Menilai Puisi dari Judul

Tuesday, November 20, 2007 | Labels: , | 0 comments |

Oleh TS Pinang

Puisi Kilat oleh KD


Judul sering kali menjadi masalah bagi penyair pemula. Tak jarang kita jumpai, misalnya di situs Kemudian.com, karya-karya tanpa judul, atau justru meminta saran judul dari pembaca. Seolah, memberi judul jauh lebih sulit daripada menulis karya itu sendiri. Tak jarang pula kita jumpai karya-karya dengan judul yang asal-asalan, bahkan ada yang sengaja ditulis dengan mengacaukan huruf besar-kecil dalam tiap kata, sehingga judul itu menjadi tidak nyaman dibaca, terkesan main-main yang cenderung norak. Di sisi lain, kita juga tidak jarang menjumpai karya-karya puisi serius karangan penyair serius yang tidak berjudul, paling-paling hanya diberi nomor atau sekedar penanda tempat dan waktu penulisan puisi tersebut yang dijadikan sebagai judul.

Satu hal perlu dicatat dari paragraf di atas ialah, alasan absennya judul dalam karya bagi penyair pemula dan penyair kawakan bisa sama sekali berbeda. Absennya judul yang representatif pada sebuah karya yang dikarenakan penyairnya tidak mampu menemukan judul yang pas untuk karyanya ibarat seorang ibu yang bingung menamai anak yang baru saja dilahirkannya. Sementara, bagi beberapa penyair berpengalaman, absennya judul bisa saja karena kesengajaan estetik yang olehnya dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Syair-syair macapat jawa, atau bentuk-bentuk puisi tradisional lainnya sering tanpa judul yang melekat pada tiap-tiap sajak. Ini kebanyakan karena tiap-tiap sajak tersebut merupakan bagian dari sebuah karya yang lebih besar.



Bagi saya, judul sebuah puisi adalah sangat penting. Pertama, ia adalah representasi dari suatu karya, seperti nama bagi seseorang. Judul ibarat tabik pembuka jurus sebelum sebuah pertarungan silat dimulai. Ia berfungsi memperkenalkan 'isi' dari jurus tersebut, tanda pengenal perguruan, sekaligus penghormatan bagi lawan tandingnya. Judul yang baik dapat memberikan sekilas gambaran tentang isi sebuah sajak, sekaligus sebentuk salam penghormatan bagi lawan tandingnya, yakni pembaca. Karena itu, menemukan judul yang pas, sebagaimana menamai anak yang baru dilahirkan, adalah sama pentingnya dengan puisi itu sendiri. Dan saya kurang beruntung kali ini, sebab ideal saya tentang judul yang baik itu tidak saya dapatkan pada Puisi Kilat ini.


Judul Puisi Kilat ini sama sekali tidak memberikan bekal bagi saya untuk memasuki pintu keempat bagian puisi ini. Satu-satunya citra yang saya tangkap adalah bahwa puisi ini ditulis secara cepat, secara kilat, secara instan! Saya tidak pernah bisa mempercayai sebuah karya instan, sebagaimana saya tidak pernah percaya khasiat nutrisi makanan cepat saji. Tidak ada energi potensial yang terhimpun di sana, tidak ada nutrisi seperti camilan yang hanya terbuat dari gumpalan debu tepung.



Dengan mengabaikan judul tersebut, saya mencoba membaca empat bagian puisi yang masing-masing terdiri dari empat baris. Pilihan bentuk kuatrin, empat baris seuntai ini sangat jelas menampakkan adopsi bentuk-bentuk puisi lama. Sayangnya, bait-bait berbaris empat-empat yang tertib ini justru kurang tertib dengan rima, dengan persajakan bunyi akhir. Ternyata hanya bagian (1) dan (4) saja yang menggunakan persajakan dengan pola syair a-a-a-a. Setiap pilihan bentuk wadag puisi saya kira amat memengaruhi kesan dan kekuatan sebuah puisi, tentu saja selain aspek-aspek lainnya semisal diksi, tema, dll. Pilihan bentuk tertib seperti ini akan lebih berdaya apabila tertib pula memberdayakan elemen-elemen lainnya selain jumlah larik tiap baitnya, misalnya persajakan itu tadi. Paling tidak, jika tidak ingin mengikuti pola secara ketat, ada permainan kreatif atas elemen-elemen itu. Saya kira, sajak ini akan lebih utuh jika bagian (2) dan (3) juga mengikuti pola persajakan tertentu.



Dari segi tema, sajak ini juga tidak terlalu menawarkan sesuatu yang lain. Kita hanya disuguh selembar catatan harian, saat sang Aku-lirik menyadari momen pancaroba, momen peralihan antara masa lalu dan masa depan. Ini tema yang biasa sekaligus berpotensi menjadi luar biasa bila digali lebih jauh.



Konon, setiap peralihan dua 'alam' terdapat pertemuan energi yang luar biasa. Itulah sebabnya mengapa para pencari ilmu kesaktian suka bertapa di tempat-tempat perbatasan antara daratan dan perairan, antara sungai dan laut, bahkan di puncak gunung perbatasan darat dan langit. Juga di perbatasan waktu antara malam dan pagi, sore dan malam, pagi dan siang. Sajak ini pun mengesankan perbatasan antara masa lalu yang mulai berjarak di belakang dan masa depan yang sayup-sayup mulai terbayang namun belum mampu terindera. Haru akan kenangan pilu masa lalu dan rindu pada harap masa depan, terpampang jelas dalam sajak ini, tanpa pengolahan lebih lanjut. Ia hanyalah sebuah catatan harian, sebuah potret peristiwa, tanpa ada sentuhan kreatif di dalamnya. Ini memang tema yang cliché, sehingga tanpa upaya lebih untuk mengolahnya, tema ini hanya akan menjadi sebuah daur ulang.



Empat bagian yang cair jika dapat dikristalkan menjadi satu atau dua bait saja namun padat, mungkin akan dapat membuat sajak ini lebih bertenaga. Tentu saja dengan judul yang lebih sungguh-sungguh. Berpuisi saya kira adalah sebuah kegiatan ruhani yang bukan main-main. Meski selalu ada kadar kebermainan (palyfulness) dan indera jenaka yang memicu kreativitas, kerja puisi mensyaratkan upaya yang sepatutnya.

Read More...

Menuju Puisi Setajam Daun Ilalang, Sejernih Mata Hati

| Labels: , | 0 comments |

Oleh TS Pinang

Di Matamu yang Ilalang oleh ghe

Di Matamu yang Ilalang

di matamu yang ilalang kutemukan angin yang rinai. ingin kurebah diatasnya. kan kuriap rumput yang berkelindan di dada. dan telentang menatap rekata.

menanti hujan bintang. di matamu yang ilalang.


Sejujurnya saya sangat menyukai judul sajak di atas. Judul ini begitu kuat mengesan dalam benak saya bahkan sebelum saya membaca isi sajaknya. Saya rasa yang membuat judul itu terasa kuat mula-mula adalah pilihan pencitraan yang dipilih penyair sajak ini dengan menggabungkan kata 'mata' dengan 'ilalang'. Mata yang ilalang, mata yang bagaimanakah itu? Karakter ilalang yang mana yang begitu khas sehingga penyair sajak ini memilihnya untuk memperkuat sifat mata si 'kamu' itu? Tak sabar ingin segera saya temukan jawabannya di dalam larik-larik puisinya.

“[D]i matamu yang ilalang kutemukan angin yang rinai.” membuka sajak ini. Ilalang dan angin yang rinai membawa saya pada suasana padang atau dataran lapang. Ilalang itu tampaknya lebih sebagai sebuah hamparan yang luas, bukan hanya serumpun atau sejumput daunnya saja. (Padang) ilalang bisa tampak hijau indah dengan jambul-jambul bunga yang elok, tetapi jangan lupa, ilalang juga berdaun tajam yang bisa menyayat kulit tangan atau kaki bila kita tak hati-hati. Pemilik mata yang ilalang jelas orang istimewa, dan karena itu si penyair menuliskannya dalam sajak ini. Saya berharap akan dibawa lebih jauh pada citra mata yang seperti (padang) ilalang, atau setajam bilah daun ilalang milik si “mu” itu.

