atau murid seminari Gonzaga? Untuk sementara ini, karena saya memang tidak tahu siapa penulis ini dan dunianya seperti apa, saya tidak tahu. Tapi bagian terakhir ini menurut saya, dengan nada setengah bercanda ringannya, adalah sebuah meditasi, sebuah puisi, tentang Tuhan dan kematian yang cukup indah.

Kalau lelaki yang tinggal itu bukan Tuhan terus siapa? The Grim Reaper karena bajunya hitam-hitam? Tapi dia mengajak salaman (jadi tangannya tidak sibuk memegang sabit raksasa) dan ‘… menyambut tangannya / rasanya seperti berkenalan … tangannya sejuk …’ Malaikat kematian biasanya tidak seramah ini.

Atau sebenarnya dia memang Tuhan, yang membiarkankan si suami ‘melayang’, bebas dari beban mencarikan mangga muda buat istrinya, hanya si suami terlalu merasa bersalah dengan ketidakbertanggungjawabannya ini (‘… tangannya sejuk dan aku seperti melayang’ tidak kedengaran seperti dia terlalu keberatan mati ditusuk preman-preman pasar itu) sehingga tidak mau mengakui bahwa sekalipun mungkin si lelaki baju hitam-hitam tanpa ekspresi ini adalah Setan dia adalah Tuhan penyelamat baginya?

Read More...

Dongeng Ritual Mandi dan Kedalaman Maksud

Friday, January 25, 2008 | Labels: , | 2 comments |

Oleh Dino Umahuk

Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas oleh gheta

Puisi adalah karya sastra yang bersifat imajinatif sekaligus konotatif. Dibanding bentuk karya sastra lain, bahasa puisi lebih memilki banyak kemungkinan makna. Hal ini disebabkan karena terjadinya konsentrasi atau pemadatan segenap kekuatan bahasa di dalam puisi. Struktur fisik dan struktur batin puisi yang sangat padat bersenyawa secara padu bagaikan gula dalam larutan kopi.

S. Effendi menyatakan bahwa dalam bahasa puisi terdapat bentuk permukaan yang berupa larik, bait dan pertalian makna larik bait. Kemudian penyair berusaha mengkonkretkan pengertian-pengertian dan konsep-konsep abstrak dengan menggunakan pengimajian, pengiasan dan peambangan. Dalam mengungkapkan pengalaman jiwanya penyair bertitik tolak pada „mood” atau „atmosfer” yang dijelmakan oleh lingkungan fisik dan psikologi dalam puisi. Dalam memilih kata-kata, diadakan perulangan bunyi yang mengakibatkan adanya kemerduan atau eufoni. Jalinan kata-kata harus mampu memadukan kemanisan bunyi dengan makna (S. Effendi 1982:xi)

**
Dalam kaitan itu, sebuah puisi berjudul Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas telah di kirim ke email saya oleh panitia KOPDAR 2 Kemudian.com. Puisi ini dikirim ke saya tanpa nama penulisnya. Mungkin ini kesengajaan dari panitia agar peresensi tidak mengetahui identitas penulis puisi. Namun karena tidak mengetahui siapa penulisnya, saya agak kesulitan untuk menerawang suasana kebatinan dan latar belakang lahirnya puisi ini. Tapi baiklah saya akan mencoba memberikan apresiasi yang mudah-mudahan tidak salah dan keliru.

Kulit lusuh dengan keringat tersimpan rapi di tiap lipatannya
Setibanya ia mengurus pemakaman rutin hari hari
Ia segera bergegas menjambak handuk yang terlipat di atas pembaringan tua
Penat terlihat sekali mulai dari lutut sampai siku hidup
Matahari sejak tadi setia menggiring, kini hanya sedikit mengintip
Ritual sebelum mandi segera dikerjakan, kulitnya dikuliti
Sedikit demi sedikit dari kulit kepala sampai kulit kemaluan
Ritual mandinya belum tuntas
Kulit kaki belum lepas
Nanti malam masih dipakainya berjalan

Macul,14 Maret07
***

Mandi secara harafiah berarti upaya seseorang untuk menyegarkan badan sekaligus membersihkan badannya dari berbagai jenis kotoran. Kenapa mandi, karena dalam puisi ini, secara implisit memperlihatkan upaya seseorang untuk membersihkan dirinya dari berbagai kotoran itu kotoran yang melekat di badan dan maupun kotoran jiwanya. Lihat bait-bait berikut: Ia segera bergegas menjambak handuk yang terlipat di atas pembaringan tua/ Penat terlihat sekali mulai dari lutut sampai siku hidup/ penat disini bisa dikiaskan sebagai dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Dan kesadaran ini diperoleh setelah menyaksikan kematian /Setibanya ia mengurus pemakaman rutin hari hari/. Setelah melihat bagaimana seorang hamba tak berdaya menghadapi maut, menghadapi takdir kematian. Setelah melihat betapa tak bisa apa-apanya sebuah kerangka manusia selain pasrah pada tanah kuburan.

Dalam ajaran Agama Islam, mandi memiliki makna membersihkan diri dari hadas/najis, baik najis besar maupun najis kecil. Jika perpijak pada dua bait berikut: Ritual sebelum mandi segera dikerjakan, kulitnya dikuliti/Sedikit demi sedikit dari kulit kepala sampai kulit kemaluan/ maka mandi yang dimaksudkan si penyair dapat disebut sebagai upaya untuk membersihkan diri dari berbagai dosa karena usia yang semakin menua sebagaimana dikiaskan sebagai Matahari sejak tadi setia menggiring, kini hanya sedikit mengintip.

Apa yang bisa saya simpulkan dari puisi yang coba saya hayati adalah sebentuk upaya membersihkan diri atau semacam cuci dosa. Dalam puisi ini sang penyair berupaya membersihkan disebabkan oleh dosa-dosanya di sepanjang usia sebagai makhluk yang berupaya dekat dengan Rabb, dengan Tuhan.

Memang tidak semua penyair menulis sajak untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Tapi, dalam puisi Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas sang penyair, hemat saya, tengah berusaha merapatkan diri pada hakikat keindahan, kebenaran, dan kejernihan.

Penyair yang kata Saini KM, adalah ia yang berumah di sebuah kuil di tengah hutan. Ia juga kayu dalam pembakaran, tengah berusaha berjalan ke inti kehidupan, kepada Tuhan.

