Showing posts with label resensi. Show all posts
Showing posts with label resensi. Show all posts

Mangga muda problem lama

Monday, January 28, 2008 | Labels: , | 0 comments |

Oleh Mikael Johani

Mangga muda oleh ghe

Sebelum mulai bicara tentang puisi ‘Mangga muda’ (ya, m yang kedua memang kecil, penulisnya Francophile ya?) ini saya ingin ngomong sebentar tentang proses review buat kemudian.com ini. Mungkin semua orang sudah tahu juga, saya diberi pilihan beberapa tulisan untuk direview tanpa pernah tahu nama atau siapa penulisnya. Alasannya jelas tentu—paling tidak ini asumsi saya—untuk mencegah kongkalikong, mencegah reviewer seperti saya menulis review penuh gula-gula untuk penulis yang manis dan kebetulan adik pacar saya. Tapi kemudian saya pikir, ini kan bukan lomba? Lagian, saya justru merasa perlu tahu latar belakang seorang penulis, bukan hanya namanya saja, kalau bisa saya ingin tahu buku apa saja yang dia baca waktu tumbuh dewasa, di kota mana dia dibesarkan, (dalam konteks Indonesia bhinneka tunggal ika ini) suku dia apa. dia suka mendengarkan musik apa, heroes atau csi, etc. etc.

Seperti di review saya yang kemarin tentang tiga cerpen berbahasa Inggris yang ternyata ditulis oleh satu orang itu (saya cuma berani menebak waktu itu dua dari tiga cerita itu ditulis oleh orang yang sama) saya ingin juga tahu apakah dia benar-benar pernah tinggal di London atau dia hanya mengkhayalkannya saja dengan bahan-bahan yang pastinya banyak dia dapatkan waktu dia tinggal di Brisbane. Atau malah sebaliknya? Kelihatannya sih tidak. Atau dia mengkhayal tentang semua tempat itu dan selama ini dia tinggal di Tebet (ala Ratih Kumala dan Tabula Rasa-nya)? Buat saya hal-hal seperti ini bukan hanya menarik tapi juga penting, karena misalnya saja waktu itu saya sempat bertanya kok dia bisa-bisanya bilang London humid di bulan November? Nah, kalau misalnya dia hanya pernah tinggal di Australia dan hanya pernah transit di Heathrow tiga jam sebelum terus ke Stockholm saya jadi bisa tahu pastinya itu dia lakukan karena dia mencampurkan waktu musim panas Australia yang berada di belahan bumi selatan dengan London di bumi utara. Saya jadi tahu dia cuma perlu merevisi pelajaran geografi SMU-nya saja. Tapi kalau misalnya ternyata dia pernah belajar seni patung di St. Martins College setelah capek belajar Masters ekonomi di Brisbane saya jadi bisa bilang mungkin dia lagi mencampuradukkan memori historisnya. Dan kalau dia ternyata masih sekolah di SMU 26, yah, spekulasi sendiri saja kira-kira kesimpulan macam apa yang bisa kita tarik tentang cerita-cerita itu.

Menurut saya ini masalah yang penting, karena di Indonesia kelihatannya kritikus sastra suka malas atau tidak bersedia menyambungkan tulisan dengan dunia penulisnya. Semacam hangover dari New Criticism saya yakin mereka juga tidak pernah benar-benar mengerti juga. Seperti misalnya kata pengantar Nirwan Dewanto di buku ‘Ripin: Cerpen Kompas PIlihan 2005-2006’. Di situ dia sama sekali tidak pernah benar-benar membahas di cerita ‘Ripin’ karya Ugoran Prasad yang ia anggap cerita terbaik di Kompas selama periode 2005-2006 itu siapa itu si Ripin, apa yang terjadi dengannya (bapaknya mati ditembak Petrus—ini twist-nya haha sori ya spoiler haters), kenapa Ugoran memilih masalah Petrus ini untuk cerpennya, apa masih menarik menulis tentang Petrus, etc. etc. Hal-hal yang menurut saya lebih menarik tentang ini daripada misalnya, ‘[dalam Ripin] kita sampai pada paradoks yang menggetarkan: antara kokohnya alur dengan hasrat para tokoh untuk keluar dari tindasan, antara keasyikan sudut pandang dengan kekasaran latar cerita, antara mustahaknya tutup cerita dengan ketidakpastian nasib Ripin si tokoh utama.’ (Nirwan Dewanto dalam ‘Ripin etc.’ hlm. xxvi.) Tindasan macam apa? Dari siapa? Kenapa ada di situ? Kekasaran macam apa? Siapa? Kenapa ada di situ? Apakah penting, menarik, membosankan, biasa-biasa saja semua itu ada di situ? Dan, apa arti mustahak? ;)

Buat saya kritik macam di atas, yang kelihatannya menganggap hanya arsitektur sebuah tulisan saja yang penting (semacam versi Taliban New Criticism), sama saja dengan bilang foie gras itu mak nyusss tapi tak pernah bilang (karena memang tak tahu karena memang tak mau tahu!) makanan itu terbuat dari apa.

Mungkin semua ini kedengaran terlalu panjang tapi pun sudah langsung relevan begitu kita membaca judul sajak kita kali ini ini: ‘Mangga muda.’ Karena saya orang Indonesia atau paling tidak orang Jawa, membaca judul ini langsung terbayang di kepala saya berbagai macam bayangan tentang mangga muda: dicocol campuran garam dan cabe enak, makanan perempuan lagi ngidam, tergantung musim ada atau tidaknya di pasar (paling tidak dulu sebelum globalisasi mangga karbitan melanda Total). Dan begitu membaca baris pertama sajak ini, nah benar kan saya. Sekarang bayangkan misalnya saya seorang wannabe Indonesianis asal Alaska yang belum dapat-dapat juga beasiswa pertukaran pelajar ke UGM tapi saya nekat menulis review tentang sajak ini dan karena saya memang tidak tahu dan malas bertanya pada supervisor saya, saya tidak pernah mempertimbangkan semua imej kultural spesifik tentang mangga muda ini dan hanya sibuk menyatakan betapa pengulangan dua kata mangga muda ini menghipnotis seperti mantra (ini memang benar, tapi), apakah patut kritik saya dibilang kritik yang lengkap? Apakah patut tulisan saya itu disebut kritik karena saya sebenarnya belum memeriksa semua kemungkinan pembacaan sajak ini? Apakah patut saya disebut seorang kritikus?

Sudah jelas kalau tulisan seorang kritikus akan dipengaruhi oleh latar belakangnya, apakah tidak lucu kalau kemudian kritikus itu sok-sok menganggap tulisan yang dikiritiknya tidak ada hubungannya dengan latar belakang penulisnya? Penulis sudah mati? Ya, kau yang membunuhnya Kritikus Sialan!

Kembali ke sajak kita (sebelum saya membunuhnya juga dengan melupakannya sama sekali), sajak ini adalah sajak yang naratif. Banyak sajak tentu yang sebenarnya memang prosa yang ditulis dalam baris-baris sehingga kelihatannya seperti puisi. Baca banyak sajak Billy Collins misalnya, atau Hasan Aspahani. Memang tantangan membuat puisi mungkin itu (paling tidak puisi lirik), bagaimana menggubah lirisisme yang kita rasakan, semacam aku melihat matamu dan di matamu ada aku, dalam kata-kata yang tidak sekedar menceritakan itulah yang terjadi tapi dalam puisi (apa pun itu kek) yang bisa membangkitkan rasa itu lagi untuk pembacanya setiap kali ia membacanya. Jadi misalnya, kalau saya tulis saja, ‘di matamu ada aku’, pembaca akan membacanya, mungkin bisa mengerti apa yang saya maksud, tapi (selain berpikir duh menye-klise banget sih) setelah itu ya sudah, kalimat (tak layak dibilang baris) ini bisa dibuang saja, sudah selesai tugasnya, dia hanya menceritakan apa yang terjadi, suatu saat, mungkin di tepi sebuah danau dengan kabut yang mengambang di atas permukaannya yang (tentu saja) tenang, ‘di matamu ada aku.’

Literature is news that STAYS news (Ezra Pound, ‘ABC of Reading’, hlm. 29). Saya suka nggak yakin juga macam apa news yang akan STAY news itu. Tapi biasanya sih kita tahu begitu kita melihatnya. Misalnya saja (ini saya pilih random dari rak buku saya), 'both of us hapless outcasts at the farther end of the sky; meeting like this, why must we be old friends to understand one another?' (Po Chü-i, ‘Song of the Lute’ dalam Burton Watson (penerjemah), ‘The Columbia Book of Chinese Poetry’, hlm. 252.) Bisa saja hal itu benar-benar terjadi, two hapless outcasts meeting at the farther end of the sky and feeling like they’re best friends already, tapi satu hal saja, setelah membaca ini anda ingin membacanya lagi bukan, dan lagi, dan lagi. Tanpa harus menganalisa bagaimana Po Chü-i melakukannya, dua baris itu tidak seperti kalimat gubahan saya di atas atau sekolom berita di Kompas, kita tidak akan merasa cukup hanya mengingat apa yang diberitakan oleh baris-baris itu, kita akan ingin membacanya dan lagi dan lagi, seakan-akan kata-katanya jadi lebih penting daripada apa yang diberitakannya. Ya, seakan-akan dua baris itu adalah news that STAYS news.

Nah, sajak ‘Mangga muda’ ini di banyak tempat terasa seperti cerita yang bisa merasakan ada puisi di balik ceritanya dan ingin melompat ke situ dan hup! bah! ternyata perhitungannya kurang tepat, lompatannya kurang jauh dan terjerembablah dia kembali ke narasi cerpen korannya. Tapi di beberapa tempat, sajak ini juga terasa seperti puisi yang tertatih-tatih memaksa untuk bercerita!

Sajak ini banyak menggunakan jurus pengulangan, seperti ‘kuketuk pintunya / kuketuk pintunya’ atau ‘kuketuk pintunya / kuketuk pintunya / kuketuk pintunya’ dan ini kadang-kadang terasa seperti usaha penulis untuk memuisikan cerita ‘Mangga muda’-nya tapi kadang-kadang juga terasa sepertinya mungkin justru ini yang lebih ingin dilakukan si penulis, mengulang-ulang kata-katanya begitu saja, terus saja, seperti mantra. Dan di sinilah, misalnya, pentingnya latar belakang penulis tadi. Mungkin, karena penulis ini (kelihatannya) memang orang Indonesia, salah satu bentuk puisi yang paling familiar buatnya, terdengar paling alami di telinganya, mungkin tanpa dia sadari, adalah mantra. Atau, dan ini ada juga hubungannya dengan si penulis adalah orang Indonesia, mungkin dia banyak baca balada-balada Rendra.

Cerita sajak ini adalah seorang suami yang dengan kelihatannya agak berat hati dan karena itu malas-malasan mencarikan mangga muda untuk istrinya (mungkin karena dia baru ngidam ini jam ‘setengah dua belas malam’). Tapi rasanya si suami berangkat bukan untuk istrinya karena ‘Menatapnya aku berpikir / ‘ah … itu yang meminta anakku sendiri’’. Seperti Hercules dengan satu tugas saja dia mengalami berbagai rintangan dan dia bukan Hercules jadi semua rintangan itu tidak bisa dia lalui juga sampai akhirnya dia sampai di ‘… pasar kampung kami / jam dua belas malam …’ tapi dasar bukan Hercules dia takut masuk pasar yang dia dengar penuh preman dan langsung balik kanan tapi baru ‘… berjalan dua langkah …’ dia sudah dihadang oleh ‘… tiga orang pemuda …’ dan ‘… lelaki / baju hitam-hitam dan wajah tanpa ekspresi’ ‘di belakang mereka …’

Si suami ditikam mati oleh ketiga preman dan satu laki-laki misterius ini. Tapi dari tadinya cerita yang gampang sekali diikuti, tiba-tiba di sini sajak ini menjadi agak misterius, atau mungkin, paling tidak jadi lebih susah diikuti, saya tidak tahu. Lebih baik saya kutip hampir semua bagian akhir ini:

‘aku jatuh rebah kulihat banyak sekali darah
tiga preman itu kabur membawa dompetku yang isinya tak seberapa
tapi lelaki itu tinggal
dia jalan mendekatiku dengan wajah tanpa ekspresi diulurkannya tangannya
pusarku berkedut menuntut tanganku menyambut tangannya
rasanya seperti berkenalan dan kutahu dia bukan Tuhan
dia bukan Tuhan
tapi tangannya sejuk dan aku seperti melayang’

Apakah tiga preman ini = the three wise men, tiga magi dalam cerita Injil Matius tapi kali ini yang benar-benar telah diperalat Herod = si lelaki baju hitam-hitam bukan Tuhan itu untuk menemukan dan membinasakan Kristus = si suami? Apa penulis sajak ini seorang pastur? Atau murid seminari Gonzaga? Untuk sementara ini, karena saya memang tidak tahu siapa penulis ini dan dunianya seperti apa, saya tidak tahu. Tapi bagian terakhir ini menurut saya, dengan nada setengah bercanda ringannya, adalah sebuah meditasi, sebuah puisi, tentang Tuhan dan kematian yang cukup indah.

Kalau lelaki yang tinggal itu bukan Tuhan terus siapa? The Grim Reaper karena bajunya hitam-hitam? Tapi dia mengajak salaman (jadi tangannya tidak sibuk memegang sabit raksasa) dan ‘… menyambut tangannya / rasanya seperti berkenalan … tangannya sejuk …’ Malaikat kematian biasanya tidak seramah ini.