Tetapi, masih pada bait yang sama, tiba-tiba saya dihadapkan pada “ingin kurebah diatasnya. kan kuriap rumput yang berkelindan di dada. dan telentang menatap rekata.” dan saya pun menjadi kehilangan jejak. Sebenarnya bagian “ingin kurebah diatasnya” masih memungkinkan saya membayangkan sang mata sebagai padang ilalang, tetapi begitu saja saya disodori “rumput yang berkelindan di dada”. Di atas 'matamu yang ilalang' itu aku-lirik ingin rebah dan meriap 'rumput yang berkelindan di dada', lalu 'telentang menatap rekata'. Sampai di sini saya disuguhi masalah yang bagi saya cukup serius. Mata itu tiba-tiba hilang, digantikan oleh rumput di dada, dan aku-lirik yang telentang menatap rekata.

Tampak bahwa penyair kita ini ternyata masih mudah terpesona oleh kata-katanya sendiri, dan lupa pada bangunan imaji yang hendak diciptakannya. Keutuhan imaji yang dihentak dari awal judul sajak ini, gagal dipertahankan di pertengahan sajak. Kemunculan citra 'rumput' yang berkelindan di 'dada' bagi saya terasa merusak citra 'ilalang' dan 'mata' yang begitu mengesan di awal sajak, walaupun di penutup sajak ini pembaca dibawa kembali kepada mata ilalang itu: 'menanti hujan bintang. di matamu yang ilalang.'

Kekuatan sajak ini sebenarnya telah diperkenalkan dengan baik oleh ungkapan yang menurut saya sangat kuat dan menyaran, yaitu kerjasama antara “mata” dan “ilalang”. Keduanya adalah kata-kata biasa yang sering kita pakai sehari-hari (bandingkan dengan “rekata”), artinya kita tidak perlu susah-payah mencari lema kata-kata mata dan ilalang tersebut di dalam kamus. Tetapi ungkapan “mata yang ilalang” jelas tidak biasa. Ungkapan ini sukses memicu imajinasi saya sebagai pembaca. Saya berhasil 'terjebak' oleh rasa penasaran yang asyik yang dipicu oleh ungkapan tidak biasa tersebut. Inilah mungkin yang disebut kreativitas puitik itu, yaitu ketika penyair mampu mengejutkan rasa bahasa pembaca dengan sesuatu yang tidak biasa (baru?) dari kata-kata sehari-hari yang biasa. Sebagai kontrasnya, penggunaan kata “rekata” yang tidak lazim dalam khasanah ucapan saya sebagai orang Indonesia-Jawa bagi saya terasa justru asing dan tidak akrab. Mudah-mudahan penyair sajak ini memang telah akrab dengan kata “rekata” itu (dalam KUBI, rekata= kala [bintang atau rasi]), sebab bagaimana sebuah sajak bisa jujur mengungkapkan bahasa batin si penyair, jika menggunakan lambang yang tidak akrab dengan dunia batin si penyair?

Sajak pendek sebenarnya memiliki keuntungan sekaligus kesulitan tersendiri. Ia memiliki tenaga yang lebih kuat, lebih lenting untuk menancapkan kesan kepada pembaca. Dalam hal ini teks-teks iklan dapat dijadikan contoh, singkat tetapi kuat menancap di benak. Namun, kekuatan itu tidak mudah ditemukan, ia harus dihasilkan dari pemadatan atau kristalisasi. Dengan kata lain, sajak pendek akan muncul kekuatannya jika kata-katanya efektif, dan kesan yang hendak ditembakkan kepada pembaca utuh dan tajam. Saya kira, sajak ini belum kristal, masih terdapat fraksi, retakan imaji.

Selain retaknya bangunan imaji dalam sajak ini sebagaimana telah disinggung di atas, kesalahan tatabahasa yang mungkin kelihatan remeh seperti penulisan “diatasnya” yang seharusnya ditulis “di atasnya” terasa mengganggu keutuhan sajak ini. Banyak penulis yang ceroboh dengan kaidah baku bahasa Indonesia dan penyair, sebagai seniman bahasa, wajib memahami kaidah-kaidah ini sebelum memainkan improvisasi dan manuver atas nama licentia poetica.

Lepas dari beberapa kekurangan tersebut, sajak Di Matamu yang Ilalang ini menunjukkan potensi penyairnya. Terlihat kepekaan diksinya cukup kuat (lihat ungkapan-ungkapan: mata yang ilalang, angin yang rinai, menanti hujan bintang). Jika penyair cukup mampu menjaga emosinya dan tidak terburu-buru ingin menyelesaikan sebuah sajak, saya kira ia akan mampu menghasilkan sajak-sajak yang kuat, penuh perhitungan, dan utuh. Saya kira upaya-upaya menuju kualitas semacam inilah yang selalu digeluti oleh penyair manapun dari zaman ke zaman, karena melalui upaya tak kenal lelah untuk mengasah ketajaman puisinya itulah seorang penyair juga mengasah kepekaan nuraninya menjadi lebih tajam dan jernih. Setajam bilah daun ilalang, sejernih mata hati.

Read More...

Resensi Puisi Kilat

| Labels: , | 1 comments |

Oleh Nanang Suryadi

Puisi Kilat oleh KD

Sajak ini berjudul Puisi Kilat. Saat membaca judulnya ada dua hal yang terbayang dalam benak saya, yaitu puisi tentang kilat atau puisi yang dibuat cepat-cepat (seperti surat berperangko kilat atau kilat khusus yang menandakan itu harus dikirimkan secepatnya).
Namun setelah membaca badan sajaknya, saya tak menemukan ada keterkaitannya dengan bayangan yang pertama. Maka saya duga, bahwa sajak ini memang memiliki arti yang kedua, puisi yang dibuat cepat-cepat (seperti kilat), alias instan.

Berapa lama kita menulis sajak? Pertanyaan itu bisa mendapat jawaban beragam. Lalu mungkin akan ada pertanyaan lain lagi: bolehkah kita menulis sajak cepat-cepat, bahkan mungkin sangat cepat (secepat kilat (?)). Jawaban pertanyaan ini pun akan beragam-ragam jika kita tanyakan kepada banyak penyair.

Baik, saya jawab sendiri pertanyaan-pertanyaan tadi. Jawaban ini mungkin akan berbeda dengan penyair-penyair lain. Berapa lama kita menulis sajak? Pengalaman saya selama ini, menulis sajak itu hanya sebentar saja. Tak butuh waktu lama-lama. Ketika ada dorongan untuk menulis, seluruh pengalaman puitik saya seakan-akan tumpah dalam sajak-sajak yang mungkin lahir dalam berbagai judul dalam waktu kurang dari 30 menit. Saya mungkin termasuk penulis yang tidak terlalu rumit memikirkan bangunan puisi seperti Chairil Anwar, yang seakan-akan menulis puisi adalah pertaruhan hidup mati. Jadi bagi saya, menulis sajak cepat-cepat seperti kilat bukan suatu masalah. Hanya saja, menjadi masalah ketika sajak itu tak memberikan "apa-apa" bagi pembacanya.

Pada sajak ini, puisi kilat menunjuk pada cara menulisnya yang kilat (cepat), karena sebagai pembaca, saya tidak menemukan metafora kilat yang berhubungan dengan seluruh isi dalam puisi ini, walaupun ada tanda-tanda yang mengarah ke pembentukan image tentang kilat, misalnya: hujan belum nampak turun dan badai gurun

Sebagai pembaca saya meraba-raba apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulis sajak ini. Judul sajak yang tak menjelaskan isi dan bait demi bait yang tersusun namun tidak runtut menggambarkan sesuatu, cukup menyulitkan untuk mencoba memahaminya secara utuh. Pada bait pertama, saya cukup tertegun membaca:

(1)
Aku puas dengan langit yang biru
Tanpa salju membeku seperti musim lalu
Aku puas dengan hatiku yang mengharu
Tanpa cinta pilu di tahun lalu

Pada bait pertama, penulis menggunakan teknik persajakan dengan rima yang sama, yaitu dengan akhiran “u” , yang cukup memberikan musik dalam bait ini. Bentuknya menyerupai pantun, namun dengan pola a-a-a-a, dengan sampiran dan isi (jika bisa dikatakan dua baris pertama merupakan sampiran dan dua baris berikutnya merupakan isi). Namun jika dilihat, antara sampiran dan isi dapat dirasakan ketersambungan (yang membedakannya dengan pantun, yang tak meminta “sampiran” berhubungan dengan “isi”). Dua baris pertama dipenuhi dengn simbol-simbol yang dapat dibayangkan sebagai penggambaran suasana hati yang dimetaforakan dengan “langit biru” tanpa “salju membeku” seperti di musim lalu. Walaupun jika pembaca membandingkan antara “langit biru” dengan “hatiku yang haru” tak menemukan suasana yang sepadan, karena “langit biru” menunjuk pada suasana cerah, senang, gembira.