Meskipun sang penyair sadar bahwa setelah pemandian, pensucian dan pertobatan, dosa-dosanya belum habis terkikis. Ini dikiaskan kembali dalam Ritual mandinya belum tuntas/Kulit kaki belum lepas. Karena sebagai makhluk yang lemah, sebagai manusia yang doif, ia selalu dengan sangat gampang tergelincir untuk berbuat dosa. Sangat gampang untuk ditaklukkan kembali oleh nafsu dan setan.

Sang penyair juga terpaku pada ketersadaran bahwa hari esok masih harus terus iya jalani sebelum ajal menjemput, sebagaimana di sampaikan pada bait penutup. /Nanti malam masih dipakainya berjalan. Namun sayang ia tak tak memintal doa-doa sebagai bekal untuk melangkah.

Entah berjalan kemana kita sesungguhnya sama-sama tak tahu. Hanya sang penyair yang mengerti hendak kemana nasib akan dibawa. Entah menuju ke langit dengan wajah selembut bidadari atau menuju neraka dengan wajah sehitam iblis.

Wallahu a'lam bis Shawab.
Serambi Mekah, Jumat 24 Januari 2008

Read More...

LEKONG & LEKONG DALAM CERITA

| Labels: , | 0 comments |

Oleh Hara Hope

Judul di atas kugunakan sekedar untuk menalikan dua buah cerpen berjudul “Aku Mencintainya” dan “Cintaku Terhalang Kelamin” yang memiliki tema yang sama, yakni: cinta terhadap sesama jenis.

Cerita pertama, “Aku mencintainya,” diuraikan dengan gaya drama keluarga, sedangkan cerita kedua, “Cintaku Terhalang Kelamin,” diuraikan dengan gaya drama abu-abu – jika tidak boleh dikatakan semi-stensil ^_^

AKU MENCINTAINYA oleh yosi_hsn

Cerita ini digarap dengan apik oleh penulisnya. Aliran kata-kata cukup terjaga mood-nya dan diksi tersusun rapi. Sang penulis pun cukup memiliki kesabaran dengan membuka informasi cerita secara bertahap sembari dibumbui selingan flashback/uraian profil tokohnya.

Hanya saja, aku merasakan tema yang diusung cenderung klise, yakni tentang “Salahkah mencintai sesama jenis?”. Di samping itu, aku sebenarnya merasakan kebiasan penulis untuk memfokuskan arah cerita ini. Pada bagian awal kisah muncul kesan bahwa kisah ini berfokus pada Ares dan Fuji, terutama Ares yang apapun sikapnya akan menjadi unsur penting dalam cerita bahkan menjadi penyelesai konflik dalam cerita. Tapi kemudian cerita berpindah fokus pada masalah konflik Fuji versus orangtua yang tak menyetujui “model” perasaan yang dimiliki Fuji. Dan terakhir fokus cerita ada pada audisi resital Fuji.

Sebenarnya, kalau kita kembali kepada judul, kita pun akan sama memaklumi bahwa cinta Fuji terhadap Tezar lah yang menjadi penyambungnya. Tapi kedudukan Tezar dalam cerita pun tampak tidak kuat. Aku menengarai bahwa kisah yang disajikan dalam bentuk penceritaan ulang dari seorang tokohlah penyebabnya. Hal ini menyebabkan pembaca tidak bisa melihat secara langsung konflik yang terjadi dalam keluarga itu plus Tezar. Yang diperlihatkan secara langsung justru hanya tentang bagaimana persuaan kembali Tezar dengan anggota keluarga musisi itu, sementara saat terjadinya konflik, yang menurutku penting, cenderung diceritakan ulang secara naratif saja.

Dengan kata lain, fokus yang ingin ditunjukkan melalui cerita ini tampaknya terlalu kompleks untuk sebuah cerpen.

Kemudian tentang latar cerita. Terus terang aku bingung menengarai cerita ini berpijak di mana. Saat membaca bagian awal cerita, kupikir kisah ini berlatar di Indonesia, atau setidaknya tentang orang Indonesia. Tapi saat membaca bagian akhir, baru aku tahu nama lengkap Fuji adalah Harera Fujiko yang identik Jepang sekali. Tapi persoalannya, aku tak menemukan sedikit pun nuansa lokal yang menunjukkan bahwa ini terjadi di Jepang, atau setidaknya terjadi pada keluarga Jepang. Pun tidak terjejak kemungkinan cerita ini terjadi pada sebuah keluarga blasteran – yang dapat menjadi keterangan tambahan mengapa nama anak-anak dalam keluarga itu berasal dari berbagai latar budaya dunia.


CINTAKU TERHALANG KELAMIN oleh dhika moreno

Cerita ini lain lagi. Penulisnya sepertinya tak hendak membawa kisah ini pada pergulatan tentang salah/benarnya hubungan sesama jenis. Ia lebih menekankan pada sensasi yang dialami seorang tokoh dari perjumpaan pertama dengan sesama jenis, kemudian jatuh cinta, hingga akhirya mengikuti permainan sang Cinta sekalipun tetap sadar bahwa hubungan mereka hanyalah fana.

Dan sekali lagi kubilang, gaya bahasa tulisan ini abu-abu/semi-stensil mengingat ada banyak ungkapan “menggemaskan” dan “adegan ranjang”-nya. Tapi untunglah penulis tak berniat menggiringnya menjadi fiksi cabul, karena ia menggambarkannya dengan cukup “sah-sah” saja.

Hanya saja, (lagi-lagi) aku merasakan kebiasan fokus cerita. Jika membaca model tuturannya, akan tampak kiranya ia ingin menggunakan teknik cerita “menyembunyikan- dahulu- identitas- si- tokoh- baru- kemudian- membukanya- di- akhir- kisah- sebagai- kejutan- bagi- pembaca.” Tapi pemilihan judul yang sudah kepalang menunjukkan identitas si tokoh ini pun sudah jauh-jauh mementahkan dugaan ini.

Menengarai cerita ini menggunakan teknik “membeberkan- identitas- pelaku- dulu- baru- menyajikan- dramanya- kemudian” pun rasanya tak terlalu kelihatan, mengingat drama dalam kisah ini tak terlalu dieksplorasi.

Yang lebih menjadi perhatianku adalah kurangnya penggambaran kedua tokoh dalam cerita ini. Entahlah, tapi rasanya bagiku penggambaran ini perlu untuk makin mendekatkan cerita pada pembacanya, seperti misalnya sesuatu yang menggambarkan apakah kedua tokoh ini tampak seperti lelaki tulen biasa, atau salah satunya kebanci-bancian, atau justru salah satunya berperawakan banci.