Atau sebenarnya dia memang Tuhan, yang membiarkankan si suami ‘melayang’, bebas dari beban mencarikan mangga muda buat istrinya, hanya si suami terlalu merasa bersalah dengan ketidakbertanggungjawabannya ini (‘… tangannya sejuk dan aku seperti melayang’ tidak kedengaran seperti dia terlalu keberatan mati ditusuk preman-preman pasar itu) sehingga tidak mau mengakui bahwa sekalipun mungkin si lelaki baju hitam-hitam tanpa ekspresi ini adalah Setan dia adalah Tuhan penyelamat baginya?

Read More...

Dongeng Ritual Mandi dan Kedalaman Maksud

Friday, January 25, 2008 | Labels: , | 2 comments |

Oleh Dino Umahuk

Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas oleh gheta

Puisi adalah karya sastra yang bersifat imajinatif sekaligus konotatif. Dibanding bentuk karya sastra lain, bahasa puisi lebih memilki banyak kemungkinan makna. Hal ini disebabkan karena terjadinya konsentrasi atau pemadatan segenap kekuatan bahasa di dalam puisi. Struktur fisik dan struktur batin puisi yang sangat padat bersenyawa secara padu bagaikan gula dalam larutan kopi.

S. Effendi menyatakan bahwa dalam bahasa puisi terdapat bentuk permukaan yang berupa larik, bait dan pertalian makna larik bait. Kemudian penyair berusaha mengkonkretkan pengertian-pengertian dan konsep-konsep abstrak dengan menggunakan pengimajian, pengiasan dan peambangan. Dalam mengungkapkan pengalaman jiwanya penyair bertitik tolak pada „mood” atau „atmosfer” yang dijelmakan oleh lingkungan fisik dan psikologi dalam puisi. Dalam memilih kata-kata, diadakan perulangan bunyi yang mengakibatkan adanya kemerduan atau eufoni. Jalinan kata-kata harus mampu memadukan kemanisan bunyi dengan makna (S. Effendi 1982:xi)

**
Dalam kaitan itu, sebuah puisi berjudul Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas telah di kirim ke email saya oleh panitia KOPDAR 2 Kemudian.com. Puisi ini dikirim ke saya tanpa nama penulisnya. Mungkin ini kesengajaan dari panitia agar peresensi tidak mengetahui identitas penulis puisi. Namun karena tidak mengetahui siapa penulisnya, saya agak kesulitan untuk menerawang suasana kebatinan dan latar belakang lahirnya puisi ini. Tapi baiklah saya akan mencoba memberikan apresiasi yang mudah-mudahan tidak salah dan keliru.

Kulit lusuh dengan keringat tersimpan rapi di tiap lipatannya
Setibanya ia mengurus pemakaman rutin hari hari
Ia segera bergegas menjambak handuk yang terlipat di atas pembaringan tua
Penat terlihat sekali mulai dari lutut sampai siku hidup
Matahari sejak tadi setia menggiring, kini hanya sedikit mengintip
Ritual sebelum mandi segera dikerjakan, kulitnya dikuliti
Sedikit demi sedikit dari kulit kepala sampai kulit kemaluan
Ritual mandinya belum tuntas
Kulit kaki belum lepas
Nanti malam masih dipakainya berjalan

Macul,14 Maret07
***

Mandi secara harafiah berarti upaya seseorang untuk menyegarkan badan sekaligus membersihkan badannya dari berbagai jenis kotoran. Kenapa mandi, karena dalam puisi ini, secara implisit memperlihatkan upaya seseorang untuk membersihkan dirinya dari berbagai kotoran itu kotoran yang melekat di badan dan maupun kotoran jiwanya. Lihat bait-bait berikut: Ia segera bergegas menjambak handuk yang terlipat di atas pembaringan tua/ Penat terlihat sekali mulai dari lutut sampai siku hidup/ penat disini bisa dikiaskan sebagai dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Dan kesadaran ini diperoleh setelah menyaksikan kematian /Setibanya ia mengurus pemakaman rutin hari hari/. Setelah melihat bagaimana seorang hamba tak berdaya menghadapi maut, menghadapi takdir kematian. Setelah melihat betapa tak bisa apa-apanya sebuah kerangka manusia selain pasrah pada tanah kuburan.

Dalam ajaran Agama Islam, mandi memiliki makna membersihkan diri dari hadas/najis, baik najis besar maupun najis kecil. Jika perpijak pada dua bait berikut: Ritual sebelum mandi segera dikerjakan, kulitnya dikuliti/Sedikit demi sedikit dari kulit kepala sampai kulit kemaluan/ maka mandi yang dimaksudkan si penyair dapat disebut sebagai upaya untuk membersihkan diri dari berbagai dosa karena usia yang semakin menua sebagaimana dikiaskan sebagai Matahari sejak tadi setia menggiring, kini hanya sedikit mengintip.

Apa yang bisa saya simpulkan dari puisi yang coba saya hayati adalah sebentuk upaya membersihkan diri atau semacam cuci dosa. Dalam puisi ini sang penyair berupaya membersihkan disebabkan oleh dosa-dosanya di sepanjang usia sebagai makhluk yang berupaya dekat dengan Rabb, dengan Tuhan.

Memang tidak semua penyair menulis sajak untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Tapi, dalam puisi Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas sang penyair, hemat saya, tengah berusaha merapatkan diri pada hakikat keindahan, kebenaran, dan kejernihan.

Penyair yang kata Saini KM, adalah ia yang berumah di sebuah kuil di tengah hutan. Ia juga kayu dalam pembakaran, tengah berusaha berjalan ke inti kehidupan, kepada Tuhan.

Meskipun sang penyair sadar bahwa setelah pemandian, pensucian dan pertobatan, dosa-dosanya belum habis terkikis. Ini dikiaskan kembali dalam Ritual mandinya belum tuntas/Kulit kaki belum lepas. Karena sebagai makhluk yang lemah, sebagai manusia yang doif, ia selalu dengan sangat gampang tergelincir untuk berbuat dosa. Sangat gampang untuk ditaklukkan kembali oleh nafsu dan setan.

Sang penyair juga terpaku pada ketersadaran bahwa hari esok masih harus terus iya jalani sebelum ajal menjemput, sebagaimana di sampaikan pada bait penutup. /Nanti malam masih dipakainya berjalan. Namun sayang ia tak tak memintal doa-doa sebagai bekal untuk melangkah.

Entah berjalan kemana kita sesungguhnya sama-sama tak tahu. Hanya sang penyair yang mengerti hendak kemana nasib akan dibawa. Entah menuju ke langit dengan wajah selembut bidadari atau menuju neraka dengan wajah sehitam iblis.

Wallahu a'lam bis Shawab.
Serambi Mekah, Jumat 24 Januari 2008

Read More...

LEKONG & LEKONG DALAM CERITA

| Labels: , | 0 comments |

Oleh Hara Hope

Judul di atas kugunakan sekedar untuk menalikan dua buah cerpen berjudul “Aku Mencintainya” dan “Cintaku Terhalang Kelamin” yang memiliki tema yang sama, yakni: cinta terhadap sesama jenis.

Cerita pertama, “Aku mencintainya,” diuraikan dengan gaya drama keluarga, sedangkan cerita kedua, “Cintaku Terhalang Kelamin,” diuraikan dengan gaya drama abu-abu – jika tidak boleh dikatakan semi-stensil ^_^

AKU MENCINTAINYA oleh yosi_hsn

Cerita ini digarap dengan apik oleh penulisnya. Aliran kata-kata cukup terjaga mood-nya dan diksi tersusun rapi. Sang penulis pun cukup memiliki kesabaran dengan membuka informasi cerita secara bertahap sembari dibumbui selingan flashback/uraian profil tokohnya.

Hanya saja, aku merasakan tema yang diusung cenderung klise, yakni tentang “Salahkah mencintai sesama jenis?”. Di samping itu, aku sebenarnya merasakan kebiasan penulis untuk memfokuskan arah cerita ini. Pada bagian awal kisah muncul kesan bahwa kisah ini berfokus pada Ares dan Fuji, terutama Ares yang apapun sikapnya akan menjadi unsur penting dalam cerita bahkan menjadi penyelesai konflik dalam cerita. Tapi kemudian cerita berpindah fokus pada masalah konflik Fuji versus orangtua yang tak menyetujui “model” perasaan yang dimiliki Fuji. Dan terakhir fokus cerita ada pada audisi resital Fuji.

Sebenarnya, kalau kita kembali kepada judul, kita pun akan sama memaklumi bahwa cinta Fuji terhadap Tezar lah yang menjadi penyambungnya. Tapi kedudukan Tezar dalam cerita pun tampak tidak kuat. Aku menengarai bahwa kisah yang disajikan dalam bentuk penceritaan ulang dari seorang tokohlah penyebabnya. Hal ini menyebabkan pembaca tidak bisa melihat secara langsung konflik yang terjadi dalam keluarga itu plus Tezar. Yang diperlihatkan secara langsung justru hanya tentang bagaimana persuaan kembali Tezar dengan anggota keluarga musisi itu, sementara saat terjadinya konflik, yang menurutku penting, cenderung diceritakan ulang secara naratif saja.

Dengan kata lain, fokus yang ingin ditunjukkan melalui cerita ini tampaknya terlalu kompleks untuk sebuah cerpen.

Kemudian tentang latar cerita. Terus terang aku bingung menengarai cerita ini berpijak di mana. Saat membaca bagian awal cerita, kupikir kisah ini berlatar di Indonesia, atau setidaknya tentang orang Indonesia. Tapi saat membaca bagian akhir, baru aku tahu nama lengkap Fuji adalah Harera Fujiko yang identik Jepang sekali. Tapi persoalannya, aku tak menemukan sedikit pun nuansa lokal yang menunjukkan bahwa ini terjadi di Jepang, atau setidaknya terjadi pada keluarga Jepang. Pun tidak terjejak kemungkinan cerita ini terjadi pada sebuah keluarga blasteran – yang dapat menjadi keterangan tambahan mengapa nama anak-anak dalam keluarga itu berasal dari berbagai latar budaya dunia.


CINTAKU TERHALANG KELAMIN oleh dhika moreno

Cerita ini lain lagi. Penulisnya sepertinya tak hendak membawa kisah ini pada pergulatan tentang salah/benarnya hubungan sesama jenis. Ia lebih menekankan pada sensasi yang dialami seorang tokoh dari perjumpaan pertama dengan sesama jenis, kemudian jatuh cinta, hingga akhirya mengikuti permainan sang Cinta sekalipun tetap sadar bahwa hubungan mereka hanyalah fana.

Dan sekali lagi kubilang, gaya bahasa tulisan ini abu-abu/semi-stensil mengingat ada banyak ungkapan “menggemaskan” dan “adegan ranjang”-nya. Tapi untunglah penulis tak berniat menggiringnya menjadi fiksi cabul, karena ia menggambarkannya dengan cukup “sah-sah” saja.

Hanya saja, (lagi-lagi) aku merasakan kebiasan fokus cerita. Jika membaca model tuturannya, akan tampak kiranya ia ingin menggunakan teknik cerita “menyembunyikan- dahulu- identitas- si- tokoh- baru- kemudian- membukanya- di- akhir- kisah- sebagai- kejutan- bagi- pembaca.” Tapi pemilihan judul yang sudah kepalang menunjukkan identitas si tokoh ini pun sudah jauh-jauh mementahkan dugaan ini.

Menengarai cerita ini menggunakan teknik “membeberkan- identitas- pelaku- dulu- baru- menyajikan- dramanya- kemudian” pun rasanya tak terlalu kelihatan, mengingat drama dalam kisah ini tak terlalu dieksplorasi.

Yang lebih menjadi perhatianku adalah kurangnya penggambaran kedua tokoh dalam cerita ini. Entahlah, tapi rasanya bagiku penggambaran ini perlu untuk makin mendekatkan cerita pada pembacanya, seperti misalnya sesuatu yang menggambarkan apakah kedua tokoh ini tampak seperti lelaki tulen biasa, atau salah satunya kebanci-bancian, atau justru salah satunya berperawakan banci.

Segitu aja kali ya. Maaf kalau ada salah-salah kata dan analisa.
Peace!! ^_^ V

Read More...

Resensi Prosa 'Pekerjaan Iin'

Thursday, January 24, 2008 | Labels: , | 0 comments |

Oleh Amalia Suryani

Pekerjaan Iin oleh yosi_hsn

Cerita dengan pesan bijak di dalamnya tanpa berlagak menggurui. Cerita seperti inilah yang disukai banyak orang sebab dimana-mana orang tidak suka digurui (orang cenderung merasa diri ini sudah tahu banyak hal atau lebih tahu daripada orang lain).

Cerita ini berjalan dengan sederhana dan alurnya rapi. Sekali lagi, jenis tulisan yang tidak terburu-buru untuk sampai pada akhir cerita.

“Pekerjaan Iin” menampilkan sisi kehidupan pembantu rumah tangga yang jarang dibicarakan (bukan PRT-nya yang jarang, tapi sisi “pandangan PRT pada majikannya” yang jarang dibahas). Tanpa menempatkan kedua karakter itu dalam peran antagonis atau protagonis.