Pada bait kedua, pola persajakan seperti di bait pertama mulai ditinggalkan, bahkan pola sampiran dan isi seperti pantun tidak ada lagi. Seluruh baris pada bait ini bermain-main dengan simbol (metafora) ---- jika memang itu adalah metafora, bukan hanya menggambarkan “kejadian seperti aslinya” seperti seorang turis mengambil foto dengan kamera sakunya---- yang mencoba menceritkan suasana hati penulis sebagai “musim kemarau belum berlalu” namun “padang gurun mulai bersemi”.

(2)
Musim kemarau belum berlalu
Dan daun jati sudah berhenti meranggas
Hujan belum nampak akan turun
Namun padang gurun mulai bersemi

Pada bait kedua ini, simbol-simbol yang digunakan tak membentuk suasana yang sama dan runtut, misalnya sangat aneh ketika muncul “daun jati” digabung dengan “padang gurun”. Apalagi jika dihubungkan dengan bait pertama yang menggunakan simbol “salju membeku”. Mungkin pembaca juga akan bertanya, apa maksudnya “padang gurun mulai bersemi”. Apakah bisa padang gurun bersemi? (seperti pohon dan bunga-bunga bersemi).

Bait ketiga hampir sama dengan bait kedua dalam teknik atau pola penulisannya. Namun bait ketiga tak memberikan pengertian yang jelas (karena bait ketiga ini sepertinya terlepas dari bangunan bait sebelumnya). Apa yang dimaksud dengan “disana”? Apa yang ingin disampaikan dengan frasa “badai gurun berhembus sejenak” dan seterusnya, yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dan mungkin tak terjawab oleh bait ketiga ini.

(3)
Kami di sini bertanya-tanya
Ada apa gerangan di sana
Badai gurun berhenti berhembus sejenak
Menunggu apa yang akan terjadi
Bahkan penulisnya pun meminta:

(4)
Jawablah rindu ini
Meski dalam kata terbungkus duri
Wujudkanlah harap ini
Meski dalam nada sehalus pasir

Bait keempat seperti bait-bait sebelumnya, seperti serpihan-serpihan yang tak membutuhkan keutuhan dalam sebuah bangunan utuh sajak. Mungkin ada pembaca yang dapat membayangkan metafora dan simile dalam frasa “Kata terbungkus duri” , “nada sehalus pasir”. Tapi metafora ini menjadi seperti tidak memiliki daya pukau dalam susunan sajak seperti ini, puisi yang tidak menemukan keutuhan. Puisi yang bingung menggambarkan suasana hati penulisnya. Seperti kilat, mencercah sesaat. Mungkin.

Read More...

Kematian Bisa Saja Indah

| Labels: , | 0 comments |

Oleh Zabidi Ibnoe Say

Hari Ini Kita Berpisah, Rani oleh miss worm

Dalam persepsi umum kematian sering digambarkan berwajah kelam. Misalnya saja cerita-cerita dalam sinetron kita, yang amat menjemukan itu. Jerit tangis, histeria dan simbol-simbol melankoli lainnya. Hal ini dimungkinkan karena kematian bagi kebanyakan orang adalah hal yang menakutkan sekaligus mencekam. Karena maut dipahami sebatas akhir dari setiap bentuk kehidupan. Karena kematian bagi seseorang berarti terputus segala ikatan keduniaan, hilangnya ikatan-ikatan emosi, seperti cinta, persahabatan, harapan, keinginan juga bentuk-bentuk materi lainnya. Mungkin hanya di kalangan kaum sufi kematian dihadapi dengan berani sebagai sebuah prosesi menuju keabadian.

“Hari Ini Kita Berpisah, Rani” inipun berbicara perihal kematian. Menghadirkan dua tokoh, lelaki dan perempuan sebagai sepasang kekasih. Cerita berujung dramatik, berupa kematian. Menjadi menarik, meski bukan cerita sufistik tema cinta ini dicoba dikemas berbeda dengan pandangan umum tadi.

Pemakaian diksi dengan metafora serta beberapa repetisi di dalamnya, telah memberi tenaga dalam tubuh ceritanya. Plot demi plot diawali dengan kalimat pembuka yang “terang” dan mampu memancing keingintahuan. Membawa pembaca menyelami pergulatan pikiran dan perasaan dua tokohnya dalam dialog lewat tatapan, gesture atau sekedar rintihan pertanyaan.

Tema percintaan yang selalu penuh dengan warna kesangsian, pengorbanan, kepasrahan, kesetiaan dan keyakinan, mengalir lewat frasa demi frasa. Mampu membangkitkan rangsangan emosi. Cerita menjadi terasa lebih nyata karena diskripsi berbagai indra, penglihatan, penciuman, sentuhan juga ekspresi.

Terkadang, perpisahan adalah hal yang sangat kuinginkan. Inilah kalimat pembuka, yang mengawali cerita bagaimana Re demikian merasa putus asa untuk tetap dapat bertahan menghadapi penyakitnya. Bagaimana Re yang mencintai Rani tidak mau menambah beban penderitaannya. Inilah bangunan drama paragraf pertama yang ingin menggambarkan kondisi psikis keduanya. Di satu sisi Rani selalu mencoba menghibur Re, meski ia tahu bahwa penyakit kekasihnya sulit disembuhkan.

Seringkali, perpisahan adalah hal yang sangat kutakutkan. Pada paragraf ke dua ini, plot bergulir pada kondisi psikis perasaan Rani yang demikian takut kehilangan Re. Pada alenia ini untuk memperkuat perasaan itu penulis menuliskannya dengan ungkapan tanya. “Kapan ini akan berakhir, tanyamu?”

Terkadang, aku bertanya, siapa yang sesungguhnya egois? Kau? Ataukah aku? Kalimat pembuka pada paragraf ke tiga ini, ingin menguatkan pertengkaran perasaan keduanya. Di satu sisi Rani tidak sanggup melihat penderitaan Re. Di sisi lain Re merasa Rani sudah kehilangan ketegaran yang begitu di harapkannya. Re mempertanyakan kembali cinta Rani. Maka penulis memperkuat pesan itu lewat kalimat :

“Tidak lama lagi,” kata-katamu tidak pernah mencoba menipuku, Rani, “dan kuantar kau dengan senyuman,” tapi kau mengeluarkan air mata. Kau menangis bukan mengulas senyum.

Seringkali, perpisahan adalah hal yang tidak bisa kita hindari. Pada bagian ini keinginan penulis menggambarkan suasana ketika keduanya telah “pasrah” menerima kenyataan yang dihadapi. Dan Re kembali menemukan kembali kepercayaan atas cinta Rani dengan bahasa ungkap yang sangat baik. Lewat dialog di bawah ini :

“Aku bermimpi semalam,” kataku lirih.

Kau merebahkan tubuhmu, menyandarkan kepala di pangkuanku. Jari-jari tanganmu lembut meraih wajahku, menyentuh bibir ini, mata, pipi, lalu kau bertanya,

“Kau tersenyum dalam mimpimu?”

Aku mengangguk dan cinta yang sempat hilang di antara kita hadir kembali lewat tatapanmu.

Terkadang, perpisahan adalah hal yang sangat indah. Pada penutup prosa ini, penulis menghadirkan dengan dialog-dialog indah keduanya. Yang menggambarkan keteguhan hati dalam cinta mereka. Untuk sama-sama dapat melewati sisa-sisa hari pertemuan keduanya. Detik demi detik, menit, jam demi jam seakan mereka lalui dengan penuh cinta dan kepasrahan. Kepercayaan Re terhadap Rani yang kembali pulih dikuatkan dengan kalimat

“Aku mencintaimu, Re.”

Bisikmu hampir tidak terdengar olehku. Wajahmu keemasan diterpa cahaya jingga. Silau, ruang di sekelilingmu. Aku hampir tidak bisa melihat apapun, kecuali senyum hangat di bibir merahmu dan aku membalas senyum itu dengan seluruh tenaga yang tersisa.

Ah, ternyata benar. Hari ini kita berpisah, Rani.

Sedikit catatan: pendeskripsian ruang, lorong atau kamar dan suasana sekelingnya yang mampu menjaga rima serta memberi roh pada cerita, kurang terasa mewarnai pada tiap larik di dalamnya. Kecuali pada paragraf ke empat:

“Hari ini kita berpisah, Re,” dan wajah tampanmu yang sudah lama tidak sudi menatapku, kini menoleh. Di teras rumah, kita berdua duduk bersama. Di atas dipan kayu, menatap langit senja berwarna jingga di atas padang ilalang. Ditemani suara kepak sayap burung-burung di udara dan ramai gunjingan daun yang diterpa angin.

Bekasi, Nov 2007

Read More...