Segitu aja kali ya. Maaf kalau ada salah-salah kata dan analisa.
Peace!! ^_^ V

Read More...

Resensi Prosa 'Pekerjaan Iin'

Thursday, January 24, 2008 | Labels: , | 0 comments |

Oleh Amalia Suryani

Pekerjaan Iin oleh yosi_hsn

Cerita dengan pesan bijak di dalamnya tanpa berlagak menggurui. Cerita seperti inilah yang disukai banyak orang sebab dimana-mana orang tidak suka digurui (orang cenderung merasa diri ini sudah tahu banyak hal atau lebih tahu daripada orang lain).

Cerita ini berjalan dengan sederhana dan alurnya rapi. Sekali lagi, jenis tulisan yang tidak terburu-buru untuk sampai pada akhir cerita.

“Pekerjaan Iin” menampilkan sisi kehidupan pembantu rumah tangga yang jarang dibicarakan (bukan PRT-nya yang jarang, tapi sisi “pandangan PRT pada majikannya” yang jarang dibahas). Tanpa menempatkan kedua karakter itu dalam peran antagonis atau protagonis.

Keduanya adalah manusia biasa dengan karakter sewajarnya. Bu Sudi sebagai majikan dan Iin sebagai pembantunya. Meski cerita ini memilih sudut pandang Iin, saya yakin penulis bisa menceritakan sudut pandang Bu Sudi dengan menarik juga.

“Bukan lingkungan yang harus berubah untukmu, tapi kau yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan itu.”

Dalam konteks “Pekerjaan Iin”, pesan itu pas disampaikan sebagai penutup cerita. Kata “menyesuaikan” tentu dipilih dengan hati-hati. Hanya saja kata tersebut bisa berarti ganda; 1) lingkungan tidak perlu berubah, kita lah yang berubah dan 2) lingkungan tidak perlu berubah, kita toleran. Yang diambil Iin adalah yang kedua, saya rasa.

Tapi pernyataan semacam ini tidak bisa berlaku untuk konteks yang berbeda sebab kadang kita perlu bersikap “steady”, tidak terbawa suasana, tidak terbawa lingkungan yang tidak sesuai dengan nurani kita. Namun sekali lagi, hal itu berlaku di konteks yang sama sekali berbeda dengan yang dialami Iin.

Read More...

Resensi Prosa 'Lonte?'

| Labels: , | 0 comments |

Oleh Amalia Suryani

Lonte? oleh Ananda

Daya tarik LONTE adalah si penulis tidak menjelaskan apa itu “lonte” pada pembaca sampai akhir cerita. Pembaca dipaksa untuk menerjemahkan sendiri (bagi yang belum tahu istilah lonte) dan dibuat penasaran (bagi yang sudah tahu) bagaimana si penulis akan mendefinisikannya.

Cerita ini lucu. Ada fakta-fakta tersembunyi yang sangat menarik. Saya sih tidak tahu fakta itu sengaja dibuat samar atau sebenarnya tidak ada artinya. Yang jelas menurut saya menarik sekali.

Pertama. Fakta bahwa tokoh Ririn mendapat istilah “lonte” dari ayahnya. Kenapa ayahnya menyebutkan kata “lonte” di depan anaknya? Sengaja atau tidak?

Kedua. Si Ayah mengucapkan “kamu lonte, dasar anak lonte!”. Yang ini juga menarik sebab sepertinya menjelaskan alasan tidak adanya karakter Ibu di cerita ini. Jangan-jangan memang ibu Ririn memang seorang lonte.

Ketiga. Penulis tidak terburu-buru menjelaskan arti “lonte” untuk pembaca. Saat Ririn bertanya pada teman-temannya, penulis tetap bertahan tidak membeberkan definisi “lonte” dengan mudahnya. Bahkan Ibu Guru juga tidak berbaik hati memberitahu Ririn apa itu “lonte”, dan tidak repot-repot melarang Ririn menyebut dirinya “lonte”. Dengan lugunya, Ririn dibiarkan mengartikan sendiri “lonte” menurut pemahamannya sebagai anak umur enam tahun.

Kalau diminta menyebutkan kelemahan cerita ini, saya terpaksa bilang agak kecewa saja dengan ending-nya. Bukan karena masih tidak terpapar apa itu “lonte”, tapi karena kejadian Ririn memanggil seorang perempuan seksi dengan sebutan “lonte”. Padahal sebelumnya Ririn mengartikan “lonte” sebagai senyum manis, sementara Kakak Seksi tidak digambarkan sebagai orang yang manis, melainkan seksi.

Sepertinya cerita ini bakal lebih menarik kalau Ririn menyebut seorang Kakak Manis dengan sebutan “lonte”, hingga si Kakak Manis tersinggung dan terluka hatinya dikatai “lonte” oleh seorang anak kecil.

Read More...

Resensi Puisi 'Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas'

| Labels: , | 1 comments |

Oleh Nanang Suryadi

Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas oleh gheta

Sajak ini berjudul: Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas. Dari judulnya, penulis menggiring pembaca untuk masuk ke dalam sebuah dongeng atau cerita. Sesuai dengan judulnya, sajak ini memang bercerita. Penulis menarasikan tentang suatu kejadian, yaitu tentang ritual mandi. Mengapa mandi menjadi suatu ritual? Jika ritual diterjemahkan sebagai suatu hal yang wajib dan rutin dilakukan dengan urut-urutan yang sama, mungkin memang dapat dikatakan bahwa mandi merupakan ritual bagi seseorang. Mari kita simak sajak Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas.