Keduanya adalah manusia biasa dengan karakter sewajarnya. Bu Sudi sebagai majikan dan Iin sebagai pembantunya. Meski cerita ini memilih sudut pandang Iin, saya yakin penulis bisa menceritakan sudut pandang Bu Sudi dengan menarik juga.

“Bukan lingkungan yang harus berubah untukmu, tapi kau yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan itu.”

Dalam konteks “Pekerjaan Iin”, pesan itu pas disampaikan sebagai penutup cerita. Kata “menyesuaikan” tentu dipilih dengan hati-hati. Hanya saja kata tersebut bisa berarti ganda; 1) lingkungan tidak perlu berubah, kita lah yang berubah dan 2) lingkungan tidak perlu berubah, kita toleran. Yang diambil Iin adalah yang kedua, saya rasa.

Tapi pernyataan semacam ini tidak bisa berlaku untuk konteks yang berbeda sebab kadang kita perlu bersikap “steady”, tidak terbawa suasana, tidak terbawa lingkungan yang tidak sesuai dengan nurani kita. Namun sekali lagi, hal itu berlaku di konteks yang sama sekali berbeda dengan yang dialami Iin.

Read More...

Resensi Prosa 'Lonte?'

| Labels: , | 0 comments |

Oleh Amalia Suryani

Lonte? oleh Ananda

Daya tarik LONTE adalah si penulis tidak menjelaskan apa itu “lonte” pada pembaca sampai akhir cerita. Pembaca dipaksa untuk menerjemahkan sendiri (bagi yang belum tahu istilah lonte) dan dibuat penasaran (bagi yang sudah tahu) bagaimana si penulis akan mendefinisikannya.

Cerita ini lucu. Ada fakta-fakta tersembunyi yang sangat menarik. Saya sih tidak tahu fakta itu sengaja dibuat samar atau sebenarnya tidak ada artinya. Yang jelas menurut saya menarik sekali.

Pertama. Fakta bahwa tokoh Ririn mendapat istilah “lonte” dari ayahnya. Kenapa ayahnya menyebutkan kata “lonte” di depan anaknya? Sengaja atau tidak?

Kedua. Si Ayah mengucapkan “kamu lonte, dasar anak lonte!”. Yang ini juga menarik sebab sepertinya menjelaskan alasan tidak adanya karakter Ibu di cerita ini. Jangan-jangan memang ibu Ririn memang seorang lonte.

Ketiga. Penulis tidak terburu-buru menjelaskan arti “lonte” untuk pembaca. Saat Ririn bertanya pada teman-temannya, penulis tetap bertahan tidak membeberkan definisi “lonte” dengan mudahnya. Bahkan Ibu Guru juga tidak berbaik hati memberitahu Ririn apa itu “lonte”, dan tidak repot-repot melarang Ririn menyebut dirinya “lonte”. Dengan lugunya, Ririn dibiarkan mengartikan sendiri “lonte” menurut pemahamannya sebagai anak umur enam tahun.

Kalau diminta menyebutkan kelemahan cerita ini, saya terpaksa bilang agak kecewa saja dengan ending-nya. Bukan karena masih tidak terpapar apa itu “lonte”, tapi karena kejadian Ririn memanggil seorang perempuan seksi dengan sebutan “lonte”. Padahal sebelumnya Ririn mengartikan “lonte” sebagai senyum manis, sementara Kakak Seksi tidak digambarkan sebagai orang yang manis, melainkan seksi.

Sepertinya cerita ini bakal lebih menarik kalau Ririn menyebut seorang Kakak Manis dengan sebutan “lonte”, hingga si Kakak Manis tersinggung dan terluka hatinya dikatai “lonte” oleh seorang anak kecil.

Read More...

Resensi Puisi 'Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas'

| Labels: , | 1 comments |

Oleh Nanang Suryadi

Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas oleh gheta

Sajak ini berjudul: Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas. Dari judulnya, penulis menggiring pembaca untuk masuk ke dalam sebuah dongeng atau cerita. Sesuai dengan judulnya, sajak ini memang bercerita. Penulis menarasikan tentang suatu kejadian, yaitu tentang ritual mandi. Mengapa mandi menjadi suatu ritual? Jika ritual diterjemahkan sebagai suatu hal yang wajib dan rutin dilakukan dengan urut-urutan yang sama, mungkin memang dapat dikatakan bahwa mandi merupakan ritual bagi seseorang. Mari kita simak sajak Dongeng Ritual Mandi yang Tak Tuntas.

Kulit lusuh dengan keringat tersimpan rapi di tiap lipatannya
Setibanya ia mengurus pemakaman rutin hari hari
Ia segera bergegas menjambak handuk yang terlipat di atas pembaringan tua
Penat terlihat sekali mulai dari lutut sampai siku hidup
Matahari sejak tadi setia menggiring, kini hanya sedikit mengintip
Ritual sebelum mandi segera dikerjakan, kulitnya dikuliti
Sedikit demi sedikit dari kulit kepala sampai kulit kemaluan
Ritual mandinya belum tuntas
Kulit kaki belum lepas
Nanti malam masih dipakai jalan

Macul,14 Maret07

Dalam sajak ini siapa subyeknya? Pada baris pertama, hanya muncul “kulit lusuh”. Apakah “kulit lusuh” sudah mencukupi, sepertinya tidak. Mungkin, akan lebih baik jika dimunculkan “subyek” yang memiliki “kulit lusuh” ini, di awal sajak. Karena akan menjadi ganjil ketika sang subyek alias “ Ia” muncul tiba-tiba di baris kedua dan baris ketiga. Secara teknis, susunan kalimat atau frasa masih perlu diperbaiki. Misalnya kalimat: Setibanya ia mengurus pemakaman rutin hari hari. Apa yang kurang dari kalimat ini? Mungkin pembaca dapat menunjukkannya jika melihat dengan menggunakan kadiah berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Menurut saya, sajak ini dapat menjadi lebih bagus lagi, jika penulisnya mau mencoba untuk masuk ke dalam sajaknya tersebut dan membuang hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Saya sangat menghargai kemauan penulisnya untuk mencoba menciptakan frasa-frasa unik, misalnya: “keringat tersimpan rapi”, “siku hidup” Permainan bunyi juga sudah terasa, misalnya: “penat terlihat” namun masih kurang dikembangkan.

Begitulah kesan saya pada sajak ini.

Read More...

DEPRESSED DIASPORA OF THE WORLD UNITE!

Monday, January 14, 2008 | Labels: , | 0 comments |

Oleh Mikael Johani

In the Cold November Rain
The Bus Driver’s Wife
Five Minutes
Oleh
FrenZy

Not only are these stories written in English, they’re set outside Indonesia, the first in London, then Brisbane, and Melbourne.

Gets rid of one problem: something that sometimes Laksmi Pamuntjak (say) struggles with in her English poems/short-stories. Like I’ve written and pointed out so many times here. I’m sick of it myself, if you write in English about Hotel Grand Menteng, would you say it’s a ‘love-motel’, as Laksmi does, taking a run-o-the mill Ameringlish idiom to describe something Indonesian, or use a term like ‘check-in place’ since that’s what we Indonesians call it? Not idiomatic English perhaps, but isn’t it more real? What is real? What use is real in fiction?

But I’m not gonna talk about language, it’s boring. Sure there are some awkward expressions, like ‘resisting my desperation to choke out loud’ (Cold November Rain) or ‘this whole ticket buying scheme had finally been mastered’ (The Bus Driver’s Wife), but you’d get that even in something written by a budding writer from Toorak, nothing that a good editor can’t fix. (If indeed it needs be fixed.)

The first story is actually nowhere near as horrendous as the title suggests—the infamous Guns N’ Roses operock video, though like the song, the story is also about unrequited love. At one page nowhere near as epic of course.

A woman sitting in a room in ‘depressing London weather in November, the unfriendly humid air poisoning my oily skin’ (depressing London weather is a bit of a tautology, but the real problem/the problem of the real in this sentence is ‘the humid air’, how could it be humid in London, in early winter? Is it the cheap Tesco heater that makes your hands and feet all clammy? Problem of verisimilitude. But why is this problematic? Or is it? I guess if this were a sci-fi short set in post-apocalyptic global-scorched London then I wouldn’t have batted an eyelid on ‘humid London November’, but as we shall see, this story is basically a realist vignette, and in a slice-of-life I guess it’s reasonable that we expect the life to be as we know it.), ‘wrapped in a dirty bath towel, chain smoking’, staring at ‘a bottle of painkillers’ on (probably) top of the sink.

So the woman is depressed. But she was ‘too wound up to care.’ Then it turns out that she’s too wound up because she cares too much. For ‘the motionless body next to me. A man’s body.’ They’d fucked two hours ago after he turned up on her doorstep and he: ‘I need you’, and she: ‘You need a place to stay.’ Funny. Then she: ‘I love you,’ then he: ‘Thank you.’ A bit more standard dark humour, but believable.

Then the answers for all the dark humour, the painkillers, the depressing London scene: ‘Will your wife come looking for you? Will you say goodbye and never come back?’ Like Axl said, nothing lasts forever / in the cold November rain, but perhaps, some things do, like a sob story set in grey London.

The second story, perhaps the most interesting, begins with the simple, short, sentence ‘The bus driver is my best friend.’ Which somehow sounds kinda depressing. Bus driver? What about a stripper? And it gets worse, ‘He is an old man nearing his sixties, … a Russian-Australian, … his Australian accent is very thick since he spends most of his life in Brisbane, … with a nametag that says Steve.’ Perhaps the most depressing thing is that nametag, what’s wrong with Stefanovich, why would you try so hard to fit in to Brisbane, land of tight stubbies and Bir Bintang singlets, why would you move to Brisbane at all?

They’d become friends because when the narrator, a girl, moved to Australia, she was ‘dominated by fear and loneliness’ (in Brisbane, wouldn’t blame ya girl), and Steve likes to chat about his sad bus-driving life, bad pay, unhappy wife, the usual sob story. But the narrator thought Steve was ‘very different. … unlike the other grumpy bus drivers who shout at foreigners.’ Aha! Maybe because Steve was a foreigner himself! A depressed diaspora just like the narrator!

Misery loves company especially when it’s a young probably pretty Asian international student. Or a granddad who happily listens to a pretty Asian international student’s stories of her ‘need to get away from a very bad breakup’ and her subsequent loneliness (girl on the rebound!). Then one night Steve told rebounding girl he was gonna quit his job, wife was leaving him because he was, yes, a total loser, and he might just as well pack his bags and move back to Russia.

Nyet! thought rebound girl.

‘I’m just an old man, what do I have except a rusty bag and a passport?’
‘You have love.’
‘No, dear. We have memories.’

And as if the thought of soldiering on in life in snowy Ukraine with a bag full of memories of hot summer afternoons in Brisbane verandahs was way too depressing, this story ends with Steve’s wife getting on the bus at the last stop as narrator girl gets off. Reconciliation.

‘What am I to know all about love? I do not even have love. My ex boyfriend is an emotional abuser and I have given up on love a long time ago.’ (Narrator girl’s monologue, all in her head.) But girl, from the ending you’ve given us, looks like you really haven’t.

The third story, ‘Five Minutes’, about a man who, accompanied by a kid, observes and bitches about people in a park ‘in the heart of Melbourne’, and the kid turns out to be the man’s imaginary friend and the man turns out to be a geriatric granddad suffering either from Alzheimer or multiple sclerosis that has left him ‘unable to speak and move, all I can do is feel,’ (some people have all the luck) I thought must’ve been written by the same author who wrote ‘In the Cold November Rain’ since both titles were accompanied with the date of writing ‘January 2007.’ Not only that, in ‘Five Minutes’ the author wrote that ‘people scurry through … to get to the tube station.’ But the tube is in London, in Melbourne it’s the train. (Or the tram if you wanna be all romantic and olde-worlde.)

That problem of verisimilitude again. Perhaps the author mixed up his/her memories of London and Melbourne and the two cities merge into one. (After all, Melbourne is the one city in Australia with European pretensions, though it’s Paris they aim for, what with the parks, the sidewalk cafés et al., and it rains there the whole time too.) But I imagine a Melburnian would object to see his ordinary train station be written as ‘the tube’, and this brings me back to Laksmi Pamuntjak: so why shouldn’t I complain that she calls Hotel Grand Menteng (say) with the pissweak appellation ‘love motel’? We’ve already got ‘check-in place’, why not use it? What is wrong with the more real?

The imaginary kid disappears and the story ends. Which makes me think: these are all depressing stories, but I like them much more than the sugar-coated inspirational stories millions of people bought in Andrea Hirata’s Edensor. (About his student days in Paris dan sekitarnya.)

Read More...

Beberapa Catatan Kecil -- yang mungkin tak penting

| Labels: , | 0 comments |

Oleh Gunawan Maryanto

Butterfly Kisses oleh noir

Membaca Butterfly Kisses, aku tak menemukan sebuah cerita yang tumbuh. Aku hanya menemukan sebuah info: “aku rindu padamu”. Tak ada lagi yang lain. Rindu itu pun tak tumbuh. Tak mengembang. Mati (bahkan sebelum kalimat terakhir).

Jika tak ada cerita (memang tak ada keharusan bercerita), aku pun mencari cara bercerita. Sayangnya, tak ada. Yang ada adalah keterbata-bataan dalam berbahasa, kegenitan (sok indah, sok puitis), bahkan ketersesatan bahasa. Di beberapa kalimat aku terpaksa berhenti untuk mencoba memahami apa yang sebenanya penuliskan ingin sampaikan. Seperti dalam:

  • Sms-sms bertaburan rayu dan canda berterbangan.
  • Jadikan lamunan bertepi harap akan temu.
  • Ini bukan lagi mimpi tergusah ketika pagi menjelang, melainkan keterpenuhan begitu erat.