Mata Bukan Ilalang

| Labels: , | 4 comments |

Oleh Mikael Johani

Di Matamu Yang Ilalang oleh ghe

Bad news first, nggak apa-apa, karena saya kira akhirnya puisi ini cukup kuat untuk mendengarkannya. Mungkin ada empat, pertama kata ilalang itu, yang sudah terlalu sering kita dengar di segala sesuatu yang 'puitis', dari D. Zawawi Imron's ‘Bulan Tertusuk [I]lalang’ sampai nama komunitas yang penyairnya banyak dimuat di Kompas Minggu. Kemudian matamu itu sendiri, sesuatu yang klise juga di bahasa puisi Indonesia. Contoh, satu saja dari segudang yang ada di toko buku Jose Rizal di tim misalnya adalah judul kumpulan puisi Johannes Sugianto tahun lalu ‘Di Lengkung Alis Matamu’ (bahkan di sini matamu ini sama sekali tidak perlu, alis ada di mana lagi kalau bukan di mata? ke mana aja editornya?). Kemudian pembandingan dua hal itu, ilalang dan matamu. Satu hal klise dibandingkan dengan satu hal klise lain. Two wrongs don't make a right, they make a bigger wrong!

Kemudian beberapa kata di dalam puisinya sendiri (selama ini kita baru sampai di judulnya), 'rinai', '[ku]riap', '[ber]kelindan', dan 'rekata', yang, selain juga kedengaran terlalu berbau halaman puisi Kompas Minggu, saya juga tidak langsung mengerti artinya. ini mungkin tidak langsung jelek. Walaupun bau basi, kalau kata-kata itu memang punya alasan kuat ada di situ, benar-benar dipilih untuk mengatakan sesuatu (atau bunyi, ini hal lain lagi, sekarang kita bicara maknanya dulu) yang memang tidak bisa dikatakan oleh kata lain, bukan hanya karena ingin 'puitis', ya mungkin memang harus dipakai. Kerak nasi aja bisa enak. Tapi, ini adalah hal yang buat saya perlu dipikirkan juga. Make it new! Kata beribu-ribu penyair (sebuah klise juga), tapi namanya juga klise, ada benarnya. Punya masalah nggak kita menulis puisi yang bunyinya (paling tidak) sama saja dengan banyak puisi lainnya? Apa nggak lebih baik bikin sesuatu yg baru? Atau mungkin si penulis puisi ini justru memilih hal yang lebih radikal dan susah lagi, memakai kata-kata klise tadi tapi memakainya dengan maksud yang spesifik, spesifik untuk tujuan puisinya ini? Sehingga yg tadinya klise jadi tidak klise lagi?

Okelah kita lihat. Pertama rinai. Saya lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Atau ini salah. Sebenarnya sebelum saya ambil KBBI saya sudah membaca puisi ini beberapa kali. Entah kenapa mengingatkan saya pada puisi Frans Nadjira 'Mimpi Dalam Demam' (saya lampirkan di bawah).* Mungkin karena saya jadi membayangkan pegunungan dan padang rumput yang berangin. Ya, gambarnya cukup jelas saya rasa, walaupun memakai kata-kata yang klise seperti ilalang dan rumput dan bintang. Mata itu tidak berlama-lama menjadi mata, langsung lenyap mejadi ilalang dan mulailah fantasi narator puisi ini, sebuah fantasi yang cukup kuat. Dia menemukan dirinya di padang ilalang dengan 'angin yang rinai', rebah, atau ingin rebah di atasnya, kalau dia bisa rebah di situ dia akan me'riap' rumput yg berkelindan di dada (sampai di sini sebenarnya agak membingungkan, ini dada siapa? Bukankah tadi dia ada di mata si penerima sajak ini? Tapi dada siapa sebenarnya akan jelas setelah kita tahu apa sebenarnya maksud si narator dengan 'kuriap' dan 'berkelindan' jadi ini nanti kita bahas pas membahas dua kata itu saja), kemudian telentang menatap 'rekata' (yg tadinya saya kira semacam compound rekat+kata, dan saya sempat miris membayangkan, oh no, not another poem ABOUT a poem! Kata-kata tentang kata-kata! Tapi tenang, saya salah kok), dan menanti hujan bintang. Lucu, saya membayangkannya seperti campuran stardust dan angin rumput savanna.

Menurut KBBI 'hari rinai' ternyata berarti 'hari hujan rintik2' tapi 'rinai' sebagai kata kerja (merinai) juga berarti 'bersenandung, bernyanyi-nyanyi kecil'. Ini kejutan yang menyenangkan. Mungkin penulis sajak ini memang merasa harus memakai kata rinai ini karena dia memang membayangkan dua hal sekaligus, di padang ilalang yang mata pacarnya itu mungkin memang hujan sedang turun rintik-rintik dan lagi ada angin yang bernyanyi-nyanyi kecil. Lucu bukan? Yah, mungkin juga si penulis sajak ini tidak memakai KBBI dan mungkin juga dari dua arti rinai itu mungkin di kepalanya hanya ada satu (mungkin yang 'bernyanyi-nyanyi kecil' karena dia meletakkan rinai begitu dekat ke angin, tapi bisa juga kan itu angin besar yang mulai membawa gerimis, yang mungkin belum turun di situ tapi sudah deras di padang seberang sana?), tapi bagi saya walaupun misalnya penyairnya tidak sengaja—dan saya sih entah kenapa yakin penyair ini cukup sengaja, bahwa saya bisa, punya kemungkinan, membaca rinai itu seperti itu tetap menyenangkan. I don't care if the author's dead or alive, as long as his words are alive. dan 'rinai' ini, so alive!

Perhitungkan juga kemungkinan hubungan rinai yg hujan ini dengan 'hujan bintang' di baris terakhir. Saya tadi sudah cukup senang dengan gambar hujan bintang di padang ilalang, dan sekarang setelah tahu mungkin sebelum hujan bintang itu sudah ada hujan rintik-rintik di situ, gambar ini jadi lebih lucu dan kompleks lagi: apakah si narator ini ternyata agak tersiksa juga di padang itu dengan segala macam gerimis dan anginnya dan sedang menanti langit cerah dan bintang-bintang muncul lagi? Dan kalau kita ingat lagi padang ilalang ini sebenarnya adalah mata kekasihnya, apakah hujan berarti air mata? Apakah mereka habis berantem dan sekarang si penyair ini sedang membujuk pacarnya supaya baikan? Supaya matanya penuh bintang lagi (ingat, mata juga sering sekali dibandingkan atau diasosiasikan dengan bintang bahkan di buku diary anak SMP)? Jadi ternyata di puisi yang awalnya hanya kelihatan romantis dan menye ini sebenarnya juga tersembunyi kesedihan? Oke, oke sekali pilihan kata rinai ini ternyata.

Kemudian [ku]'riap' dan [ber]'kelindan'. kbbi bilang 'meriap' = 'tumbuh atau bertambah besar; bertambah banyak', sementara 'berkelindan' (yang sekarang pasti akan anda dengar di seminar akademik di mana saja sebagai bagian dari ekspresi du jour 'berjalin berkelindan', padahal mungkin maksudnya cuma 'ada hubungannya') = 'erat menjadi satu', tapi 'kelindan' sendiri adalah kata benda arkaik yang berarti 'benang yang baru dipintal' atau 'benang yang sudah dimasukkan ke dalam lubang jarum.' Yay! So many possibilities! Bayangkan, berarti 'dada' ini kelihatannya adalah dada si penyair, dia rebah (di punggungnya) di padang ilalang itu, dan melihat di dadanya ada rumput yg tumbuh (dan berarti dia telanjang dada bukan, di tengah angin dan hujan rintik2 itu, nggak dingin? Mungkin semarah itukah pacarnya padanya sehingga dia (harus) merasa begitu tersiksa? Atau dia memang drama queen dan lagi cari simpati?).

Mungkin jelas di sini rumput adalah metafor untuk cinta, cinta si penyair pada si pemilik mata/ilalang, yang tumbuh langsung dari dadanya, yang ingin ia 'riap' supaya 'bertambah besar dan banyak'. Yang lebih menarik lagi bagi saya adalah bahwa rumput itu sudah berkelindan di dadanya. Bukan hanya cintanya yg ada di situ tapi juga cinta pacarnya, mereka sudah 'erat menjadi satu.' Buat saya di sini pun sudah jelas ada metafor seksual di sini, yang dibuat jadi semakin kuat dan spesifik dengan arti arkaik 'kelindan' tadi. mungkin cinta mereka adalah cinta yg baru, seperti 'benang yg baru dipintal', walaupun begitu benang itu 'sudah dimasukkan ke dalam lubang jarum'. Obvious sexual metaphor!