Kulit lusuh dengan keringat tersimpan rapi di tiap lipatannya
Setibanya ia mengurus pemakaman rutin hari hari
Ia segera bergegas menjambak handuk yang terlipat di atas pembaringan tua
Penat terlihat sekali mulai dari lutut sampai siku hidup
Matahari sejak tadi setia menggiring, kini hanya sedikit mengintip
Ritual sebelum mandi segera dikerjakan, kulitnya dikuliti
Sedikit demi sedikit dari kulit kepala sampai kulit kemaluan
Ritual mandinya belum tuntas
Kulit kaki belum lepas
Nanti malam masih dipakai jalan

Macul,14 Maret07

Dalam sajak ini siapa subyeknya? Pada baris pertama, hanya muncul “kulit lusuh”. Apakah “kulit lusuh” sudah mencukupi, sepertinya tidak. Mungkin, akan lebih baik jika dimunculkan “subyek” yang memiliki “kulit lusuh” ini, di awal sajak. Karena akan menjadi ganjil ketika sang subyek alias “ Ia” muncul tiba-tiba di baris kedua dan baris ketiga. Secara teknis, susunan kalimat atau frasa masih perlu diperbaiki. Misalnya kalimat: Setibanya ia mengurus pemakaman rutin hari hari. Apa yang kurang dari kalimat ini? Mungkin pembaca dapat menunjukkannya jika melihat dengan menggunakan kadiah berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Menurut saya, sajak ini dapat menjadi lebih bagus lagi, jika penulisnya mau mencoba untuk masuk ke dalam sajaknya tersebut dan membuang hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Saya sangat menghargai kemauan penulisnya untuk mencoba menciptakan frasa-frasa unik, misalnya: “keringat tersimpan rapi”, “siku hidup” Permainan bunyi juga sudah terasa, misalnya: “penat terlihat” namun masih kurang dikembangkan.

Begitulah kesan saya pada sajak ini.

Read More...

Lomba Cerpen 100 Kata dan Puisi

Monday, January 14, 2008 | Labels: | 1 comments |

Hampir bisa dipastikan bahwa semua hal yang pertama adalah yang tidak akan pernah terlupakan. Siapa yang bisa melupakan cinta pertama, hari pertama masuk kerja, ciuman pertama, pertama kali bisa belajar mobil, gaji pertama atau perjalanan pertama keluar negeri? Hmm, ‘yang pertama’ memang selalu berkesan walaupun kejadiannya tidak melulu yang indah-indah.

Seperti halnya saya, dua minggu yang lalu ada yang meng-add saya di friendster, namanya Princessa. Awalnya saya cuek, lha wong memang banyak yang nge-add kok akhir-akhir ini. Ketika saya buka, ternyata apa, dia cinta pertama saya waktu SMP. Wah, berbunga-bunga rasanya hati ini. Bagaimana dia bisa menemukan saya? Bagaimana dia bisa tau alamat email atau account saya? Sampai sekarang dia belum membalas pesan saya seiring approval yang segera saya berikan segera sesudahnya.

Begitu magical-nya ‘yang pertama’, sampai-sampai menginspirasi banyak karya seperti; Cinta Pertama (film karya Nayato Fio Nuala), Pandangan Pertama (lagu yang dipopulerkan A. Rafiq), First Love (lagu yang dipopulerkan Utada Hikaru) dan masih banyak lagi! Begitu juga dengan situs komunitas kemudian. com yang akan merayakan ulang tahun pertamanya, plus ada seminar dan workshopnya juga.[hp]

Untuk lebih memeriahkan eforia ini, kami ingin mengajak kemudianers untuk berbagi kisah ‘yang pertama’. Mari bermain dengan rasa dan aplikasikan ke dalam kata-kata. Ikuti lomba cerpen 100 kata dan puisi PERKOSAKATA 2008. Panitia menyediakan hadiah menarik dari kemudian untuk kemudian.

Tema:
“Yang Pertama”

Persyaratan:
  • Tercatat sebagai member Kemudian.com
  • Telah memiliki minimal 5 postingan cerpen/ puisi


Pelaksanaan:
  • Cerpen/ Puisi diposting di Kemudian.com dan dikirimkan melalui email dalam bentuk body mail (bukan attachment) ke kopdar2@kemudian.com dengan subjek ‘LOMBA CERPEN’ atau ‘LOMBA PUISI’, paling lambat tanggal 10 Februari 2008, dengan format sebagai berikut:

[Nickname di Kemudian.com]
[Nama asli]
[Alamat lengkap, khususnya bagi domisili luar Jakarta]
[No. telp]
[Isi cerpen/ puisi]

  • Pengumuman pemenang akan diumumkan di forum Kemudian.com dan blog Perkosakata pada tanggal 20 Februari 2008
  • Bagi pemenang yang berdomisili di Jakarta, hadiah dapat diambil pada acara Bincang Kemudianers Perkosakata 2008, tanggal 24 Februari 2008
  • Peserta dapat mengirimkan maksimal 2 karya cerpen/ puisi


Kriteria Penilaian:
  • Karya yang disertakan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain.
  • Karya berupa karya asli member, bukan hasil saduran atau terjemahan.


Juri Cerpen 100 kata:
Sefryana Khairil
Nuke 'V1vald1'
Krisna 'Neko no Oujisama'

Juri Puisi:
T.S. Pinang
Dino F. Umahuk

Hadiah:



*Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat
*Lomba ini tidak berlaku untuk panitia Perkosakata 2008

Read More...

DEPRESSED DIASPORA OF THE WORLD UNITE!

| Labels: , | 0 comments |

Oleh Mikael Johani

In the Cold November Rain
The Bus Driver’s Wife
Five Minutes
Oleh
FrenZy

Not only are these stories written in English, they’re set outside Indonesia, the first in London, then Brisbane, and Melbourne.

Gets rid of one problem: something that sometimes Laksmi Pamuntjak (say) struggles with in her English poems/short-stories. Like I’ve written and pointed out so many times here. I’m sick of it myself, if you write in English about Hotel Grand Menteng, would you say it’s a ‘love-motel’, as Laksmi does, taking a run-o-the mill Ameringlish idiom to describe something Indonesian, or use a term like ‘check-in place’ since that’s what we Indonesians call it? Not idiomatic English perhaps, but isn’t it more real? What is real? What use is real in fiction?

But I’m not gonna talk about language, it’s boring. Sure there are some awkward expressions, like ‘resisting my desperation to choke out loud’ (Cold November Rain) or ‘this whole ticket buying scheme had finally been mastered’ (The Bus Driver’s Wife), but you’d get that even in something written by a budding writer from Toorak, nothing that a good editor can’t fix. (If indeed it needs be fixed.)

The first story is actually nowhere near as horrendous as the title suggests—the infamous Guns N’ Roses operock video, though like the song, the story is also about unrequited love. At one page nowhere near as epic of course.

A woman sitting in a room in ‘depressing London weather in November, the unfriendly humid air poisoning my oily skin’ (depressing London weather is a bit of a tautology, but the real problem/the problem of the real in this sentence is ‘the humid air’, how could it be humid in London, in early winter? Is it the cheap Tesco heater that makes your hands and feet all clammy? Problem of verisimilitude. But why is this problematic? Or is it? I guess if this were a sci-fi short set in post-apocalyptic global-scorched London then I wouldn’t have batted an eyelid on ‘humid London November’, but as we shall see, this story is basically a realist vignette, and in a slice-of-life I guess it’s reasonable that we expect the life to be as we know it.), ‘wrapped in a dirty bath towel, chain smoking’, staring at ‘a bottle of painkillers’ on (probably) top of the sink.

