Resensi Puisi 'Sembilu Waktu'

Thursday, January 10, 2008 | Labels: , | |

Oleh Budhi Setyawan

Sembilu Waktu oleh andi tafader

Saya memberikan komentar resensi untuk puisi yang berjudul SEMBILU WAKTU. Nama pengarang tidak saya ketahui, karena tidak dicantumkan ke email saya. Mungkin memang sengaja tidak diberitahukan oleh panitia. Dan saya sendiri, sebenarnya tidak punya kepentingan dengan para pengarang yang karyanya masuk ke panitia. Resensi dari saya tidak banyak, karena memang sedikit yang bisa diulas dari salah satu judul puisi yang dikirimkan kepada saya. Berikut resensi dari saya:

Pada awal bait pertama, baris pertama dan kedua; pengarang ingin mengatakan bahwa menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, sesuatu yang tajam, laksana ‘sembilu’, terasa menyakitkan, menikam; diungkapkan sebagai ‘menyayat tiada terperih’. (di sini mungkin yang dimaksud adalah ‘terperi’ bukan ‘terperih’. Karena kalau ‘terperih’ artinya adalah paling perih.). Situasi yang menyakitkan itu juga merupakan misteri yang tak ada jawaban, iya atau tidak, diungkapkan dengan ‘sekelam segitiga bermuda’. Sedangkan kata-kata ‘menyimpan rahasia kematian’ hanya menjelaskan tentang segitiga Bermuda, bukan menjelaskan tentang perasaan pengarang.

Kemudian pada baris ketiga; tertulis ‘peluh yang menghulu’. Di sini pengarang ingin mengungkapkan bahwa kerinduannya kian mendalam, sampai-sampai peluh atau keringat kembali ke hulunya, ke dalam tubuh. Kegalauan yang amat sangat hingga peluh pun berbalik arah, merasuk kembali ke asalnya. Sedangkan pada baris keempat; diungkapkan bahwa desah nafas dari yang dirindukan, membuat terlena jiwa yang memang sebenarnya telah terjerat ke dalam perasaan rindu yang demikian erat, yang diungkapkan sebagai ‘terperangkap pusaran ombak’.

Pada bait kedua, baris pertama dan kedua; ungkapan ‘pada hari tempat matahari dan rembulan berbagi rasa’, apakah yang dimaksud adalah suasana senja hari, yang biasanya suasana temaram dan menimbulkan nuansa kesendirian? Sedangkan pada baris kedua, pengarang sebenarnya ingin mengungkapkan kerinduan yang telah menyesak, namun dalam pernyataannya ada semacam pertentangan. Di situ tertulis ‘aku tuangkan rindu yang telah ngilu membeku’. Mungkin maksud pengarang, karena sudah begitu lamanya memendam kerinduan, ingin ditumpahkan. Akan tetapi seperti ada yang kurang bisa disandingkan tentang menuangkan sesuatu (rindu) yang membeku. Ceritanya akan lain apabila penegasan rindu bukan dengan membeku, tetapi ‘rindu yang terus bergolak’, misalnya.

Dan pada baris ketiga dan keempat, pengarang ingin mengatakan bahwa sampai saat itu belum ada perubahan keadaan atau nasib, dan dalam perjalanannya belum bertemu dengan yang dirindukan, serta ungkapan ‘berselimut kenangan’ bisa diartikan sebagai selalu teringat dan tak bisa lepas dari bayangan masa lalu.

Secara umum bisa dikatakan bahwa pengarang ingin menceritakan tentang kerinduan kepada kekasih namun belum bertemu jua, dan selalu teringat kepada bayangan masa lalu.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Terima kasih.

Bekasi, 3 Januari 2008

Salam sastra,

1 comments:

  1. Anonymous says:

    resensi ini mengutarakan hampir persis seperti yang ingin saya sampaikan. kata 'terperih' benar salah adanya, dan frasa 'yang telah ngilu membeku' juga salah adanya, dan saya ganti menjadi 'semakin membadai'.