Dan menjadi semakin misterius dan menggelitik lagi kalau kita ingat pepatah 'seperti menegakkan benang basah'. Apakah ini masalahnya kenapa mereka berantem??? Karena benangnya (entah benang/penis siapa karena tidak ada petunjuk jelas siapa yang cowok dan siapa yang cewek, atau apakah cowok dan cewek atau cowok dan cowok atau cewek dan cewek—walaupun saya punya perasaan entah kenapa penulis sajak ini cowok) tidak pernah bisa tegak? (tentu saja benang bisa diinterpretasikan sebagai cinta itu sendiri, cinta mereka seperti rumput yg seperti benang yg tidak pernah bisa tegak (karena basah terus karena hujan rintik-rintik tadi yang adalah air matanya 'matamu').

Tapi sekali lagi, bahwa sajak ini, karena pilihan kata 'kelindan' itu, mengijinkan ada interpretasi yg seksual tadi (dan benang yg masuk ke lubang jarum tadi juga mengingatkan saya bahwa banyak barang-barang tajam (caution: menyakitkan!) di puisi ini: ilalang, rumput, gerimis dan hujan yg seperti jarum. bukan berarti seks yg dilakukan si penyair dan pacarnya pasti sado-masochist, tapi menebar barang-barang tajam di puisi ini bisa saya rasakan waktu membacanya, membuat saya jadi merasa seperti takut ketusuk, dan dalam puisi yg bisa dirasakan pembaca kadang-kadang bisa lebih penting daripada yg bisa dimengertinya) selain interpretasi standar yg hanya melibatkan cinta suci non-karnal, itu sangat mengasyikkan buat saya, pembacanya.

Kalau saya bilang kemungkinan itu lebih mengasyikkan daripada jawaban yg pasti (mana interpretasi yang benar?), yang tidak disediakan oleh puisi ini, itu akan jadi sebuah klise sendiri, mungkin lebih baik digambarkan begini: karena puisi ini hanya memberi kemungkinan, seperti memberi rumus, sebenarnya kita bebas mempermainkan rumus itu sampai sejauh mana, tapi kita tetap punya puisi itu (ie, pertanyaan yg harus kita pecahkan dengan rumus itu (atau sebenarnya malah masih ada lagi rumus lain yg juga bisa dipakai!)), dan ketegangan antara keinginan kita untuk bermain-main dengan kemungkinan-kemungkinan tadi dan semacam rasa wajib atau berhutang (karena kita sudah diberi sesuatu yang begitu asyik) untuk mengerti puisi itu seperti yg ditulis oleh penulisnya, itulah yg mengasyikkan.

Dan tenang, 'rekata' ternyata bukan = rekat + kata. rekata adalah kata arkaik lagi (yg membuat semakin mungkin penyair ini memang memilih kata-kata-nya dengan sengaja dan hati-hati, atau dia anak indie yg bukan hanya pakaiannya saja yang vintage!) yang artinya 'kala (bintang atau rasi)'. Sekarang dia telentang menatap scorpio (walaupun ingat, semua ini adalah harapan si narator, dia 'ingin', 'kan', tapi mungkin juga keinginannya, fantasinya, begitu kuat sehingga dia sudah tidak bisa membedakannya dengan kenyataan (sounds like he's in denial)), langit mulai cerah, dia menyilang tangan di belakang kepala dan dalam sesuatu yang terasa seperti sebuah ketabahan yang mengasyikkan menunggu bintang-bintang yang membentuk konstelasi itu menghujani(dada?)nya dan menggambar tato berbentuk kalajengking di situ.

Semua ini adalah usaha untuk memahami puisi ini, yang menyediakan cukup banyak teka-teki sehingga usaha ini jadi cukup asyik dan mengasyikkan (apa bedanya?) tapi kalau misalnya saya dipaksa untuk bilang apakah saya suka atau tidak suka pada puisi ini saya masih ragu-ragu juga. Seperti semoga sudah jelas, maksud, arti, puisi ini cukup menarik dan dikatakan dengan cukup jernih, tapi tentu puisi bukan cuma masalah maksud dan arti.

Puisi juga soal bunyi (antara banyak lagi yang lain), dan sebenarnya bunyi puisi ini juga enak, tidak ada yang janggal. Memenggalnya jadi dua paragraf yg pertama menggambarkan aksi si narator dan yang kedua yang lebih singkat menggambarkan maksud aksi di atas juga logis, selalu ada caesura di antara aksi dan maksud bukan? Puisi ini jadi semacam sonnet mini. selain itu, ironi yang diciptakan antara nadanya yang rapi dan merdu seperti lullaby kepada diri sendiri, dan kegelisahan dan kecemasan yang disembunyikannya, membuat kegelisahan dan kecemasan itu makin menusuk. (Pertimbangkan juga kemungkinan satu ironi lagi, bahwa kalau lagu singkat ini adalah sebuah lullaby, ia lullaby yang ingin mengantarkan si narator bukan untuk tidur tapi untuk terjaga, supaya bisa 'telentang menatap rekata', sampai kapan?, mungkin dia harus insomnia selamanya!)

Tapi juga dalam hal bunyi inilah puisi ini punya masalah. Seperti sudah saya bilang di awal, saya sudah bosan dengan kata-kata ilalang, matamu, rumput, bintang, hujan, matamu lagi (sampai 3x termasuk judul), ilalang lagi (3x juga). Seperti sudah saya jelaskan juga, ternyata pilihan kata-kata dalam puisi ini memang ada alasannya, dan kuat, jadi mungkin memang puisi ini harus berbunyi seperti sekarang. Tapi saya juga jadi berandai-andai, karena fantasi penyair ini sebenarnya cukup kuat, mata itu benar-benar jadi seperti ilalang, apa jadinya kalau dia mencoba bakat berfantasinya itu pada skenario lain, pada sebuah puisi berjudul 'di cuping hidungmu yang london' misalnya? Jangan anggap ini sebagai sebuah saran 'seharusnya', anggaplah sekedar pertanyaan saya saja, sebuah kemungkinan, karena saya ingin tahu.

'Benar-benar jadi SEPERTI ilalang.' Kenapa saya bilang SEPERTI, bukan 'jadi ilalang' langsung saja? Karena kelihatannya itu yg dibilang penyairnya. sepanjang puisi ini, sejak judul, mata ini adalah mata yang (seperti) ilalang. Paling tidak, dua hal ini adalah hal yang setara dan ada pada waktu yang bersamaan, matamu adalah ilalang dan ilalang adalah matamu, tapi dua hal itu tetap dua hal yg berbeda. Sebuah perumpamaan, simile if you will. Membandingkan dua hal yg tak sama. melupakan sejenak bahwa mata dan ilalang adalah dua hal yg klise, dan perbandingan di antaranya pun juga, mata dan ilalang adalah dua hal yg cukup (tidak lagi sangat karena cukup sering dibandingkan!) berbeda, dan karena itu banyak hal yg menarik akan muncul (dan sudah) dari pembandingan itu. Tapi sekarang coba bandingkan (ha!) apa yg terjadi dengan 'matamu' di puisi ini dengan apa yg terjadi dengan 'mata' di puisi Saut Situmorang di bawah ini:

mata mawar

sepasang mawar merah mekar di matamu
membakar malam yang sunyi di hatiku

sepasang mawar merah mekar di matamu
malam yang sunyi jadi panas di hatiku

sepasang matamu jadi danau tak berombak
menyimpan duri tajam yang tak nampak

malam yang sunyi di hatiku
malam yang panas di hatiku
berdarah tergores duri matamu

sepasang mawar merah mekar di mataMu
durinya jadi bulan mati di hatiku

(Saut Situmorang, Saut Kecil Bicara Dengan Tuhan, Bentang Budaya, 2003, hlm. 7)

Di sini, mawar MEKAR di matamu, matamu JADI danau tak berombak, dan karena di mata itu sekarang tumbuh mawar (yang belum sempat dipotongi duri-duri-nya, dan duri-duri ini, ingat, 'tak nampak' karena disembunyikan oleh 'danau tak berombak' yg TADINYA 'sepasang matamu' tadi), malam di hati si penyair 'berdarah tergores duri matamu'. Blablabla. Poin saya adalah, di sini mata dan sepasang mawar dan danau tak berombak (no prize for guessing what this looks like/mean/is a metaphor of!) dan duri-duri itu, berhenti menjadi dua, tiga, empat hal yang berbeda dan MENJADI satu. seperti bisa dilihat sekarang di judulnya 'mata mawar'. Bukan (lagi) mata yang mawar atau mata seperti mawar.