So the woman is depressed. But she was ‘too wound up to care.’ Then it turns out that she’s too wound up because she cares too much. For ‘the motionless body next to me. A man’s body.’ They’d fucked two hours ago after he turned up on her doorstep and he: ‘I need you’, and she: ‘You need a place to stay.’ Funny. Then she: ‘I love you,’ then he: ‘Thank you.’ A bit more standard dark humour, but believable.

Then the answers for all the dark humour, the painkillers, the depressing London scene: ‘Will your wife come looking for you? Will you say goodbye and never come back?’ Like Axl said, nothing lasts forever / in the cold November rain, but perhaps, some things do, like a sob story set in grey London.

The second story, perhaps the most interesting, begins with the simple, short, sentence ‘The bus driver is my best friend.’ Which somehow sounds kinda depressing. Bus driver? What about a stripper? And it gets worse, ‘He is an old man nearing his sixties, … a Russian-Australian, … his Australian accent is very thick since he spends most of his life in Brisbane, … with a nametag that says Steve.’ Perhaps the most depressing thing is that nametag, what’s wrong with Stefanovich, why would you try so hard to fit in to Brisbane, land of tight stubbies and Bir Bintang singlets, why would you move to Brisbane at all?

They’d become friends because when the narrator, a girl, moved to Australia, she was ‘dominated by fear and loneliness’ (in Brisbane, wouldn’t blame ya girl), and Steve likes to chat about his sad bus-driving life, bad pay, unhappy wife, the usual sob story. But the narrator thought Steve was ‘very different. … unlike the other grumpy bus drivers who shout at foreigners.’ Aha! Maybe because Steve was a foreigner himself! A depressed diaspora just like the narrator!

Misery loves company especially when it’s a young probably pretty Asian international student. Or a granddad who happily listens to a pretty Asian international student’s stories of her ‘need to get away from a very bad breakup’ and her subsequent loneliness (girl on the rebound!). Then one night Steve told rebounding girl he was gonna quit his job, wife was leaving him because he was, yes, a total loser, and he might just as well pack his bags and move back to Russia.

Nyet! thought rebound girl.

‘I’m just an old man, what do I have except a rusty bag and a passport?’
‘You have love.’
‘No, dear. We have memories.’

And as if the thought of soldiering on in life in snowy Ukraine with a bag full of memories of hot summer afternoons in Brisbane verandahs was way too depressing, this story ends with Steve’s wife getting on the bus at the last stop as narrator girl gets off. Reconciliation.

‘What am I to know all about love? I do not even have love. My ex boyfriend is an emotional abuser and I have given up on love a long time ago.’ (Narrator girl’s monologue, all in her head.) But girl, from the ending you’ve given us, looks like you really haven’t.

The third story, ‘Five Minutes’, about a man who, accompanied by a kid, observes and bitches about people in a park ‘in the heart of Melbourne’, and the kid turns out to be the man’s imaginary friend and the man turns out to be a geriatric granddad suffering either from Alzheimer or multiple sclerosis that has left him ‘unable to speak and move, all I can do is feel,’ (some people have all the luck) I thought must’ve been written by the same author who wrote ‘In the Cold November Rain’ since both titles were accompanied with the date of writing ‘January 2007.’ Not only that, in ‘Five Minutes’ the author wrote that ‘people scurry through … to get to the tube station.’ But the tube is in London, in Melbourne it’s the train. (Or the tram if you wanna be all romantic and olde-worlde.)

That problem of verisimilitude again. Perhaps the author mixed up his/her memories of London and Melbourne and the two cities merge into one. (After all, Melbourne is the one city in Australia with European pretensions, though it’s Paris they aim for, what with the parks, the sidewalk cafés et al., and it rains there the whole time too.) But I imagine a Melburnian would object to see his ordinary train station be written as ‘the tube’, and this brings me back to Laksmi Pamuntjak: so why shouldn’t I complain that she calls Hotel Grand Menteng (say) with the pissweak appellation ‘love motel’? We’ve already got ‘check-in place’, why not use it? What is wrong with the more real?

The imaginary kid disappears and the story ends. Which makes me think: these are all depressing stories, but I like them much more than the sugar-coated inspirational stories millions of people bought in Andrea Hirata’s Edensor. (About his student days in Paris dan sekitarnya.)

Read More...

Beberapa Catatan Kecil -- yang mungkin tak penting

| Labels: , | 0 comments |

Oleh Gunawan Maryanto

Butterfly Kisses oleh noir

Membaca Butterfly Kisses, aku tak menemukan sebuah cerita yang tumbuh. Aku hanya menemukan sebuah info: “aku rindu padamu”. Tak ada lagi yang lain. Rindu itu pun tak tumbuh. Tak mengembang. Mati (bahkan sebelum kalimat terakhir).

Jika tak ada cerita (memang tak ada keharusan bercerita), aku pun mencari cara bercerita. Sayangnya, tak ada. Yang ada adalah keterbata-bataan dalam berbahasa, kegenitan (sok indah, sok puitis), bahkan ketersesatan bahasa. Di beberapa kalimat aku terpaksa berhenti untuk mencoba memahami apa yang sebenanya penuliskan ingin sampaikan. Seperti dalam:

  • Sms-sms bertaburan rayu dan canda berterbangan.
  • Jadikan lamunan bertepi harap akan temu.
  • Ini bukan lagi mimpi tergusah ketika pagi menjelang, melainkan keterpenuhan begitu erat.

Keinginan penulis untuk menyusun kalimat-kalimat yang puitik dan menyentuh justru membuatnya tersesat (tak puitik dan tak menyentuh).


La Preghiera oleh KD

Paragraf-paragraf awal cerita ini tak menarik. Aku (pembaca) merasa dibodohi—tentu ini bukan maksud dari si penulis. Penanaman informasi yang seenaknya sendiri yang membuatku, sebagai pembaca, merasa direndahkan.