Keinginan penulis untuk menyusun kalimat-kalimat yang puitik dan menyentuh justru membuatnya tersesat (tak puitik dan tak menyentuh).


La Preghiera oleh KD

Paragraf-paragraf awal cerita ini tak menarik. Aku (pembaca) merasa dibodohi—tentu ini bukan maksud dari si penulis. Penanaman informasi yang seenaknya sendiri yang membuatku, sebagai pembaca, merasa direndahkan.

Baca:
  • Baru saja ia selesai menyisir rambutnya. Rambut? Ya! Tentu saja dia memiliki rambut.
  • Ia hanya mengikuti dress code yang ditentukan. Benar! Setiap penampil pada malam ini harus memakai pakaian bernuansa hitam

Terbaca sebenarnya bahwa penulis memiliki banyak hal yang ingin diceritakannya, tetapi malas mencari jalan menceritakannya. Informasi demi informasi berloncatan begitu saja, hampir-hampir tak tertata. Asal-asalan. Asal pembaca ngerti. Titik.

Baru ketika memasuki tubuh cerita, aku mulai bisa menikmati. Meski tetap saja aku merasa si penulis sangat pelit dalam membagi ceritanya. Mungkin malas, mungkin tak lancar berbahasa. Agak aneh juga, tukang cerita tapi malas bercerita.

Bagiku La Preghiera belum menjadi cerita. Ia masih kerangka cerita.


Surga Aku Mau!!! oleh za_hara

Sebagai sebuah cerita Surga Aku Mau!!! cukup menarik. Sayang, si penulis tak cukup serius dalam menggarapnya. Bagiku menulis adalah sebuah pembacaan atas kenyataan dan menyatakan kembali kenyataan tersebut. Menulis bukan mengarang, asal aneh, asal nyentrik, asal-asalan.

Cerita ini memiliki potensi dalam memotret kenyataan yang belakangan ini memang sedang mencuat: agama baru, nabi baru, kepercayaan baru. Sayang, cerita ini ‘hanya’ menghadirkan kenyataan itu begitu saja. Tak mengolahnya. Tak memperkayanya. Cuma sepenggal—masih mirip dengan kabar angin. Selebihnya adalah karangan, imajinasi liar, fiksi yang tak kuat.

Benar, cerita pendek adalah sebuah karya fiksi. Tapi fiksi di sini adalah fiksi yang mengungkap kenyataan. Bukan hanya fiksi.

Read More...

Satu Makam Untukmu, Satu Makam Untuk Siapa?

Friday, January 11, 2008 | Labels: , | 0 comments |

Oleh Adi Toha

Satu Makam Untukku oleh eggiedwiananda

Bagus atau tidaknya sebuah cerita, menarik atau tidaknya sebuah kisah yang dituliskan dalam bentuk cerita pendek bagi pembaca secara individual, adalah murni masalah selera. Tapi, selera bukanlah sesuatu yang sama sekali tidak bisa diperdebatkan. Permasalahan selera bergantung pada sejauh mana pengalaman dan pengetahuan baca seorang pembaca dan apakah pembaca menemukan semacam cerminan kisah ataukah setidaknya pembaca menemukan hiburan atau hal lain yang dianggap berguna dan layak untuk mengisi ruang penyimpanan dalam ingatan masing-masing pembaca.

Dari keempat prosa yang saya terima di email saya, terus terang keempatnya kurang membuat saya terkesan dan tidak membuat saya ingin mempertahankan keunggulan cerita andaikata ada yang menilai bahwa cerita-cerita tersebut tidak bagus. Baik atau buruk keempat cerita tersebut, jika ada yang menilainya, saya akan mengamini keduanya.

Namun tetap, saya harus memilih setidaknya satu untuk dijadikan bahan perkosaan. Saya memilih cerita berjudul “Satu Makam Untukku”, bukan karena cerita ini lebih unggul daripada cerita yang lain. Pilihan lebih disebabkan karena cerita ini mengambil lanskap surealis, berbeda dengan ketiga cerita lain yang mengambil lanskap realis. Kisah-kisah surreal sangat menarik perhatian saya, terutama yang bertema kematian, kegilaan dan penderitaan.

Dalam lanskap surreal, segala bentuk latar, peristiwa dan unsur-unsur pembangun cerita dirangkai sedemikian rupa untuk menyampaikan maksud pengarang dengan karyanya, meski kadang, setelah semua unsur tersebut terbangun dengan sempurna, maksud pengarang menjadi lebur dalam maksud cerita.

Cerita yang berjudul “Satu Makam Untukku” dibuka dengan kedatangan seorang lelaki ke sebuah pemakaman umum. Tidak diketahui siapakah lelaki itu, mengapa ia masuk ke pemakaman umum, dan di kota atau di manakah pemakaman umum itu berada. Hanya dituliskan: “Lelaki itu masuk saja ke tempat pemakaman umum. Langkahnya mirip pemabuk yang sangat sadar. Ditelusurinya rumput-rumput kering yang bercampur debu merah. Ditendang, ditendang, ditendang hingga mengepul sejenak, lantas menyerbu wajahnya seperti tawon yang sarangnya diganggu. Ia tidak peduli.” Membaca kalimat selanjutnya, saya memindai bahwa lelaki itu adalah gila, setidaknya menderita gangguan kejiwaan, atau dilanda kebingungan. Indikasi kegilaannya terlihat di kalimat-kalimat berikut: “Terus dan terus ia menelusuri dalam terik. Mencari-cari, tapi tak tahu pasti apa yang sedang ia cari.” Dan semakin dipertegas dalam kalimat berikut: “Ia digigit, tersengat oleh semut-semut yang ketakutan oleh gempa bumi. Tapi tak ada sakit. Rasa telah tiada, karena jiwa telah musnah.”

Namun di sisi lain, pengarang ingin menunjukkan bahwa tokoh lelaki yang diceritakannya tidak sepenuhnya gila, kalaupun gila, setidaknya lelaki itu bukanlah orang gila biasa. “Ia pun berpikir, apa yang sebaiknya ia cari? Ia mulai menentukan keinginannya. Ia menginginkan seorang yang tidak berumur. Manusia yang tidak digigit waktu, diguyur pengalaman, didera racun pemikiran”. Bagaimana bisa orang gila biasa berpikir untuk mencari nisan seseorang yang tidak berumur? Dan kenapa dia memutuskan untuk memilih nisan yang tidak berumur, belum berpengalaman hidup, dan belum didera bermacam-macam pemikiran? Salah satu kemungkinan alasannya menurut saya adalah bahwa lelaki tersebut mengalami kekecewaan dengan yang namanya waktu, pengetahuan/pengalaman, dan pemikiran. Ia kecewa dengan waktu, karena mungkin, semakin waktu berjalan ia semakin menderita, semakin berumur hidup seseorang, ternyata tidak membuat seseorang menjadi lebih baik, dewasa dan bijak, waktu demi waktu hanya menambah kekecewaan demi kekecewaan dan kegagalan demi kegagalan. Ia kecewa dengan pengetahuan/pengalaman, karena mungkin, pengetahuan/pengalaman tidak membuatnya lebih bahagia, pengetahuan/pengalamannya justru membuatnya lebih menderita. Dan ia kecewa dengan pemikiran –yang disebutnya sebagai racun- karena mungkin ia melihat –dalam rentang waktu usianya- bahwa pemikiran-pemikiran manusia di sekelilingnya tidak ada bedanya dengan racun yang menggerogoti dirinya, sampai membuatnya menjadi gila, atau ia tidak setuju dengan pemikiran-pemikiran tersebut tetapi ia tidak punya kuasa atau kekuatan untuk menandinginya.

Anehnya, ketika lelaki itu menemukan sebuah makam bayi yang tanggal kelahiran dan kematiannya sama (tidak berumur), lelaki itu berpikir “Mungkin jika ia diberikan umur, ia akan menjadi gadis yang baik dan sayang kepada orang tua”. Di sini terlihat inkonsistensi pengarang dalam menggambarkan tokohnya. Bagaimana mungkin tokoh yang sebelumnya menginginkan untuk mencari nisan yang “..tidak berumur. Manusia yang tidak digigit waktu, diguyur pengalaman, didera racun pemikiran”, setelah menemukannya kemudian berpikir jika seandainya nisan itu berumur, hanya karena ia membaca nama bayi itu “Sri Rahayu” yang menurutnya indah.

Pada paragraf: “Kenangan-kenangan tentang masa lalu pun kembali berputar. Ia ingat kekasihnya yang ingin menikah dan punya anak. Tapi, karena keadaan sosial yang belum dapat menerima, akhirnya kisah cinta mereka menjadi ternoda. Noda itu sudah berusaha dicuci, tapi tetap saja meninggalkan bekas. Lantas bekas itu menjadi huru-hara yang tak kunjung padam setiap harinya. Perjuangan untuk mempertahankan pun akhirnya sirna. Hilang tanpa bekas. Mungkin Sri Rahayu tidak akan pernah membuat huru-hara.” Pengarang mulai menunjukkan mengapa lelaki itu menginginkan nisan yang tidak berumur, lebih disebabkan karena ia mengalami kekecewaan dengan kisah cinta masa lalunya. Namun, di sini terlihat ada usaha pengarang untuk menyederhanakan cerita, yang sayangnya membuat cerita menjadi sangat klise. Seperti apakah “keadaan sosial yang belum dapat menerima” kisah cinta lelaki itu. Jika pada akhirnya lelaki itu kecewa dengan “waktu”, saya pikir, permasalahannya bukan sekedar “keadaan sosial”. Akan lebih mengena jika “keadaan sosial” diceritakan lebih jauh.

Pada paragraf berikutnya juga masih terlihat penyederhanaan yang sama. “Lelaki itu pun kembali teringat dengan keluarga. Kumpulan darah dagingnya yang hidup dengan topeng dan perasaan paling suci diantara semua. Karena tidak kuat mengikuti perasaan suci yang dimiliki oleh keluarganya, akhirnya lelaki itu pergi menggelandang dan memutuskan menjadi setan saja. Menjadi kafir-kafir sekafir-kafirnya. Namun terus berdoa supaya hanya manusia saja yang mengkafirkannya, jangan Tuhan. Ia terus berharap dalam kekafirannya, Tuhan tidak mengkafirkannya. Berharap dan terus berharap.” Saya menjadi bingung. Di paragraf sebelumnya, lelaki itu teringat kekasihnya yang ingin menikah dan punya anak, namun “keadaan sosial belum dapat menerima”. Jika kemudian lelaki itu teringat dengan kumpulan darah daringnya, saya mengasumsikan bahwa lelaki tersebut lebih memiliki setidaknya dua keturunan, entah dari siapa, dari kekasihnya yang ingin menikah dan punya anak –yang diceritakan di paragraf sebelumnya- ataukah dengan orang lain yang tidak diceritakan. Jika “kumpulan darah daging” di sini dimaksudkan untuk merujuk kepada keluarga si lelaki, pengarang telah dengan tergesa-gesa memilih diksi. Di sini juga terlihat hubungan si lelaki dengan keluarganya, bagaimana akhirnya lelaki yang keluarganya “hidup dengan topeng dan perasaan paling suci”, memilih menjadi setan dan menjadi kafir sekafir-kafirnya. Sayangnya, pengarang tidak menunjukkan bagaimanakah pilihan tindakan yang dilakukan lelaki itu yang bisa dikatakan kafir sekafir-kafirnya, sehingga pada akhirnya semua yang dituduhkan oleh pengarang kepada lelaki itu atau kepada keluarganya menjadi mentah dan sangat memihak.

Lalu tiba-tiba hujan datang. Hujan yang menjadi-jadi, yang seakan mengerti kesedihan lelaki itu. Hujan yang meskipun telah diperintahkan untuk berhenti oleh lelaki itu, malah membalas: “Aku sudah tidak bisa berhenti! Biar. Biar saja mereka terdzalimi! Biar saja! Engkau sudah jauh dihancurkan oleh mereka! Ini adalah keadilan!“ Rupanya hujan ingin menjadi penegak keadilan bagi lelaki itu. Begitu hebatnya lelaki itu sampai-sampai hujan membelanya.

Selanjutnya pengarang menggambarkan keadaan pemakaman setelah hujan. “Mayat-mayat yang masih dikafani mengapung di permukaan air dari makam yang tenggelam. Lelaki itu takjub melihat satu persatu muncul mayat dari dalam air. Wajah mereka pucat pasi. Rautnya menggugat kenapa mereka tidak pernah dikunjungi. Mereka tidak butuh kunjungan basa-basi di sebelum bulan suci. Mereka marah dan meminta ganti rugi.” Demi membuat kesan puitik, pengarang melupakan logika cerita. Begini, “Mayat-mayat yang masih dikafani“, saya asumsikan mayat-mayat tersebut masih baru. “Wajah mereka pucat pasi“, berarti mayat-mayat tersebut masih tampak memiliki wajah. Nah, bagaimana bisa mayat-mayat yang masih baru dan memiliki wajah tersebut “Rautnya menggugat kenapa mereka tidak pernah dikunjungi. Mereka tidak butuh kunjungan basa-basi di sebelum bulan suci. Mereka marah dan meminta ganti rugi”?