'Matamu' sekarang tak ada lagi, yang ada hanya 'mata mawar' ini. Tidak ada perumpamaan, yang ada adalah metamorfosis dari sebuah mata menjadi mata mawar. Kenapa saya pikir ini lebih kuat (kalau belum jelas memang ini yg saya pikirkan) daripada hanya membandingkan mata dengan setangkai mawar? Banyak hal sebenarnya, misalnya waktu jadi bergerak. Saya jadi bisa merasakan mawar mekar di mata itu, seperti dalam fast-motion nature documentary di discovery channel, dari tidak ada menjadi ada. Kemudian danau muncul di sana, dan di bawah permukaannya tumbuh duri-duri. Semua ini seperti bergerak, dalam waktu. Dan waktu tidak bisa di-rewind. Di akhir puisi ini, waktu si penyair bilang duri mata mawar itu jadi bulan mati di hatiku, suasana jadi begitu menekan, karena mungkin selamanya akan begitu terus, kalau tidak malah jadi tambah buruk.

Dan ini: karena sebuah mawar merah benar-benar telah mekar di mata itu, durinya juga jadi terasa telah benar-benar jadi bulan mati (pastinya bulan sabit karena duri bentuknya lebih mirip itu daripada bulan purnama, jadi semakin menusuk bok!) yang sekarang benar-benar menusuk-nusuk hatinya. Sementara di 'di matamu yang ilalang', fantasi kuat tentang padang ilalang yang gerimis, angin yang menyanyi, rumput yang tumbuh di dada yang telentang menanti hujan bintang itu, seperti berakhir dengan sebuah anti-klimaks: 'di matamu yang ilalang.' Oh, ini tadi bukan benar-benar padang ilalang toh, hanya matamu.

Tentu sebenarnya si penyair ini telah benar-benar melihat padang ilalang itu di mata siapapun-mu itu. Sebenarnya semuanya ini bukanlah fantasinya, melainkan kenyataannya. Kenapa malu mengakuinya?

*mimpi dalam demam
Frans Nadjira

Seorang perempuan
berbaju hitam
menebar jala
di atas rerumputan

Lalu turun gerimis
Dari atas bukit-bukit
serombongan anak-anak
bernyanyi

Kami telah menadah angin
mengumpulkannya dalam keranjang
Kami telah memetik matahari
memasukkannya dalam keranjang
bercampur bunga-bunga.

(Frans Nadjira, Singgalang, tahun 19 nomor 3553, Senin 22 Desember 1986, hlm. 6 kolom 1.)

Read More...

Dunia Anak Ya Harus Anak-anak

| Labels: , | 1 comments |

Oleh Wawan Eko Yulianto

Anak Kampung oleh wehahaha

Ini dia tulisan yang mengasyikkan. Secara isi, menurut saya cerita ini cukup menyayat. Apa sih yang kurang menyayat dari kisah anak kecil terkucilkan yang diceritakan oleh "korban". :D Betul, temanya cukup "layak" untuk dicerpenkan. Bisa dibilang, tema-tema serupa ini pernah dipakai Seno Gumira Ajidarma dalam Pelajaran Mengarang (tapi SGA menggunakan perbandingan anak dari keluarga baik-baik vs anak pelacur). Mungkin beberapa orang akan bilang bahwa tema seperti ini terbilang klise, terlalu sering muncul. Bahkan di sinetron pun sering muncul. Tapi lagi, sedikit pun tidak ada salahnya menggarap tema lama, asalkan dengan cara pandang baru, sudut pandang baru. Lagian, apa sih yang originally baru dalam hidup ini?

Nah, yang menurut saya kurang gimanaaaa gitu adalah cara penyampaiannya. Ada beberapa hal sih yang menurut saya bisa lebih digarap lagi (ciyyeeee.... :D, bijak nih).

Pertama, menentukan cara "bersuara" yang pas dengan sudut pandang. Di sini, sudut pandang adalah orang pertama dan naratornya adalah seorang anak kecil berlatar belakang kampung dan tidak mampu. Kalau sudut pandang orang pertama yang dipakai, akan asyik lagi kalau bahasa dan apa-apa yang diucapkan yang dipakai "NYAMBUNG" dengan latar belakang si orang. Sebagai misal, kalau dia anak kecil, ya cakupan kosakatanya, ya, yang nggak jauh-jauh dari kosakata yang dikuasai si anak. Contoh, dalam cerpen The Sisters-nya James Joyce ada tokoh anak kecil yang cakupan kosakatanya nggak banyak dan di situ seorang tokoh tua mengatakan sesuatu yang tidak dia ketahui, akhirnya kata itu pun tidak tersampaikan kepada pembaca (lha wong si tokoh sendiri tidak tahu...:D, ingat kan penggalan 'tidak pernah mendengarkan lagu-lagu bahasa Inggris' ini?). Nah, di 'Anak Kampung (1)' ini, cerpen diawali dengan cuplikan lagu berbahasa Inggris yang dinyanyikan bukan oleh tokoh utama. Kalau si narator ini (1) anak kampung yang (2) asing dengan lagu-lagu berbahasa Inggris, mestinya kan dia tidak bisa mencuplik dengan persis, bahkan tanpa ada kesalahan grammar sekecil apapun, kurang 's'-lah atau kurang 'to be'-lah seperti banyak tulisan dan cerpen Indonesia umumnya :D.

Terus lagi, di situ disebutkan kata 'buffet' oleh si anak kampung. Mestinya kan si anak kampung ini terkaget-kaget (entah bagaimana bentuknya, entah bilang '... di restoran buffet, tapi bukan bufet tempat memajang vas dan buku-buku itu lho...' atau mungkin bahkan bilang '... di restoran apa gitu, saya lupa namanya...').

Kedua, menggarap adegan-adegan yang semestinya bisa diperapik dan diperrapi. 'Anak Kampung' punya adegan-adegan yang menurut saya berpotensi untuk dijadikan menonjol dan digarap lebih rapi agar lebih awet di dalam benak pembaca (wow...!!!). Kalau saya baca ulang, ada bagian-bagian cerita macam gini yang ingin disampaikan mbak/mas penulisnya: (1) adegan menyanyi angin mamiri dan diejek teman-teman, (2) adegan melihat teman tidak mencintai negeri, (3) adegan ibu kaget anaknya tahu kata 'brengsek', (4) adegan ulang tahun dan si tokoh disisihkan, (5) adegan peminta sumbangan yang tidak dikasih anak kaya tapi malah dikasih si anak kampung, (6) adegan pengembalian hadiah dari si anak kampung, (7) adegan penutup yang isinya perenungan dan nulis puisi. Tapi, maaf, saya merasa ketujuh adegan itu digarap dengan sambil lalu. Sayang betul, padahal si penulis sudah sangat hebat telah menemukan ketujuh adegan itu.

Kalau dirasa-rasa (kali ini ukurannya perasaan :D), tujuh adegan dalam satu cerpen sepanjang 4-5 halaman itu sangat banyak. Ingat kan, cerpen Pelajaran Mengarang SGA yang panjangnya sekira 7-8 halaman itu saja isinya cuman adegan (1) mengarang di kelas, (2) ingatan tentang rumah berantakan dan ibu pacaran, (3) rumah pelacuran, (4) mama mau keluar karena ada panggilan, (5) bu guru Tati menilai tugas murid-murid di rumahnya. MEMANG TIDAK ADA UNDANG-UNDANG JUMLAH ADEGAN DALAM SATU CERPEN, :D, tapi jika sedikit saja adegan yang benar-benar berpotensi besar dan kuat saja yang ditampilkan dan digarap dengan asyik, pasti hasilnya lebih bagus ketimbang banyak tapi kurang diramut. Ya, kayak punya bunga, tiga saja tapi dirawat pasti lebih bagus ketimbang tujuh tapi dibiarkan tumbuh sesukanya dan kurang disiram.

Ketiga, menyisihkan adegan-adegan yang kurang besar kontribusinya terhadap keutuhan cerita. Semua orang sepakat (terutama yang pernah saya baca sendiri pernyataannya, Stephen King dan Natalie Goldberg) bahwa kita harus merelakan bagian-bagian yang kurang signifikan dalam keutuhan cerita, secinta apapun kata mereka. Stephen King mengucapkan kalimat semacam itu. Dalam bahasa Natalie Goldberg, saya kita menjadi editor (yaitu saat memeriksa cerpen yang sudah kita bikin), kita harus setega(s) samurai yang berani menyabetkan pedangnya untuk menebas bagian-bagian yang kurang penthing. Btw, bagian kurang penthing bukan berarti jelek lho ya; kadang-kadang bagian itu malah bagus dan kita supercinta kepadanya. Kalau di cerpen ini, menurut saya (lagi-lagi cuman menurut saya, :D) adegan (2), (3), dan (5) mestinya bisa tidak dipakai di sini. Ya, kalau masih sangat cinta dan tidak rela menghapusnya, bisa lah bagian-bagian itu dikopi ke file lain untuk digarap dengan tema lain yang mungkin lebih cocok :p.