Baca:
  • Baru saja ia selesai menyisir rambutnya. Rambut? Ya! Tentu saja dia memiliki rambut.
  • Ia hanya mengikuti dress code yang ditentukan. Benar! Setiap penampil pada malam ini harus memakai pakaian bernuansa hitam

Terbaca sebenarnya bahwa penulis memiliki banyak hal yang ingin diceritakannya, tetapi malas mencari jalan menceritakannya. Informasi demi informasi berloncatan begitu saja, hampir-hampir tak tertata. Asal-asalan. Asal pembaca ngerti. Titik.

Baru ketika memasuki tubuh cerita, aku mulai bisa menikmati. Meski tetap saja aku merasa si penulis sangat pelit dalam membagi ceritanya. Mungkin malas, mungkin tak lancar berbahasa. Agak aneh juga, tukang cerita tapi malas bercerita.

Bagiku La Preghiera belum menjadi cerita. Ia masih kerangka cerita.


Surga Aku Mau!!! oleh za_hara

Sebagai sebuah cerita Surga Aku Mau!!! cukup menarik. Sayang, si penulis tak cukup serius dalam menggarapnya. Bagiku menulis adalah sebuah pembacaan atas kenyataan dan menyatakan kembali kenyataan tersebut. Menulis bukan mengarang, asal aneh, asal nyentrik, asal-asalan.

Cerita ini memiliki potensi dalam memotret kenyataan yang belakangan ini memang sedang mencuat: agama baru, nabi baru, kepercayaan baru. Sayang, cerita ini ‘hanya’ menghadirkan kenyataan itu begitu saja. Tak mengolahnya. Tak memperkayanya. Cuma sepenggal—masih mirip dengan kabar angin. Selebihnya adalah karangan, imajinasi liar, fiksi yang tak kuat.

Benar, cerita pendek adalah sebuah karya fiksi. Tapi fiksi di sini adalah fiksi yang mengungkap kenyataan. Bukan hanya fiksi.

Read More...

Satu Makam Untukmu, Satu Makam Untuk Siapa?

Friday, January 11, 2008 | Labels: , | 0 comments |

Oleh Adi Toha

Satu Makam Untukku oleh eggiedwiananda

Bagus atau tidaknya sebuah cerita, menarik atau tidaknya sebuah kisah yang dituliskan dalam bentuk cerita pendek bagi pembaca secara individual, adalah murni masalah selera. Tapi, selera bukanlah sesuatu yang sama sekali tidak bisa diperdebatkan. Permasalahan selera bergantung pada sejauh mana pengalaman dan pengetahuan baca seorang pembaca dan apakah pembaca menemukan semacam cerminan kisah ataukah setidaknya pembaca menemukan hiburan atau hal lain yang dianggap berguna dan layak untuk mengisi ruang penyimpanan dalam ingatan masing-masing pembaca.

Dari keempat prosa yang saya terima di email saya, terus terang keempatnya kurang membuat saya terkesan dan tidak membuat saya ingin mempertahankan keunggulan cerita andaikata ada yang menilai bahwa cerita-cerita tersebut tidak bagus. Baik atau buruk keempat cerita tersebut, jika ada yang menilainya, saya akan mengamini keduanya.

Namun tetap, saya harus memilih setidaknya satu untuk dijadikan bahan perkosaan. Saya memilih cerita berjudul “Satu Makam Untukku”, bukan karena cerita ini lebih unggul daripada cerita yang lain. Pilihan lebih disebabkan karena cerita ini mengambil lanskap surealis, berbeda dengan ketiga cerita lain yang mengambil lanskap realis. Kisah-kisah surreal sangat menarik perhatian saya, terutama yang bertema kematian, kegilaan dan penderitaan.

Dalam lanskap surreal, segala bentuk latar, peristiwa dan unsur-unsur pembangun cerita dirangkai sedemikian rupa untuk menyampaikan maksud pengarang dengan karyanya, meski kadang, setelah semua unsur tersebut terbangun dengan sempurna, maksud pengarang menjadi lebur dalam maksud cerita.

Cerita yang berjudul “Satu Makam Untukku” dibuka dengan kedatangan seorang lelaki ke sebuah pemakaman umum. Tidak diketahui siapakah lelaki itu, mengapa ia masuk ke pemakaman umum, dan di kota atau di manakah pemakaman umum itu berada. Hanya dituliskan: “Lelaki itu masuk saja ke tempat pemakaman umum. Langkahnya mirip pemabuk yang sangat sadar. Ditelusurinya rumput-rumput kering yang bercampur debu merah. Ditendang, ditendang, ditendang hingga mengepul sejenak, lantas menyerbu wajahnya seperti tawon yang sarangnya diganggu. Ia tidak peduli.” Membaca kalimat selanjutnya, saya memindai bahwa lelaki itu adalah gila, setidaknya menderita gangguan kejiwaan, atau dilanda kebingungan. Indikasi kegilaannya terlihat di kalimat-kalimat berikut: “Terus dan terus ia menelusuri dalam terik. Mencari-cari, tapi tak tahu pasti apa yang sedang ia cari.” Dan semakin dipertegas dalam kalimat berikut: “Ia digigit, tersengat oleh semut-semut yang ketakutan oleh gempa bumi. Tapi tak ada sakit. Rasa telah tiada, karena jiwa telah musnah.”

Namun di sisi lain, pengarang ingin menunjukkan bahwa tokoh lelaki yang diceritakannya tidak sepenuhnya gila, kalaupun gila, setidaknya lelaki itu bukanlah orang gila biasa. “Ia pun berpikir, apa yang sebaiknya ia cari? Ia mulai menentukan keinginannya. Ia menginginkan seorang yang tidak berumur. Manusia yang tidak digigit waktu, diguyur pengalaman, didera racun pemikiran”. Bagaimana bisa orang gila biasa berpikir untuk mencari nisan seseorang yang tidak berumur? Dan kenapa dia memutuskan untuk memilih nisan yang tidak berumur, belum berpengalaman hidup, dan belum didera bermacam-macam pemikiran? Salah satu kemungkinan alasannya menurut saya adalah bahwa lelaki tersebut mengalami kekecewaan dengan yang namanya waktu, pengetahuan/pengalaman, dan pemikiran. Ia kecewa dengan waktu, karena mungkin, semakin waktu berjalan ia semakin menderita, semakin berumur hidup seseorang, ternyata tidak membuat seseorang menjadi lebih baik, dewasa dan bijak, waktu demi waktu hanya menambah kekecewaan demi kekecewaan dan kegagalan demi kegagalan. Ia kecewa dengan pengetahuan/pengalaman, karena mungkin, pengetahuan/pengalaman tidak membuatnya lebih bahagia, pengetahuan/pengalamannya justru membuatnya lebih menderita. Dan ia kecewa dengan pemikiran –yang disebutnya sebagai racun- karena mungkin ia melihat –dalam rentang waktu usianya- bahwa pemikiran-pemikiran manusia di sekelilingnya tidak ada bedanya dengan racun yang menggerogoti dirinya, sampai membuatnya menjadi gila, atau ia tidak setuju dengan pemikiran-pemikiran tersebut tetapi ia tidak punya kuasa atau kekuatan untuk menandinginya.