Berapakah batasan waktu “tidak pernah dikunjungi” yang dimaksudkan pengarang? Jika mayat-mayat itu “tidak butuh kunjungan basa-basi di sebelum bulan suci” asumsinya adalah bahwa mereka setidaknya pernah mendapat sekali kunjungan basa-basi itu. Nah, kunjungan basa-basi itu terjadinya setiap satu tahun sekali. Bisa dibayangkan bagaimana rupa mayat setelah satu tahun, apakah masih berwajah, apakah kain kafannya masih utuh? Di satu sisi, dengan usaha puitiknya pada paragraf tersebut, pengarang ingin mengkritik perilaku orang-orang yang hanya mengunjungi pemakaman setiap sebelum bulan suci, itupun dilakukan dengan basa basi.

Selanjutnya, latar peristiwa dalam cerita ini berubah, dengan media transisi berupa banjir yang menyeret tokoh utama keluar dari latar sebelumnya ke latar berikutnya, yaitu jalan –jalan raya, jalanan, jalan kota. Tokoh utama menjadi menjadi saksi peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika banjir melanda, bagaimana masing-masing orang berenang menyelamatkan diri, bagaimana ia melihat seorang pria berdasi yang terpenjara dalam mobilnya sendiri, dan ia ingin menolongnya tapi tak bisa, bagaimana ia menyaksikan seluruh kota akhirnya terendam, bagaimana ia melihat seorang perempuan yang histeris mengguncang pundak seorang Kiai, namun Kiai tersebut rupanya tidak bisa berbuat apa-apa, dan tenggelam.

Ada yang janggal di bagian ini: “Air kini sudah selutut patung pancoran”. Sedari awal, latar kota tidak disebutkan di kota mana, apakah kota yang nyata ataukah kota khayal. Hal ini membebaskan pembaca untuk membayangkan latar kota mana saja. Namun tiba-tiba, seolah kebebasan pembaca dibetot untuk meyakini bahwa latar peristiwa adalah di Jakarta, mulai dari pemakaman sampai di jalan-jalannya. Dengan kalimat tersebut, seolah pengarang juga ingin lebih meyakinkan yakin pembaca bahwa banjir yang terjadi sangat tinggi, tidak cukup hanya dengan kalimat “Seluruh kota pun telah terendam” di paragraf sebelumnya.

Terlihat bahwa pengarang ingin memasukkan unsur kritisisme sosial dalam karyanya. Orang berdasi yang terpenjara dalam mobilnya sendiri adalah sebuah perumpamaan orang-orang kaya –pengusaha, birokrat, pejabat, konglomerat- yang tidak dapat melakukan apapun dengan harta dan kekayaannya untuk menyelamatkan diri dari bencana dan kematian. Seorang perempuan yang mengguncang pundak seorang kiai adalah perumpamaan orang-orang lemah yang mencari jawaban atu bersandar pada keyakinan agama semata, dalam memandang keadilan dan bencana. Meskipun perempuan tidak selamanya berarti orang-orang lemah, namun secara tidak sadar, pengarang memposisikan perempuan sebagai kaum lemah dan teraniaya. Jika hal ini ternyata salah, lantas mengapa pengarang memilih sosok perempuan, bukannya sosok lain. Di sisi lain, pengarang juga meninggikan sosok perempuan. Dari balik kelemahannya, perempuan menyimpan kekuatan yang luar biasa dalam berpacu tangisan dengan hujan menimbulkan banjir yang lebih besar. Dan seorang kiai yang akhirnya hanya melihat ke langit dan menundukkan kepala, tenggelam adalah perumpamaan tokoh agama yang tidak bisa berkutik menghadapi bencana dan kematian.

Cerita diakhiri dengan menghilangnya sosok lelaki entah kemana, meninggalkan kota yang semakin gelap dan dipenuhi ketakutan. Narasi akhir “Mungkin juga ia tenggelam dan masuk ke dalam makam yang tersedia untuknya”. Bukanlah lelaki itu telah diseret oleh banjir keluar dari pemakaman? Bukankah tubuhnya telah berubah menjadi busa dan tidak dapat tenggelam? Lalu apa hubungan -ku dalam judul “Satu Makam Untukku” dengan “makam yang tersedia untuknya”? Agaknya, hubungan-hubungan seperti inilah yang belum terbangun dengan sempurna dalam cerita ini. Pengarang masih terjebak pada kesan puitik kalimat-kalimat yang ditulisnya sendiri, dan masih terjebak pada cerita yang ditulisnya sendiri, sehingga melupakan unsur-unsur dan logika yang membangun keutuhan sebuah cerita.

Seperti diawal telah saya katakan bahwa cerita ini tidak bagus, juga tidak terlalu buruk. Pilihan tema dan penceritaan yang tidak biasa, mungkin menjadi kelebihan cerita ini dengan ketiga cerita yang lain. Namun sayangnya, tema dan penceritaan tersebut kurang dieksplorasi lebih jauh dan lebih dalam. Hubungan satu unsur dengan unsur yang lain dalam membangun cerita rasanya masih agak timpang. Apa hubungan nama “Sugeng Bin Sabar” dan “Sri Rahayu”. Ada gerangan apakah lelaki itu masuk ke pemakaman umum, ketidakadilan semacam apakah yang telah diterima lelaki itu sampai-sampai hujan membelanya. Jikapun hujan benar-benar membelanya, lantas kenapa pada akhirnya lelaki itu diseret banjir entah kemana yang oleh narator dikatakan “Mungkin juga ia tenggelam dan masuk ke dalam makam yang tersedia untuknya.” Saya tidak akan mempermasalahkan logika waktu peristiwa, karena cerita ini berada dalam lanskap sureal dimana logika waktu menjadi tidak begitu penting.

Jika sebuah cerita diibaratkan sebuah bola, maka sebuah cerita yang bagus adalah bola yang pejal, tidak ada celah-celah atau ruang kosong di dalamnya. Dan lapisan luar bola tersebut adalah cermin, di mana pembaca bisa berkaca darinya. Cerita yang kurang tersusun sempurna bisa diibaratkan batu apung yang terdapat celah atau rongga di sana sini.

Apa yang saya sampaikan di atas tidak mutlak kebenarannya. Saya hanya menuliskannya berdasarkan temuan atau bacaan saya atas cerita “Satu Makam Untukku” didasari oleh pengetahuan saya yang masih terbatas. Bisa jadi pembaca lain menemukan hal lain yang jauh lebih dalam dan lebih banyak dari yang saya temukan.

Terima kasih. Mari Berkarya!!

Pekalongan, 11 Januari 2008

Read More...

Metafora yang Tidak Pas

| Labels: , | 4 comments |

Oleh Hasan Aspahani

Seorang Lelaki dan Layang-layang oleh andi tafader

0. Inilah sajak yang hendak kita bicarakan:

Seorang Lelaki dan Layang-layang

Lelaki itu membeli layang-layang berdawai nyaring
Di tepi jalan di suatu siang yang benderang
Dipilihnya yang berwarna paling terang
Dibawa dan dimainkan di tanah lapang

Layang-layang senang bukan kepalang
Terbang tinggi menggapai bintang
Ditarik ulur ujung benang
Layang-layang mengawang-awang

Angin kencang datang menendang
Layang-layang putus melayang
Dikejarnya dengan galah panjang
Layang-layang tak jadi menghilang

Puas bermain meniti jalan pulang
Di tepi jalan layang-layang baru ramai terpajang
Warna dan bentuk lebih terang dan mentereng
Dibelinya lagi satu layang-layang
Layang-layang lama dihempaskan ke jurang
Dawainya melengkingkan sebuah dendang

Tentang seorang lelaki yang tak usai bertualang
Dengan wanita-wanita yang selalu jadi pecundang

(30 Nopember 2007)

1. SAYA sangat terganggu dengan dua baris pada larik terakhir itu. Saya kira dengan dua baris itu penyairnya bermaksud memberi kejutan atau memberi panduan kepada pembaca. Seakan ia mau berkata, “ini lo maksud sajak saya.” Ini samalah kira-kira dengan sajak Chairil Anwar “Aku” yang tiba-tiba di akhir sajak itu diberi baris: Sajak ini tentang semangat hidupku yang berkobar-kobar! Apa perlunya? Kenikmatan sajak justru ketika pembaca dihargai kemampuannya untuk menangkap maksud sajak.

2. TAPI baiklah kita terima kebaikan hati si penyair dengan mengikuti saja petunjuknya, bahwa layang-layang di sajak ini adalah metafora dari perempuan. Tepatkah metafora itu? Atau kita ganti pertanyaannya: asyikkah metafora itu? Saya kira tidak. Coba kita nikmati dari awal.

  • Perempuan seperti apakah yang terbayang dengan metafora “layang-layang berdawai nyaring”?
  • Kalau perempuan itu dikaitkan dengan lelaki yang suka berpetualang, maka apakah tepat bila dalam sajak ini digambarkan si lelaki itu mendapatkan si perempuan di sebuah siang yang terang? Mungkin lebih tepat, bila digambarkan transaksi itu terjadi di malam remang. Tapi, sejak awal si penyair telah memilih laying-layang, dan itulah masalahnya, sebab tak mungkin kan main laying-layang pada malam hari?
  • Dengan nalar yang sama, kita bisa bertanya apakah yang terbayang ketika si layang-layang itu direbutkan di tanah lapang? Harusnya kan di tempat yang juga remang-remang?
  • Begitulah, bait-bait berikutnya juga semakin meyusahkan saya untuk mengutuhkan bacaan saya, dan saya kecewa.

3. SAYA sangat percaya pada teori bahwa sajak yang baik adalah sajak yang oleh penyairnya dijaga keutuhannya, sambil ia juga menawarkan keasyikan-keasyikan proses pemaknaan dengan menjalin kompleksitas di sekujur sajaknya itu. Unitas dijaga dan . kompleksitas ditebarkan. Maka hasilnya adalah sajak yang asyik untuk ditelusuri.

4. SAYA yakin kandungan sajak di atas bisa dituliskan dengan lebih baik lagi, asal si penyairnya meninjau lagi metafora yang hendak ia pakai, memberdayakan lagi perangkat-perangkat puitika. Apa itu? Ya baca lagi teori Strukturalis, yang menjelaskan bahwa sajak terdiri atas struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik terdiri atas kosa kata yang dikuasai penyairnya, diksi, bahasa kias dll. Struktur batin terdiri atas tema, nada, dll.

5. Ah, saya cuma penyair bakat alam yang belajar otodidak. Anda, wahai penyair sajak ini, pun bisa juga melacak dan belajar sendiri teori-teori sajak (tanya Om Google-lah) belajar struktur sajak demi mempercanggih persajakan Anda.

Salam.

Read More...

Dari Catatan Harian Hingga Cerita Pendek

| Labels: , | 0 comments |

Oleh Moh Fahmi Amrulloh

Goodbye…. (for now) oleh k4cruterz

Tulisan berjudul Goodbye yang saya baca adalah salah satu hasil persinggungan seorang penulis dengan satu peristiwa visual atau lebih yang terjadi sehari-hari di sekitarnya. Peristiwa visual tersebut diolah sedemikian rupa menjadi peristiwa tekstual yang kemudian disebut sebagai media ekspresi, entah isi hati sang penulis atau sekadar menyuarakan apa yang dilihat agar didengar orang lain.

Akan tetapi, jika sudah berhadapan dengan publik, lagi-lagi yang terjadi adalah bagaimana hasil ekspresi itu bisa dinikmati oleh orang banyak, berfungsi mencerahkan, dan tidak menghakimi. Memproduksi sebuah tulisan yang enak dibaca, lebih-lebih mencerahkan, bukan persoalan mudah. Prinsip tidak menganggap enteng sesuatu itulah menurut saya kunci yang harus ditanamkan dalam diri seorang penulis.

Seorang yang baru belajar menulis biasanya membekali dirinya dengan idealisme yang tinggi. Di satu sisi, idealisme memang diperlukan. Namun, jika si penulis tidak dapat mengendalikan diri, tentu saja hal itu akan membuatnya menemui kesulitan yang luar biasa. Mereka membayangkan bahwa menulis dan mempublikasikan tulisannya ke media (khususnya cetak) adalah semudah membalik telapak tangan. Pada akhirnya, justru yang didapat adalah kegagalan.

Kembali pada Goodbye ini. Entahlah, bagi saya tulisan ini hanya menerakan impresi yang biasa di benak saya, selain dia tak lebih dari sebuah laporan catatan harian seorang anak laki-laki yang sedang menunggu ayahnya melewati masa-masa kritis di sebuah rumah sakit. Seorang anak yang mengenang masa lalunya bersama sang ayah, dan kini mereka seolah bersiap untuk dipisahkan oleh kematian.

Tulisan ini diawali dengan berondongan pertanyaan yang cukup mengena dan tentu saja memungkinkan keterlibatan pembacanya. Setelah melempar pertanyaan-pertanyaan, barulah si penulis membuka “catatan harian”-nya.

Si penulis mengisahkan pergulatan batin seorang tokoh laki-laki yang belakangan namanya diketahui sebagai Mirza. Tokoh Mirza yang sedang bergulat dengan batinnya sendiri menjelang kematian sang ayah mencoba untuk tetap tegar pada saat itu.