Kayaknya sementara tiga saja. Maaaaaaf sejuta maaf kalau saya banyak omong. Lha dasarnya memang suka ngobrol.

Oh ya, ada satu hal yang tak bisa dipungkiri dari cerpen ini: kepedulian si penulis untuk menggarap tema-tema berbau sosial dan berpotensi mengingatkan, menyadarkan, mencerahkan orang. Dengan kepedulian seperti ini, dan wawasan yang luas, saya yakin mbak/mas penulisnya bisa meninggalkan kesan di hati orang. Well, masalah sosial, terutama yang miris-miris seperti ini lebih berpotensi untuk menyentuh hati orang ketimbang cerita-cerita yang isinya kehidupan mewah atau bahkan absurd (:D).

Akhirul kalam, semoga sukses tak terbendung buat sang penulis dan mari bareng-bareng membaca dan menulis. Salam.

Read More...

Ngobrol tentang Monet

| Labels: , | 1 comments |

Oleh Isman H. Suryaman

Monet oleh miss worm

Karya ini ditulis dengan baik. Penulis tampak sudah sangat berpengalaman dalam menulis cerita. Penggambaran latar dan karakter menggunakan cara menunjukkan, alih-alih memberitahukan (show, not tell). Semua elemen yang menjual terangkai dengan manis: ambisi, cinta, keputusasaan, hingga kebas. Dan ini sebenarnya sudah cukup untuk menjual karya ini.

Sebelum beralih ke masukan, pertama-tama perlu saya ungkapkan bahwa saya bukan penggemar rangkaian cerita yang manis. Sebuah karya perlu menjual tingkat kepercayaan (believability) yang tinggi agar saya mau menerima rangkaian cerita yang manis. Agar saya percaya bahwa cerita ini benar-benar terjadi di dunia nyata. Bukan dalam khayalan penulis semata. Bahwa tokoh-tokohnya menjejak tanah dan tidak melayang. Bahwa mereka minum, makan, dan buang air. Tidak kenyang dengan menghirup udara dan wangi tubuh masing-masing.

Latar, sebagai contoh. Alih-alih menampilkan lokasi yang sempurna untuk pembicaraan dan romantisasi, mengapa tidak menggambarkan lokasi yang tidak sempurna? Langit London yang biru cerah, misalnya. Ini terlalu sempurna bagi kota yang dikenal dengan langit berawannya. Seperti yang ditulis Jamie Cullum dalam lagu London Skies;

“Will you let me romanticize,
The beauty in our London Skies,
You know the sunlight always shines,
Behind the clouds of London Skies.”

Mengapa tidak membuat para pengunjung Tate sedikit saja mengganggu pembicaraan kedua tokoh? Minimal membuat tokoh “aku” jengah sedikit. Atau mempertimbangkan ulang kesempatan untuk berbicara. Nuansa sederhana ini akan menghilangkan kesan panggung kosong yang terlalu sempurna untuk dialog.

Atau mungkin menulis ulang sebagian dialog agar tidak terlalu terkesan terjemahan dari bahasa Inggris? “This building won a Pritzker, you know?” “Really? How do you know?”

Hal-hal ini mungkin tampak kecil. Tapi justru hal kecillah yang membangun kepercayaan. Kredibilitas sebuah cerita. Jalinan emosi dengan tokoh. Dan itu juga yang akan membuat saya percaya pada akhir yang begitu “manis”. Seniman yang bunuh diri, lantas karyanya dihargai dalam tujuh tahun sebagai “revolusi dalam seni modern”. Ini memang akhir yang sangat bagus. Dan manis.

Saya akan lebih memercayainya, seandainya akhir ini diantar oleh rangkaian yang tidak begitu manis. Seperti masakan, sering kali seorang koki mencampur garam dalam masakan manis. Agar tidak enek. Karena toh kita melahap keseluruhan sebuah cerita--apa pun cara kita menyantapnya: baik mencoelkan cerita ke sambal sebelum menyuapkannya ke mulut maupun memakannya sepotong demi sepotong dengan pisau dan garpu. Bukan sekadar mencicipinya.

Selamat atas karyanya yang menarik! Terus menulis!

>--isman

Read More...

Cinta yang melahirkan jejak

| Labels: , | 0 comments |

Oleh Zabidi Ibnoe Say

Monet oleh miss worm

Secara keseluruhan sebagai sebuah karya prosa, Monet cukup menarik, menyentuh juga menggelitik. Pembacapun langsung dibawa dalam diskripsi ruang sebuah galery Tate Modern di Thames, London. Cerita kemudian bergulir dari lantai satu ke lantai berikutnya, dari ruang pamer satu ke ruang pamer lainnya, seiring dengan dialog dua tokohnya. Kedua tokohnyapun tak bernama hanya memakai kata aku (orang pertama) dan Kau/kamu (orang kedua).

Meski kita tak menemukan perangkat atau idiom yang berhubungan langsung dengan maut, misalnya percikan darah, wajah kebiruan, rintihan, jeritan, yang secara jelas menggambarkan maut. Membaca “Monet” tetap menorehkan kesan sebuah drama tragedi percintaan, yaitu kematian salah satu tokohnya.

Disini kematian seakan ingin didiskripsikan secara wajar, manusiawi namun tetap indah. Bahwa setiap manusia ingin meninggalkan jejak dalam hidupnya. Nah, seberapa kuat hal itu dapat ditangkap oleh pikiran dan perasaan pembaca, semuanya tergantung bagaimana seorang penulis menyajikannya. Tema yang lekat dengan diksi (pilihan kata yang selaras dan seimbang) dan metafora serta simbol-simbol lainnya. Maka diharapkan bangunan cerita akan menjadi kokoh, utuh, padat dan berjiwa.

Akhirnya, sejauh mana pencapaian itu diperoleh, saya serahkan kepada pembaca untuk masuk dan menyelaminya sendiri. Selamat menikmati.

Salam sastra

Read More...

Ngobrol tentang Eskapisme

| Labels: , | 0 comments |

Oleh Isman H. Suryaman

Eskapisme oleh Dadun

Saya sengaja memilih dua karya yang menggunakan sudut pandang serupa; tokoh “aku” yang menceritakan “kamu”: “Monet” dan “Eskapisme”. Berbicara mengenai keduanya akan menarik. Pertama, karena kedua cerita ini bercakap-cakap tentang cinta. Lantas, keduanya sama-sama ditulis dengan baik. Dan terakhir, unik. Karena kita bisa membedakan suara keduanya.

“Monet” membalur kepingan cerita, kenangan, dan emosi. Semua ia taburkan di latar yang hidup, walau sedikit terlalu sempurna (setidaknya, bagi saya). Sementara “Eskapisme” justru menihilkan latar. Bagi penulis, latar cukuplah tindakan dan waktu. Penceritaan yang sarat monolog juga mencerminkan pola pikir teknis sang “aku” yang merupakan mahasiswa.


Dengan rupa dan suara masing-masing, kedua cerita ini sudah layak jual—pada sasaran pembaca yang berbeda. Monet akan memikat para pembaca yang menggemari cerita romantis, terbalur dalam rangkaian yang manis. Eskapisme justru lebih mengena pada pembaca yang kontemplatif. Mereka yang mencari romantisasi justru akan tertipu. Karena walaupun nuansa itu seakan-akan ditawarkan di sini, yang muncul adalah desakan untuk merenung. Membaca ulang. Tidak ada romansa yang muncul akibat rasio. Yang ada adalah justifikasi. Atau pengenalan diri melalui cermin orang lain.

Sebelum memberi masukan, perlu saya ungkapkan bahwa saya lebih suka cerita ketimbang monolog. Mungkin saja akan ada beberapa masukan yang tidak cocok karena preferensi tersebut.

Pertama-tama, saya pribadi tidak suka konsep bahwa mencintai sesama jenis adalah pelarian dari kekecewaan akibat kegagalan menguntai kasih dengan lawan jenis. Menurut saya, ini konsep yang menyudutkan homoseksualitas secara superfisial. Memang, bisa jadi pengarang memaksudkan ini sebagai sekadar justifikasi sang “aku” yang sedang kebingungan dengan preferensi seksualnya. Namun, kalau gitu, seharusnya landasan temanya adalah “justifikasi”, alih-alih “eskapisme” (sebagaimana disuratkan oleh judul).