Anehnya, ketika lelaki itu menemukan sebuah makam bayi yang tanggal kelahiran dan kematiannya sama (tidak berumur), lelaki itu berpikir “Mungkin jika ia diberikan umur, ia akan menjadi gadis yang baik dan sayang kepada orang tua”. Di sini terlihat inkonsistensi pengarang dalam menggambarkan tokohnya. Bagaimana mungkin tokoh yang sebelumnya menginginkan untuk mencari nisan yang “..tidak berumur. Manusia yang tidak digigit waktu, diguyur pengalaman, didera racun pemikiran”, setelah menemukannya kemudian berpikir jika seandainya nisan itu berumur, hanya karena ia membaca nama bayi itu “Sri Rahayu” yang menurutnya indah.

Pada paragraf: “Kenangan-kenangan tentang masa lalu pun kembali berputar. Ia ingat kekasihnya yang ingin menikah dan punya anak. Tapi, karena keadaan sosial yang belum dapat menerima, akhirnya kisah cinta mereka menjadi ternoda. Noda itu sudah berusaha dicuci, tapi tetap saja meninggalkan bekas. Lantas bekas itu menjadi huru-hara yang tak kunjung padam setiap harinya. Perjuangan untuk mempertahankan pun akhirnya sirna. Hilang tanpa bekas. Mungkin Sri Rahayu tidak akan pernah membuat huru-hara.” Pengarang mulai menunjukkan mengapa lelaki itu menginginkan nisan yang tidak berumur, lebih disebabkan karena ia mengalami kekecewaan dengan kisah cinta masa lalunya. Namun, di sini terlihat ada usaha pengarang untuk menyederhanakan cerita, yang sayangnya membuat cerita menjadi sangat klise. Seperti apakah “keadaan sosial yang belum dapat menerima” kisah cinta lelaki itu. Jika pada akhirnya lelaki itu kecewa dengan “waktu”, saya pikir, permasalahannya bukan sekedar “keadaan sosial”. Akan lebih mengena jika “keadaan sosial” diceritakan lebih jauh.

Pada paragraf berikutnya juga masih terlihat penyederhanaan yang sama. “Lelaki itu pun kembali teringat dengan keluarga. Kumpulan darah dagingnya yang hidup dengan topeng dan perasaan paling suci diantara semua. Karena tidak kuat mengikuti perasaan suci yang dimiliki oleh keluarganya, akhirnya lelaki itu pergi menggelandang dan memutuskan menjadi setan saja. Menjadi kafir-kafir sekafir-kafirnya. Namun terus berdoa supaya hanya manusia saja yang mengkafirkannya, jangan Tuhan. Ia terus berharap dalam kekafirannya, Tuhan tidak mengkafirkannya. Berharap dan terus berharap.” Saya menjadi bingung. Di paragraf sebelumnya, lelaki itu teringat kekasihnya yang ingin menikah dan punya anak, namun “keadaan sosial belum dapat menerima”. Jika kemudian lelaki itu teringat dengan kumpulan darah daringnya, saya mengasumsikan bahwa lelaki tersebut lebih memiliki setidaknya dua keturunan, entah dari siapa, dari kekasihnya yang ingin menikah dan punya anak –yang diceritakan di paragraf sebelumnya- ataukah dengan orang lain yang tidak diceritakan. Jika “kumpulan darah daging” di sini dimaksudkan untuk merujuk kepada keluarga si lelaki, pengarang telah dengan tergesa-gesa memilih diksi. Di sini juga terlihat hubungan si lelaki dengan keluarganya, bagaimana akhirnya lelaki yang keluarganya “hidup dengan topeng dan perasaan paling suci”, memilih menjadi setan dan menjadi kafir sekafir-kafirnya. Sayangnya, pengarang tidak menunjukkan bagaimanakah pilihan tindakan yang dilakukan lelaki itu yang bisa dikatakan kafir sekafir-kafirnya, sehingga pada akhirnya semua yang dituduhkan oleh pengarang kepada lelaki itu atau kepada keluarganya menjadi mentah dan sangat memihak.

Lalu tiba-tiba hujan datang. Hujan yang menjadi-jadi, yang seakan mengerti kesedihan lelaki itu. Hujan yang meskipun telah diperintahkan untuk berhenti oleh lelaki itu, malah membalas: “Aku sudah tidak bisa berhenti! Biar. Biar saja mereka terdzalimi! Biar saja! Engkau sudah jauh dihancurkan oleh mereka! Ini adalah keadilan!“ Rupanya hujan ingin menjadi penegak keadilan bagi lelaki itu. Begitu hebatnya lelaki itu sampai-sampai hujan membelanya.

Selanjutnya pengarang menggambarkan keadaan pemakaman setelah hujan. “Mayat-mayat yang masih dikafani mengapung di permukaan air dari makam yang tenggelam. Lelaki itu takjub melihat satu persatu muncul mayat dari dalam air. Wajah mereka pucat pasi. Rautnya menggugat kenapa mereka tidak pernah dikunjungi. Mereka tidak butuh kunjungan basa-basi di sebelum bulan suci. Mereka marah dan meminta ganti rugi.” Demi membuat kesan puitik, pengarang melupakan logika cerita. Begini, “Mayat-mayat yang masih dikafani“, saya asumsikan mayat-mayat tersebut masih baru. “Wajah mereka pucat pasi“, berarti mayat-mayat tersebut masih tampak memiliki wajah. Nah, bagaimana bisa mayat-mayat yang masih baru dan memiliki wajah tersebut “Rautnya menggugat kenapa mereka tidak pernah dikunjungi. Mereka tidak butuh kunjungan basa-basi di sebelum bulan suci. Mereka marah dan meminta ganti rugi”?