Bukankah ini sebuah peristiwa yang wajar? Seorang anak, entah laki-laki atau perempuan, yang ditinggal pergi untuk selamanya oleh orangtua akan bersedih. Seorang manusia yang ditinggal oleh sahabat tercintanya tentu akan merasa terpukul. Jadi, apa istimewanya sebuah cerpen yang mengangkat tema-tema yang selalu diulang?

Untuk menjawab pertanyaan ini kita tidak bisa hanya dengan memakai kacamata normatif. Terlebih lagi dalam frame sastra, segala peristiwa yang dimunculkan oleh pengarang seperti pilihan-pilihan yang sengaja dibebaskan. Dengan kata lain, apa yang mencuat dalam suatu karya sastra adalah santapan siap saji. Pembaca yang tergila-gila pada karya-karya realis tentu mustahil menomorsatukan karya-karya surealis. Ibarat hobi kuliner, seseorang yang lidahnya terbiasa mencecap makanan pedas akan merasa sulit menyesuaikan diri dengan makanan daerah lain yang berciri khas manis.

Kendati disampaikan dalam format catatan harian, namun tulisan ini sebenarnya masih sangat mungkin untuk terus dikembangkan dalam cerita yang lebih luas. Masih banyak ruang-ruang yang perlu diisi oleh penulis, dengan catatan si penulis mau sedikit—syukur-syukur secara total—bersusah payah untuk terus melakukan eksplorasi. Anggap saja tema kelahiran, kehidupan, kematian, bahkan kehidupan setelah kematian sebagai stimulan yang menggelitik daya kreatifitas seorang penulis. Namun, bagaimana tema-tema itu diungkapkan dengan gaya yang lain dan orisinil, hal itu sudah menjadi wilayah prerogatif seorang penulis.

Satu catatan yang menurut saya sangat perlu diperhatikan oleh penulis cerita ini adalah terlalu “dermawan”-nya dia dalam memberikan tanda kutip. Misalnya, dalam kata ‘mencuci’, ‘menampar’, ‘Alam sana’, dan ‘rumah.’ Saya kira hal ini cukup mengganggu ketika saya membaca Goodbye ini. Sebuah karya sastra tidak melulu berfokus pada pesan yang ingin disampaikan, tapi bagaimana si penulis bermain-main dengan diksi, metafora, dan sebagainya tentu dengan sendirinya akan menunjukkan kelincahan sang penulis. Dan, untuk melatih kreatifitas seorang penulis bermain kata, saya kira tanda kutip seperti yang bertebaran dalam tulisan Goodbye ini saya sebaiknya digunakan dalam penulisan kolom opini, esai, catatan harian, atau yang lainnya. Terima kasih dan semoga membantu.

Read More...

“GOODBYE”: GODA AKU DENGAN…

| Labels: , | 0 comments |

Oleh Hara Hope

Goodbye.... (for now) oleh k4cruterz


“Pernahkah engkau memandangi wajah dari seseorang yang begitu engkau kasihi saat sang ajal mulai perlahan merenggut cahaya kehidupan dari sekujur tubuhnya?

Pernahkah engkau menyaksikan saat hembusan nafas ditarik untuk terakhir kalinya?

Pernahkah engkau merasa begitu tak berdaya saat maut menjemput seseorang yang begitu berarti bagi kehidupan kita?

Aku pernah...”

Begitu cerpen ini diawali. Sebuah teaser. Teaser yang menggoda, terlebih dilontarkan dengan kalimat interogatif untuk kemudian diakhiri kalimat bernuansa “posesif”. Menurut hematku, pola teaser seperti ini sangatlah baik karena sangat membantu menularkan ke-aku-an si tokoh cerita kepada ke-aku-an pembacanya (reflektif).

Hanya saja (God, I hate this part ^_^), aku merasakan kekuatan teaser ini cenderung berkurang. Pada prinsipnya, teaser di sini memiliki kekuatan lebih pada dua kata, “pernahkah engkau…..,” yang truly madly deeply (song by Savage Garden ^_^) menggugah kesadaran pembaca bahwa si tokoh ingin berbagi pengalamannya yang bukan semata-mata akan terjadi pada si tokoh dalam sebuah fiksi, melainkan bisa juga terjadi dalam kehidupan nyata pembacanya. Dalam hal ini, si penulis cerpen telah berhasil mendekatkan pembaca secara psikologis pada kisahnya dengan gaya tuturnya yang lugas (lewat kata “pernahkah”). Dan kita tahu kedekatan pembaca terhadap sebuah cerita sangatlah penting keberadaannya.

Lalu apa yang membuat kekuatan ini berkurang?

Sebetulnya spekulatif, setiap pembaca mungkin akan memiliki pendapat masing-masing akan hal in. Tapi aku menengarai kalimat yang panjang pada kalimat, “Pernahkah engkau memandangi wajah dari seseorang yang begitu engkau kasihi saat sang ajal mulai perlahan merenggut cahaya kehidupan dari sekujur tubuhnya?” lah penyebabnya. Dengan kalimat panjang seperti ini, pembaca biasanya akan membutuhkan napas lebih panjang dan memori yang lebih besar untuk melahap makna dalam kalimat. Hal ini membuat “daya ingat” pembaca akan kata-kata terdahulu sedikit berkurang karena perhatiannya terpusat agar ia mampu menyelesaikan kalimat panjang itu dalam “satu tarikan napas.” Secara otomatis hal ini membuat kekuatan suspens yang ditumpukan pada awal kalimat pun akan berkurang.

Tidak percaya? Coba bandingkan dengan kalimat,

“Pernahkah engkau memandangi wajah seseorang yang begitu engkau kasihi menjelang ajalnya?”

Lebih ringkas, bukan? Kalimat ringkas yang sebenarnya bisa lebih disederhanakan lagi tergantung selera pembuat kalimatnya – karena hal ini hanyalah satu dari sekian masalah teknis sebuah cerpen. Tapi, seperti yang sudah kukatakan, ini “hanyalah” tentang perlunya membuat pembaca tidak cepat lelah dan hilang perhatiannya akibat kalimat panjang – bahkan terkadang kalimat terlalu pendek yang runtut.

Kemudian soal kalimat teaser berikutnya:

Pernahkah engkau menyaksikan saat hembusan nafas ditarik untuk terakhir kalinya?

Pernahkah engkau merasa begitu tak berdaya saat maut menjemput seseorang yang begitu berarti bagi kehidupan kita?

Sebuah rangkaian repetisi.

Ya, teaser ini dibangun dengan gaya repetisi dimana terjadi pengulangan suatu kata atau sebagian kalimat atau seluruh kalimatnya (F.X. Mudjihardja, 1988). Dan repetisi pada kalimat dua dan tiga ini dibangun untuk memperteguh kekuatan kalimat pertama sekaligus memberi informasi turunan darinya. Hanya saja (aku sudah sebutkan aku benci bagian ini, kan?) repetisi seringkali tak perlu disertai pengulangan kata lagi, sehingga rasanya kata “pernahkah engkau” di kalimat kedua dan ketiga tidak perlu lagi ada.

Adapun kalimat terakhir, yakni, “ Aku pernah,” merupakan eksekusi yang baik dari jajaran kalimat teaser ini.

Teaser bergaya semacam ini tentu bukan hal yang baru dalam dunia cerpen. Tapi bukan berarti pula teknik ini basi. Dan kukatakan sekali lagi, ini hanya satu dari sekian banyak teknik dalam pembuatan cerpen. Karena itu, untuk sekedar berbagi informasi (bukan untuk membandingkan, hanya ingin berbagi wawasan) aku coba cantumkan pula satu teaser bergaya interogatif. Begini isinya:

Sebelumnya aku harus bertanya ini dulu padamu: apakah kau menyukai keributan? Sesuatu yang lebih riuh dari acara ulang tahun temanmu yang menyebalkan dan membuatmu terpaksa menutup daun telinga. Keributan yang membuat kepalamu membesar melebihi kuali Ibu di dapur. Memaksamu untuk memukul-mukul kepalamu sendiri karena keributan itu tak kunjung berhenti padahal kau telah sangat ingin meledak karenanya.

Bila jawabmu ya, maka kau bukan temanku. Namun bila jawabanmu tidak, belum tentu keributan yang kita sukai adalah keributan yang sama.

Teaser di atas kunukil dari cerpen Ucu Agustin berjudul Vacuum Cleaner. Bisa kita lihat di atas, kalimat utama teaser ini ringkas, bukan? Teh Ucu baru berani bermain-main dengan kalimat panjang pada kalimat berikutnya sampai kalimat eksekusi teasernya.

Aku tentu tak akan bilang bahwa suatu teaser yang baik haruslah memiliki komposisi atau struktur kalimat seperti yang Teh Ucu bikin. Tapi sekali lagi kuungkapkan, bahwa dalam sebuah teaser kelimat utama yang menggugah keingintahuaan pembaca harus-haruslah jelas dan padat.

Oke, sebelum kita bosan membicarakan teaser, kita ulas teaser ini dengan mengorelasikannya dengan cerita utama.

Saat memulai membaca cerita utamanya, terus terang aku merasakan aura kematian menguar begitu kentara. Sungguh pun cerita ini bercerita tentang kematian, tapi rasanya tak semestinya hal ini muncul begitu hebat. Bagi pembaca yang sabar membaca hingga akhir, tentu tak akan bermasalah dengan hal ini. Tapi bagi pembaca yang merasa hanya punya waktu membaca yang sempit, hal ini akan membuatnya berani menebak-nebak endingnya sambil bergumam, “Akh, pasti endingnya mati.” Celakanya, orang seperti ini sangat peduli pada ending sehingga jika ia merasa sudah tahu endingnya, ia akan langsung meninggalkan bacaannya sekalipun bisa saja ia salah menduganya dan bisa saja inti ceritanya bukan soal itu.

Sebagai penulis, kita tentu tak menghendaki itu, bukan? Kalau bisa, kita jaring semua pembaca dengan berbagai tabiat dan karakteristiknya.

Namun yang perlu difokuskan di sini adalah kekurangrelevanan antara teaser dan pembuka cerita utama. Logikanya, teaser merupakan pembangun stigma untuk cerita utamanya. Tapi terkadang stigma dalam teaser saja tidak cukup. Perlu ditambah lagi dengan stigma dalam pembuka cerita utama. Bagiku, teaser di cerpen ini kurang lebih memberitakan bahwa apa yang ingin disampaikan dalam isi cerpen adalah pengalaman menemani seseorang -- lebih spesifik lagi: memandangi wajah seseorang -- menjelang kematiannya. Maka sederhananya, stigma di awal cerita utama pun pastilah mengenai stigma “memandang wajah seseorang menjelang ajal” ini. Entah melalui nuansa mencekam, mengharu biru, atau lain sebagainya, yang pada intinya mempersiapkan diri pembaca dulu merasa, mendengar, dan membayangkan peristiwa yang akan dilihatnya langsung di puncak cerita. Bahkan untuk menambah geregetnya, bila perlu pakai juga alur maju-mundur untuk lebih mengaduk-aduk perasaan pembaca dengan berbagai flashback kehidupan para tokohnya dengan sang ayah.

Ini saja yang dapay kubicarakaan dari cerpen ini. Sisanya adalah mengenai corak tulisan yang sepertinya sudah ditemukan oleh si penulis.

Entah semua yang membaca tulisan ini tahu atau tidak, bahwa aku menerima naskah ini tanpa disertai nama pemilik cerpen ini. Jadi aku membaca saja seperti membaca sebuah sobekan kertas koran tanpa tahu sobekan itu dari Kompas atau Lampu Merah. Aku pun tak pernah membacanya di K.com sebelumnya, walau aku merasa pernah melihat judulnya entah di daftar cerita terbaru, entah di mana (tanpa ingat nama penulisnya). Namun saat membaca cerita ini, aku rasanya seperti mengenal siapa gerangan si penulisnya. Lalu kucek di K.com, dan…Hei, aku menemukan sebuah nama. Dan nama itu sesuai dengan dugaanku!!

Kupikir ini patut diberi ucapan selamat. Sebab di usia muda kepenulisannya (menurutnya lho, saat kami berkesempatan mengobrol santai di Semanggi), ia sudah menemukan corak tulisnya.

Tapi jangan pernah tanyakan seperti apa corakmu. Dari pengalamanku yang masih hijau ini, aku pernah melihat penulis-penulis muda sepertimu – dan aku – yang terlalu sibuk mengidentifikasi coraknya sehingga ia lupa untuk mengembangkan tekniknya. Sebagian lain malah merasa drop karena ada yang menilai tulisannya mirip Kahlil Gibran lah, Khairil Anwar lah, seakan-akan mereka hanya bisa menjiplak gaya semata – padahal terkadang mereka sama sekali belum pernah membaca tulisan penulis yang “termirip-miripkan” itu.

Jadi setelah sedikit berbangga sejenak, lupakanlah bahwa ente punye gaye. Just do it (karena kita hanya menerima cash ^_^). Menulislah terus. Banyak-banyak berlatih. Corak-tulis hanyalah sampah jika kau tak mengembangkannya. Jangan lupakan juga hati kecilmu, pesan-pesanmu. Bagiku yang naif ini, sebuah pesan dalam sebuah cerita tetaplah utama.

So, maju terus pantang mundur!!

Toto tentrem kerto raharjo!!