Kedua, penggunaan analogi dan istilah teknik dalam monolog memang menggambarkan pola pikir karakter dengan jelas. Namun—inilah kekurangannya monolog di cerita ini—hanya bergerak di satu dimensi itu saja. Saya tidak bisa memiliki gambaran jelas akan tokoh-tokoh di sini. Kasarnya, tidak ada yang bisa meyakinkan saya bahwa ini bukanlah memoar—bukan sang penulis sendiri yang bercerita.

Hal ketiga juga merupakan preferensi pribadi: pertanyaan di awal cerita tidak berhasil memancing minat baca. Pertanyaan itu sudah sering sekali ditanyakan dalam berbagai bentuk dan nada. Jika ada kompetisi kalimat pembuka terbaik, cerita ini jelas tidak akan masuk peringkat sepuluh terbesar. Dan ini membawa ke…

Masukan keempat: berbeda dengan “Monet” yang menguntai beragam emosi, “Eskapisme” lebih monoton. Jika “Monet” adalah wahana Halilintar dalam Dunia Fantasi, “Eskapisme” adalah Istana Boneka. Karena itu, penting sekali untuk mewarnai kontemplasi dengan sesuatu yang segar. Bukan baru. Segar. Dan bentuk kesegaran ini bukan hanya dalam penggunaan kata maupun analogi teknik. Melainkan dalam pola pikir itu sendiri. Kagetkanlah pembaca. Gelitikilah tulang belakang mereka. Buatlah bibir mereka membuka dan berkata, “Iya juga, ya?” Doronglah mereka untuk memperluas interpretasi mereka akan cinta. Bukan hanya merangkul definisi-definisi lama.

Akhir kata, ini sekadar pendapat saya. Bisa salah dan bisa berbeda.

Terus berkarya dan menggelitik pikiran pembaca!

--isman

Read More...

Yang Kilat, Meski Memberat

Monday, November 19, 2007 | Labels: , | 3 comments |

Oleh Wawan Eko Yulianto

Eskapisme oleh Dadun

Well, well, well, eskapisme. Sebagai fiksi kilat, Eskapisme telah berhasil mengakhiri kisahnya secara mengejutkan tidak dengan peristiwa dahsyat atau aneh, tapi dengan menunjukkan satu fakta yang sejak awal telah ditahan penulisnya agak tidak sampai keceplosan.

Betatapun Mbak/Mas penulisnya berhati-hati menyimpan satu fakta (adanya ketertarikan homowi) untuk baris-baris terakhir, dia tidak lupa memberikan ancang-ancang ke depan (yang orang Inggris menyebutnya 'foreshadowing', maaf ya agak sok tahu, :D) dengan menyinggung tentang pengalaman pahit si "kamu" ditinggalkan ceweknya. Ancang-ancang ke depan macam ini berhasil mencegah pengkritik bilang "wah, endingnya terlalu dibuat-buat nih, dibuat mengagetkan!"


Eskapisme dipenuhi (tapi tidak seluruhnya) kalimat-kalimat yang membutuhkan "pembacaan" lebih dalam. Yah, bisa dibilang, pada beberapa bagian, kita tidak bisa membacanya begitu saja seperti membaca fiksi standar. Tapi, ada kalanya kita harus menurunkan kecepatan baca kita untuk menikmati kalimat-kalimat tertentu (yah, dengan kecepatan semacam membaca puisi lah): 1) "Kegagalan demi kegagalan yang membunuh jerih payah hingga setiap detiknya mesti lekat dengan sakramen pemulasaraan", 2) "sepasang mata yang memajang wajah saya" (asyik kan, ketimbang kalimat "melihatku dari ujung kaki hingga ujung rambut", :D, saya sangat tergelitik sama klausa ini), 3) permainan kata 'biasa' yang tidak biasa dalam "Kamu telah berubah dari seseorang yang biasa-biasa saja menjadi seseorang yang membuat saya serba tak biasa dalam segala hal yang semula saya anggap biasa. Saya pun merasa telah menjadi seseorang yang 'tidak biasa' karena menganggap kamu luar biasa", 4) "Seperti tentang episode kebetulan yang masih tumpang tindih dengan unsur perencanaan", 5) "Seolah memerahkan makna bahwa kita tengah benar-benar jatuh cinta", 6) dll. Saya merasa penulis selalu ingin mengungkapkan sesuatu dengan berbeda (dan dalam, :D).

Bagaimanapun, ada juga saatnya Mbak/Mas penulis tergelincir ke dalam klise: 1) "satu detik bersama kamu terasa jauh lebih berarti dari kebersamaan berjam-jam dengan mereka", 2) "saya mulai tak biasa jika tidak duduk di sebelah kamu. Tak biasa jika tidak menelepon dan meng-SMS kamu. Tak biasa jika sehari saja tidak melihat kamu" (maaf, menurut saya mendiang Alda sudah memegang hak cipta atas ungkapan-ungkapan macam ini, :D dan karenanya ungkapan ini menjadi klise).

Mungkin, ada satu hal yang menciptakan kekurangasyikan di pihak saya, yakni kemunculan kata sinusoluida secara sekonyong-konyong. Well, well, well, menurut saya, kemunculan hal-hal yang kurang relevan terhadap keutuhan cerita harus diminimalisir, apalagi untuk fiksi kilat. Bukannya berdosa mengatakan kata-kata ilmiah macam 'sinusoluida' dalam fiksi. Bukan! Hanya saja kenapa tiba-tiba yang muncul kata itu. Saya sangat bisa memaklumi kalau saja si aku narasi adalah mahasiswa jurusan matematika yang isi kepalanya sedikit-sedikit dipenuhi apa yang dia pelajari dari kuliah. Tapi sayang, di sini sama sekali tidak disebutkan begitu. Dan lagi, tidak ada lagi kata-kata lain semacam itu yang semestinya bisa mengimplikasikan bahwa dia adalah mahasiswa matematika yang sangat tahu, dan pikirannya dipenuhi, hal-hal semacam sinusoluida dan teman-temannya. Sebagai misal, wajar sekali jika dalam "Ksatria, Putih, Bintang Jatuh" si aku narasi banyak menggunakan istilah fisika modern (bifurkasi dll.), lha wong dia memang mahasiswa jurusan itu (seringat saya begitu, maaf, belum sempat buka lagi bukunya, :), mohon dikonfirmasi sendiri kebenaran ucapan saya ini).

Menurut saya, idealnya fiksi kilat adalah sebuah cerita yang sekali dibaca (boleh dengan cepat boleh dengan kalem-kalem, seperti kita membaca Eskapisme ini) langsung membuat pembaca tersambar kilat pada kalimat terakhirnya (lebih jauh tentang ini bisa baca tulisannya Hasif Amini di Jurnal Prosa 1 yang membahas Fiksi Mikro). Dan Eskapisme lumayan berhasil di sini, kecuali adanya kata sinusoluida yang membuat saya harus berhenti sejenak untuk mencari catatan kaki (dan pada akhirnya membuat saya agak lupa dengan cerita). Yah, saya lebih senang baca tulisan tanpa catatan kaki, karena saya merasa lebih bisa tenggelam dalam cerita macam itu (John Gardner bilang bahwa "esensi sebuah cerita adalah mimpi yang menghanyutkan pembaca ke dalamnya", dan bagi saya catatan kaki dalam cerita adalah serupa gigitan nyamuk yang membuat saya tidak nyenyak tidur, apalagi bermimpi, :D).

Begitu dulu ya, Mbak/Mas. Terima atas keasyikan yang telah diberikan. Sori ya, kepanjangen (masak ya komentar sama panjangnya dengan yang dikomentari, hehehe...).

N.B. kutipan dari film Never Ever: "Kita tidak pernah bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta" (halah, di film tersebut kalimat ini dipakai apologi sama orang yang konangan selingkuh, hehehe...).

Read More...

[Profil] Wawan Eko Yulianto

| Labels: | 1 comments |

Lulusan sastra Inggris dari Universitas Negeri Malang ini telah menulis sejumlah cerita pendek, resensi, menerjemahkan tiga novel James Joyce, dan sejumlah novel lain. Bekerja sebagai penulis lepas untuk beberapa penerbit, seperti GPU, Jalasutra, Ufuk Press dan Banana Publisher.


Aktif di Bengkel ImaJINASI dan OPUS 275. Beberapa tulisannya bisa ditilik dalam blog pribadinya, http://berbagi-mimpi.blogspot.com.

Read More...