Berapakah batasan waktu “tidak pernah dikunjungi” yang dimaksudkan pengarang? Jika mayat-mayat itu “tidak butuh kunjungan basa-basi di sebelum bulan suci” asumsinya adalah bahwa mereka setidaknya pernah mendapat sekali kunjungan basa-basi itu. Nah, kunjungan basa-basi itu terjadinya setiap satu tahun sekali. Bisa dibayangkan bagaimana rupa mayat setelah satu tahun, apakah masih berwajah, apakah kain kafannya masih utuh? Di satu sisi, dengan usaha puitiknya pada paragraf tersebut, pengarang ingin mengkritik perilaku orang-orang yang hanya mengunjungi pemakaman setiap sebelum bulan suci, itupun dilakukan dengan basa basi.

Selanjutnya, latar peristiwa dalam cerita ini berubah, dengan media transisi berupa banjir yang menyeret tokoh utama keluar dari latar sebelumnya ke latar berikutnya, yaitu jalan –jalan raya, jalanan, jalan kota. Tokoh utama menjadi menjadi saksi peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika banjir melanda, bagaimana masing-masing orang berenang menyelamatkan diri, bagaimana ia melihat seorang pria berdasi yang terpenjara dalam mobilnya sendiri, dan ia ingin menolongnya tapi tak bisa, bagaimana ia menyaksikan seluruh kota akhirnya terendam, bagaimana ia melihat seorang perempuan yang histeris mengguncang pundak seorang Kiai, namun Kiai tersebut rupanya tidak bisa berbuat apa-apa, dan tenggelam.

Ada yang janggal di bagian ini: “Air kini sudah selutut patung pancoran”. Sedari awal, latar kota tidak disebutkan di kota mana, apakah kota yang nyata ataukah kota khayal. Hal ini membebaskan pembaca untuk membayangkan latar kota mana saja. Namun tiba-tiba, seolah kebebasan pembaca dibetot untuk meyakini bahwa latar peristiwa adalah di Jakarta, mulai dari pemakaman sampai di jalan-jalannya. Dengan kalimat tersebut, seolah pengarang juga ingin lebih meyakinkan yakin pembaca bahwa banjir yang terjadi sangat tinggi, tidak cukup hanya dengan kalimat “Seluruh kota pun telah terendam” di paragraf sebelumnya.

Terlihat bahwa pengarang ingin memasukkan unsur kritisisme sosial dalam karyanya. Orang berdasi yang terpenjara dalam mobilnya sendiri adalah sebuah perumpamaan orang-orang kaya –pengusaha, birokrat, pejabat, konglomerat- yang tidak dapat melakukan apapun dengan harta dan kekayaannya untuk menyelamatkan diri dari bencana dan kematian. Seorang perempuan yang mengguncang pundak seorang kiai adalah perumpamaan orang-orang lemah yang mencari jawaban atu bersandar pada keyakinan agama semata, dalam memandang keadilan dan bencana. Meskipun perempuan tidak selamanya berarti orang-orang lemah, namun secara tidak sadar, pengarang memposisikan perempuan sebagai kaum lemah dan teraniaya. Jika hal ini ternyata salah, lantas mengapa pengarang memilih sosok perempuan, bukannya sosok lain. Di sisi lain, pengarang juga meninggikan sosok perempuan. Dari balik kelemahannya, perempuan menyimpan kekuatan yang luar biasa dalam berpacu tangisan dengan hujan menimbulkan banjir yang lebih besar. Dan seorang kiai yang akhirnya hanya melihat ke langit dan menundukkan kepala, tenggelam adalah perumpamaan tokoh agama yang tidak bisa berkutik menghadapi bencana dan kematian.

Cerita diakhiri dengan menghilangnya sosok lelaki entah kemana, meninggalkan kota yang semakin gelap dan dipenuhi ketakutan. Narasi akhir “Mungkin juga ia tenggelam dan masuk ke dalam makam yang tersedia untuknya”. Bukanlah lelaki itu telah diseret oleh banjir keluar dari pemakaman? Bukankah tubuhnya telah berubah menjadi busa dan tidak dapat tenggelam? Lalu apa hubungan -ku dalam judul “Satu Makam Untukku” dengan “makam yang tersedia untuknya”? Agaknya, hubungan-hubungan seperti inilah yang belum terbangun dengan sempurna dalam cerita ini. Pengarang masih terjebak pada kesan puitik kalimat-kalimat yang ditulisnya sendiri, dan masih terjebak pada cerita yang ditulisnya sendiri, sehingga melupakan unsur-unsur dan logika yang membangun keutuhan sebuah cerita.

Seperti diawal telah saya katakan bahwa cerita ini tidak bagus, juga tidak terlalu buruk. Pilihan tema dan penceritaan yang tidak biasa, mungkin menjadi kelebihan cerita ini dengan ketiga cerita yang lain. Namun sayangnya, tema dan penceritaan tersebut kurang dieksplorasi lebih jauh dan lebih dalam. Hubungan satu unsur dengan unsur yang lain dalam membangun cerita rasanya masih agak timpang. Apa hubungan nama “Sugeng Bin Sabar” dan “Sri Rahayu”. Ada gerangan apakah lelaki itu masuk ke pemakaman umum, ketidakadilan semacam apakah yang telah diterima lelaki itu sampai-sampai hujan membelanya. Jikapun hujan benar-benar membelanya, lantas kenapa pada akhirnya lelaki itu diseret banjir entah kemana yang oleh narator dikatakan “Mungkin juga ia tenggelam dan masuk ke dalam makam yang tersedia untuknya.” Saya tidak akan mempermasalahkan logika waktu peristiwa, karena cerita ini berada dalam lanskap sureal dimana logika waktu menjadi tidak begitu penting.

Jika sebuah cerita diibaratkan sebuah bola, maka sebuah cerita yang bagus adalah bola yang pejal, tidak ada celah-celah atau ruang kosong di dalamnya. Dan lapisan luar bola tersebut adalah cermin, di mana pembaca bisa berkaca darinya. Cerita yang kurang tersusun sempurna bisa diibaratkan batu apung yang terdapat celah atau rongga di sana sini.

Apa yang saya sampaikan di atas tidak mutlak kebenarannya. Saya hanya menuliskannya berdasarkan temuan atau bacaan saya atas cerita “Satu Makam Untukku” didasari oleh pengetahuan saya yang masih terbatas. Bisa jadi pembaca lain menemukan hal lain yang jauh lebih dalam dan lebih banyak dari yang saya temukan.

Terima kasih. Mari Berkarya!!

Pekalongan, 11 Januari 2008

Read More...