Tat tit tut daun cereme saha nu hitut bujur na rame dibawa ka saung butut balik na pakceletut (wah hebat, sampai detik ini masih ada juga baca. Padahal aku cuma iseng nambahin bo!! Kik kik kik). Hara

Read More...

Resensi Puisi 'Sembilu Waktu'

Thursday, January 10, 2008 | Labels: , | 1 comments |

Oleh Budhi Setyawan

Sembilu Waktu oleh andi tafader

Saya memberikan komentar resensi untuk puisi yang berjudul SEMBILU WAKTU. Nama pengarang tidak saya ketahui, karena tidak dicantumkan ke email saya. Mungkin memang sengaja tidak diberitahukan oleh panitia. Dan saya sendiri, sebenarnya tidak punya kepentingan dengan para pengarang yang karyanya masuk ke panitia. Resensi dari saya tidak banyak, karena memang sedikit yang bisa diulas dari salah satu judul puisi yang dikirimkan kepada saya. Berikut resensi dari saya:

Pada awal bait pertama, baris pertama dan kedua; pengarang ingin mengatakan bahwa menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, sesuatu yang tajam, laksana ‘sembilu’, terasa menyakitkan, menikam; diungkapkan sebagai ‘menyayat tiada terperih’. (di sini mungkin yang dimaksud adalah ‘terperi’ bukan ‘terperih’. Karena kalau ‘terperih’ artinya adalah paling perih.). Situasi yang menyakitkan itu juga merupakan misteri yang tak ada jawaban, iya atau tidak, diungkapkan dengan ‘sekelam segitiga bermuda’. Sedangkan kata-kata ‘menyimpan rahasia kematian’ hanya menjelaskan tentang segitiga Bermuda, bukan menjelaskan tentang perasaan pengarang.

Kemudian pada baris ketiga; tertulis ‘peluh yang menghulu’. Di sini pengarang ingin mengungkapkan bahwa kerinduannya kian mendalam, sampai-sampai peluh atau keringat kembali ke hulunya, ke dalam tubuh. Kegalauan yang amat sangat hingga peluh pun berbalik arah, merasuk kembali ke asalnya. Sedangkan pada baris keempat; diungkapkan bahwa desah nafas dari yang dirindukan, membuat terlena jiwa yang memang sebenarnya telah terjerat ke dalam perasaan rindu yang demikian erat, yang diungkapkan sebagai ‘terperangkap pusaran ombak’.

Pada bait kedua, baris pertama dan kedua; ungkapan ‘pada hari tempat matahari dan rembulan berbagi rasa’, apakah yang dimaksud adalah suasana senja hari, yang biasanya suasana temaram dan menimbulkan nuansa kesendirian? Sedangkan pada baris kedua, pengarang sebenarnya ingin mengungkapkan kerinduan yang telah menyesak, namun dalam pernyataannya ada semacam pertentangan. Di situ tertulis ‘aku tuangkan rindu yang telah ngilu membeku’. Mungkin maksud pengarang, karena sudah begitu lamanya memendam kerinduan, ingin ditumpahkan. Akan tetapi seperti ada yang kurang bisa disandingkan tentang menuangkan sesuatu (rindu) yang membeku. Ceritanya akan lain apabila penegasan rindu bukan dengan membeku, tetapi ‘rindu yang terus bergolak’, misalnya.

Dan pada baris ketiga dan keempat, pengarang ingin mengatakan bahwa sampai saat itu belum ada perubahan keadaan atau nasib, dan dalam perjalanannya belum bertemu dengan yang dirindukan, serta ungkapan ‘berselimut kenangan’ bisa diartikan sebagai selalu teringat dan tak bisa lepas dari bayangan masa lalu.

Secara umum bisa dikatakan bahwa pengarang ingin menceritakan tentang kerinduan kepada kekasih namun belum bertemu jua, dan selalu teringat kepada bayangan masa lalu.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Terima kasih.

Bekasi, 3 Januari 2008

Salam sastra,

Read More...

Sesi IV Resensi

Thursday, January 3, 2008 | Labels: , | 0 comments |

Start: 7 Januari 2008
Location: kemudian.com

Materi : 4 puisi, 4 prosa

Peresensi :
M. Aan Mansyur
Budhi Setyawan
Hasan Aspahani
Mikael Johani
Lisa Febriyanti
Fahmi Amrulloh
Hara Hope
Adi Toha

(detil peresensi masih akan bertambah dan detil karya akan menyusul)

Read More...

Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha ti.

Monday, December 17, 2007 | Labels: , | 4 comments |

Oleh Mikael Johani

Hati oleh ghe

duh.

hatimu berserakan di lantai kamarku

sebentar. kuambil pengki dan sapu



Saya tertawa membaca ini. Sebentar, jangan tertawa dulu. Tertawa barang langka sekarang dalam sastra Indonesia, paling tidak (meneruskan rant saya dua di sesi satu kemarin) yang diakui oleh koran-koran Minggu. Dan orang sebenarnya rindu ketawa, lihat ini. Jadi, satu hal penting dulu, hanya karena saya tertawa, bukan berarti sajak kecil ini lebih 'ringan' apalagi lebih tidak bermutu daripada sajak yang membuat saya mengerutkan dahi atau mengelus-elus dada (ini juga mungkin terjadi gara-gara saya bingung dan putus asa nggak ngerti artinya, belum tentu karena sajaknya menyedihkan dan membuat trenyuh).

Saya tertawa karena apa? Pertama-tama, tidak jelas. Tapi menurut saya, alasan tertawa memang susah dijelaskan. Tidak semua orang akan menertawakan hal yang sama. Dan hal yang sama-sama ditertawakan mungkin sekali tidak ditertawakan karena alasan yang sama. Ada alasannya kenapa Freud menjuduli kitab sucinya tentang humor 'Jokes and their Relation to the Unconscious', karena kelihatannya memang itulah yang diserang oleh sebuah lelucon, alam bawah sadar kita, sebelum sadar kenapa, kita sudah tertawa duluan.

Tapi marilah kita bermain Oprah sebentar, jadi psikoanalis amatiran.

Mungkin yang pertama membuat saya ketawa adalah anti-klimaks sajak ini, 'sebentar. kuambil pengki dan sapu'. si pacar (eks pacar!) sadar hati (eks)pacarnya berserakan di lantai kamar (pastinya dia sendiri yang menghancurkannya!) tapi reaksinya bukan, misalnya, 'nih, bunga sekeranjang!', dia hanya akan menyapu serpihan-serpihan hati itu, menggiringnya ke pengki, dan kemudian saya bayangkan, ke mana lagi kalau bukan membuangnya ke tempat sampah! dan perhatikan titik setelah sebentar itu. bukan 'sebentar, (koma) ...' seberapakah sebentar yang diikuti titik itu? si (eks)pacar berdiri (atau mungkin tergeletak pingsan di lantai) tanpa hati, dan masih juga dia disuruh menunggu! mana emergency response-nya!

Tapi mungkin sebelum itu saya sudah ketawa karena 'duh.' di baris pertama. ini (lagi-lagi diikuti titik yang nyantai, bukan koma yang tergesa apalagi tanda pentung yang panik) duh khawatir atau duh kebosanan? duuuh, lagi deh, gimana siiih!

Kesinisan penyair, yang dikatakan dengan begitu dead pan, buat saya sangat menghibur. Buat saya, kesinisan adalah emosi yang sama real-nya dengan, misalnya, penyesalan. Dan penyesalan sudah diberikan terlalu banyak tempat di koran Minggu (tetep).

Tapi ini masalah yang buat saya memang besar. Sejak puisi mbeling di tahun '70-an (cari antologi 'Penyair Muda Di Depan Forum' di toko buku Jose Rizal di TIM), baru 'Antologi Bunga Matahari' (2005) yang dengan sadar memberi tempat utk emosi-emosi yang tidak melulu muram. (Joko Pinurbo bisa lucu juga, tapi pada dasarnya dia seorang romantis yang paling suka kalau bisa menguras air mata pembacanya.)

Mungkin selain tertawa karena sajak ini lucu, saya juga tertawa lega karena sajak ini tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam romantisme, apalagi sentimentalisme, yang palsu.

Tidak tahu apakah ini sengaja atau tidak, mungkin tidak penting sengaja atau tidak, saya juga suka dengan bentuk visual sajak ini. Pendek, cuma tiga baris, yg membuat saya berpikir tentang haiku, atau misalnya ini:

Malam Lebaran

Bulan

Di atas kuburan

(Sitor Situmorang)

Yang juga mungkin membuat saya secara tidak sadar menanti sesuatu yang penuh kekhidmatan seperti itu. Penantian yang langsung hancur berserakan setelah membaca 'duh.' tadi.

Perrmainan bentuk seperti ini, mengkhianati bentuk, tentu bisa menjadi salah satu senjata penyair yang ampuh. Seperti Sitor sendiri misalnya, dengan (nyaris)pantun-nya 'Si Anak Hilang' yang pulang ke bentuk tradisional hanya untuk memberi tahu bahwa si anak hilang ini tidak mungkin pulang!

Dan lagi2, parodi bentuk seperti ini juga jarang sekali ditemui sekarang di koran-koran Minggu. Yang kebanyakan memuat verse yang sok libre. Satu lagi centang dengan bolpen hijau untuk puisi 'Hati' ini.

Satu lagi yang membuat saya penasaran tentang ini, dan yang juga lama tidak disinggung oleh sastra Indonesia, terutama kritik(us)2nya adalah fungsi retorik puisi ini. Dia diucapkan untuk apa? Apakah misalnya, untuk membuat (eks)pacar ini jadi lebih kesal sehingga dia akhirnya meninggalkan kamar terus si penyair bisa tenang hore2 main Wii? Kita suka lupa puisi punya maksud pragmatis seperti itu juga. Dan seandainya itu benar, betapa efektifnya puisi ini! (Eks)pacar mana yang tidak akan semakin muak dengan penyair tanpa hati seperti ini!

Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha
hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha
hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha
hahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha

ha.

Read More...

ROMANTISME Menanti Hujan

| Labels: , | 2 comments |

Oleh Amalia Suryani

Menanti Hujan oleh noir

Tidak jelas. Tapi ketidakjelasan itu sangat manis dibaca dan dibayangkan. Mungkin ini gara-gara hujan. Sebab selain nuansa suram dan kelabu, hujan memang suka memberi efek manis romantis.

Engkaukah yang datang bersama hujan itu?

Oh ya… si pengarang, yang awalnya saya pikir perempuan, memilih pertanyaan yang benar. Sebab pertanyaan sentimentil semacam itu sungguh serasi dipadankan dengan suasana tubuh dan sekaligus hati yang dingin.

Namun rasanya judul tulisan ini kurang pas. Sebab hujan sudah datang (kok masih dinanti?). Hanya lelaki hujan saja yang belum muncul. Jadi bukan hujan yang ditunggu-tunggu, melainkan si lelaki hujan. Mungkin pengarang lebih memilih judul “Menanti Lelaki Hujan” agar tidak mementahkan romantisme yang ingin ia ciptakan. Mungkin.

Diceritakan hujan sedang turun, aku bertanya apakah lelaki hujan datang bersama hujan itu, sebab biasanya lelaki itu datang ketika hujan. Aku lalu bertanya-tanya apakah lelaki hujan tidak akan lagi datang bersama hujan, melainkan bersama kemarau. Lelaki hujan menjawab; bahwa ia bukan hujan, ia juga bukan kemarau. Ia adalah musim yang salah. Nah… sampai di sini saya jadi bingung. Rangkaian pertanyaan dan jawaban di akhir tulisan ini merusak keasyikan saya mengikuti nasib aku yang menanti seorang lelaki yang mestinya datang bersama hujan,

“Aku bukan hujan.”

Saya ngerti lelaki itu bukan hujan. Ia cuma seseorang yang biasa datang bersama hujan. Jadi sepertinya, pada akhirnya ia datang untuk menjelaskan pada aku kalau dirinya bukan hujan.

“Kemarau itu kau yang ciptakan.”

Saya asumsikan kemarau di sini adalah gambaran kerinduan aku. Dan kemarau itu muncul karena lelaki hujan lama tak datang.

“Aku adalah musim yang salah.”

Ah ya… ini yang paling mengganggu. Kalimat ini menjadi puncak “kalimat berbunga” alias kiasan yang sejak awal menjadi gaya yang pasti sengaja dipilih pengarang untuk menceritakan kisah aku. Apa yang sebetulnya hendak disampaikan pengarang? Saya merasa kalimat itu bukan sekadar pemanis percakapan.

Apakah ungkapan itu disampaikan untuk meminta secara tidak langsung agar aku tidak perlu lagi menunggu lelaki hujan datang bersama hujan? Bahwa di saat-saat sebelumnya aku keliru menganggap lelaki itu adalah lelaki hujan? Bahwa ia hanya lelaki yang memiliki banyak kenangan berlatar suasana hujan dengan aku? Bahwa ia sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan hujan yang menyertainya? Atau ia hendak menyampaikan kalau selama ini ia datang tidak di saat yang tepat?

Ada banyak kemungkinan. Saya sendiri lebih suka menganggap tulisan ini adalah jelmaan rasa rindu seorang perempuan akan kehadiran seseorang yang selama ini membuatnya tenang sekaligus bisa mengekspresikan perasaannya dengan liar. Rasa rindu itu belum terobati hingga akhir cerita sebab yang ia tunggu belum muncul, kecuali sekadar penggalan-penggalan kenangan.

Ah ya, satu hal lagi yang saya simpulkan dari tulisan ini: bahwa pada tanggal 9 Oktober 2007 sekitar pukul 2 siang… turun hujan.

Read More...

MISTERI Danau Kematian

| Labels: , | 0 comments |

Oleh Amalia Suryani

Danau Kematian oleh niska

Fiksi memang bisa menjadi kedok bagi pengarang untuk menjawab keanehan, ketidakmungkinan, dan lebih ekstrim lagi: kemustahilan. Lewat fiksi, imajinasi bisa dibentangkan seluas dunia, termasuk dunia lain yang tidak kasat mata. Penceritaan Danau Kematian adalah salah satu kemustahilan, yang saya yakin oleh pengarangnya dianggap “aman” karena ini cerita fiksi.

Saya menganggapnya mustahil karena tokoh aku dalam cerita ini adalah orang yang sudah mati, yang bahasa gaulnya: ruh gentayangan. Jadi teringat serial Desperate Housewives yang naratornya sudah mati.

Terus terang saya kecewa. Sejak awal cerita ini dimulai, saya sudah bisa mengira-ira apa yang terjadi pada aku. Apalagi dengan judul yang begitu gamblang: Danau Kematian, siapapun yang membaca pasti tahu kalau danau itu ada hubungannya dengan kematian karakter penting.

Saya tidak ingin berkomentar banyak tentang bagaimana cerita ini disusun, bagaimana pembaca dibawa ke akhir cerita yang menjanjikan jawaban, atau bagaimana “misteri” danau itu terkuak. Karena toh jawaban sudah terbayangkan tanpa harus menyelesaikan cerita. Tapi… saya punya kewajiban membaca cerita ini sampai tuntas agar komentar saya tidak salah. Dan jujur, sambil membaca saya terus berharap perkiraan saya meleset.

Sayang. Perkiraan saya tidak meleset. Si aku yang bernama Rina itu memang mati. Dengan gemas saya pun langsung bertanya: Bagaimana orang mati bisa bercerita?

Pertanyaan itu mungkin akan dijawab dengan gagah bahwa cerita ini hanya fiktif belaka. Pengarang hanya sedang mengumpamakan dirinya menjadi orang yang sudah mati yang jasadnya terjebak di dasar danau. Berani sekali. Seolah si pengarang sudah sangat paham dengan apa yang terjadi sesudah kematian. Berani sekali. Sebab ada pilihan yang lebih bijak untuk memilih karakter lain yang lebih masuk akal untuk diceritakan sebagai orang pertama. Diar, misalnya.

Namun apapun… gaya penceritaan dan pemilihan sudut pandang bercerita menjadi hak prerogatif pengarang. Saya cuma pembaca yang tidak suka dengan kemustahilan semacam itu. Cukuplah pikiran ini merasa keberatan membayangkan bagaimana ruh tertinggal di danau, bagaimana ruh (Rina) menahan napas (ya, di paragraf ketiga ada pernyataan tentang Rina-mati yang menahan napas) , lalu bagaimana ruh (Rina) yang gaib bisa meraih dan memeluk bunga lili yang fana. Rasanya tidak perlu lagi ditambahi dengan kesulitan bagaimana sang ruh bercerita dan mengirimkan cerita ini untuk dibaca orang (yang masih hidup). That’s overwhelming.

Good point: pengarang cerita ini pastilah orang yang sangat sabar dalam menceritakan sebuah kisah. Ia tidak terburu-buru, bercerita satu demi satu adegan untuk membawa pembacanya ke akhir cerita. Menurut saya “kesabaran” semacam itu modal yang bagus. Ia hanya perlu menemukan kisah yang tepat saja.

Semoga saya tidak berlebihan…

Read More...

Membicarakan Hujan di Bulan Desember

| Labels: , | 1 comments |

Oleh Setiyo Bardono

Bulan Desember identik dengan hujan. Desember, gede-gedene sumber, begitu khasanah budaya Jawa mengartikannya. "Sumber" sendiri bisa berarti mata air atau sumur. Bulan Desember berarti bulan dimana sumur atau mata air dalam kandungan air yang berlimpah karena hujan.

Dalam bulan Desember ini pula saya menerima dua naskah cerpen yang menyinggung tentang hujan. Dua cerpen tersebut harus saya resensi untuk program resensi karya kemudian.com. Sebenarnya saya bukan peresensi yang baik, tapi saya akan mencoba mengupas dua cerpen itu dengan cara saya sendiri.

Menanti Hujan
Oleh noir

Menanti Hujan adalah sebuah cerpen dengan kalimat awal yang begitu basah. Engkaukah yang datang bersama hujan ini?

Tapi kata ”hujan ini” memberi kesan hujan sudah turun, jadi proses ”Menanti Hujan” sepertinya sudah lewat. Selain itu, sebagai sebuah judul kata tersebut terlalu umum. Bila kata tersebut harus bersaing dengan ratusan judul cerpen untuk dibaca seseorang, kemungkinan besar bisa dilewati. Apalagi sebagaimana kita ketahui, menunggu adalah proses yang membosankan.

Selain harus mencerminkan keseluruhan isi, judul seyogyanya harus dibuat menarik. Jadi mengapa tidak mengambil kata “Lelaki Hujan” sebagai judul. Bukankah cerpen ini membicarakan sosoknya, mempertanyakan keberadaanmu, lelaki hujanku.


Membaca keseluruhan cerpen, saya seperti membaca sebuah puisi prosa. Deretan kata-kata indah mengalir seperti tarian hujan. Sepertinya penulis sedang larut dalam perasaannya.

Gerimis selalu sertai hadirmu. Seperti waktu-waktu lalu. Ingatkah kau pada masa hujan kerap basahi bumi? Kita larut menjalin asa. Percakapan disela gemuruh petir. Bisikan di antara desau angin. Bercumbu kala jarum-jarum air menghujam. Temaram begitu memabukkan.

Tapi, menderetkan kata-kata indah memerlukan stamina lebih. Benar saja, seperti hujan sekejap, cerpen ini berakhir terlalu cepat. Cerpen ini berhasil saya cetak menjadi satu halaman A4 dengan huruf Arial Narrow ukuran 10. Cerpen ini mungkin tergolong Cermin (Cerita Mini), sangat cocok dikirim ke majalah Gadis untuk mengisi rubrik Percikan.

Memang cerpen yang panjang belum tentu lebih bermutu dari pada cerpen yang pendek. Tapi melatih diri untuk menulis cerpen sesuai batas yang sering disyaratkan media atau panitia lomba cerpen, sangat diperlukan. Misalnya 6-8 halaman dengan huruf Arial ukuran 12 dengan jarak dua spasi. Batas halaman bisa melatih kita mencari celah bagaimana membuat alur cerita yang menarik. Batas halaman melatih kita bagaimana melebarkan cerita atau memampatkan cerita.

Cerpen ”Menanti Hujan” ini menyisakan banyak celah yang bisa digali. Misalnya bagaimana awal mula pertemuan dengan lelaki hujan (apakah waktu dia sedang ngojek payung?), apa yang menarik dari sosoknya, bagaimana ia suka berbasah-basah, dan lain-lain. Seperti hujan yang kadang deras, kadang rintik, dan kemudian berhenti, sebuah cerpen juga memerlukan irama. Kehidupan berjalan tidak datar-datar saja. Siapkan konflik, gejolak, pertentangan batin dan lain-lain.

Membaca cerpen ini saya seperti membaca curahan hati dalam sebuah diari. Sepertinya penulis mempersiapkan diri untuk larut dalam perasaannya. Jadilah permainan perasaan ini mengalun seiring rintik hujan. Tapi kadang perasaan seakan mempermainkan penulis hingga ada beberapa hal yang bisa membuat pembaca bertanya-tanya.

Aku masih menanti hujan. Tapi tak ada kau di ujung rintiknya. Aku tak dapat meraihmu di balik tirainya. Berbisik cinta berbuih gairah... .

Begitulah, seperti yang diuraikan sebelumnya. Mengapa Aku masih menanti hujan. Tapi tak ada engkau di ujung rintiknya. Mungkin akan lebih baik jika Aku masih menanti engkau, lelaki hujanku. Karena tak kutemukan senyummu di ujung rintiknya.

Bila penulis ingin bermain dengan perasaan, dalam cerpen ini ada satu percakapan yang cukup kuat untuk digali lebih dalam. Percakapan yang sebenarnya bisa menjadi mesiu untuk meledakkan cerpen ini.

”Aku bukan hujan.”
”Aku tahu itu.”
”Aku tak dapat selalu basahi kemaraumu.”
”Kemarau itu kau yang ciptakan.”
”Tapi aku bukanlah deras yang kau damba.”
”Lalu apakah kau?”
”Aku adalah musim yang salah.”

Tetesan hujan memang tidak pernah sia-sia, tak heran jika ada saja yang Menanti Hujan.

Nature Romance
Oleh sunshineofnay

Seperti cerpen ”Menanti Hujan”, kata ”Nature Romance” terlalu biasa untuk sebuah judul. Menurut saya, cerpen ini masuk dalam kategori JAIL (Judul Asing Isi Lokal). Sebenarnya sah-sah saja selama Judul tersebut bisa memberi ruh pada isi cerpen. Jangan seperti klub-klub sepakbola kita yang banyak menyewa pemain asing tapi hanya berkutat pada kompetisi lokal saja. Bukankah kita yang lebih memahami kondisi rumput lapangan sepakbola tanah air? Lho, apa hubungannya?

Sebagaimana cerpen, sebelum menulis kita harus memahami lebih dulu masalah yang akan ditulis. Jangan sampai penulis terengah-engah hingga pesan yang dituliskan menjadi tak sampai ke pembaca dan bertanya-tanya dalam hati ”Ini maksudnya apa ya?”.

Seperti cerpen Menanti Hujan, cerpen ini sepertinya diindah-indahkan atau dibuat agar indah. Hanya saja pemilihan katanya lebih sederhana. Semua unsur alam sepertinya ingin rangkum dalam cerpen itu untuk dikecap kenikmatannya. Dari Angin, hujan, malam hingga melibatkan bintang jatuh.

Aku merebahkan di perlintasan cakrawala. Saat semburatnya jingga senja, perlahan berubah menjadi selimut kelam yang berbintang. Aku terdiam. Terus terdiam. Dan mulai terpejam.

Begitulah rangkaian kalimat awal yang mengantarkan kita menuju Nature Romance. Sebuah loncatan perjalanan hingga menggapai percintaan yang terindah! Antara aku dan Angin Malam!! Untuk menghapus dahaga kerinduan pada kekasih-kekasihnya angin, hujan dan malam. Ah, mengapa judulnya menjadi Antara Angin, Hujan, Malam dan Bintang Jatuh?. Atau Percintaan Alam, siapa tahu bisa menarik para penggemar adiknya Vetty Vera ini. Lho

Sayang sekali cerpen ini kurang berhasil menyeret pembaca untuk ikut larut dalam percintaan dengan unsur-unsur alam itu. Gimana rasanya ya? Seperti Menanti Hujan, cerpen ini sebenarnya menyisakan banyak celah untuk digali lebih dalam. Seperti hujan, alam menyimpan misteri yang tak habis-habis untuk digali. Dan merasakan percintaan dengan alam bisa menjadi cerita yang sangat dahsyat.

Karena berani berbicara tentang alam, cerpen ini akan sangat mengena jika penulis berani mengangkat kenyataan-kenyataan seputar pengelolaan alam di negeri ini. Mungkin bisa sinergikan dengan berbagai isue yang sedang hangat dibicarakan seperti pembalakan hutan, global warming, pasar karbon dan lain-lain. Kepekaan sosial dalam sebuah cerpen bisa meningkatkan nilai cerpen tersebut.

Media untuk merekatkan bisa direka-reka dalam kegalauan angin misalnya. Ternyata Sang Angin tak mau diajak bercinta karena duka sedang menyelimuti wajahnya, setelah perjalanan jauh dan melihat alam begitu porak-poranda. Atau hujan yang sebenarnya ingin berhenti menangis karena takut rumah-rumah warga jadi terendam banjir. Seperti kebenaran, angin selalu bisa mencari sela untuk berhembus, air selalu bisa merembes. Maka teruslah bereksplorasi.

Penutup

Secara keseluruhan, masalah pemilihan tema memang menjadi problem utama dalam penulisan cerpen. Apa yang dirasa menarik oleh penulis belum tentu menarik bagi pembaca. Untuk itu diperlukan kepekaan hati dan kepekaan sosial untuk menangkap dan mengungkapkan sebuah tema.

Menguraikan tema menjadi sebuah cerita yang menarik juga memerlukan eksplorasi tiada henti. Sering-seringlah belajar dan membuka banyak referensi baik dari buku, diskusi, proses kreatif seorang pengarang, pengamatan lingkungan, dan lain-lain.

Selain itu mempelajari teori penulisan juga sangat membantu. Minimal kita jadi tahu bagaimana menulis dengan baik dan benar menurut EYD atau Ejaan Yang Disempurnakan. Dalam dua cerpen ini masih terlihat beberapa kesalahan ejaan. Karena itu berpedomanlah dengan EYD. Oke? E... iYa Deh...

Bulan Desember identik dengan hujan. Desember, gede-gedene sumber, maka jangan pernah berhenti menggali sumber ide.

Depok, 10 Desember 2007
Setiyo Bardono, Perensensi Katro’, tinggal di Depok.

Read More...